Saturday, December 31, 2011

Balance Life Sheet at Dec 31st, 2011 : Another Resolution?

dicari di google

Dec 31st, 2011. How many of us made any resolution at the beginning of this year? And how many of us don’t accomplish them all until today? If you say ‘yes’ to those questions, you are not alone.
Mencoba menganalisis apa yang mungkin menjadikan sebuah atau beberapa resolusi yang dibuat berakhir sebagai ‘Halfway resolution’ atau resolusi setengah jalan (atau mungkin malah ada resolusi yang tak dijalankan sama sekali?).

1.       Niat
Apa yang mendasari suatu resolusi seringkali menjadi faktor utama yang menyebabkan tercapainya resolusi tersebut. Lebih jauh lagi, untuk siapa resolusi itu dibuat? Dalam ilmu psikologis disebutkan bahwa faktor internal memegang peranan yang lebih besar dibandingkan dengan faktor eksternal. Kalau niat seseorang adalah untuk suatu kebaikan yang akan mendekatkannya pada Tuhannya, apalagi yang akan menghalangi langkahnya untuk bersungguh-sungguh? Niat baik, insya Allah, akan dimudahkan.

2.       Mulai
Sebuah nasihat terkenal menyebutkan bahwa “Kita telah menyelesaikan suatu pekerjaan apabila kita telah memulainya,”. Mario Teguh dalam status tersingkatnya yang pernah saya baca mengatakan, “Batas waktu dibuat- bukan untuk dicapai tapi tanda untuk memulai,”.
Memulai sesuatu bisa jadi merupakan faktor yang lebih berat dari pekerjaannya itu sendiri. Apalagi kalau ujian, terkadang ‘perlu’ menyadari waktu ujian yang tinggal sebentar lagi baru mulai belajar? Err. The power of kepepet? Setelah memulai seringkali pekerjaan menjadi lancar bukan? ^^

3.       Menunda-nunda
Menunda-nunda untuk memulai. Sudah mulai tetapi menunda-nunda untuk bergerak. Termasuk menunda-nunda adalah menunggu momen untuk bergerak. Seperti “Akan melakukan ini jika telah mendapatkan ini.” Padahal bisa jadi justru dengan bergerak itulah akan timbul berkah. Yang penting bergerak dulu.  
Abraham Lincoln pernah mengatakan “Yang sabar menunggu pasti dapat bagian. Tapi, hanya sisa-sisa dari orang-orang yang bergegas” Rasulullah SAW juga menyuruh umatnya tak menunggu sore untuk melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan di pagi hari1. Menunda-nunda suatu kebaikan hanyalah akan menjadi penghalang bagi kebaikan-kebaikan lainnya. 

4.       Luput mengukur baju
‘Mengukur baju’ artinya mengukur kemampuan diri sendiri. Kalau memang tak bisa menyanyi, mencanangkan resolusi tahun ini seperti ‘memenangkan satu perlombaan menyanyi tingkat kota’ hanyalah sebuah pemaksaan diri yang sia-sia. Bahasa kerennya membuat analisis SWOT terlebih dahulu sebelum menetapkan resolusi. Mungkin bisa saja seseorang berprestasi bukan pada bidangnya (nothing’s impossible right?) tetapi alangkah banyak waktu, tenaga dan pikiran yang harus dicurahkannya dibanding ia melakukan sesuatu yang memang berada dalam bidangnya bukan? 

5.      Mudah menyerah
Kalau tak sulit untuk dicapai, berarti tak layak untuk diperjuangkan kan?
Seorang khalifah sekaliber Umar bin Khattab membutuhkan waktu bertahun-tahun (ada yang menyebutkan 10, 12 tahun) untuk menghafalkan surat Al Baqarah. Seorang Thomas Alva Edison membutuhkan ribuan percobaan sebelum menemukan bola lampu yang mengubah dunia. Bahkan dalam AlQur’an diperintahkan untuk mengerjakan dengan sungguh-sungguh urusan yang lain apabila telah selesai dari suatu urusan2. Berhenti di tengah jalan adalah ‘penyakit’. Konsisten adalah obatnya. Batu yang keras pun akan pecah bila terus menerus ditetesi air bukan?^^

6.       Kurang Sungguh-Sungguh
Dalam suatu kajian, pernah dipaparkan bahwa ada lima syarat jiddiyah (kesungguhan) yakni direspon dengan cepat, memiliki kemauan yang kuat, tidak berhenti, menggerakkan segala potensi dengan maksimal dan kesungguhan akan mengalahkan uzur. Bahkan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk mencari keridhaan-Nya dijamin Allah akan diberi petunjuk tentang jalan mana yang dilewati3. Kembali lagi pada niat akan sebuah resolusi, untuk siapa resolusi itu ditujukan dan seberapa sungguh-sungguh seseorang. Mengerjakan sesuatu secara asal-asalan hanyalah menunjukkan adanya ketidaksungguhan.

7.       Mencari pembenaran (excuse)
Memang tak niat datang tepat waktu ke suatu acara, mengatakan macet padahal bisa saja ia memajukan jam keberangkatan untuk menghindari macet. Tak sungguh-sungguh dengan keinginannya mencari alasan-alasan lain yang mungkin saja bisa diatasinya bila ia bersungguh-sungguh. Btw, buku ‘No Excuse’ tulisan Isa Alamsyah, suami Asma Nadia merupakan buku yang sangat direkomendasikan untuk dibaca. Bahasanya sederhana tetapi mengena. ^^

Dan kalau sudah mulai, sungguh-sungguh dan gagal? Sederhana saja. Sesuatu yang baik di mata kita itu tak baik di mata Allah untuk kita dapatkan. Salah seorang ustadz mengatakan seperti ini saat menasihati murid-muridnya untuk lebih semangat belajar, “Manusia itu tidak dituntut untuk berhasil tetapi ia dituntut untuk berusaha. Hadits tidak menyuruh manusia untuk menjadi pintar tetapi menyuruh manusia untuk menuntut ilmu4. Artinya Allah melihat pada usahanya, bukan pada hasilnya. Apabila di tengah jalan atau di akhir perjalanan tidak mencapai suatu tujuan, yakinlah pasti ada hal-hal lain yang didapatkan,”
Allahu ‘alam. (mengingatkan diri sendiri khususnya ^^)
Selamat beresolusi bagi yang hendak beresolusi. Selamat bermuhasabah bagi yang hendak bermuhasabah (bukan berarti merayakan loh) ^^

Catatan Kaki :
1.       Ibnu Umar rodhiallahu ‘anhu berkata, “Jika kamu berada di sore hari, jangan menunggu pagi hari, dan jika engkau di pagi hari janganlah menunggu sore, manfaatkanlah masa sehat. Sebelum datang masa sakitmu dan saat hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari)
2.       Terjemah Q.S Al-Insyirah (94) : 7, “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,”
3.       Terjemah Q.S Al-Ankabut (29) : 69, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami”
4.       "Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam" (Riwayat Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Adi, dari Anas bin Malik)

Sunday, December 18, 2011

PR Sekolah Dasar : Balik ke Esde Yuk!

Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling menyenangkan. Tak ada tanggung jawab, tak ada tekanan, bermain dan berlari dengan bebasnya seolah tak ada hari esok. Dimanjakan bak raja dan ratu kecil yang tinggal mengeluarkan rengekan saja para manusia dewasa akan turut pada kehendaknya. 

Anyway, seindah apapun suatu masa tetap saja waktu berlalu dan menyimpannya indah atas nama kenangan. Sebelumnya, maaf buat Firman Fulcrum yang sudah memberi PR ini dan baru dikerjakan sekarang hehe dan terima kasih sudah memberi ruang untuk memanggil kembali memori dan tersenyum karenanya. Here are my strongest memories when i was in elementary :

1. Dulu, waktu kelas satu SD, memandang anak kelas tiga itu keren banget, mereka boleh menulis memakai pulpen sementara anak kelas satu memakai pensil. Kelas tiga itu sudah gede, pkir saya waktu itu. Eh tak tahunya, waktu kelas tiga merasa masih kecil dan anak kelas enam itu lah yang keren. Begitu seterusnya hingga SMA. Sindrom kakak kelas kah? entahlah.

2. Kelas tiga SD, pengalaman tak terlupakan (hingga sekarang terjadi). Ceritanya waktu itu habis sakit cacar dan di pipi sebelah kiri masih ada bekas luka mengering. Seorang teman mengejek-ejek "Wah monika jadi jelek sekarang, ada bekas lukanya," akibat perkataannya itu, pulang sekolah saya kelupas paksa bekas luka kering yang belum mengelupas itu. Menangis lah saya melihat pipi kiri nggak mulus lagi. Sampai sekarang masih sisa nyesek juga kalau ingat itu. Hiks.

3. Waktu SD, kelas empat SD tepatnya, sudah mengenal menaksir cowok loh. Haha. Waktu itu yang saya taksir kakak kelas yang ngajinya bareng. Kalau nggak salah, karena ganteng orangnya. Haha. Pernah suatu siang pas lewat di lorong sekolah, dua orang kakak kelas perempuan (saya masih ingat nama lengkapnya loh) kebetulan berpapasan dan tiba-tiba membentak saya, "Kamu ini jangan suka sama Y ya, dia itu pacarku," sambil memojokkan saya ke dinding. Waktu itu saya cuma diam dan berlari masuk kelas, sesampainya di kelas wali kelas saya (teman-teman SD ingat Pak Suwondo kah?) bingung melihat saya yang tiba-tiba menangis (ya iyalah!). Dipikir-pikir lucu juga, anak SD zaman dulu (fyi saya lahir tahun 1989, jadi masa SD antara tahun 1995-2001) sudah kenal labrak-melabrak (kayaknya dulu belum ada sinetron beginian deh hehe).

4. Zaman SD, pertama sadar kalau mata minus (saya pakai kacamata sejak kelas lima SD) pas duduk di belakang dan melihat papan tulis angka O terlihat sebagai angka 1. Nggak jadi deh dapat nilai seratus gara-gara salah lihat soal. Hiks. Masa SD juga masa yang menyenangkan karena selalu dapat rangking sepuluh besar (paling jelek rangking tujuh) dan dari kelas lima hingga kelas enam selalu rangking satu. Ahaha (ingat, pas zaman SD :p). Saingan terbesar saya dulu Ania yang sekarang menjadi seorang sahabat yang baik. Ah, inget nggak An dulu kita pernah saingan? hihi.

5. Jiwa dagang saya pertama muncul pas kelas lima SD. Sebelum berangkat sekolah sudah menyiapkan satu tas plastik besar yang isinya buku cerita dan komik (kebetulan sejak kecil memang sudah hobi baca) dan disewakan ke teman-teman kelas. Sedihnya, beberapa buku tak kembali, hiks (ayo ngaku yang pernah pinjem buku saya dan nggak dikembalikan). Juga berjualan kertas surat dan kertas file (hey ada yang ingat kertas file nggak, itu yang bentuknya seperti kertas binder dan bergambar tokoh-tokoh kartun).

6. Paling nggak bisa namanya permainan lompat tali dan selalu jadi 'pupuk bawang' yang kalau lompat tinggi-tinggi (kayaknya maksimal saya cuma bisa sedada deh :p) ditolong sama sang induk (lupa istilahnya, yang jelas yang paling jago). Yang paling sering jadi 'mbok' (maklum di jawa) yakni Zulfa.

7. Kelas enam SD, ikut lomba mapel PPKn/IPS dan dapat juara dua se-kota Semarang. Itu satu-satunya piala yang saya dapat pas zaman SD. Rasanya banga lantaran nama-nama tiga besar juara tiap mapel dimuat di LKS yang dibagi ke seluruh siswa SD (numpang terkenal dikit lah di kalangan adik kelas hahaha). Masih ingat juga sebenarnya pas lomba itu saya punya peluang jadi juara satu, skor saya pas babak terakhir (babak cerdas cermat, menjawab pertanyaan cepat-cepat dengan memencet bel) lebih tinggi (walau sedikit) daripada peserta yang akhirnya menjadi juara satu tapi lantaran saya menjawab pertanyaan dan salah (yang berarti nilainya dikurangi) akhirnya nggak jadi juara satu deh. Masih ingat juga, nama sang juara satu Melisa Candra Saputra, seorang gadis cantik berambut panjang. Belakangan saya tahu dia itu sering menang lomba dimana-mana dan lombanya beragam. Apa kabar ya sekarang? Hehe

8. Pas kelas enam SD, pertama kali mendapatkan tanda kedewasaan seorang perempuan. Eyangti (Eyang putri) berpesan "Kamu sekarang udah gede nduk, jangan mau dipegang sama laki-laki, nanti kamu hamil," Waktu itu saya yang polos menelan bulat-bulat pesannya. Akibatnya pas pelajaran renang dan diajari oleh guru laki-laki (yang otomatis pegang tangan atau kaki membenarkan posisi saat hendak berenang), pulang dari renang saya diam tercekat. Sangat ketakutan. Aduh, nanti saya hamil nih, pikir saya. Kalau diingat-ingat lucu juga hehe.

Ah, indah memang ya masa kanak-kanak? Ayo yang kenal saya pas zaman SD silahkan komen (kali-kali ada teman SD yang baca hehe).

Indah ya kalau orang dewasa seperti anak-anak yang nggak takut salah dan penuh rasa ingin tahu. Tertawa dan bahagia oleh hal-hal sederhana. Sesederhana itu.

P.S.: Well, sepertinya PR Sekolah Dasar sudah lama beredar jadi nggak saya edarin lagi ya (ganti PR kali ya hehe). Makasih ya buat blogger yang pertama kali melontarkan ide ini. ^^
Sayang foto-foto zaman SD di rumah semua and i just hundreds kilos away from home :(

Respek setinggi-tingginya untuk SD tercinta, SDN Siliwangi 03 Semarang

Saturday, December 17, 2011

Astaga!

Sudah menjadi kebiasaan kalau menggunakan jasa bajaj atau taksi saya mengajak mengobrol. Bukan apa-apa, hanya saja seorang sanguinis seperti saya ini akan merasa kurang nyaman berada di suasana diam sementara ada orang di depannya, lagipula terkadang dari obrolan tersebut mengalirlah cerita-cerita menarik yang ada juga hikmah yang bisa diambil.

Tadi siang, nampaknya tak ada yang istimewa ketika saya mencegat bajaj biru untuk mengantarkan dari Gambir ke Utan Kayu. Namun, agaknya siang ini menjadi lebih istimewa lantaran hari ini kuping saya dibuat sedikit memerah oleh perkataan sang pengendara bajaj.

Obrolan sebelumnya saya tak ingat pasti, yang jelas saat melintasi RSCM tiba-tiba bapak pengendara bertanya dengan nada menyelidik kepada saya sambil sedikit menoleh ke belakang "Mbak muslim?" Sontak saya terkejut dengan pertanyaannya yang tiba-tiba itu, "Ya iyalah pak, emang bapak nggak lihat saya pakai jilbab?" sahut saya dengan nada meninggi.

"Kok nanya gitu sih Pak?"
"Tadi mbak bilang apa,"

Bilang apa, batin saya. Perasaan saya nggak ada bilang aneh-aneh sebelumnya. Usut punya usut setelah dikejar dengan pertanyaan berikutnya, saya menggunakan kata 'astaga' mengomentari sesuatu hal (sepertinya demo di depan sebuah LBH di Cikini tadi).

"Memangnya ada apa dengan kata astaga Pak? Bukannya itu bahasa Indonesia ya?"
"Ya iya bahasa Indonesia tapi kalau orang Islam itu bilangnya astaghfirullah hal adzim mbak"
 DEG.
"Ya saya refleks aja pak tadi, kadang kalau kaget keluar astaga kadang istighfar. Teman-teman saya juga sering pakai astaga kok pak. Lagipula bapak kok nanya gitu tadi, kan bapak lihat saya berjilbab,"
"Berjilbab itu nggak jaminan seseorang muslim mbak. Saya tahu pasti ada orang-orang di luar Islam yang pakai jilbab dan gamis juga mbak. Jadi berjilbab itu hanya sekadar busana,"

Bapak itu berkata sambil tetap mempertahankan nada-nggak-percaya atas jawaban saya.
Alhamdulillah bajaj akhirnya tiba di halaman PSI Al Manar tercinta."Bener pak saya Islam Pak, ini buktinya pak saya mau belajar di masjid dakwah islam ini,"
Bapak itu melihat plang di depannya dan terdiam. Duh duh.

Wallahu'alam, entah benar cerita Bapak itu atau tidak, yang jelas saya merasa amat tertohok dengan pertanyaan Bapak itu. Yang pertama, ternyata perkataan-perkatan islami belum sangat mendarah daging dalam tubuh dengan masih terucapnya kata astaga alih-alih istighfar meski kadang-kadang. Setelah saya pikir-pikir, bersyukur saya diingatkan Bapak ini tadi siang, meskipun kata astaga adalah kata dari bahasa Indonesia yang mungkin lazim digunakan, alangkah indahnya kalau kata yang terucap adalah doa seperti kalimat istighfar yang maknanya sebagai permohonan ampun kepada Allah daripada menggunakan kata astaga yang hanya ekspresi kekagetan semata. Kata-kata adalah doa, alangkah indahnya jika kaget saja dicatat sebagai doa hehe. Selain itu juga turut membumikan kata-kata thayyibah di bumi Allah.

Yang kedua, ternyata tampilan luar mengenakan jilbab tak cukup untuk membuat bapak itu percaya bahwa saya seorang muslim(ah). Ngeri membayangkan kalau nanti ketika tak ada lagi pengadilan yang lebih tinggi, Yang Maha Tinggi bertanya, "Kamu muslimah?"
"Iya Tuhanku, saya muslimah. Saya sholat, puasa, (dan mungkin menyebutkan ibadah lain),"
"Benarkah?"
Saya (anggap saja) mengangguk.

"Kamu sholat, tapi pikiran kamu kemana-mana. Kamu puasa tapi masih puasamu masih belum bisa mengendalikan nafsumu sepenuhnya......."

DUAR. Na'udzubillah. Jangan sampai Dia menganggap ibadah-ibadah yang saya lakukan hanya bersifat zahir semata. Ampun. Mau lari kemana, mau ngeles apa lagi ketika pintu amal sudah tertutup.

Ah, sungguh terima kasih pak sudah mengingatkan saya siang ini :')


Friday, December 16, 2011

Lullaby

16 Desember 2011. Malam ini baru keluar kantor sekitar pukul delapan malam. Hampir dua belas jam menatap monitor laptop, mengolah data. Kalau saja si coklat ini teman cewek pasti udah saya peluk erat-erat sebagai rasa terima kasih selalu setia menemani haha. Dan saat ini saya lagi-lagi menatapnya, kali ini untuk mengolah kata menjadi postingan malam ini sambil ditemani cornetto strawberry yang saya sempatkan beli di minimarket dekat rumah kos.

Malam ini saya (lagi-lagi) melewatkan kelas Fiqih dan Bahasa Arab. Lepas jam kantor pukul lima sore hari ini saya tak buru-buru mencegat bajaj untuk mengantarkan ke tempat kuliah tapi berkutat dengan setumpuk pekerjaan yang sudah memasuki deadline satu persatu. Mudah-mudahan pekerjaan kantor lebih prioritas daripada kuliah, tanpa mengesampingkan kewajiban menuntut ilmu tentu saja. Fiqih prioritas, kata seorang teman.
Saat magang kemarin (kebetulan masih sebulan resmi menjadi pelaksana) rasa-rasanya saya pernah mengeluhkan sedikitnya pekerjaan, sekarang rasa-rasanya saya ingin mengeluhkan banyaknya pekerjaan yang mulai menumpuk seiring dengan tanggung jawab yang kian bertambah. Manusia memang tak pernah puas bukan? Panas atau hujan sama-sama mengeluh.

Sebelum lintasan keluhan berlanjut, syukurlah, seperti ada yang mengingatkan saya untuk berhenti meneruskan keluhan. Mengingatkan betapa beruntungnya saya (kalau boleh saya menyebutnya beruntung) bisa melewati 'jalan bebas hambatan' menjadi seorang PNS di kementerian yang katanya paling prestisius. Lulus kuliah langsung kerja tanpa harus melamar pekerjaan di sana-sini lagi. Dan kalau ingat anak-anak jalanan yang saya temui hampir setiap hari di metromini, betapa seharusnya saya banyak-banyak bersyukur. 

Dan kalau boleh menyebutnya kebetulan, sebelum saya mengeluhkan semakin terbatasnya waktu untuk diri sendiri, kemarin saya baru baca artikel mengenai seorang manajer suatu perusahaan telekomunikasi terkemuka yang bisa menghafalkan Al Qur'an tiga puluh juz hanya dalam waktu satu setengah tahun. Bayangkan betapa sibuknya beliau. Beliau berkata bahwa tak ada waktu yang bisa ia geser untuk khusus menghafalkan Al Qur'an kecuali waktu tidurnya dan itulah yang beliau geser. Pukul dua belas malam beliau bangun tidur dan hingga subuh digunakannya untuk menghafal ayat baru serta mengulang hafalan. Begitu setiap harinya. Sebulan pertama dirasakannya berat tapi lama-lama menjadi hal yang ringan dan biasa.

Manajemen waktu dan prioritas. Dua hal ini yang agaknya semakin harus digenggam erat seiring dengan bertambahnya tanggung jawab. Tak lagi menunda-nunda pekerjaan, mendahulukan mana yang penting dan mengesampingkan hal-hal yang kurang penting hingga bagaimana melakukan sesuatu secara efektif dan efisien. Nabi yang mulia hanya tidur empat jam sehari, masak umatnya kalah? *teriak kencang-kencang ke diri sendiri*

Teringat akan ucapan murobbi tercinta saat saya mengeluhkan waktu-untuk-diri-sendiri yang saya punya dan beliau berkata kira-kira seperti ini, "Semakin sedikit waktu yang kita punya, justru jangan dikurangi ibadahnya, dulu sehari bisa satu juz, jangan malah jadi setengah juz, harusnya malah tambah lagi. Semakin kita sibuk, ingatlah, semakin kita membutuhkan kekuatan dari Allah, semakin kita bergantung pada-Nya maka semakin mendekatlah pada-Nya,"

Dan lagi-lagi, sebelum lintasan keluhan berlanjut, saya diingatkan bahwa saya punya lebih banyak alasan dan cara untuk tidak mengeluh. ^^

Happy weekend ^^




Friday, December 2, 2011

Jadi Kapan Kamu Menyebar Undangan?


dicari di google
Apa lagi yang ditunggu oleh seorang muslim jika telah mencapai usia baligh dan memiliki maisyah (kemampuan untuk menafkahi)? Apa lagi yang ditunggu di tengah dorongan kebutuhan batin dan psikologis yang semakin meningkat sementara bukan lagi kebebasan atas kesendirian dan kebersamaan dengan teman yang mampu melengkapi kehampaan diri yang perlahan-lahan merambati? 

Bagi sebagian orang, melangkah pada fase tersebut bukanlah hal yang sesederhana itu. Ada kehati-hatian yang tinggi (atau bisakah menyebutnya sebagai suatu ketakutan?) untuk berani memantapkan diri mencapai suatu point of no return yang bisa jadi merupakan awal dari sebuah kehidupan baru. Mitsaqan ghaliza. Perjanjian yang berat, bahkan kedudukannya disetarakan dengan perjanjian Allah dengan para nabi dan perjanjian yang diangkat atas Bani Israil kepada Allah. 

Beberapa orang menunggu kesiapan, katanya. Kesiapan materi kadang kala tak hanya diukur dari telah dimilikinya kemampuan untuk menafkahi keluarga, bisa jadi keberadaan rumah serta kendaraan pribadi yang menjadi faktor penentu seseorang berani melangkah. Kesiapan yang lain adalah kesiapan mental, bagaimana menerima seseorang dengan segala kelebihan dan kekurangannya untuk menemani dalam segala macam kesenangan dan kesedihan dalam jangka waktu seumur hidup. Mungkin juga sebagian orang menunggu kesiapan ilmu, hanya akan berani melangkah apabila telah memiliki ilmu yang cukup menjadi seorang suami atau istri dan orang tua. Ibadah mutlak memerlukan ilmu untuk menghasilkan amal. Ibadah mutlak memerlukan keyakinan (iman) agar bernilai sebagai suatu ibadah.

Keyakinan. Mungkin itulah yang membuat sebagian orang berani mengikrarkan diri sehidup semati dengan hanya mengalami fase ‘penjajakan’ secara singkat tanpa melalui apa yang disebut orang-orang sebagai pacaran. Misalnya dengan melangkah melalui proses menceritakan kegundahan hati pada sang murobi, mengajukan biodata dan kemudian sang murobi mencarikan calon pasangan untuk mutarobinya dengan memperhatikan kriteria-kriteria yang diajukan, lantas dipertemukan dalam suatu majelis yang disebut dengan ta’aruf. Keyakinan bahwa ia ingin segera menyempurnakan setengah agamanya dengan seseorang yang ia yakini membawa kebaikan baginya, sebagai suatu wujud ibadah dan penyaluran kebutuhan psikologisnya di jalan yang diridhai Allah.

Niat seseorang memegang peranan yang penting sebagai suatu pondasi dasarnya dalam mengambil suatu tindakan dan niat pula lah yang menjadi salah satu dari tiga syarat utama diterimanya suatu amal. Jika seseorang memiliki suatu niat yang lurus dan keyakinan yang kuat atas keinginannya ini, apalagi yang ditunggunya? Apa lagi yang menghalanginya untuk menyegerakan?

Apalagi bagi seorang wanita muslimah yang telah mencapai usia akil baligh dan telah sampai ilmunya bahwa menjadi seorang pengantin merupakan satu dari enam hal yang harus disegerakan dalam Islam. Tak seharusnya seorang muslimah menunggu seseorang tertentu yang belum tentu menjadi suaminya datang melamar, sementara ia melepaskan orang lain dengan akhlak yang mungkin lebih baik. Akan ada rasa sakit yang teramat sangat untuk sang wanita apabila ia telah menunggu seseorang tertentu dan tiba-tiba saja laki-laki yang ditunggunya tidak jadi meminang atau ‘beralih haluan’ kepada wanita lain? Toh tidak ada yang mengikat laki-laki tersebut untuk harus melamar sang wanita. Janji-janji setinggi apapun yang dibuat oleh seorang laki-laki hanyalah sekadar janji apabila ia belum berani datang kepada orang tua sang wanita dan memintanya secara resmi. Sesederhana itu.

Sebagian wanita tidak menunggu seseorang tertentu untuk melamar. Ia menunggu seseorang yang berani melamar. Wanita memerlukan suatu ‘keyakinan yang memadai’. Keyakinan yang dibuktikan dengan datangnya pinangan. Lagipula, yakinlah, wanita adalah makhluk yang paling mudah untuk mencintai. Bisa jadi ia mencintai seorang laki-laki tetapi kemungkinan besar ia akan meninggalkan laki-laki itu apabila laki-laki itu tidak segera melamarnya sementara ada laki-laki lain yang memiliki kemampuan dan berani melangkah lebih maju.

Wednesday, November 30, 2011

Sepotong Rindu untuk Bidadariku


Pagi sayang, mungkin saat kau membaca ini kita masih terpisah ribuan kilometer jauhnya, kau mungkin masih bisa mencium bau embun yang jatuh di depan pohon mangga depan rumah, merasakan kelezatan masakan mama setiap pagi, tidur di kamar yang menyimpan setiap jengkal kenangan masa kecil. Hal-hal istimewa yang mungkin belum kau sadari lantaran kau menemuinya setiap hari tapi percayalah dengan sepenuh hati bahwa kau akan begitu mensyukuri keberadaannya saat kau hanya pulang ke rumah sesekali dalam setahun. Mungkin benar kata orang jika setelah kehilangan kita baru menyadari apa yang kita miliki. Mudah-mudahan kau tak seperti aku yang terlambat menyadari bahwa hal-hal sederhana yang mungkin tampak biasa saja itu adalah hal-hal yang membuat dirimu utuh.

Kau tahu saat jauh dari rumah dan tak ada yang bisa kau andalkan selain dirimu sendiri, saat kau tak bisa merengek-rengek bagai anak kecil lantas orangtuamu datang dan membereskan semua masalahmu, kau sadar bahwa sudah waktunya kau menjadi gadis dewasa, berdiri tegaklah dan hapus air matamu, hidup mungkin tak selalu berjalan seperti yang kau inginkan dan kita tidak hidup di negeri dongeng bukan, kau akan begitu bersyukur bahwa kau memiliki seorang ibu luar biasa yang mengajarkan anak-anaknya untuk menjadi tangguh dalam menghadapi dunia. Kau tahu apa yang dikatakannya saat aku ikut menangis lantaran melihatnya menangis pada suatu sore? “Kamu nggak usah nangis, cukup mama saja yang sedih, Nak,” dan bagaimana mungkin aku tak memeluknya erat-erat. 

Mungkin kau masih terlalu kecil untuk mengingatnya, biarkan aku yang menceritakan padamu sayang. Ketika itu pukul satu malam dan saat itu aku terbangun dari tidurku di rumah Nenek lantaran perutku melilit luar biasa, aku tak bisa berhenti menangis karena sakitnya. Nenek dan Oom hendak membawaku ke UGD rumah sakit saat Mama yang diberi kabar oleh Nenek via telpon datang, dini hari sendirian membelah jalanan dengan perut yang sedang hamil besar, ya saat itu Mama sedang mengandung Hilmy. Papa menjagamu di rumah dan tak kuasa mencegah Mama yang bersikeras ingin segera menemui anak pertamanya.

Ingatkah kau saat aku SMA dan keluarga kita sedang mengalami kondisi keuangan yang buruk lantaran ada orang yang menjahati keluarga kita sementara aku membutuhkan biaya yang cukup besar untuk masuk kuliah dan kau butuh biaya masuk SMA? Kedua orang tua kita bekerja jauh lebih keras dan Mama menjual semua perhiasan yang ia miliki. Mama tak pernah mengeluh sedikitpun, ia selalu berusaha tampak kuat di depan anak-anaknya. Mama jugalah yang mengajariku arti kesabaran dan luasnya sebuah pintu maaf. Ia  sedikit berkata-kata, ia menunjukkannya dengan apa-apa yang dilakukannya. Apakah kau menyadarinya? Mama juga lah yang akan marah kalau aku meminta uang untuk sekadar jalan ke mal walau mungkin jumlahya tak seberapa tapi Mama selalu mendukung dan tak segan-segan bekerja lebih keras untuk membelikanku tiket seminar yang terkadang harganya selangit dan semua buku di lemari biru itu. 


Wednesday, November 16, 2011

Amplop Coklat Sebelas Bulan



si amplop coklat yang ditunggu-tunggu sebelas bulan
8 November 2011. Selasa minggu lalu. Pengumuman penempatan yang ditunggu-tunggu selama sebelas bulan datang juga. Setelah sebelas bulan menunggu kepastian, sebelas bulan magang, melewati masa galau penempatan (mungkin ada yang ingat catatan saya yang berjudul "Catatan (Tidak) Galau Sebelum Penempatan : Semeleh" yang saya tulis di masa pucak galau penempatan hehe) terjawablah semua penantian dan doa panjang. Kantor Pusat DJKN, Direktorat Kekayaan Negara Dipisahkan, melanjutkan perjalanan magang sebelas bulan di tempat yang sama, dengan status berbeda. Seorang pelaksana. Alhamdulillah.

Hari Selasa kemarin saat pengumuman penempatan, entah mengapa rasanya ‘semeleh’ menghadapi penempatan. Rasa takut pasti ada, tapi dengan kadar yang masih bisa dikendalikan hehe. Saat nama saya dipanggil untuk menerima amplop coklat yang berisi Surat Keputusan Penempatan, saya nyaris tak ada rasa deg-degan. Dua hari sebelum penempatan, saat idul adha, saya bertandang ke rumah om dan tante di Bekasi, salah satunya memohon doa dari mereka. Tante bertanya,”Kamu pengen mana Nik?,” “Jakarta tante,” “Apa niat utamamu pengen di Jakarta,” Saya sebutkan alasan-alasan utama saya. “Kalau begitu niatmu, insya Allah, dapet atau enggak kamu di Jakarta, Allah sudah mencatat niatmu,” Kata-kata tante begitu menenangkan dan semakin memantapkan hati untuk menerima apapun keputusan hari Selasa. 

Amplop coklat itu saya buka perlahan dengan berteriak kencang-kencang dalam hati, “Apapun yang kamu dapatkan itu yang terbaik, apapun yang kamu dapatkan itu yang terbaik,” Subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar. Dua kali saya sujud syukur, syukur saya yang pertama karena mendapatkan Kantor Pusat dan sujud syukur yang kedua karena mendapatkan penempatan di Direktorat KND, semata-mata karena kasih sayang-Nya persis menjawab semua doa.
isi si amplop coklat yang bikin sujud syukur dua kali


Seorang teman pernah bertanya dengan nada skeptis, “Memang apa yang bisa kita lakukan menghadapi penempatan? Kan kita nggak bisa usaha apa-apa,” “Berdoa,”jawab saya. “Kalau begitu nggak ada yang nggak bisa kita usahakan, kan at least kita bisa berdoa,” “Ya memang iya”

Doa saya kepada Allah panjang dan ‘nrithik’ kalau orang jawa bilang. Saya mohon ditempatkan di tempat yang ‘nggak usah pindah kantor dan pindah kosan’ alias di Kantor Pusat, di bagian yang ilmu akuntansi banyak dibutuhkan, yang sering melihat angka, di bagian yang sering melakukan analisis, yang ada ikhwah yang bisa saya tanya-tanya di lingkungan itu dan kriteria-kriteria lainnya. Mungkin ada sepuluh kriteria yang saya minta.  Semua dikabulkan, persis, sama sekali tak ada yang kurang. 

Tuesday, November 1, 2011

Klik #2 : Kecil Kecil Cabe Rawit


Mama selalu menyuruh menyimpan bukti pembayaran, meletakkan peniti, bros, lem, gunting kuku, karet gelang dan benda-benda kecil lainnya di wadah khusus yang kadang-kadang berbeda letaknya di lemari. Terkadang saya masih asal saja menggeletakkan benda-benda itu di satu tempat. Praktis. Namun agaknya ‘mencari benda kecil yang dibutuhkan dalam waktu singkat’ menunjukkan bahwa hal sederhana yang selalu Mama contohkan adalah hal yang amat berguna pada waktu yang tepat. 

Peniti, misalnya, benda kecil ini senantiasa ada di kantong kecil dompet biru kesayangan. Terutama untuk para muslimah, benda ini bisa jadi merupakan benda yang wajib selalu dibawa. Peniti yang lepas dari jilbab atau kancing yang longgar bukan hal yang menyenangkan tapi tak menutup kemungkinan hal tersebut terjadi bukan? Hehe..

Ngomong-ngomong soal hal kecil, ingat dan hafal nama orang itu merupakan hal yang kadang-kadang bermanfaat besar. Saat asyik-asyiknya mengobrol dengan seseorang yang pernah kenalan sebelumnya, sedikit banyak akan ‘gondok’ juga kan kalau di tengah obrolan tiba-tiba ia berkata, “Eh kamu siapa namanya ya?” Gubrak. Nama merupakan identitas dasar seseorang. Lupa nama orang merupakan hal yang manusiawi bagi sebagian besar orang tapi tentu respek orang akan berbeda apabila pertama bertemu dan kita berbincang sambil menyebut namanya. Lebih respek lagi bila kita menyebut nama lengkapnya. Selain itu memperhatikan ejaan nama seseorang merupakan hal yang berguna juga loh. Pernah suatu ketika ada teman yang mau mengerjai saya melalui sms (menggunakan nomor asing) dengan mengaku-ngaku sebagai salah seorang teman. Hampir saja ‘terperdaya’ dengan isi smsnya tapi langsung sadar dikerjain begitu ia menyebutkan nama sang teman. Penulisan ejaan namanya keliru. Penulisan nama Rahmad, Rahmat, Rachmat, Rachmad berbeda bukan meski lafalnya mungkin sama. Satu yang pasti : tak mungkin orang salah mengeja namanya sendiri. Terhindar deh dari ‘dikerjain’ orang gara-gara hafal ejaan nama (btw facebook merupakan tempat yang amat bagus buat hafal nama orang lantaran kerapnya kita melihat nama lengkap teman-teman).

Thursday, October 27, 2011

Dua Puluh Empat Jam

Orang-orang terhebat sekalipun mempunyai waktu dua puluh empat jam sehari, yang sama denganmu*

sumber gambar : di sini
Dua puluh empat jam sehari. Milikku, milikmu dan milik orang-orang terhebat sejagad raya. Itulah salah satu bentuk keadilan Tuhan bukan, Dia tidak melebihkan waktu barang sedetik pun bagi menteri, presiden atau orang-orang yang merasa dua puluh empat jam sehari adalah waktu yang sangat sempit, pun Dia juga tidak mengurangi jatah dua puluh empat jam bagi para pecundang, penjahat atau sampah masyarakat sekalipun.


Dua puluh empat jam yang sama. Milik orang-orang yang merutuki takdirnya, menyebut Tuhan tidak adil, menyalahkan hidupnya yang dikatakannya selalu sial dan merasa menjadi orang paling malang sedunia. Milik orang-orang yang menerima segala yang digariskan dengan keridaan, menjalani takdirnya dan mencari cara terbaik menjalani kehidupan dengan apapun yang dipunya.


Dua puluh empat jam yang sama. Milik orang-orang yang merasa tak punya bakat, kemampuan atau kesempatan. Milik orang yang merasa ia bodoh dan memilih menjadi bodoh dengan tidak belajar, tidak berkembang atau memilih mengurung dirinya dalam kekurangannya. Milik orang yang merasa bodoh lalu mencari cara untuk menjadi tidak bodoh. Milik orang yang percaya bahwa nasibnya tidak akan berubah selama ia tidak mengubah dirinya.


Dua puluh empat jam yang sama. Milik orang-orang yang lalai dan terbuai dunia. Milik orang yang melupakan Tuhannya atau bahkan mengingkari-Nya. Milik sang pendosa yang lantas menyesal dan memohon ampun. Milik orang-orang yang selalu berusaha hidup dalam ketaatan.


Dua puluh empat jam yang sama.
Dua puluh empat jam yang ku pilih bagaimana ia akan berjalan
Dua puluh empat jam yang kau pilih bagaimana ia akan menjadikanmu

Dua puluh empat jam yang sama. Dan hidup adalah tentang pilihan bukan?




*kalimat yang pernah saya baca tapi lupa baca dimana


Friday, October 21, 2011

Efek Dahsyat Menulis


dari voa-islam.com
Menulis itu menyenangkan. Rasanya plong bisa mengeluarkan pikiran atau perasaan yang mengganjal menjadi deretan kalimat. Seminggu ini, saya mencoba menargetkan diri everyday blogging in this week, artinya senggang atau nggak, mood atau nggak mood mencoba menulis apa saja yang ada di kepala. Lagian ada yang nantangin saya nulis lantaran saya bilang kepadanya saya punya banyak ide di kepala tapi hanya sedikit sekali yang menjadi tulisan jadi. Folder ‘Just A Little Thought of Mine’ di komputer sudah melewati angka enam puluh file draft tulisan tapi rekam jejak notes di facebook baru mencapai empat puluh enam. File dengan judul ‘Ide menulis’ sudah mencapai belasan ide tapi baru dua yang benar-benar jadi. Selebihnya hanya ide atau tulisan beberapa paragraf yang kemudian ditinggal lantaran malas melanjutkannya. 

Kata teman, suatu perbuatan baik itu harus dipaksakan. Menargetkan diri itu adalah salah satu bentuk ‘pemaksaan’. Lalu woro-woro di situs jejaring sosial adalah bentuk pemaksaan kedua. Yang pertama merasa tak enak dengan diri sendiri dan yang kedua malu dengan orang-orang jika sudah woro-woro tapi nggak dilakukan (yah walau mungkin nggak ada yang nungguin juga sih :P). Dari melakukan sesuatu ‘keterpaksaan’ lama-lama menjadi 'kebiasaan'. Kata teman sih setelah dua bulan ‘dipaksakan’ sesuatu itu akan menjadi kebiasaan. 

Menulis itu, menurut saya, amat besar manfaatnya untuk diri sendiri. Dulu sempat bikin serial notes ‘Book of The Week’ dengan tujuan utama mempersingkat waktu membaca satu buku menjadi seminggu untuk satu buku dan agar menyelesaikan buku yang sudah dimulai (sering membaca suatu buku dan tidak menyelesaikannya) tetapi menghentikannya di minggu ketujuh lantaran merasa keteteran membaca satu buku setiap minggunya. Setelah menghentikannya, waktu menyelesaikan suatu buku bisa mencapai dua hingga tiga minggu, malah ada yang sebulan belum kelar juga hiks. Hasil kegalauan saya menunggu penempatan saya tuangkan dalam Catatan (Tidak) Galau Sebelum Penempatan : Semeleh dan hikmah yang saya dapat dari masalah-masalah yang pernah saya alami saya tuangkan dalam Catatan (Anti) Galau : Big Girls Don't Cry . Menuliskan keduanya membuat saya merasa lebih kuat.

Yang kedua, dari tulisan yang kita buat, sebenarnya kita membuat komitmen terhadap diri sendiri dan dengan disaksikan orang-orang yang membacanya. Si penulis haruslah menjadi orang pertama yang menerapkan apa yang ditulisnya. Sekaligus sebagai pengingatnya jika suatu hari nanti dia melenceng dari apa yang pernah ditulisnya. “Dulu saya pernah menulis ini,” Jadi semacam self-control yang cukup efektif. Pernah suatu teman menulis status atau note (saya lupa-lupa ingat) tentang keutamaan sholat tepat waktu. Saya, entah kenapa, merasa perlu mengingatkannya yang sedang online di facebook dengan sekadar mengajak chat “Eh udah masuk waktu sholat tuh, kemarin aku baca tulisanmu tentang sholat tepat waktu loh hehe,”. 

Hal yang tak kalah menarik lainnya dari menulis adalah dengan menulis orang mengenal kita. Kata Jamil Azzaini melalui akun twitternya “Dengan membaca kita tahu dunia, dengan menulis dunia tahu kita,”. Artinya dengan tulisan, kita menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Sering kali ada saja teman atau kenalan yang tiba-tiba mengajak ngobrol tentang buku, entah buku yang pernah saya review, bertanya tentang buku baru apakah saya sudah membacanya atau memberikan rekomendasi buku bagus. Tiba-tiba saja kami terlibat pembicaraan yang seru tentang buku dan dari sana sering saya memperoleh banyak informasi, tentang buku, penulis atau hal-hal seputar itu. Dari review buku 'Islam Liberal 101' misalnya dan cukup seringnya saya nge-tweet tentang anti liberalisme misalnya, saya berkenalan dengan orang-orang dengan pemikiran sama yang dari mereka saya banyak belajar. Tulisan akan semakin mendekatkan orang-orang yang memiliki kecenderungan yang sama. Pernah juga saya bercerita dengan seseorang yang saya panggil ‘teteh’ yang mengelola kedai bakso (dalam Catatan (Tidak) Galau Sebelum Penempatan : Semeleh ) dan ada teman yang bertanya dimana lokasi persisnya kedai teteh, lumayan membantu promosi kedainya hehe.

Thursday, October 20, 2011

Asyiknya Bermain Twitter


Dicari dari google
Jejaring sosial twitter menurut saya memiliki keunikan tersendiri yang membuat penggunanya menjadi addicted alias kecanduan. 

Ini beberapa keasyikan twitter menurut saya :
1.       Simpel (hanya berupa tweet yang berupa semacam kotak untuk update status di facebook, dengan pembatasan maksimal 140 karakter), hanya tinggal tweet, reply atau retweet.

2.       Pengguna twitter pun tak khawatir dianggap ‘nyampah’ kalau nge-tweet sekadar untuk berkata misalnya ‘lapar, capek, atau hujan’ dengan jumlah apdetan  berkali-kali dalam sehari (kalau di facebook rasa-rasanya malas melihat satu orang update status beberapa kali dalam sehari hehe).

3.       Sangat banyak tokoh-tokoh ternama yang selama ini hanya kita lihat di televisi atau kita ketahui sepak terjangnya melalui media massa yang mempunyai akun twitter. Bisa berkomunikasi secara langsung dengan mereka (melalui mention kita) yang tentu saja susah kita lakukan di dunia nyata. Beberapa tokoh ternama ternyata sangat ramah loh :D

4.       Dari tweet-tweet akun yang kita follow kita bisa belajar banyak ilmu mereka secara cuma-cuma. Mau lebih pintar ilmu agama? Bisa follow @aagym, @salimafillah, @yusuf_mansyur, @kang_abik atau akun seperti @islamicthinking, @backondeen. Mau lebih pintar ilmu finansial? Bisa follow @safirsenduk, @mrshananto atau @ahmadgozali. Mau terkena motivasi dahsyat tingkat tinggi bisa follow @jamilazzaini, @ipphoright atau @tungdw. Mau tahu pemikiran tokoh politik? Bisa follow @tifsembiring, @fahrihamzah atau @indrajpiliang misalnya. Para tokoh ternama juga sering menulis tentang kultwit (kuliah twitter kalau tak salah singkatannya) tentang hal-hal yang dikuasainya. Intinya tinggal cari ahli sesuatu dan follow mereka. ^^

Wednesday, October 19, 2011

Yang Muda Yang Berbeda : Loving Life!


Dicari dari google

Usia muda itu tak berulang dua kali, anak muda itu spesial. Salah satu karakteristiknya adalah spontanitas. Action dulu. Bergerak dulu. Tiba-tiba saja jam setengah 8 pagi di-sms seorang kawan yang mengajak ke Dufan sejam kemudian sudah berangkat atau tiba-tiba saja sudah berada ratusan kilometer dari Jakarta, ditengah bus sambil bernyanyi-nyanyi riang. Kadang-kadang rencana yang dibicarakan berulang kali malah tak jadi bukan?

Kuliah saya di STAN berjalan flat-flat saja hingga tingkat dua, jujur saja orientasi kuliah pada tahun pertama benar-benar murni akademis, hanya ingin belajar dan memperoleh hasil tinggi. Kuliah pulang, kuliah pulang (kupu-kupu), seputar kosan dan menghindari organisasi (takut mengganggu kuliah). Hingga saya bertemu dengan teman-teman tingkat dua yang membuat saya merasakan nyamannya persahabatan. Mulailah berkembang pikiran, lagipula akhirnya jenuh juga belajar terus :P

Dari situ mulai jalan-jalan kemana-mana atau sekadar berkumpul ngobrol-ngobrol. Orientasi pun mulai bergeser, tak sepenuhnya untuk akademis. Dulu waktu tingkat satu masih rajin meringkas hampir semua bab mata kuliah pelajaran-pelajaran susah dengan dihias warna-warni yang menarik hati (ah kemana ya catatan-catatan saya itu sekarang?), lalu mulai malas sedikit demi sedikit, waktu tersita untuk jalan-jalan dan mulai ikut organisasi. Malah ada teman kos yang berkata tak pernah melihat saya waktu weekend -_-“

Lalu mulailah petualangan think out box, melakukan hal berbeda yang sebelumnya tak pernah dilakukan. Rutinitas itu kadang membosankan kan? Mulailah saya ikut les bahasa Mandarin, jadi pengajar dan coba-coba berbisnis (walau yang terakhir ini bisa disebut gagal hiks).  Hidup terasa lebih berwarna.

Dan sekarang sedang menunggu dengan antusias untuk ikut tur Museum Nasional dan Istana Negara besok minggu (baru saja bergabung dengan Komunitas Historia Indonesia), sudah tak sabar ikut kursus menjahit bersama Anita (jalan-jalannya juga ding :D), sedang mencari peluang bisnis baru, menikmati blogwalking dan belajar menulis setiap harinya, membaca banyak buku dengan genre-genre yang sebelumnya bukan genre saya, antusias berkenalan dengan banyak orang, menikmati setiap pertemuan les bahasa Arab dan hal-hal lainnya.

Iya, telat banget baru sekarang menikmati enaknya mengeksplor diri tapi tak apa-apa lah ya. Better late than never. Dulu benar-benar menolak membaca buku yang bukan-saya-banget tetapi setelah coba-coba membacanya, saya menikmati juga. Melihat sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda dan yang lebih penting mendapat ilmu baru. Kursus jahit saya pikir awalnya bukan-saya-banget mengingat dulu waktu SMP nilai tata busana saya yang menyedihkan tapi setelah dipikir-pikir kalau saya nggak bisa dan menghindar kapan bisanya?

Jadi eksplor diri sebanyak-banyaknya, mumpung masih muda. Ikut apa saja selama positif dan mampu (ya nggak mungkin juga saya ikut kursus angkat besi :p). Nikmati hidup dan jangan batasi pikiran serta jangan batasi diri dengan pikiran seperti ‘nggak mampu’, ‘bukan saya banget’, dsb. Masa muda tak berulang dua kali, kesempatan itu kadang tak menunggu. Masa ketika fisik, antusiasme dan kemampuan sedang berada di puncaknya. 

Yuk, temukan hal yang menakjubkan dari hidup ^^

Tuesday, October 18, 2011

Catatan Anti Galau : Big Girls Don't Cry


dicari dari google
Selepas SMA, saya merasa sudah dewasa. Sudah melewati usia tujuh belas tahun yang katanya merupakan usia kedewasaan, punya SIM, KTP dan ijazah SMA. Diterima di STAN dan siap meninggalkan rumah, merantau untuk pertama kalinya. Jauh dari orang tua, mengambil keputusan sendiri dan mengatur keuangan sendiri (walau masih uang kiriman ortu). Ada perasaan siap menjadi dewasa.

Namun rupanya, titik dewasa saya tak benar-benar mulai disana. Usia sembilan belas, saat masih duduk di tingkat dua, ada satu hal tak enak yang membuat sedih, kecewa, terluka hingga memikirkannya berbulan-bulan hingga sekarang pun jika terlintas hal tersebut masih meninggalkan sedikit rasa sakit. Itu cobaan terberat yang pernah saya alami. Saya keliru. Setahun berikutnya saat tingkat tiga, saya mengalami hal yang lebih tak enak lagi. Berhentikah? Setahun berikutnya saya mengalami hal yang jauh lebih tak enak. Beberapa bulan yang lalu lebih tepatnya.

Saya menangis dan berteriak, mengapa hal ini terjadi. Saya merasa lemah dan tak mampu menghadapinya. Mengapa harus saya? Mengapa bukan orang lain? Mengapa harus cobaan ini, mengapa bukan cobaan yang lain?

Berat badan saya merosot drastis pada waktu itu, sering menangis memikirkannya, tak selera makan, tidur tak nyenyak, mendadak sering sakit kepala, masuk angin dan sakit perut. Pikiran pun sering tak fokus dan lebih sering berpikiran negatif.

Status facebook yang saya tulis waktu itu “I wish i could just cry and then my problem’s solved but as i’m getting older, it can’t be that simple,”

Iya, saya harap dengan menangis semua selesai seperti waktu kecil tinggal menangis dan ada orang tua yang menyelesaikan masalah atau bahkan esok harinya sudah lupa, kembali pada keriangan dunia kanak-kanak.
Suatu idiom terkenal menyebutkan “What doesn’t kill you makes you stronger”. Idiom yang pada akhirnya menunjukkan tuahnya. Badai pasti berlalu dan masalah pasti berakhir. Insya Allah. Dan ya, perlahan-lahan masalah tersebut (yang nampak amat ruwet pada mulainya) mulai mengurai solusinya perlahan-lahan, dengan cara yang kadang-kadang ajaib.

Bismillah. Berikut ini hal-hal yang insya Allah saya bagi kali ini :
1. Masalah akan selalu ada dalam setiap fase kehidupan manusia dan semakin bertambah usianya, semakin berat pula masalah yang akan dihadapinya. Namun kemampuan manusia juga semakin meningkat , insya Allah ^^ #ingatkandiri

Monday, October 17, 2011

Duhai Ustadz


dicari dari google
Beberapa kali televisi kantor menayangkan channel suatu stasiun televisi swasta yang mempunyai suatu program pencarian dai muda. Dalam pariwara program itu ditampilkan seorang laki-laki muda berpeci berjalan di tengah tatapan kekaguman orang-orang, terutama para gadis berjilbab (akhwat). Adegan berikutnya sang laki-laki sedang menunaikan ibadah sholat sementara di belakangnya para akhwat tampak kasak-kusuk memperbincangkannya.

Dalam perspektif saya sebagai orang awam, saya merasa pariwara tersebut agak menganggu. Mengganggu disini dalam arti pekerjaan (atau bisakah saya sebut dai sebagai suatu profesi?) mengajari umat perihal masalah agama, tidak dilakukan oleh sembarang orang. Pun niatnya tentu saja bukan untuk mencari pujian orang tetapi merupakan suatu bentuk ibadah kepada-Nya. Pariwara tersebut, tentu menurut perspektif pribadi saya, seakan-akan menunjukkan bahwa dengan mengikuti program tersebut seseorang bisa menjadi sosok yang dikagumi dan dipuja-puja.

Hal kedua, jujur saja saya merasa terganggu dengan beberapa tayangan infotainment yang menampilkan seorang ustadz muda yang sedang naik daun tampil berdua dalam satu frame dengan seorang gadis yang disebut-sebut sebagai calon istri beliau. Dikatakan bahwa sang ustadz akan menikahi gadis tersebut pada Februari tahun depan. Artinya ada jangka waktu sekitar empat bulan yang mana mereka berdua belum resmi menjadi suami istri. Disana dikatakan ustadz tersebut melakukan ta’aruf. Ya ta’aruf, bukan pacaran. Ta’aruf  yang saya tahu bukanlah tampil berdua di depan publik, ta’aruf yang saya tahu adalah suatu majelis atau katakanlah pertemuan dimana seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berniat untuk segera menikah membicarakan mengenai hal-hal yang serius mengenai rumah tangga (seperti kesamaan visi misi, riwayat kehidupan, dsb) dan mencari tahu apakah dari pertemuan tersebut dapat dilanjutkan dengan lamaran. Iya, lamaran. Pun ta’aruf tidak dilakukan berdua saja. Adapun apabila tercipta kesepakatan untuk menikah dan karena alasan tertentu kedua calon mempelai harus menunggu beberapa lama sebelum benar-benar bersanding di pelaminan, mereka tidak tampil berdua. Orang-orang yang melakukan ta'aruf, yang saya tahu, benar-benar orang yang berusaha menjaga hati mereka karena rentang waktu beberapa bulan itu cukup lama untuk menjaga hati.

Sunday, October 16, 2011

Kalau Kamu Jangan Terlalu Berharap

dicari dari google
Dalam hidup, saya mengenal dengan beberapa orang yang mempunyai pikiran skeptis. Salah satu dari teman saya pernah mengatakan kurang lebih seperti “Yakin Mon, kamu mau ikutan itu? Saingannya kan banyak banget,” dengan tatapan  menyangsikan yang mengganggu serta mimik wajah yang tidak percaya. “Ya, memang kenapa?” “Ya, kalau aku sih lebih baik enggak mendaftar daripada kecewa,” Waktu itu emosi saya agak naik lantaran itu bukan kali pertama dia mengatakan hal semacam itu, “Kenapa sih kamu selalu membuat saya down?” ia menjawab, “Aku hanya menjaga kamu agar kamu nggak kecewa kalau nggak kesampaian”

 Saya rasa nggak ada salahnya saya mendaftar apapun itu, tentu saja sebelumnya dengan mengukur kemampuan saya, misalnya saya sadar diri memiliki suara yang jauh dari bagus, saya nggak akan daftar audisi menyanyi. Dalam kondisi di atas, saya rasa (insya Allah) saya memiliki kapasitas atas hal itu, hanya saja banyak orang yang menginginkan hal yang sama. 

Jika Anda melihat kertas dengan setengah halaman gambar bunga dan setengah halaman gambar rumput, apa yang akan Anda katakan? Gambar bunga atau gambar rumput? Seorang sangunis seperti saya akan mengatakan bahwa saya melihat bunga. Ia cenderung akan melihat hal dari sisi bagusnya. Iya saya tahu saingan saya bejibun, lantas kenapa? Setidaknya saya mempunyai peluang yang sama bukan? Saya akan lebih menyesal menyadari saya punya kesempatan untuk memenangkan sesuatu tapi saya tidak menggunakannya daripada saya menyesali kekalahan atau kekecewaan. Teman saya itu memutuskan untuk tidak ikutan, padahal saya tahu ia menginginkannya, ia menjaga hatinya dari kekecewaan. Lebih baik tidak mendaftar daripada kecewa jika kalah. Well, sah-sah saja menurut saya, tiap orang mempunyai cara tersendiri dalam menjalankan kehidupannya. Namun bagi saya, tidak mencoba memperjuangkan sesuatu yang saya inginkan itu akan menimbulkan rasa penasaran seumur hidup seperti kata-kata coba kalau dulu saya ikutan, coba kalau dulu saya nyobain.

Pernah ada suatu fase ketika rasa percaya diri saya berada di titik terendah. Orang-orang yang dekat dengan saya waktu itu adalah orang-orang skeptis nan pesimis, ditambah mungkin sebenarnya inner confident saya yang enggak besar-besar amat, walhasil saya jadi peragu akut dalam mengambil suatu keputusan plus enggak yakin jika melakukan sesuatu, bawaannya takut salah dan minder duluan. Hingga seorang teman berkata kepada saya “Kenapa sih Mon kamu takut salah banget? Kalau salah toh kamu bisa perbaiki, dimarahi orang pun habis itu juga selesai” Saya cuma diam mendengarkan perkataannya. Ia melanjutkan “Mon-mon, coba aja kali, lebih baik menyesal melakukan sesuatu daripada tidak melakukan sesuatu, kamu itu jangan membatasi pikiran,”

Saturday, October 15, 2011

Jatuh Cinta dengan Al Manar


Pertama kali mengenal tempat ini dari seorang teman yang menawari tentang kursus bahasa Arab. Kebetulan saya berminat maka meluncurlah saya ke jalan Nangka, Utan Kayu. Lahannya menurut saya tidak terlalu luas untuk ukuran madrasah, dengan bangunan bertingkat tiga dan masjid yang lumayan luas. (Nah lho? Coba dibayangkan sendiri ukurannya). Berdiri di atas tanah wakaf semenjak tahun 1994 (berdasarkan plang yang saya baca di depan masjidnya). Bisa dilihat disini.

                Lalu dimulailah pertemuan demi pertemuan kursus bahasa Arab setiap hari Sabtu dan Ahad sore semenjak bulan Maret tahun ini. Tak hanya materinya yang komprehensif menurut saya yang membuat saya betah belajar di tempat ini (muhadasah, qiroah dan nahwu) tetapi cara mengajar ustadz-ustadznya (ada empat ustadz untuk tiap level) yang subhanallah kalau boleh saya bilang. Misalnya saat tadi sore pelajaran qiroah yang menceritakan seseorang yang mencintai pekerjaannya sebagai petani. Ustadz pun mengatakan bahwa mahabbah (suka/cinta) terhadap suatu pekerjaan adalah hal yang mutlak harus dipunyai seseorang agar pekerjaan dilakukan dengan penuh semangat dan didasari dengan keikhlasan karena menyukai sesuatu pekerjaan akan membuat seseorang melakukan pekerjaan tersebut. Tak jarang dalam pertemuan sang Ustadz menyelipkan ayat-ayat Al-Qur’an atau hadits yang nyambung dengan teks. Jadi belajar bahasa sekaligus mendapat pelajaran agama. Terkadang Ustadz juga menceritakan tentang kisah-kisah hikmah yang menginspirasi.

                Bulan September lalu, Al Manar membuka kelas baru (ohya Al Manar merupakan STIDA atau Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah yang juga menyelenggarakan beberapa kelas, salah satunya kelas bahasa Arab). Di tengah ketidakjelasan penempatan kota manakah tempat saya bekerja sebagai abdi negara (kebetulan saya seorang CPNS yang masih menunggu penempatan), saya nekat ikut mendaftar STIDA meski saya belum tahu di kota mana saya akan ditempatkan sementara kuliah STIDA ini terdiri dari delapan semester. Beberapa teman yang saya ceritakan tentang hal ini semua berkata “Yakin Mon kamu daftar STIDA? Emang kamu nanti penempatan Jakarta?” ya saya jawab saya tidak tahu nanti penempatan dimana “Nah lho gimana kalo kamu nanti nggak penempatan di Jakarta?”

Wednesday, October 12, 2011

A Memory Rendezvous

Setahun yang lalu, ya sudah setahun rupanya, untuk pertama kalinya mengenakan toga. Pagi-pagi benar sebelum subuh berangkat dari rumah om di Bekasi berpacu di tengah lengang jalan tol arah Bogor. Ya, setahun yang lalu saat seremoni pelepasan status kemahasiswaan digelar. Saat buncah itu menyusup, saat perjuangan tiga tahun seperti terbayar lunas. Setiap melihat megah bangunan Sentul Internasional Convention Centre (SICC) saat melintasi jalan tol, masih saja senyum itu ada. Mengembang mengingat di tempat itu pernah terlukis satu kenangan indah yang tersimpan rapat di suatu sudut memori.

Setiap melintasi jalanan di daerah sekitar kampus, rasa-rasanya seperti melakukan ‘perjalanan memori’. Lebih memilih jalan yang dahulu sering dilalui meski kadang harus memutar, menyusuri ingatan di tempat ini pernah berkumpul dengan orang-orang yang tak terlupakan, di tempat ini pernah tertawa dan berbagi bersama. Melihat gedung kampus dan memejamkan mata sejenak, menikmati kenangan yang seperti datang mengajak berkencan. Kampus yang lebih dari indah untuk dikenang.

Wednesday, October 5, 2011

Book of The Week #7 : Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan


Kemiskinan merupakan masalah terbesar yang dihadapi oleh banyak negara. Separo penduduk dunia hidup hanya dengan dua dolar sehari bahkan kurang dari itu, sedangkan hampir satu miliar orang hidup dengan kurang dari satu dolar sehari. Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian tahun 2006, membagikan pemikirannya melalui sebuah buku yang menceritakan mengenai asal muasal Bank Grameen, sebuah bank dengan strategi kredit mikro yang menjangkau penduduk paling miskin di negaranya, Bangladesh, serta menceritakan mengenai pengalaman, harapan dan mimpi-mimpinya. Betapa ia mengangankan suatu hari nanti akan ada dunia tanpa kemiskinan.


Muhammad Yunus memulai buku ini dengan awal mula terciptanya sebuah bisnis baru, bisnis sosial, yang lahir akibat permasalahan yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme, kegagalan pemerintah dalam memecahkan masalah sosial hingga kurang efektifnya gerakan nirlaba. Ia juga menunjukkan perbedaan antara perpaduan antara badan pemerintah dan kelompok nirlaba, yakni lembaga multilateral, seperti Bank Dunia dan korporasi keuangan internasional dengan Bank Grameen, sebuah bank dengan basis bisnis sosial serta Corporate Social Responsibility (CSR) yang dewasa ini telah banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar. Kapitalisme menurutnya tak lebih dari sekadar struktur setengah jadi yang memandang manusia sebagai makhluk satu dimensi yang hanya tertarik mengejar keuntungan sebesar-besarnya.


Bisnis baru yang ditawarkan oleh Muhammad Yunus, bisnis sosial adalah bisnis yang mengakui sifat multidimensi manusia. Pengusaha bukan mendirikan bisnis dengan target keuntungan sebesar-besarnya (profit-maximizing business-PMB) melainkan untuk mencapai tujuan sosial yang luas. Terdapat dua jenis bisnis sosial yakni perusahaan yang fokus menyediakan manfaat sosial, bukan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dan dimiliki oleh investor yangmengharapkan manfaat sosial. Yang kedua adalah bisnis pencari keuntungan maksimal yang dimiliki oleh orang miskin dan orang kurang beruntung.

Friday, September 23, 2011

Catatan (Tidak) Galau Sebelum Penempatan : Semeleh



diunduh dari google
Sebagai CPNS, memang sudah menjadi suatu konsekuensi untuk ditempatkan dimana saja di seluruh wilayah Indonesia. Namun tetap saja, bagi saya, membayangkan penempatan seperti membentangkan peta Indonesia di depan mata mengingat instansi saya, Ditjen Kekayaan Negara (DJKN) memiliki kantor vertikal yang tersebar dari Aceh hingga Jayapura. Menunggu penempatan itu ‘sesuatu banget’ dan sukses membuat galau.

Ngomong-ngomong soal galau penempatan, rasa-rasanya sudah melewati masa puncaknya. Gosip penempatan sudah santer terdengar semenjak bulan Juni dan tulisan ini dibuat belum terjadi. Apalagi DJKN adalah satu-satunya instansi di Kementerian Keuangan yang hingga sekarang belum penempatan, teman-teman yang ditempatkan di instansi lain sudah menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, mulai dari kota-kota besar hingga kota-kota di daerah. Walau sudah melewati ‘puncak kegalauan’ (mungkin karena banyaknya gosip dan sudah terlalu lama galaunya :p) tetap saja rasa harap-harap cemas masih ada di dalam hati.

Salah satu bentuk nikmat Allah adalah mempertemukan kita dengan orang yang tepat, disaat yang tepat. Bulan puasa lalu tiba-tiba saja mendapatkan sms dari tante seorang sahabat saya yang tinggal di Semarang. Seseorang yang hanya sempat saya kenal sekilas saat duduk di bangku SMA. Omong punya omong, beliau sekarang sudah bersuami dan tinggal di Jakarta. Saya memanggilnya teteh. Usianya beberapa tahun di atas saya. Teteh mengajak silaturahmi ke kontrakannya yang ternyata cukup dekat dengan kos saya. Ia dan suaminya memutuskan meninggalkan pekerjaan mereka sebagai karyawan swasta dan bersama-sama merintis usaha mereka dari nol, berjualan bakso. Ya, mereka mengelola sebuah kedai bakso di daerah Kramat. Pekan lalu saya berkesempatan bertemu dengan mereka, di kedai bakso tersebut. Wajah cerah teteh kembali saya temui setelah bertahun-tahun.

Monday, September 19, 2011

Klik #1 : Pilih Satu Atau Dua Tujuh?



dari sekolahmadani.com
Akhir-akhir ini sering sholat sendirian. Di kos yang sekarang nampaknya budaya sholat berjama’ah kurang. Tentu akan terasa perbedaan antara kos mahasiswa dengan kos pegawai. Kos mahasiswa ramai, dengan budaya ‘ngumpul-ngumpul’ yang kental. Sedangkan pada kos pegawai, bisa jadi satu kos tetapi tidak saling mengenal. Berangkat atau pulang kerja sering kali tidak bertemu karena jam atau lokasi kerja yang berbeda. Hampir di setiap kamar terdapat televisi pribadi, berbeda dengan kos mahasiswa yang umumnya satu televisi untuk satu kos sehingga sering berkumpul di depan televisi. Pintu kamar kos pegawai rasa-rasanya juga selalu tertutup, jarang sekali ada yang membuka pintunya. Dulu waktu kuliah, semua pintu teman satu kos diketok semua, hingga semua bangun, lalu sholat berjama’ah. Sholat berjama’ah menunggu semua personel lengkap.

Biasanya saya sholat berjama’ah dengan dua orang teman kos yang sebelumnya sudah saya kenal saat kuliah. Bukan apa-apa, hanya saja sebagai penghuni baru di kos ini, saya merasa sungkan mengajak penghuni lama yang baru saya kenal untuk sholat berjama’ah sementara di kos ini tak ada budaya sholat berjama’ah.

Selain itu, menurut saya, tak semua orang mau diajak sholat berjama’ah. Pernah saya mengajak seorang teman (perempuan) yang saya kenal di suatu mushola sebuah kantor dan ia menjawab “Sendiri-sendiri saja ya,”. Dan cukup sering jawaban itu saya peroleh. 

Suatu ketika saya melihat ketika sedang dilaksanakan sholat berjama’ah di suatu tempat, seorang ibu datang. Saya pikir beliau akan menjadi makmum masbuk dari jamaah tersebut tapi ia malah mendirikan sholat sendiri (kebetulan saya masbuk dan di belakang ibu tersebut sehingga sempat melihatnya). Hal yang cukup sering saya lihat.

Pernah juga saya membaca tweet yang dibagikan oleh seseorang di twitter yang kira-kira begini bunyinya : “Gue orangnya mandiri, sholat pun gue mandiri, sendiri”.

Friday, August 19, 2011

Have You Ever?

Have you ever felt like being lonely in a crowded place?
Have you ever felt like you wanna scream loudly but you don't wanna anyone hear?
Have you ever felt like you can't rely on no one but you?
Have you ever felt like going no direction?
Have you ever wanted to dance under the rain that no one sees you crying?
Have you ever pretended like everything happened?
Have you ever proscratinated something, hoped for better thing then you got nothing?
Have you ever wondered what life would be if you chose another way?
Have you ever been hurted that you felt you would not be healed?
Have you ever been underestimated by someone you adore so much?
Have you ever regreted the things you had missed?
Have you ever hated yourself for being someone you hate to be?
Have you ever asked what God had created you for?
Have you ever cried so loudly knowing that your tears were for vain?
Have you ever thought it would be easier to be someone else?


Tuesday, August 2, 2011

Kata-Kata Ini

dicari dari google


Ada kata-kata yang menjatuhkan kita. Ada kata-kata yang membuat kita senang, sedih, jengkel, kecewa dan merasakan perasaan lainnya.  Namun akan selalu ada kata-kata yang mengubah hidup kita. Mengubah cara pandang...

Niat saya berjilbab saya utarakan kepada beberapa orang dekat, dua diantaranya mengatakan kata-kata yang tak hanya menguatkan niat saya tetapi juga menjadi kata-kata yang menjadi salah satu dasar cara saya memandang suatu persoalan. 

“Sebenernya aku pengen berjilbab tapi gimana ya? Sikapku kan belum baik-baik amat, nanti kalau ada orang bilang orang jilbaban kok sikapnya gitu gimana coba? Ntar imej orang berjilbab jadi buruk gimana? Lagian gimana ya kalau aku pakai jilbab terus ntar di tengah jalan aku pengen lepas lagi?” (Biasa, mau bertambah baik pasti ada bisikan keraguan)

Teman saya yang pertama menjawab, “Mon, justru dengan berjilbab itu kamu akan termotivasi untuk menjadi lebih baik mon, bukan kamu nunggu baik dulu baru berjilbab, jilbab itu akan menjagamu mon”

Teman saya yang kedua berkata, “Mon, kayak sholat deh, kalau kamu nunggu sholatmu khusyuk kapan kamu mau sholat? Kalau kamu nunggu kamu jadi orang baik dulu sebelum berjilbab, kapan kamu mau berjilbab? Sementara kewajiban berjilbab itu telah ada semenjak kamu baligh..”

Bismillah. 17 Agustus 2006 niat itu terwujud menjadi tindakan. Waktu itu saya tidak begitu paham dengan kata-kata ‘jilbab itu akan menjagamu’. Namun seiring berjalannya waktu, kata-kata itu tak hanya sekadar kata-kata, ia membuktikannya. Mulai dari pikiran “Aduh, saya akan pakai jilbab, malu dong sama jilbab saya,” hingga “Nggak pantes orang berjilbab bersikap seperti ini,”. Ya, sedikit banyak jilbab menjadi perisai bagi pemakainya.

Kata-kata ‘ajaib’ dalam hidup saya berikutnya dilontarkan oleh seorang teman dekat saat menyemangati saya yang waktu itu sedang enggan berangkat liqo. Dia berkata, “Kebaikan itu terkadang harus dipaksakan Mon,” katanya tegas. Saya berangkat juga dengan setengah malas dan pulangnya saya bertanya kepadanya, “Kalau kebaikan dipaksakan berarti nggak ikhlas dong? Sementara syarat diterimanya suatu ibadah itu kesesuaian dengan syariat dan niat bukan?” Dia menjawab panjang lebar, ”Mungkin pada awalnya kamu kurang ikhlas melakukan suatu kebaikan, tapi paksakan saja melakukannya. Lama-lama kamu akan terbiasa melakukannya dan setelah kamu terbiasa melakukannya, kamu akan merasa kehilangan jika kamu tidak melakukannya. Tahu nggak mon, suatu perbuatan itu akan menjadi kebiasaan jika dilakukan terus menerus tanpa henti selama minimal dua bulan,”

Tuesday, June 7, 2011

Book of The Week #6 : 9 Summers 10 Autumns


"Bapakku, sopir angkot yang tak bisa mengingat tanggal lahirnya. Dia hanya mengecap pendidikan sampai kelas 2 SMP. Sementara ibuku, tidak bisa menyelesaikan sekolahnya di SD. Dia cermin kesederhanaan yang sempurna. Empat saudara perempuanku adalah empat pilar kokoh. Di tengah kesulitan, kami hanya bisa bermain dengan buku pelajaran dan mencari tambahan uang dengan berjualan pada saat bulan puasa, mengecat boneka kayu di wirausaha kecil dekat rumah, atau membantu tetangga berdagang di pasar sayur. Pendidikanlah yang kemudian membentangkan jalan keluar dari penderitaan. Cinta keluargalah yang akhirnya menyelamatkan semuanya."

Bagaimana rasanya berdamai dengan masa lalu? Mengambil kepingan-kepingan terdalam dari sebuah puzzle besar bernama kehidupan? Memanggil kenangan, menyusunnya pada lembaran kini dan perlahan-lahan menyembuhkan luka yang timbul ketika sebelumnya hidup dengan keterbatasan?
Iwan Setyawan, seorang anak sopir di kota apel berhasil menembus batas mimpinya saat ia menjejakkan kaki di The Big Apple, salah satu kota megapolitan di tengah gemerlapnya negeri Paman Sam. Dalam buku setebal 221 halaman ini, ia menceritakan tentang lika-liku perjalanannya dari Sekolah Dasar hingga berhasil menjadi direktur di New York. Betapa ia, dengan segala keterbatasannya, menjelma menjadi seorang yang pembelajar dan pekerja keras berkat kegigihannya untuk mengubah nasib keluarganya dan berkat doa serta cinta kasih keluarganya yang begitu besar.

Dalam buku yang menurut pandangan saya merupakan perpaduan antara novel dan autobiografi ini, Iwan mengajak pembacanya untuk menyelami masa lalu untuk kemudian menyembuhkan perasaan sepi yang pernah mendiami hati seperti puisi “Hampa” karya Chairil Anwar dikutipnya dalam buku ini :

Sepi.
Tambah ini menanti menanti jadi mencekik
Memberat-mencekung punda
Sampai binasa segala. Belum apa-apa
Udara bertuba. Setan bertempik
Ini sepi terus ada. Dan menanti.

Ya, terkadang kita perlu menggali masa lalu dan mungkin membagikannya melalui cerita, untuk sembuh dari luka yang pernah ada, untuk tumbuh dan bertambah kuat. Seperti kata Iwan :

“I can imagine if there’s nothing in my pocket
But I can not imagine if there’s no knowledge in my mind and religion in my heart.
They are my other suns in my life”