Wednesday, November 16, 2011

Amplop Coklat Sebelas Bulan



si amplop coklat yang ditunggu-tunggu sebelas bulan
8 November 2011. Selasa minggu lalu. Pengumuman penempatan yang ditunggu-tunggu selama sebelas bulan datang juga. Setelah sebelas bulan menunggu kepastian, sebelas bulan magang, melewati masa galau penempatan (mungkin ada yang ingat catatan saya yang berjudul "Catatan (Tidak) Galau Sebelum Penempatan : Semeleh" yang saya tulis di masa pucak galau penempatan hehe) terjawablah semua penantian dan doa panjang. Kantor Pusat DJKN, Direktorat Kekayaan Negara Dipisahkan, melanjutkan perjalanan magang sebelas bulan di tempat yang sama, dengan status berbeda. Seorang pelaksana. Alhamdulillah.

Hari Selasa kemarin saat pengumuman penempatan, entah mengapa rasanya ‘semeleh’ menghadapi penempatan. Rasa takut pasti ada, tapi dengan kadar yang masih bisa dikendalikan hehe. Saat nama saya dipanggil untuk menerima amplop coklat yang berisi Surat Keputusan Penempatan, saya nyaris tak ada rasa deg-degan. Dua hari sebelum penempatan, saat idul adha, saya bertandang ke rumah om dan tante di Bekasi, salah satunya memohon doa dari mereka. Tante bertanya,”Kamu pengen mana Nik?,” “Jakarta tante,” “Apa niat utamamu pengen di Jakarta,” Saya sebutkan alasan-alasan utama saya. “Kalau begitu niatmu, insya Allah, dapet atau enggak kamu di Jakarta, Allah sudah mencatat niatmu,” Kata-kata tante begitu menenangkan dan semakin memantapkan hati untuk menerima apapun keputusan hari Selasa. 

Amplop coklat itu saya buka perlahan dengan berteriak kencang-kencang dalam hati, “Apapun yang kamu dapatkan itu yang terbaik, apapun yang kamu dapatkan itu yang terbaik,” Subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar. Dua kali saya sujud syukur, syukur saya yang pertama karena mendapatkan Kantor Pusat dan sujud syukur yang kedua karena mendapatkan penempatan di Direktorat KND, semata-mata karena kasih sayang-Nya persis menjawab semua doa.
isi si amplop coklat yang bikin sujud syukur dua kali


Seorang teman pernah bertanya dengan nada skeptis, “Memang apa yang bisa kita lakukan menghadapi penempatan? Kan kita nggak bisa usaha apa-apa,” “Berdoa,”jawab saya. “Kalau begitu nggak ada yang nggak bisa kita usahakan, kan at least kita bisa berdoa,” “Ya memang iya”

Doa saya kepada Allah panjang dan ‘nrithik’ kalau orang jawa bilang. Saya mohon ditempatkan di tempat yang ‘nggak usah pindah kantor dan pindah kosan’ alias di Kantor Pusat, di bagian yang ilmu akuntansi banyak dibutuhkan, yang sering melihat angka, di bagian yang sering melakukan analisis, yang ada ikhwah yang bisa saya tanya-tanya di lingkungan itu dan kriteria-kriteria lainnya. Mungkin ada sepuluh kriteria yang saya minta.  Semua dikabulkan, persis, sama sekali tak ada yang kurang. 


Setiap ada teman yang bertanya, “Pengen ditempatkan dimana Mon?” “Kantor Pusat,” “Yakin Mon?” “Insya Allah,”jawab saya. “Pede banget sih, jangan terlalu berharap kalau nggak terkabul sakit loh,”. Loh memang ada apa dengan jawaban ‘insya Allah’, insya Allah disini kan artinya ‘jika Allah mengizinkan’ maka akan terjadi, tak berarti saya mendahului takdir yang belum saya tahu bukan?

Selain itu saya percaya dan memegang benar bahwa kata-kata adalah doa. “Gimana kalau keinginanmu nggak terwujud?” tanya beberapa teman. “Insya Allah terwujud,” jawab saya. Rata-rata teman mengaminkan. Ada satu orang teman yang tak puas dengan jawaban saya dan bertanya hingga tiga kali, “Gimana kalau nggak terwujud?” dan berhenti setelah akhirnya saya mau jawab, “Ya gimana lagi kalau sudah takdir,” Bukannya saya ‘kepedean’ atau ‘yakin banget’ jika saya menjawab seperti itu, hanya saja pantang bagi saya mengatakan apa yang tidak saya inginkan untuk terjadi. Bukannya saya tidak mempersiapkan kemungkinan terburuk hanya saja saya cukup memikirkannya dalam hati. Selama takdir belum terjadi, ikhtiar masih terbuka lebar (ikhtiar itu meliputi doa) dan kata-kata adalah doa. Apa-apa yang diucapkan itu doa. Kalau memang tak menginginkan hal tersebut terjadi, mengapa harus mengatakan “bagaimana jika tidak?” sementara jika itu memang sesuatu yang terbaik di mata Allah bagi kita, hal itu akan terjadi juga. Lagipula kita telah memohonkan kepada Allah untuk memberikan yang terbaik. Di akhir setiap doa tak lupa saya sisipkan, “Jika itu yang terbaik bagi hamba di mata-Mu,” artinya jika doa terkabul berarti insya Allah itu yang terbaik bagi saya, kalau tidak terkabul pun insya Allah itu terbaik bagi saya juga.

Saya benar-benar ingin penempatan di pusat, untuk beberapa alasan yang menurut saya kuat. Saya lakukan semua usaha untuk mendapatkannya, kalau usaha yang bisa saya lakukan itu ‘hanya’ berdoa, saya lakukan semaksimal yang saya bisa. Ngomong-ngomong saya belum pernah membaca satu pun buku Ippho Santosa tapi saya mencoba menerapkan ‘jurus’ andalan yang saya pelajari dari tweet-tweet beliau. Jurus memantaskan diri. Memantaskan diri untuk terkabulnya doa penempatan, kali ini. 

Mulai dari mengatakan apa-apa yang baik karena meyakini bahwa kata-kata adalah doa, meminta doa pada hampir semua orang yang ada di sekitar saya. “Saya mau penempatan, mohon doanya ya supaya dapat pusat,” bukan sekadar basa-basi tetapi saya berharap barang kali ada yang mau menyelipkan nama saya diantara doa-doanya, barangkali dari yang mendoakan saya itu ada orang-orang yang doanya mustajab atau saat dia berdoa adalah saat yang mustajab dan doa untuk saya ‘katut’. Siapa tahu. Mempelajari saat-saat yang mustajab dan berdoa pada saat-saat itu, bahkan biasanya kurang suka hujan menjadi suka dengan hujan saat mengetahui bahwa hujan adalah salah satu saat yang mustajab untuk berdoa. Hehe.

Kata Ippho Santosa yang terkenal dengan jurus ‘otak kanan’, otak kiri itu adalah ‘kaya dulu baru bersedekah’ sementara otak kanan itu ‘bersedekah dulu baru kaya’. Memantaskan diri menjadi orang yang kaya caranya adalah sedekah. Dulu beberapa kali saya bernadzar jika mempunyai keinginan yang kuat. Ternyata saya keliru. Kata ustadz, nadzar itu menunjukkan kebakhilan. Sekarang dibalik, melakukan apa yang sedianya dinadzarkan terlebih dahulu saat mempunyai keinginan. Perbanyak kebajikan. Jika seandainya pun apa yang kita inginkan tak tercapai, insya Allah kita sudah dapat pahala dari mengerjakan kebajikan tersebut. Selain itu di tengah-tengah penantian penempatan yang belum jelas, saya ‘nekat’ mengambil kelas suatu sekolah tinggi karena sangat ingin belajar di tempat itu. Tidak menunggu penempatan terlebih dahulu. Dan mudah-mudahan karenanya Dia memperkenankan saya penempatan di Jakarta. Yakin saja bahwa selalu ada kemudahan untuk niat baik. Alhamdulillah terkabul. 

Pernah saya update status seperti ini, “Mengemislah pada Yang Maha Kaya, karena tak akan berkurang sedikitpun kekayaan-Nya mengabulkan semua pinta,” Kalau meminta kepada orang tua saja tidak sungkan karena yakin bahwa orang tua sayang sama kita, mengapa harus sungkan mengemis-ngemis kepada zat yang jauuuuh lebih penyayang dari orang tua. Seorang teman pernah berkata seperti ini saat saya tanya apa doanya, ”Berdoanya semoga mendapat tempat terbaik saja, takut sakit kalau berharap,” Kalau menurut saya, berdoa saja mengapa musti takut, sementara kita punya Allah yang Maha Mengabulkan Doa (Berdoalah kepada-Ku niscaya Ku kabulkan, firman-Nya dalam Q.S Ghafir:60) dan kita punya Allah yang sesuai prasangka hambanya (disebutkan dalam sebuah hadits Qudsi) bukan? Meminta sebanyak apapun, se ‘njelimet’ apapun mudah saja bagi-Nya. Seorang ustadz pernah berkata bahwa perbedaan meminta pada manusia dan meminta kepada Allah adalah jika manusia diminta terus menerus bisa jengkel dan marah, semakin diminta Allah malah akan semakin senang, karena permintaan itu menunjukkan semakin menghambanya manusia pada-Nya. Jadi jujurlah dengan keinginanmu dan meminjam istilah pak Ippho pantaskan dirimu untuk mendapatkannya. Mengemislah pada Yang Maha Penyayang ^^

Penempatan bukan akhir segalanya tapi bisa jadi merupakan awal sebuah perjalanan. Seperti kata salah seorang kepala yang saya ingat benar, “Tunjukkan rasa syukur atas pekerjaan yang kita punya dengan melakukan pekerjaan kita sebaik-baiknya,”

Semangat ^^

P.S : Syukur tak hingga kepada Allah dan terima kasih sebesar-besarnya untuk semua yang bersedia menyelipkan nama saya dalam doa dan teman-teman yang selalu ada pada saat galau saya hehe. Lemah teles seperti kata favorit mama saya, Gusti Allah ingkang mbales :)


12 comments:

  1. Kekuatan pikiran mon :))

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah.. seneng tau si Neng hepi.. doamu terkabul..artinya yang dimau sama kamu dan sama Allah.. pas.. :)

    Selamat berkarya. Ingat, jadi PNS di akhir zaman ini banyak godaannya :D

    ReplyDelete
  3. makasih komentarnya teman2 ^^

    yg pasti selalulah khusnudzon sama Allah :D

    ReplyDelete
  4. Dik Mon..
    tetaplah selalu berdoa..smoga tempat yg sekarang kita berada adalah yg terbaik untuk kehidupan kita...

    ReplyDelete
  5. “Tunjukkan rasa syukur atas pekerjaan yang kita punya dengan melakukan pekerjaan kita sebaik-baiknya,”

    coba peka lingkungan mon...banyak hal yang belum kamu sadari

    ReplyDelete
  6. makasih bunda Shofia :)

    mas Gun
    mas, klo aku krg peka mohon ditunjukkan ya sama dibilang2in hehe, ngrasa masih ijo banget disini :)

    ReplyDelete
  7. coz allah is always by your sidee... insya allah :)

    ReplyDelete