Saturday, October 15, 2011

Jatuh Cinta dengan Al Manar


Pertama kali mengenal tempat ini dari seorang teman yang menawari tentang kursus bahasa Arab. Kebetulan saya berminat maka meluncurlah saya ke jalan Nangka, Utan Kayu. Lahannya menurut saya tidak terlalu luas untuk ukuran madrasah, dengan bangunan bertingkat tiga dan masjid yang lumayan luas. (Nah lho? Coba dibayangkan sendiri ukurannya). Berdiri di atas tanah wakaf semenjak tahun 1994 (berdasarkan plang yang saya baca di depan masjidnya). Bisa dilihat disini.

                Lalu dimulailah pertemuan demi pertemuan kursus bahasa Arab setiap hari Sabtu dan Ahad sore semenjak bulan Maret tahun ini. Tak hanya materinya yang komprehensif menurut saya yang membuat saya betah belajar di tempat ini (muhadasah, qiroah dan nahwu) tetapi cara mengajar ustadz-ustadznya (ada empat ustadz untuk tiap level) yang subhanallah kalau boleh saya bilang. Misalnya saat tadi sore pelajaran qiroah yang menceritakan seseorang yang mencintai pekerjaannya sebagai petani. Ustadz pun mengatakan bahwa mahabbah (suka/cinta) terhadap suatu pekerjaan adalah hal yang mutlak harus dipunyai seseorang agar pekerjaan dilakukan dengan penuh semangat dan didasari dengan keikhlasan karena menyukai sesuatu pekerjaan akan membuat seseorang melakukan pekerjaan tersebut. Tak jarang dalam pertemuan sang Ustadz menyelipkan ayat-ayat Al-Qur’an atau hadits yang nyambung dengan teks. Jadi belajar bahasa sekaligus mendapat pelajaran agama. Terkadang Ustadz juga menceritakan tentang kisah-kisah hikmah yang menginspirasi.

                Bulan September lalu, Al Manar membuka kelas baru (ohya Al Manar merupakan STIDA atau Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah yang juga menyelenggarakan beberapa kelas, salah satunya kelas bahasa Arab). Di tengah ketidakjelasan penempatan kota manakah tempat saya bekerja sebagai abdi negara (kebetulan saya seorang CPNS yang masih menunggu penempatan), saya nekat ikut mendaftar STIDA meski saya belum tahu di kota mana saya akan ditempatkan sementara kuliah STIDA ini terdiri dari delapan semester. Beberapa teman yang saya ceritakan tentang hal ini semua berkata “Yakin Mon kamu daftar STIDA? Emang kamu nanti penempatan Jakarta?” ya saya jawab saya tidak tahu nanti penempatan dimana “Nah lho gimana kalo kamu nanti nggak penempatan di Jakarta?”


                Hal itu sempat menjadi pikiran saya sebelum mendaftar tapi tiba-tiba waktu itu saya ingat sebuah hadits yang menyuruh kita menanam benih yang ada di tangan kita meskipun kita tahu bahwa besok akan kiamat1. Saya pikir pun sepahit-pahitnya bahwa saya nanti tidak penempatan di Jakarta pun saya akan sempat mencicipi belajar di STIDA entah untuk waktu seminggu, dua minggu atau beberapa bulan. Sedikit banyak saya akan dapat ilmunya. Tentang biaya yang dibayar pun insya Allah tak akan rugi karena jika pun nanti saya tidak bisa lanjut ke tempat itu, biaya itu akan lari ke jalan dakwah :)

                Alhamdulillah, keputusan itu adalah salah satu keputusan terbaik yang pernah saya buat. Setiap Senin, Rabu dan Jum’at malam selepas pulang kantor hingga pukul delapan saya belajar di STIDA. Niat saya belajar, insya Allah, terutama untuk belajar ilmu agama, mudah-mudahan bisa jadi orang yang berdakwah walau hanya untuk keluarga (saya rasa saya masih jauh dari mampu untuk menjadi seorang pendakwah hehe). Disini untuk semester satu dipelajari ilmu tafsir, sirah nabawiyah, aqidah, akhlak, fiqih dan bahasa Arab. Dosen-dosen dalam mengajar pun tak hanya piawai menyampaikan materi, menyampaikan dalil tapi ada saja perkataan dari dosen yang menumbuhkan semangat tersendiri dalam mencari ilmu maupun beribadah.

                Uhibbu Al Manar. Saya mencintai tempat ini, tempat paling damai yang pernah saya jumpai hingga sekarang, auranya begitu damai dan menentramkan hati. Lalu lalang orang-orang baik ustadz maupun murid, para akhwat dengan jilbab dan pakaian yang syar’i hingga orang-orang yang menundukkan pandangan. Disini saya merasakan nikmatnya mencari ilmu, nikmatnya menjadi seorang pencari ilmu. Disini saya belajar memahami agama saya lebih baik lagi, disini saya menemukan orang-orang yang sejalan pemikiran dan saling mengingatkan.

                Bagi teman-teman yang membaca tulisan ini, saya mohon doanya agar saya penempatan di kota Jakarta agar bisa melanjutkan belajar di tempat ini. Insya Allah jika mendoakan saudaranya sesama muslim, doanya akan kembali pada kita walau mungkin tidak persis sesuai isi doa tetapi insya Allah dengan kebaikan yang sama. :)




               1.““Jika ditanganmu terdapat benih kurma, sementara kau tahu bahwa besok adalah hari kiamat, maka tanamlah!”


9 comments:

  1. SMANGAT Momon.. :D
    smoga di Jakarta, aamiin..

    Al Manar memang kereeen, :')

    ReplyDelete
  2. Nitaaa.. deg2an hiks.. saling mendoakan ya.. yuk lanjut mpe selesai, insya Allah :')

    ReplyDelete
  3. Salam kenal mb monika. Al Manar itu ga jauh dr rumahku di utan kayu.Smoga lancar y mb belajar dan pekerjaannya.
    Oya, aku suka tulisan2 mb monika d blog ini :)

    ReplyDelete
  4. Salam kenal.. Doain lancar ya di Al Manar sampai lulus.. :)

    Makasih ya udah berkunjung ^^

    ReplyDelete
  5. Assalamualaikum mba.
    Maaf saya saya ingin bertanya..
    Saya juga sedang belajar bahasa arab di al manar..
    Berniat juga untuk ke stida..
    Klo di stida berapa tahun ya?
    Apakah ada gelar ketila sudah lulus

    ReplyDelete
  6. wa'alaikumussalam..hehe

    ya s1 ya 4 tahun, ya adalah... tanyain aj atuh ma bagian akademiknya..hihihi

    ReplyDelete
  7. baca tulisanmu jadi semakin kangen ukhtt dengan al manar.
    uhibbu al manar aydhon

    ReplyDelete
  8. assalamu alaikum mba monica, salam kenal.
    Alhamdulillah saya dapat petunjuk dari blog ini, kebetulan kos.n saya dekat utan kayu. Saya sangat tertarik ingin belajar di Al-manar.

    ReplyDelete
  9. Keren,. Smakin tertarik...Kpan mulai pndaftaran lagi ?
    Mudah" scptny

    ReplyDelete