Sunday, October 16, 2011

Kalau Kamu Jangan Terlalu Berharap

dicari dari google
Dalam hidup, saya mengenal dengan beberapa orang yang mempunyai pikiran skeptis. Salah satu dari teman saya pernah mengatakan kurang lebih seperti “Yakin Mon, kamu mau ikutan itu? Saingannya kan banyak banget,” dengan tatapan  menyangsikan yang mengganggu serta mimik wajah yang tidak percaya. “Ya, memang kenapa?” “Ya, kalau aku sih lebih baik enggak mendaftar daripada kecewa,” Waktu itu emosi saya agak naik lantaran itu bukan kali pertama dia mengatakan hal semacam itu, “Kenapa sih kamu selalu membuat saya down?” ia menjawab, “Aku hanya menjaga kamu agar kamu nggak kecewa kalau nggak kesampaian”

 Saya rasa nggak ada salahnya saya mendaftar apapun itu, tentu saja sebelumnya dengan mengukur kemampuan saya, misalnya saya sadar diri memiliki suara yang jauh dari bagus, saya nggak akan daftar audisi menyanyi. Dalam kondisi di atas, saya rasa (insya Allah) saya memiliki kapasitas atas hal itu, hanya saja banyak orang yang menginginkan hal yang sama. 

Jika Anda melihat kertas dengan setengah halaman gambar bunga dan setengah halaman gambar rumput, apa yang akan Anda katakan? Gambar bunga atau gambar rumput? Seorang sangunis seperti saya akan mengatakan bahwa saya melihat bunga. Ia cenderung akan melihat hal dari sisi bagusnya. Iya saya tahu saingan saya bejibun, lantas kenapa? Setidaknya saya mempunyai peluang yang sama bukan? Saya akan lebih menyesal menyadari saya punya kesempatan untuk memenangkan sesuatu tapi saya tidak menggunakannya daripada saya menyesali kekalahan atau kekecewaan. Teman saya itu memutuskan untuk tidak ikutan, padahal saya tahu ia menginginkannya, ia menjaga hatinya dari kekecewaan. Lebih baik tidak mendaftar daripada kecewa jika kalah. Well, sah-sah saja menurut saya, tiap orang mempunyai cara tersendiri dalam menjalankan kehidupannya. Namun bagi saya, tidak mencoba memperjuangkan sesuatu yang saya inginkan itu akan menimbulkan rasa penasaran seumur hidup seperti kata-kata coba kalau dulu saya ikutan, coba kalau dulu saya nyobain.

Pernah ada suatu fase ketika rasa percaya diri saya berada di titik terendah. Orang-orang yang dekat dengan saya waktu itu adalah orang-orang skeptis nan pesimis, ditambah mungkin sebenarnya inner confident saya yang enggak besar-besar amat, walhasil saya jadi peragu akut dalam mengambil suatu keputusan plus enggak yakin jika melakukan sesuatu, bawaannya takut salah dan minder duluan. Hingga seorang teman berkata kepada saya “Kenapa sih Mon kamu takut salah banget? Kalau salah toh kamu bisa perbaiki, dimarahi orang pun habis itu juga selesai” Saya cuma diam mendengarkan perkataannya. Ia melanjutkan “Mon-mon, coba aja kali, lebih baik menyesal melakukan sesuatu daripada tidak melakukan sesuatu, kamu itu jangan membatasi pikiran,”

DEG. Omongannya kena banget. Sering pikiran saya membatasi gerak. Entah berpikir aduh gimana cara mulainya, gimana kalau aku nggak bisa, gimana kalau salah dan banyak gimana-gimana lainnya. Padahal bagi Allah SWT nggak ada yang nggak mungkin, mudah saja baginya menjadikan segala sesuatu, mudah saja baginya mengabulkan semua pinta saya, tak akan berkurang sedikit pun kekayaan-Nya. Itu, itu yang kerap saya lupa. Membatasi pikiran.

Saya tahu mungkin kata-kata “Jangan terlalu berharap Mon,” itu untuk jaga-jaga jika hal yang saya inginkan itu tidak tercapai tapi saya sangat meyakini benar bahwa kata-kata adalah doa jadi selama takdir itu belum terjadi saya akan tetap optimis dan mengatakan hal optimis meski kadang tatapan skeptis dan menyangsikan sering saya terima. Tatapan skeptis itu sungguh mengganggu. Di dalam hati ini selalu tersedia ruang untuk kecewa, hanya saja saya tidak pernah mengatakannya selama keinginan saya belum ketahuan kesampaian atau tidak. Pantang berkata “bagaimana jika tidak kesampaian?”, cukup menyimpan bagaimana-jika-tidak-kesampaian itu di pikiran, ambil plan B tetapi sekali lagi tidak untuk dikatakan sebelum takdir terjadi. 

                And i'd just like to say skepticism is not my way :)

13 comments:

  1. Inspiratif mb, ini aq bget dlu..he.
    Keep writing ^^

    ReplyDelete
  2. setuju banget jgn membatasi pemikiran,, soo jalani saja dgn optimis apapun itu kalau ada usaha dan upaya pasti bisa berjalan dan ad a jalan keluar

    ReplyDelete
  3. Semangat, jgn batasi pikiran :D
    sebenernya nulis ini utk menguatkan diri hehehe...

    ReplyDelete
  4. yeey..momon banget itu tulisannya..
    kalo aku udah muka badak si mon..
    kadangan orang bilang apa juga udah cuek aja..

    ReplyDelete
  5. :) berlari dari negatif thinking..selama belum mencoba, mengapa takut akan kegagalan? like this, mon

    ReplyDelete
  6. "kompetisi" para wanita ya? hehe

    lebih sakit krn nyesel krn ga pernah nyoba drpd sakit krn gagal. kalo di tulisanku ada istilah the mind becomes the wall

    ReplyDelete
  7. Ania : semangat mengejar mimpi2 kita An :D


    Firman : penyesalan terbesar adalah tidak mencoba daripada gagal mencoba (jamil azzaini hari ini)^^

    ReplyDelete
  8. postingan yang memberikan motivasi *___*
    semangat \m/

    ReplyDelete
  9. makasih mbak Wati udah mau singgah dan komen.. salam :)

    ReplyDelete
  10. Hihihi baru tau kayak gitu tuh istilahnya skeptis tho :D

    ReplyDelete