Friday, December 2, 2011

Jadi Kapan Kamu Menyebar Undangan?


dicari di google
Apa lagi yang ditunggu oleh seorang muslim jika telah mencapai usia baligh dan memiliki maisyah (kemampuan untuk menafkahi)? Apa lagi yang ditunggu di tengah dorongan kebutuhan batin dan psikologis yang semakin meningkat sementara bukan lagi kebebasan atas kesendirian dan kebersamaan dengan teman yang mampu melengkapi kehampaan diri yang perlahan-lahan merambati? 

Bagi sebagian orang, melangkah pada fase tersebut bukanlah hal yang sesederhana itu. Ada kehati-hatian yang tinggi (atau bisakah menyebutnya sebagai suatu ketakutan?) untuk berani memantapkan diri mencapai suatu point of no return yang bisa jadi merupakan awal dari sebuah kehidupan baru. Mitsaqan ghaliza. Perjanjian yang berat, bahkan kedudukannya disetarakan dengan perjanjian Allah dengan para nabi dan perjanjian yang diangkat atas Bani Israil kepada Allah. 

Beberapa orang menunggu kesiapan, katanya. Kesiapan materi kadang kala tak hanya diukur dari telah dimilikinya kemampuan untuk menafkahi keluarga, bisa jadi keberadaan rumah serta kendaraan pribadi yang menjadi faktor penentu seseorang berani melangkah. Kesiapan yang lain adalah kesiapan mental, bagaimana menerima seseorang dengan segala kelebihan dan kekurangannya untuk menemani dalam segala macam kesenangan dan kesedihan dalam jangka waktu seumur hidup. Mungkin juga sebagian orang menunggu kesiapan ilmu, hanya akan berani melangkah apabila telah memiliki ilmu yang cukup menjadi seorang suami atau istri dan orang tua. Ibadah mutlak memerlukan ilmu untuk menghasilkan amal. Ibadah mutlak memerlukan keyakinan (iman) agar bernilai sebagai suatu ibadah.

Keyakinan. Mungkin itulah yang membuat sebagian orang berani mengikrarkan diri sehidup semati dengan hanya mengalami fase ‘penjajakan’ secara singkat tanpa melalui apa yang disebut orang-orang sebagai pacaran. Misalnya dengan melangkah melalui proses menceritakan kegundahan hati pada sang murobi, mengajukan biodata dan kemudian sang murobi mencarikan calon pasangan untuk mutarobinya dengan memperhatikan kriteria-kriteria yang diajukan, lantas dipertemukan dalam suatu majelis yang disebut dengan ta’aruf. Keyakinan bahwa ia ingin segera menyempurnakan setengah agamanya dengan seseorang yang ia yakini membawa kebaikan baginya, sebagai suatu wujud ibadah dan penyaluran kebutuhan psikologisnya di jalan yang diridhai Allah.

Niat seseorang memegang peranan yang penting sebagai suatu pondasi dasarnya dalam mengambil suatu tindakan dan niat pula lah yang menjadi salah satu dari tiga syarat utama diterimanya suatu amal. Jika seseorang memiliki suatu niat yang lurus dan keyakinan yang kuat atas keinginannya ini, apalagi yang ditunggunya? Apa lagi yang menghalanginya untuk menyegerakan?

Apalagi bagi seorang wanita muslimah yang telah mencapai usia akil baligh dan telah sampai ilmunya bahwa menjadi seorang pengantin merupakan satu dari enam hal yang harus disegerakan dalam Islam. Tak seharusnya seorang muslimah menunggu seseorang tertentu yang belum tentu menjadi suaminya datang melamar, sementara ia melepaskan orang lain dengan akhlak yang mungkin lebih baik. Akan ada rasa sakit yang teramat sangat untuk sang wanita apabila ia telah menunggu seseorang tertentu dan tiba-tiba saja laki-laki yang ditunggunya tidak jadi meminang atau ‘beralih haluan’ kepada wanita lain? Toh tidak ada yang mengikat laki-laki tersebut untuk harus melamar sang wanita. Janji-janji setinggi apapun yang dibuat oleh seorang laki-laki hanyalah sekadar janji apabila ia belum berani datang kepada orang tua sang wanita dan memintanya secara resmi. Sesederhana itu.

Sebagian wanita tidak menunggu seseorang tertentu untuk melamar. Ia menunggu seseorang yang berani melamar. Wanita memerlukan suatu ‘keyakinan yang memadai’. Keyakinan yang dibuktikan dengan datangnya pinangan. Lagipula, yakinlah, wanita adalah makhluk yang paling mudah untuk mencintai. Bisa jadi ia mencintai seorang laki-laki tetapi kemungkinan besar ia akan meninggalkan laki-laki itu apabila laki-laki itu tidak segera melamarnya sementara ada laki-laki lain yang memiliki kemampuan dan berani melangkah lebih maju.


Bagi seorang wanita muslimah, mengikatkan diri pada perjanjian berat ini adalah hal yang perlu dipertimbangkan mendalam. Apalagi ia akan segera menjadi seorang istri dengan segala kewajiban baru yang disandangnya, kewajiban terbesarnya pada sang suami, bahkan ‘hanya’ dengan keridaan sang suami ia bisa memasuki surga dari pintu mana saja yang dikehendakinya. Jangan sampai ia salah memilih imam baginya dan anak-anaknya. Ia juga harus menjadi seorang ibu yang darinya generasi baru pertama kali belajar dan mempersepsikan dunia. 

Jika seseorang menunggu siap, sampai kapanpun ia tak akan pernah merasa siap, karena akan ada saja hal-hal yang dirasanya kurang. Bahkan sering kali disebutkan bahwa beberapa saat sebelum perjanjian yang berat itu diikrarkan pun akan selalu terhembus suatu bentuk perasaan ragu, apakah seseorang yang disandingnya itu adalah orang yang tepat. Pada akhirnya akan kembali lagi pada apa yang mendasarinya. Apa niatnya, apa yang ingin dicapainya. Allah lah yang memerintahkan suatu ibadah, ia pulalah yang akan memudahkannya bukan? Memudahkan proses awalnya dan memudahkan kesudahannya.

Jadi kapan kamu menyebar undangan? ^^



Catatan : Tulisan ini merupakan hasil tantangan seorang teman yang 'menantang' untuk menulis dengan menghilangkan sudut pandang keakuan, bersifat sedikit ilmiah, menulis tema pernikahan tanpa ada kata pernikahan, perkawinan dan sejenisnya. Tulisan ini terutama ditujukan untuk diri sendiri :)








  

9 comments:

  1. jadi kapan mon? undang2 ya.. biar aq tau...

    ReplyDelete
  2. jadi melihat diri sendiri
    heheh

    terima kasih postingannya

    ReplyDelete
  3. jadi ingat kata2 suami dulu sebelum menikah

    kesiapan dalam hal apapun termasuk pernikahan, seperti halnya dengan kita sewaktu sekolah ada ulangan. meskipun beberapa hari sebelumnya kita sudah diberitahu akan ada ulangan dan meski kita telah belajar, namun ketika hari "H" kemudian guru bertanya "sudah siap untuk ulangan hari ini?" kita cenderung menjawab "beluuuummmm... / tidak"

    Padahal menurut pengalaman pribadi dan pengalaman dari orang2 terdekat, ketika kita telah berazam menikah untuk mendapatkan ridhoNya, jalan itu terasa begitu mudah dan rezeki tak terduga ataupun tidak datang darimana saja.

    salam ukhwuwah :)

    ReplyDelete
  4. mbak Elsa
    hehe, saya juga kok mbak :)
    makasih udah mampir ^^


    mbak Qoirina
    sepakat mbak, kalo ada niat baik pasti dimudahkan :)
    salam ukhuwah mbak ^^

    ReplyDelete
  5. Tulisannya bagus, kesan Religiusnya sangat kuat, saya mengundang Mbak Monika untuk join di komunitas blogger pengguna FB di sini http://www.facebook.com/groups/bloofers/

    BLOOF (Blog of Friendship) saya tunggu..

    ReplyDelete
  6. Buat kebanyakan cewe married tuh kayak sebuah "finish line", sementara bagi cowo2, married tuh sebuah "starting line"

    Karena itulah, kita, cowo, seringkali harus berpikir masak2 sebelum melamar sang pujaan hati...

    ReplyDelete
  7. makasih komen2nya.. salam kenal para blogger ^^

    ReplyDelete