Wednesday, October 5, 2011

Book of The Week #7 : Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan


Kemiskinan merupakan masalah terbesar yang dihadapi oleh banyak negara. Separo penduduk dunia hidup hanya dengan dua dolar sehari bahkan kurang dari itu, sedangkan hampir satu miliar orang hidup dengan kurang dari satu dolar sehari. Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian tahun 2006, membagikan pemikirannya melalui sebuah buku yang menceritakan mengenai asal muasal Bank Grameen, sebuah bank dengan strategi kredit mikro yang menjangkau penduduk paling miskin di negaranya, Bangladesh, serta menceritakan mengenai pengalaman, harapan dan mimpi-mimpinya. Betapa ia mengangankan suatu hari nanti akan ada dunia tanpa kemiskinan.


Muhammad Yunus memulai buku ini dengan awal mula terciptanya sebuah bisnis baru, bisnis sosial, yang lahir akibat permasalahan yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme, kegagalan pemerintah dalam memecahkan masalah sosial hingga kurang efektifnya gerakan nirlaba. Ia juga menunjukkan perbedaan antara perpaduan antara badan pemerintah dan kelompok nirlaba, yakni lembaga multilateral, seperti Bank Dunia dan korporasi keuangan internasional dengan Bank Grameen, sebuah bank dengan basis bisnis sosial serta Corporate Social Responsibility (CSR) yang dewasa ini telah banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar. Kapitalisme menurutnya tak lebih dari sekadar struktur setengah jadi yang memandang manusia sebagai makhluk satu dimensi yang hanya tertarik mengejar keuntungan sebesar-besarnya.


Bisnis baru yang ditawarkan oleh Muhammad Yunus, bisnis sosial adalah bisnis yang mengakui sifat multidimensi manusia. Pengusaha bukan mendirikan bisnis dengan target keuntungan sebesar-besarnya (profit-maximizing business-PMB) melainkan untuk mencapai tujuan sosial yang luas. Terdapat dua jenis bisnis sosial yakni perusahaan yang fokus menyediakan manfaat sosial, bukan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dan dimiliki oleh investor yangmengharapkan manfaat sosial. Yang kedua adalah bisnis pencari keuntungan maksimal yang dimiliki oleh orang miskin dan orang kurang beruntung.

Bank Grameen lahir untuk mematahkan anggapan bahwa orang miskin tak layak mendapatkan bantuan kredit. Muhammad Yunus bahkan memberikan bantuan kredit kepada para pengemis! Hasilnya tak sia-sia, tingkat pengembalian pinjaman mencapai 98%, banyak pengemis yang ‘pensiun’ sebagai pengemis dan memulai usaha. 


Kekuatan kredit mikro yang ditawarkan bukan berasal dari jumlah kredit yang diberikan melainkan pada keyakinan seorang Muhammad Yunus bahwa akan ada cara untuk mengentaskan keyakinan. Ia membuat orang-orang miskin yakin bahwa mereka mampu selama mereka berjuang untuk diri mereka sendiri. Pinjaman yang diberikan digunakan untuk kegiatan produktif, terdapat enam belas butir perjanjian yang disepakati dengan penerima pinjaman hingga pembuatan kelompok usaha sehingga anggota usaha malu kepada kelompoknya apabila gagal membayar. Ia juga menemukan bahwa memberi pinjaman kepada wanita jauh lebih efektif daripada memberi pinjaman kepada pria.


Berawal dari kredit mikro, bisnis sosial Muhammad Yunus pun dimulai. Ia bahkan memiliki dua puluh lima organisasi bisnis sosial yang bergerak di berbagai bidang. Ia juga bekerjasama dengan Danone dan membentuk Grameen Danone dan kemudian berkomitmen memproduksi makanan bergizi dengan harga rendah untuk rakyat Bangladesh (kemudian dikenal sebagai yoghurt Shokti Doi). Tak hanya itu, ia juga memikirkan mengenai dampak plastik yang digunakan sebagai wadah yoghurt dengan menggantinya dengan wadah yang terbuat dari tepung jagung.


Kekuatan Muhammad Yunus terletak pada keyakinannya akan hal-hal yang dianggap orang sebagai hal yang mustahil dicapai, kepeduliannya yang begitu besar kepada orang miskin dan kemampuannya memikirkan hal-hal yang diabaikan orang lain. Ia bermimpi pada tahun 2050 nanti kemiskinan akan berada dalam museum.


            Membaca buku ini seperti menyelami pemikiran seorang Muhammad Yunus yang luar biasa. Pantaslah bila ia diganjar dengan sebuah penghargaan Nobel. Buku yang mengagumkan dan membuat saya menyesal mengapa baru sekarang membacanya :)

-previously posted in facebook-

2 comments:

  1. An juga pernah ikut penelitian CSR, mon...CSR tentang pengendalian DBD di Kelurahan Gajahmungkur, Semarang

    ReplyDelete
  2. jadi CSR itu bentuk kapitalisme atau bukan ya?

    ReplyDelete