Tuesday, November 1, 2011

Klik #2 : Kecil Kecil Cabe Rawit


Mama selalu menyuruh menyimpan bukti pembayaran, meletakkan peniti, bros, lem, gunting kuku, karet gelang dan benda-benda kecil lainnya di wadah khusus yang kadang-kadang berbeda letaknya di lemari. Terkadang saya masih asal saja menggeletakkan benda-benda itu di satu tempat. Praktis. Namun agaknya ‘mencari benda kecil yang dibutuhkan dalam waktu singkat’ menunjukkan bahwa hal sederhana yang selalu Mama contohkan adalah hal yang amat berguna pada waktu yang tepat. 

Peniti, misalnya, benda kecil ini senantiasa ada di kantong kecil dompet biru kesayangan. Terutama untuk para muslimah, benda ini bisa jadi merupakan benda yang wajib selalu dibawa. Peniti yang lepas dari jilbab atau kancing yang longgar bukan hal yang menyenangkan tapi tak menutup kemungkinan hal tersebut terjadi bukan? Hehe..

Ngomong-ngomong soal hal kecil, ingat dan hafal nama orang itu merupakan hal yang kadang-kadang bermanfaat besar. Saat asyik-asyiknya mengobrol dengan seseorang yang pernah kenalan sebelumnya, sedikit banyak akan ‘gondok’ juga kan kalau di tengah obrolan tiba-tiba ia berkata, “Eh kamu siapa namanya ya?” Gubrak. Nama merupakan identitas dasar seseorang. Lupa nama orang merupakan hal yang manusiawi bagi sebagian besar orang tapi tentu respek orang akan berbeda apabila pertama bertemu dan kita berbincang sambil menyebut namanya. Lebih respek lagi bila kita menyebut nama lengkapnya. Selain itu memperhatikan ejaan nama seseorang merupakan hal yang berguna juga loh. Pernah suatu ketika ada teman yang mau mengerjai saya melalui sms (menggunakan nomor asing) dengan mengaku-ngaku sebagai salah seorang teman. Hampir saja ‘terperdaya’ dengan isi smsnya tapi langsung sadar dikerjain begitu ia menyebutkan nama sang teman. Penulisan ejaan namanya keliru. Penulisan nama Rahmad, Rahmat, Rachmat, Rachmad berbeda bukan meski lafalnya mungkin sama. Satu yang pasti : tak mungkin orang salah mengeja namanya sendiri. Terhindar deh dari ‘dikerjain’ orang gara-gara hafal ejaan nama (btw facebook merupakan tempat yang amat bagus buat hafal nama orang lantaran kerapnya kita melihat nama lengkap teman-teman).

Selain itu, hal-hal sederhana seperti memperhatikan detail kecil yang diketahui tentang seseorang bisa membuat teman yang paling tak ada suaranya di kelas bercerita panjang lebar tentang kehidupan pribadinya, menyunggingkan senyum pada orang yang sering kita temui, mengucapkan selamat ulang tahun, mengirimkan sms sekadar bertanya kabar untuk teman yang sudah lama tak jumpa membuat orang merasa lebih dihargai, hafal nomor telpon instansi-instansi yang sering dihubungi atau detail pekerjaan yang dilakukan membuat tak perlu bergantung pada buku atau laptop, memperhatikan detail kecil bisa dengan mudah mendeteksi jika ada yang berjalan tak semestinya. Hehe..

Mungkin ada yang sudah pernah membaca tentang kisah sebuah jam. Alkisah, sang pembuat jam bertanya kepada jam yang dibuatnya, ““Wahai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31,104,000 kali selama setahun?” Jam pun terperanjat, “Mana sanggup saya?” Sang pembuat jam pun terus bertanya, “Bagaimana jika 86.400 kali dalam sehari?” Jam terus menolak tapi sang pembuat jam tak henti mengejar, “Bagaimana jika 3.600 kali dalam sejam?” Jam kembali menggeleng, “Mana mungkin saya sanggup,” hingga akhirnya sang pembuat jam bertanya, “Bagaimana jika satu kali dalam satu detik?” dan dijawab dengan penuh kemantapan oleh jam, ”Kalau begitu aku sanggup!” 

Hal-hal kecil apabila dilakukan secara konsisten tentu akan membuahkan hasil yang manis. Ustadz Yusuf Mansur dalam suatu seminar yang pernah saya ikuti bercerita tentang Ponpes Darul Qur’an yang mewajibkan para siswanya menghafal satu ayat dalam sehari. Satu ayat, dalam dua puluh empat jam, hal yang tampak sederhana tapi tak akan bisa berjalan tanpa konsistensi. Seorang teman telah mulai menerapkan hal yang sama dan subhanallah, hafalannya meningkat perlahan tapi pasti, meninggalkan temannya yang sekali hafalan beberapa ayat tapi kurang konsisten. Satu ayat yang dijaganya, sedikit demi sedikit bertambah dan bertambah, dengan konsistensi tetap. Target perlu terpancang, dengan mengukur ‘baju sendiri’ bukan?

Dari hal-hal kecil, sedikit demi sedikit dan yang terpenting adalah konsistensi. Konsistensi. Kata yang mudah diucapkan tapi kadang amat sulit dipertahankan. Seperti kalimat yang pernah saya baca “Istiqomahlah, walaupun istiqomah itu berat,”


*ditujukan khususnya untuk diri sendiri*



10 comments:

  1. di kantor banyak hal kecil terlewat...silakan ditinjau ulang.bisa jadi bumerang

    wkkakakakakak

    ReplyDelete
  2. Iya bener, setuju.
    Udah ga bs comment hehe

    ReplyDelete
  3. memang hal kecil itu patut di perhitungkan

    ReplyDelete
  4. konsistensi emang sulit di terapkan,karena semakin banyak prestasi di sekolah atau dikantor maka akan semakin berat kita mempertahankan hal tsb secara berkesinambungan
    Dah aku follow blog kamu,gantian follow back balik ya

    ReplyDelete
  5. makasih ya para blogger senior udah berkenan komen hehe :)

    salam kenal :)

    ReplyDelete
  6. Judulnya cantik! tepat dengan isinya.. bener juga ya.. tiada hal besar yang tidak dimulai dari yang kecil..

    bahkan kalo kita inget sama apa yang terjadi waktu kita kecil..semua berpengaruh besar di waktu kita besar sekarang ini ya?!

    btw, saya sering juga suka lupa nama sama orang yang udah lama gak ketemu.. XD kalau itu cewek sih gampang, tinggal tunggu dia sebut namanya sambil ngomong.. kalo yang cowok itu yang agak susah.. jarang ada cowok nyebut namanya sebagai kata ganti saya, atau aku, atau gue.. XD

    ReplyDelete
  7. pelajaran berharga,hal kecil jangan disepelekan

    ReplyDelete
  8. pelajaran yang istimewa...subhanallah..gak nyesel yah kesini hehehe...
    syukron ilmunya.. mdahan senantiasa membgai ilmu yg bermanfaat.
    syukron yah kawan...

    ReplyDelete