Thursday, February 28, 2019

I Wish I Found You Sooner



A : “ Kenapa ya enggak dari dulu aja kita dipertemukan? Why does it take long time for us to meet?”

B : “Karena mungkin kalau kita ketemu lebih cepat, rasa syukur kita enggak sebesar sekarang,”

Cause you are worthy the long enough wait ~

Thursday, January 31, 2019

Doa yang Nanggung

“Ya Allah, saya pengen ngerasain wawancara beasiswa S2. Selanjutnya, terserah Engkau.”
Hampir setahun lalu, saya ingat persis pernah berdoa demikian sebelum mendaftar beasiswa internal Kementerian Keuangan untuk ke luar negeri (beasiswa FETA namanya). Jadi, seleksi untuk mendapatkan beasiswa itu ada beberapa tahap : tahap pertama seleksi administrasi, jika lolos lanjut ke tahap kedua seleksi tertulis (Tes Potensi Akademik dan Tes Bahasa Inggris), jika lolos lagi kemudian lanjut ke seleksi tahap ketiga yakni psikotes dan wawancara. Baru jika lolos seleksi tahap ketiga dinyatakan sebagai calon awardee (penerima beasiswa).

Dan Allah benar-benar mengabulkan doa itu…

Saya lolos hingga tahap terakhir, psikotes dan wawancara. Namun, kemudian langkah saya terhenti karena tak dinyatakan lolos. Ya, saya persis mendapatkan hasil seperti doa yang saya ucapkan sebelum mendaftar.

Kenapa nggak minta supaya mendapatkan beasiswa itu?

Karena pada waktu itu, ada sebuah pertimbangan yang membuat saya ragu-ragu. Mendapatkan beasiswa tentu memiliki berbagai konsekuensi. Nah, saya dalam keadaan antara ya dan tidak atas konsekuensi itu.

Terus? Nyesel? Sempat merasa menyesal berdoa seperti itu lantaran pada akhirnya saya benar-benar ingin mendapatkan kesempatan itu.

Saya pun teringat sebuah hadits.
“Di surga itu terdapat seratus tingkatan, Allah menyediakannya untuk para mujahid di jalan Allah, jarak antara keduanya seperti antara langit dan bumi. Karena itu, jika kalian meminta kepada Allah, mintalah Firdaus, karena sungguh dia adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi. Di atasnya ada Arsy Sang Maha Pengasih, dan darinya sumber sungai-sungai surga.” (HR. Bukhari 2790 & Ibnu Hibban 4611).

Dalam sebuah kajian yang pernah saya datangi, sang ustadz mengatakan bahwa mudah saja bagi Allah SWT mengabulkan doa kita, apapun itu. Untuk surga sebagai sebagai-baik balasan, kita disuruh meminta surga yang tertinggi. “Jangan berdoa : nggak papa ya Allah, saya di emperan surga aja nggak papa. Di surga yang paling rendah aja nggak papa. Jangan. Mintalah surga tertinggi,”

Nah, tetapi untuk urusan dunia, kita kan nggak tahu yang terbaik yang mana?

Saya berusaha meminta yang terbaik untuk urusan dunia dan akhirat. Enggak menyebutkan yang ‘neko-neko’ lagi seperti doa yang nanggung tadi. Selain itu juga memanjatkan doa ini, “Ya hayyu ya qoyyum bi rahmatika astaghiits, wa ash-lihlii sya’nii kullahu wa laa takilnii ilaa nafsii thorfata ‘ainin abadan. Artinya: Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb Yang Berdiri Sendiri tidak butuh segala sesuatu, dengan rahmat-Mu aku minta pertolongan, perbaikilah segala urusanku dan jangan diserahkan kepadaku sekali pun sekejap mata tanpa mendapat pertolongan dari-Mu selamanya.” (HR. Ibnu As Sunni dalam ‘Amal Al-Yaum wa Al-Lailah no. 46, An-Nasa’i dalam Al-Kubra 381: 570, Al-Bazzar dalam musnadnya 4/ 25/ 3107, Al-Hakim 1: 545. Sanad hadits ini hasan sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 227).

Allahu a’lam.


Friday, September 28, 2018

Indonesia Sehat, Indonesia Bebas Stunting

“Nanti kalau pas umroh nggak usah ngoyo mencium Hajar Aswad ya. Orang Indonesia pendek-pendek, nanti kena sikut sama orang Arab yang tinggi-tinggi,”
Beberapa kali saya mendengar saran bernada sama seperti di atas sebelum berangkat ke tanah suci. Awalnya, siapa yang tak ingin mengikuti perbuatan Rasulullah SAW tersebut. Namun, melihat kondisi ketika thawaf yang mana di depan saya banyak orang tinggi besar, nyali saya ciut seketika. Kalah badan!

Ya, postur tubuh orang Indonesia memang tidak terlalu tinggi. Namun, tahukah kamu, ternyata Indonesia termasuk negara dengan rata-rata penduduk terpendek di dunia? Berdasarkan data World Atlas (2017), Indonesia menduduki peringkat kedua negara dengan penduduk terpendek yakni hanya sekitar 152 cm, satu tingkat lebih baik dari Bolivia yang menduduki peringkat pertama.

Wow, mencengangkan ya?

Badan pendek identik dengan stunting. Apakah stunting itu? 

Kementerian Kesehatan (2017) menyebutkan bahwa stunting merupakan sebuah kondisi yang mana tinggi badan seseorang  ternyata lebih pendek dibanding tinggi badan orang lain yang seusia pada umumnya. Adapun menurut Millenium Challenge Account (selanjutnya akan ditulis MCA), sebuah lembaga wali amanat yang salah satu fokusnya adalah proyek kesehatan untuk mengurangi anak pendek, stunting merupakan masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu cukup lama akibat pemberian makanan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi.

Ngomong-ngomong tentang badan pendek, Indonesia menduduki posisi kelima negara dengan jumlah anak terbanyak dalam kondisi stunting. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar yang dilaksanakan oleh Kementerian Kesehatan (2013), prevalensi (jumlah keseluruhan kasus penyakit yang terjadi pada suatu waktu tertentu di suatu wilayah) stunting di Indonesia mencapai 37,2%. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan batas maksimal stunting yang ditetapkan World Health Organization sebesar 20%. Secara jumlah, pertumbuhan yang tidak maksimal dialami oleh sekita 8,9 juta anak Indonesia atau 1 dari 3 anak Indonesia mengalami stunting. Wow, banyak juga ya?

Berdasarkan data yang diolah oleh Katadata dari Kementerian Kesehatan (2017),  lima provinsi dengan tingkat prevalensi balita stunting tertinggi di Indonesia adalah Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan.


Thursday, September 27, 2018

Pengalaman Umroh Plus Mesir Murah Bersama Komunitas UTM


Siapa yang tak ingin bersimpuh di depan Ka’bah? Siapa yang tak ingin mengunjungi Madinah? Saya yakin semua Muslim pasti menginginkannya. Namun, bisa dikatakan bahwa perjalanan ke kedua kota suci tersebut memerlukan cukup banyak biaya. Bagaimana jika ada yang mengatakan tentang umroh tiket murah? Mungkin sebagian orang akan menyangsikannya karena maraknya berita tentang penipuan berkedok umroh murah. Termasuk saya yang qadarullah menjadi salah satu korban janji manis First Travel.

Hingga kemudian saya mengenal Komunitas Umroh Tiket Murah (UTM) dari seorang teman, Dea, yang berencana untuk umroh dengan komunitas tersebut. Ia mengajak saya ikut serta. Dua bulan sebelum jadwal keberangkatan pada pertengahan Januari 2018 lalu, saya memutuskan untuk bergabung dengan UTM. Saya mengambil paket Umroh plus Mesir untuk tiga orang : saya, Papa, dan Muthia (adik).

masjid nabawi, madinah
Foto Masjid Nabawi ketika kubah tertutup (dok. pribadi)


masjid nabawi, madinah
Foto Masjid Nabawi dari depan (dok. pribadi)
Apa dan Bagaimana Komunitas UTM?

Komunitas UTM adalah komunitas yang didirikan oleh Ikhsan Wahyudi yang bertujuan untuk memfasilitasi umat Muslim yang ingin umroh dengan biaya murah. Mengapa dinamakan Umroh Tiket Murah? Tiket merupakan komponen utama dalam sebuah perjalanan sehingga ketika kita bisa mendapatkan tiket murah, total biaya perjalanan menjadi lebih murah.

Komunitas UTM bukan agen umroh, tetapi lebih kepada menjadi fasilitator jama’ah yang ingin melaksanakan ibadah umroh dengan biaya murah. 

Ada dua tipe umroh yang difasilitasi oleh UTM yakni umroh regular dan umroh expand atau umroh plus (umroh sekaligus jalan-jalan ke negara lain seperti Mesir, Turki, dsb).

Friday, August 31, 2018

Resensi Novel Pergi : Ke Mana Langkah Kaki Akan Dibawa?


Bukan Tere Liye namanya jika tidak menuliskan novel bernafaskan arti kehidupan. Sebut saja “Bidadari-Bidadari Surga” yang menceritakan kesabaran sang tokoh dalam menghadapi berbagai cobaan kehidupan, “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” yang mengajarkan arti penerimaan hidup,  atau “Pulang” yang mengisahkan bahwa ketika sang tokoh mampu berdamai dengan dirinya sendiri, sejatinya ia telah memenangkan seluruh pertempuran. 
Dalam novel “Pulang”, Bujang sebagai tokoh utama bertransformasi dari sosok anak muda di pelosok Sumatera menjadi jagal nomor satu di keluarga Tong sang penguasa ekonomi bayangan (shadow economy) dengan bisnis utama penyelundupan. Petualangan menegangkan Bujang yang sarat akan adegan baku hantam berlanjut pada novel “Pergi” yang merupakan sekuel dari “Pulang”.
Sang Tauke Besar sebagai pemimpin tertinggi keluarga Tong telah meninggal dunia akibat pengkhianatan salah seorang tukang pukul. Kemudian, Bujang mengambil alih tampuk kepemimpinan keluarga Tong dan menjadi Tauke Besar. Negara Meksiko menjadi latar cerita pembuka novel “Pergi”. Bujang memimpin pasukannya untuk merebut kembali hasil riset teknologi milik keluarga Tong yang dicuri oleh El Pacho, sindikat penyelundup narkoba terbesar di Amerika Selatan. Bujang dan anak buahnya telah berhasil melumpuhkan kelompok El Pacho dan ia nyaris berhasil menyelesaikan misinya. Tiba-tiba sesosok misterius bertopeng datang dan mengacaukan semuanya. 
 Pasukan Bujang sudah bersiap memuntahkan seluruh amunisi untuk menyingkirkan sosok tersebut sebelum sang sosok menyapa Bujang dengan bahasa asal Bujang dan menyebutkan nama asli Bujang. Bujang terperanjat, sangat sedikit orang yang tahu nama aslinya sedangkan ia tak pernah menemui sosok asing di depannya. Sosok yang tak pernah ditemuinya itu kemudian menantang Bujang untuk duel satu lawan satu, tanpa senjata. Pemenangnya berhak memiliki prototype anti serangan siber yang amat berharga.
Bujang menyanggupi. Tidak ada hal yang ditakutinya, ia sangat yakin akan kemampuannya. Ia adalah tukang jagal terbaik keluarga Tong yang menguasai berbagai teknik bela diri tingkat tinggi. Secara mengejutkan, Bujang kalah bertarung. Sebelum pergi, si sosok misterius berkata,”Adios, hermanito (selamat tinggal adik lelakiku),”
Siapakah ia? Apa hubungannya dengan Bujang?
Keingintahuan Bujang akan si sosok misterius menuntunnya menyelidiki masa lalu. Bagaikan menemukan potongan puzzle demi puzzle yang membentuk sebuah gambaran utuh. Ayahnya, Samad, mantan tukang pukul terhebat keluarga Tong pernah memiliki anak dari pernikahan sebelumnya. Anak yang tak pernah diketahuinya ada di dunia lantaran Samad dan istri pertamanya, seorang biduanita cantik asal Meksiko, berpisah sebelum Samad mengetahui kabar kehamilan sang istri. 
Cerita bergulir. Di tengah-tengah penyelidikannya akan sang kakak, keluarga Tong dikhianati oleh Master Dragon. Terdapat delapan kelompok penguasa shadow economy di seluruh dunia dengan Master Dragon yang berbasis di Hong Kong sebagai pemimpin. Pada awalnya, kedelapan kelompok tersebut hidup dengan harmonis lantaran memiliki wilayah kekuasaan masing-masing dan sepakat untuk tidak saling bertikai. Namun, Master Dragon mengkhianati dengan meletakkan mata-matanya di keluarga Tong untuk menghancurkan keluarga Tong. Bujang pun bergerak cepat, ia menghimpun kekuatan untuk mengalahkan Master Dragon dengan mengajak keluarga Yamaguchi di Jepang dan kelompok Bratva untuk beraliansi.
Mampukah Bujang mengalahkan Master Dragon? Bagaimanakah sosok sebenarnya dari sang kakak yang tak pernah diketahui oleh Bujang?
Kedua pertanyaan tersebut menjadi inti cerita dari novel setebal 455 halaman ini. Intrik demi intrik adalah bumbu sedap dalam novel yang akan membuat pembaca seolah-olah memasuki film laga. Tere Liye menunjukkan kelasnya sebagai salah satu penulis papan atas negeri ini. Tiga puluh satu bab disajikan dengan amat memikat, sanggup untuk membuat pembaca tak bosan meski alur cerita cukup panjang.