Saturday, December 17, 2011

Astaga!

Sudah menjadi kebiasaan kalau menggunakan jasa bajaj atau taksi saya mengajak mengobrol. Bukan apa-apa, hanya saja seorang sanguinis seperti saya ini akan merasa kurang nyaman berada di suasana diam sementara ada orang di depannya, lagipula terkadang dari obrolan tersebut mengalirlah cerita-cerita menarik yang ada juga hikmah yang bisa diambil.

Tadi siang, nampaknya tak ada yang istimewa ketika saya mencegat bajaj biru untuk mengantarkan dari Gambir ke Utan Kayu. Namun, agaknya siang ini menjadi lebih istimewa lantaran hari ini kuping saya dibuat sedikit memerah oleh perkataan sang pengendara bajaj.

Obrolan sebelumnya saya tak ingat pasti, yang jelas saat melintasi RSCM tiba-tiba bapak pengendara bertanya dengan nada menyelidik kepada saya sambil sedikit menoleh ke belakang "Mbak muslim?" Sontak saya terkejut dengan pertanyaannya yang tiba-tiba itu, "Ya iyalah pak, emang bapak nggak lihat saya pakai jilbab?" sahut saya dengan nada meninggi.

"Kok nanya gitu sih Pak?"
"Tadi mbak bilang apa,"

Bilang apa, batin saya. Perasaan saya nggak ada bilang aneh-aneh sebelumnya. Usut punya usut setelah dikejar dengan pertanyaan berikutnya, saya menggunakan kata 'astaga' mengomentari sesuatu hal (sepertinya demo di depan sebuah LBH di Cikini tadi).

"Memangnya ada apa dengan kata astaga Pak? Bukannya itu bahasa Indonesia ya?"
"Ya iya bahasa Indonesia tapi kalau orang Islam itu bilangnya astaghfirullah hal adzim mbak"
 DEG.
"Ya saya refleks aja pak tadi, kadang kalau kaget keluar astaga kadang istighfar. Teman-teman saya juga sering pakai astaga kok pak. Lagipula bapak kok nanya gitu tadi, kan bapak lihat saya berjilbab,"
"Berjilbab itu nggak jaminan seseorang muslim mbak. Saya tahu pasti ada orang-orang di luar Islam yang pakai jilbab dan gamis juga mbak. Jadi berjilbab itu hanya sekadar busana,"

Bapak itu berkata sambil tetap mempertahankan nada-nggak-percaya atas jawaban saya.
Alhamdulillah bajaj akhirnya tiba di halaman PSI Al Manar tercinta."Bener pak saya Islam Pak, ini buktinya pak saya mau belajar di masjid dakwah islam ini,"
Bapak itu melihat plang di depannya dan terdiam. Duh duh.

Wallahu'alam, entah benar cerita Bapak itu atau tidak, yang jelas saya merasa amat tertohok dengan pertanyaan Bapak itu. Yang pertama, ternyata perkataan-perkatan islami belum sangat mendarah daging dalam tubuh dengan masih terucapnya kata astaga alih-alih istighfar meski kadang-kadang. Setelah saya pikir-pikir, bersyukur saya diingatkan Bapak ini tadi siang, meskipun kata astaga adalah kata dari bahasa Indonesia yang mungkin lazim digunakan, alangkah indahnya kalau kata yang terucap adalah doa seperti kalimat istighfar yang maknanya sebagai permohonan ampun kepada Allah daripada menggunakan kata astaga yang hanya ekspresi kekagetan semata. Kata-kata adalah doa, alangkah indahnya jika kaget saja dicatat sebagai doa hehe. Selain itu juga turut membumikan kata-kata thayyibah di bumi Allah.

Yang kedua, ternyata tampilan luar mengenakan jilbab tak cukup untuk membuat bapak itu percaya bahwa saya seorang muslim(ah). Ngeri membayangkan kalau nanti ketika tak ada lagi pengadilan yang lebih tinggi, Yang Maha Tinggi bertanya, "Kamu muslimah?"
"Iya Tuhanku, saya muslimah. Saya sholat, puasa, (dan mungkin menyebutkan ibadah lain),"
"Benarkah?"
Saya (anggap saja) mengangguk.

"Kamu sholat, tapi pikiran kamu kemana-mana. Kamu puasa tapi masih puasamu masih belum bisa mengendalikan nafsumu sepenuhnya......."

DUAR. Na'udzubillah. Jangan sampai Dia menganggap ibadah-ibadah yang saya lakukan hanya bersifat zahir semata. Ampun. Mau lari kemana, mau ngeles apa lagi ketika pintu amal sudah tertutup.

Ah, sungguh terima kasih pak sudah mengingatkan saya siang ini :')


1 comment:

  1. Ya elah itu bapak, cuma karena ngomong "astaga" doang masa' sampe segitu gak percaya sih... :(

    Saya rasa yang berlebihan adalah bapak itu.

    ReplyDelete