Thursday, May 26, 2011

Kalau Kata Orang Tak Habis-habis

Terkisah, seorang laki-laki mengendarai keledai dan anaknya berjalan di sampingnya. Mereka melewati perkampungan dan orang-orang berkata : “Laki-laki itu tidak penyayang, membiarkan anaknya berjalan sendirian,”.

Laki-laki itu pun turun dari keledainya dan membiarkan sang anak mengendarai keledai sementara ia berjalan kaki mengiringi. Orang-orang kemudian berkata : “Anak itu tidak menghormati orang tuanya, ia mengendarai keledai sementara ayahnya berjalan kaki”

Mendengar kata orang, laki-laki itu kemudian memutuskan untuk bersama-sama sang anak menaiki keledainya. Orang-orang kemudian berkata : “ Kedua orang itu telah bertindak zalim terhadap keledai itu dengan menaiki keledai itu bersamaan”

Si laki-laki itu pun kemudian mengajak anaknya turun dari keledai dan kemudian mereka bersama-sama berjalan kaki melanjutkan perjalanan. Orang-orang yang mereka temui berkata : “Kedua orang itu bodoh, mempunyai keledai tetapi mereka malah berjalan kaki,”

Laki-laki itu pun tersenyum mendengar perkataan orang-orang dan kemudian berkata kepada anaknya : “Ya walad, kalamunnas laa yantahii (perkataan orang tak akan habis) meskipun kita memikul keledai itu dengan tangan”

Cerita tersebut merupakan cerita dari negeri Arab. Kalau dipikir-pikir, agaknya cerita tersebut benar juga. Hampir lima tahun yang lalu, ketika itu saya belum berhijab tetapi sudah memiliki niatan yang kuat untuk segera melaksanakan niatan tersebut, saya mengutarakan keinginan itu kepada seorang kerabat dan beliau berkata, “Halah yang penting itu hatinya mon. Banyak orang berjilbab kelakuannya malah nggak lebih baik daripada orang yang berjilbab”

Atau kata-kata seperti “Orang berjilbab itu nggak jaminan kok,

Saya juga ingat betul perkataan seorang teman mengomentari teman saya lainnya yang dikenal dengan prestasi akademiknya yang biasa-biasa saja saat SMA tetapi berhasil menembus SPMB jurusan kedokteran pada sebuah universitas favorit, “Halah, paling-paling nyumbangnya ratusan juta mon atau orang tuanya dokter punya koneksi”. Entah kenapa hati saya ikut tertusuk mendengar perkataannya lantaran saya tahu bahwa teman yang dibicarakannya itu (yang dikenal dengan prestasinya yang biasa-biasa saja di sekolah) belajar dengan sangat keras mempersiapkan ujian SPMB dan ia mendapatkan buah manis perjuangannya. Tak ada yang tak mungkin bukan?

Pernah juga ketika tengah berbincang santai ada yang bercerita “Pak X mobilnya baru, wah hebat ya” tetapi tanggapan yang saya dengar mengejutkan “Halah paling-paling hasil korupsi,” Astaga, saya tak habis pikir bagaimana kata-kata tersebut bisa terlontar mengingat Pak X dikenal cukup sukses dalam kariernya.

Pernah pula suatu ketika saya membaca suatu status facebook yang menurut saya sangat mengganggu saya secara pribadi. Ia berkata kira-kira intinya seperti ini mengomentari orang-orang yang update status doa atau kata-kata sejenisnya “Berdoa kok di facebook, mau terlihat religius atau bagaimana?” . Menurut saya pribadi, masalah niat seseorang adalah perkara hati yang tak seorang pun tahu melainkan Allah semata sehingga menurut pandangan saya hal tersebut tak perlu ditanyakan (atau setidaknya cukup ia simpan dalam hatinya saja) apalagi dikatakan kepada orang lain. Toh, karena kita tak pernah tahu niat sebenarnya dari seseorang, mengapa kita tidak berbaik sangka dan mengambil hikmahnya saja, dengan adanya update status/note yang berisi doa, saya sering diingatkan atau ditegur ketika lalai. 

Seorang teman pernah bercerita, “Mon, apa aku nggak usah update status atau nulis note aja ya? Nanti ada yang mikir kalau aku sok banget atau gimana”. Saya hanya berkata “Yang tahu masalah niat itu kan cuma kamu sama Allah, kalau niatmu baik ya lakukan aja,”. Teringat Fudhail bin ‘Iyad pernah berkata “Melakukan sesuatu karena orang lain adalah syirik dan meninggalkan sesuatu karena orang lain adalah riya’ “.
                Ya, mengikuti perkataan orang, seperti cerita dari Arab itu, tak akan ada habisnya. Akan selalu ada orang yang berpikir bahwa kita ‘menjilat’ jika berbuat perbuatan baik atau menyangsikan perbuatan baik kita, akan ada yang menyangsikan kemampuan kita saat kita memperoleh sesuatu , akan selalu ada kata-kata yang berhasil menjatuhkan kita ke titik terendah, akan selalu ada kata-kata orang....

                Mungkin terkadang ada saat kita harus mendengar kata-kata orang dan melakukan sarannya karena tak semua yang kita rasakan atau lakukan benar adanya tetapi mungkin ada saat ketika kita perlu menutup telinga dan berjalan tegap dengan cara yang kita punya.....

                Andai saja saya mendengar perkataan-perkataan miring tentang jilbab mungkin hingga sekarang saya masih membiarkan aurat saya terbuka....



Book of The Week #5 : Saatnya untuk Menikah

Mengutip perkataan seorang teman tiap kali ia ditanya kapan ia akan menikah : "menanyakan kapan aku akan menikah ibarat menanyakan kapan aku akan mati". Ya, jodoh dan kematian memiliki satu kesamaan yakni bahwa keduanya adalah rahasia Allah yang tidak kita ketahui persis kedatangannya, yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Mohammad Fauzil Adhim dikenal sebagai 'pakar' khusus masalah rumah tangga dengan buku-buku seputar pernikahan dan keluarga yang ditulisnya, salah satunya buku yang akan saya bahas kali ini : Saatnya untuk Menikah.
"Tidak ada yang bisa dilihat (lebih indah) oleh orang-orang yang saling mencintai seperti halnya pernikahan" (hadits Rasulullah saw sebagaimana disebutkan oleh Thawus dari Ibnu Abbas r.a. Al Hakim kemudian meriwayatkan dan menyatakannya sebagai hadits shahih sesuai dengan syarat-syarat Muslim)

Namun tentu saja untuk memasuki gerbang indah bernama pernikahan itu perlu dipersiapkan berbagai hal seperti yang disebutkan penulis :
1. Bekal ilmu mendampingi suami, melayani suami, menaati suami, mengajarkan ilmu agama kepada istri, menasihati istri tentu memerlukan pengetahuan syar'i yang perlu untuk dipahami
2. Kemampuan memenuhi tanggung jawab
Banyak tanggung jawab yang harus dipenuhi oleh orang yang sudah menikah sehingga kadang membuat sebagian orang takut memasukinya. Tanggung jawab yang perlu disadari oleh baik suami maupun istri.
3. Kesiapan Menerima Anak
4. Kesiapan Psikis
Kesiapan psikis untuk berumah tangga berarti kesiapan untuk menerima kekurangan-kekurangan orang yang menjadi pendampingnya. Memasuki kehidupan rumah tangga artinya mempersiapkan menghadapi suasana rumah tangga dengan tak hanya membayangkan 'yang indah-indah saja'.
5. Kesiapan Ruhiyah
Istilah kesiapan ruhiyah merujuk kepada kondisi seseorang yang mudah menerima kebenaran dikarenakan hatinya telah tersentuh oleh kesadaran agama.

Persiapan lainnya yakni tentang mengenal istri dan kesiapan untuk memberi nafkah. Bagi sebagian orang, kesiapan memberi nafkah identik dengan memiliki pekerjaan tetap. Penulis menegaskan perbedaan antara kesiapan ekonomi dengan kesiapan memberi nafkah. Kesiapan ekonomi -seperti ditafsirkan sebagian orang- adalah kemampuan ekonomi yang dimiliki oleh seorang laki-laki sehingga dengan kemampuan ekonomi itu ia bisa memberi nafkah. Sementara kesiapan memberi nafkah lebih berkait dengan kesiapan untuk sungguh-sungguh bekerja keras mencari nafkah untuk keluarganya sehingga meskipun saat menikah tidak memiliki kemampuan ekonomi yang memadai, ia tetap dapat menafkahi keluarganya.Allah SWT berfirman dalam Q.S. An-Nuur:32 yang terjemahannya berbunyi "dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunian-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui"

Bab selanjutnya membahas mengenai yang perlu diketahui mengenai jodoh. Dalam Q.S. An-Nuur:26 Allah SWT berfirman yang terjemahannya berbunyi "Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah untuk wanita-wanita yang keji (pula) dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula) ..."

Terkadang kita mempertanyakan mengapa ada wanita yang baik mendapatkan suami yang kurang baik, begitu pula sebaliknya. Berkaitan dengan hal tersebut penulis menjelaskan bahwa yang tampak baik atau buruk di mata manusia belum tentu nampak demikian di mata Allah dan terkadang hal tersebut merupakan ujian Allah bagi hamba-Nya.Penulis juga tak lupa menyoroti tentang pentingnya sumber informasi yang terpercaya bagi kita dalam mencari jodoh dan juga sindiran penulis mengenai fenomena bahwa sebagian orang tak kunjung menemukan jodohnya lantaran tingginya kriteria yang ditetapkan padahal, menurut penulis, termasuk mempersulit diri adalah setiap halangan yang timbul karena kita membatasi hal yang telah dilapangkan Allah, mempersempit hal yang telah diluaskan-Nya dan memperberat hal yang diringankan-Nya sehingga kita tidak mampu mencapainya.

Hal yang mendapat penekanan dalam buku ini adalah mengenai nazhar (melihat) calon istrinya. Dibahas dalam dua bab berikutnya, penulis menekankan pentingnya nazhar sebelum pernikahan sebab hal tersebut akan lebih menjamin kelanggengan hidup rumah tangga. Dalam buku ini juga dibahas apa saja yang boleh dilihat, cara melakukan nazhar dan bahwa wanita juga perlu melihat. Dipaparkan pula hadits-hadits mengenai nazhar beserta riwayat terkait.

Penulis sekali lagi 'menyentil' mengenai orang-orang yang tak kunjung memperoleh jodoh lantaran menurut beliau mempersulit apa yang telah Allah mudahkan dengan tingginya kriteria. Ketika engkau merasa tak sanggup menanggung kesendirian, serulah Tuhanmu dengan penuh kesungguhan "Rabbi, laa tadzarni fardan wa anta khairul waritsin (Tuhanku, jangan biarkan aku sendirian. Dan Engkau adalah sebaik-baik warits) (Q.S. Al Anbiya':89)Buku setebal 270 halaman ini ditutup dengan bab ''Ketika Wanita Harus Menawarkan Diri". Dalam bab ini diceritakan mengenai Khadijah ra yang menawarkan dirinya untuk diperistri nabi dengan mengutus Maisarah untuk mengikuti perjalanan dagang yang dipimpin Muhammad SAW dan dengan mengutus Nafisah binti Munayyah untuk menjajaki kemungkinan sekaligus menawarkan apabila terlihat adanya peluang.

Insya Allah, buku kecil ini bermanfaat bagi kita ^^

Book of The Week #4 : Terapi Penyakit Hati

"Hati yang resah, gelisah, hati yang merasa sakit, hati yang tergores dan luka, hati yang marah, iri, dengki, lelah, lunglai seolah tanpa sinar dan energi adalah hati yang sedang mengalami sesuatu. Hati memang bagai perahu. Bila perahu itu terlalu banyak muatan dan berlobang, akan tenggelamlah ia. Begitu pula hati manusia. Bila dimuati banyak dosa, noda, bercak, akan tenggelamlah dirinya sebagai manusia.."

Ibnul Qoyyim al-Jauzi membuka buku ini dengan mengutip sebuah hadis : "Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya". Penyakit yang dibahas dalam buku setebal 369 halaman ini bukanlah penyakit yang melekat pada badan melainkan penyakit hati dan ruh. Nabi Muhammad SAW mengategorikan kejahilan sebagai penyakit dan obatnya adalah bertanya atau belajar kepada orang pandai. Buku ini dibuka dengan bab yang menerangkan keutamaan doa sebagai obat yang mujarab.

Hubungan doa dengan musibah yang menimpa ada tiga kategori :
1. Apabila doa lebih kuat, musibah dapat ditolak.
2. Apabila doa lebih lemah daripada musibah, seseorang akan terus dirundung musibah. Meskipun demikian, walaupun lemah, doa masih bisa sedikit menerangkan.
3. Apabila sama-sama kuat, musibah dan doa akan saling menolak.Dalam Q.S. Al Hajj:46 disebutkan bahwa : "Karena seseungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada"

Artinya hati memerankan peran teramat penting yang patut disadari akan penyakit-penyakit yang timbul dan solusi atasnya. Ibnul Qoyyim membuka pembahasan penyakit hati dengan kekeliruan sebagian orang dalam memandang kekeliruan dalam tawakal terhadap takdir. Beliau juga memaparkan beberapa ayat Al-Qur'an dan menyimpulkan bahwa Al-Qur'an dari awal sampai akhir menerangkan balasan amal kebaikan maupun kejahatan dan keadaan penyebabnya dengan amat jelas.

Dalam buku ini dibahas dengan sangat mendalam mengenai akibat maksiat, bekas-bekas maksiat pada hati dan asal-usul dosa. Selanjutnya dijelaskan mengenai perbuatan syirik, sifat-sifat Allah, jalan masuknya kemaksiatan seperti nadharah (pandangan), al-khathrah (bayangan yang melintas dlam hati), ucapan dan langkah.

Buku ini ditutup dengan pembahasan mengenai cinta. Betapa kalimat "Ana adin lillah" berarti saya merendah, tunduk, taat, mencintai dan takut kepada Allah.Keunggulan buku ini menurut saya terletak pada pemilihan bahasa Ibnul Qoyyim yang tegas dan menyentuh hati. Beliau juga melengkapi buku ini dengan dalil-dalil dan paparan yang logis dan menarik walau untuk mencernanya dibutuhkan waktu dan konsentrasi lebih. Direkomendasikan untuk hati :)

Wednesday, May 4, 2011

Book of The Week #3 : Islam Liberal 101

Islam Liberal. Apa yang pertama Anda pikirkan ketika mendengarnya? Janggal. Terasa janggal bagi saya. Islam adalah agama yang terikat dengan syariatNya sedangkan kata liberal sendiri secara kasar bermakna sebagai suatu kebebasan. Artinya Islam itu tidak ‘bebas’ melainkan harus tunduk sebagaimana perintah dan larangan baik yang Dia tetapkan dalam firmanNya maupun melalui sabda Rasulullah SAW lebih dari empat belas abad yang lalu.

Seperti judulnya Islam Liberal 101 (kode “101” biasanya digunakan untuk mata kuliah dasar atau pengenalan terhadap suatu topik tertentu), buku ini menyediakan pengantar bagi Anda yang ingin mengenal apa itu Islam Liberal dan Jaringan Islam Liberal itu sendiri (tentu Anda ingat bom paket buku yang ditujukan ke Ulil Abshar Abdalla, co-founder Jaringan Islam Liberal).

Ditulis dengan gaya khas Akmal Sjafril yang cenderung blak-blakan, buku ini diawali dengan kisah ghazwul fikriy (perang pemikiran) pada zaman nabi. Dilanjutkan dengan bab yang membahas mengenai sejarah munculnya sekularisasi dan sekularisme pada sejarah peradaban Barat. Pada bab ini juga dibahas cukup mendetail mengenai tren-tren pluralisme. Misalnya disebutkan bahwa tren-tren pluralisme (mengutip buku Anis Malik Thoha) terbagi menjadi empat kelompok besar yakni Humanisme Sekuler, Teologi Global, Sinkretisme dan Hikmah Abadi. Diceritakan pula sejarah infiltrasi sekuler-liberal yang terjadi di Indonesia yang memulai pembahasan mengenai Jaringan Islam Liberal (JIL).

Dalam situs resminya JIL menjelaskan enam poin landasannya yaitu :  (1) membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam, (2) mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks, (3) memercayai kebenaran yang relatif, terbuka, dan plural, (4) memihak pada yang minoritas dan tertindas, (5) meyakini kebebasan beragama, (6) memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik. Akmal pun serta merta menangkis landasan-landasan tersebut dengan argumen-argumen yang cerdas. 

Bab keempat, menurut saya, adalah bab yang paling menarik dari buku setebal 226 halaman ini. Bab ini mengupas modus-modus operandi yang digunakan oleh JIL seperti permainan istilah, tuduhan palsu, pembelokan masalah, pemotongan ayat hingga cara JIL melakukan lempar batu sembunyi tangan. Semuanya dibahas tuntas pada bab ini.

Tak kalah menariknya ulasan pada bab kelima mengenai kalimat-kalimat yang seringkali digunakan oleh JIL (atau jika saya boleh sebut sebagai JIL-banget) seperti kalimat : “Jangan mendominasi kebenaran”, “Saya tidak mau mengobral ayat suci”, “Penafsiran siapa?”, “Tidak disebutkan dalam Al Qur’an” dan yang paling sering saya dengar selama ini adalah “Tuhan tidak perlu dibela”

Selanjutnya dalam bab terakhir Akmal mengaitkan JIL dengan Q.S. Al Munaafiquun. Pada bab ini penulis menegaskan bahwa musuh dalam selimut jauh lebih berbahaya daripada musuh di depan mata.

Seberapa liberal pemikiran liberal di mata Anda? Di mata saya, pemikiran ini amatlah berbahaya. Pemikiran yang akan menimbulkan keraguan-raguan pada awalnya dan menghasilkan ketidakyakinan. Misalnya seorang wanita Islam menjadi ragu akan wajib tidaknya perintah berjilbab lantaran propaganda kaum liberal yang mengatakan bahwa jilbab merupakan sesuatu yang tidak wajib. Menjadikan seorang muslim jauh dari nilai-nilai agamanya.

Jika Anda mempunyai akun situs jejaring sosial Twitter, Anda akan melihat betapa lihai sepak terjang mereka dengan kelihaian berbicara yang mumpuni dan penggunaan potongan dalil. Kalau Anda penasaran, Anda dapat membuka akun twitter salah seorang punggawa JIL, Ulil Abshar Abdalla, @ulil untuk mengetahui pemikiran liberalnya. Namun kalau saya boleh sarankan, jangan membuka akun tersebut jika Anda tak kuat iman (hati-hati jangan sampai Anda malah membenarkan kata-katanya). Penulis buku ini, Akmal Sjafril, juga dapat Anda jumpai di akun twitter miliknya @malakmalakmal. Gaya bicaranya cerdas, lugas dan logis

Ohya jika Anda berminat dengan buku ini, anda bisa memesannya via email ke malami.bookstore@gmail.com. Cukup dengan Rp 50.000,00 Anda akan mendapatkan buku yang mencerahkan ini. Highly recommended!

Book of The Week #2 : Think Dinar!

Sejak zaman Rasulullah SAW sampai dengan sekarang, satu Dinar selalu cukup untuk membeli satu ekor kambing. Ini membuktikan hanya Dinar, satu-satunya investasi (mata uang) yang terbukti anti inflasi!”

Sebelum mengulas lebih jauh mengenai Dinar, Endy J. Kurniawan mengawali buku ini dengan bab yang teramat menarik mengapa Muslim harus berpikir tentang Dinar : Ayo Jadi Muslim Kaya!. Kaya dalam arti denotatif (sesunggguhnya) bukan kaya dalam arti kiasan. Seorang Muslim yang kaya secara material dan immaterial tentu lebih memiliki kekuatan dan lebih mulia dibandingkan Muslim yang hanya sekadar kaya immaterial saja. Bukankah Abdullah bin Mas’ud berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Tidak boleh iri hati kecuali dalam dua macam : seorang yang diberi Allah ta’ala harta kekayaan maka dipergunakan untuk mempertahankan hak (kebenaran) dan seorang yang diberi oleh Allah ta’ala ilmu dan ia pergunakan dan diajarkannya,” (HR Bukhari-Muslim)

Bab ini juga mendorong para pembaca untuk termotivasi untuk menjadi Muslim yang kaya (dan tentu saja kekayaan yang digunakan di jalan Allah). Rasulullah SAW dan para sahabat bukanlah orang yang miskin, melainkan orang-orang yang zuhud. Lebih jauh Endy mengungkapkan bahwa zuhud adalah meninggalkan dunia by choice, miskin adalah ditinggalkan oleh dunia. Menurut satu riwayat, Rasulullah SAW menyerahkan dua puluh unta ditambah dengan dua belas uqiyah (ons) emas sebagai mahar kepada Khadijah ra. Jumlah yang apabila dikonversikan dengan nilai saat ini setara dengan Rp 200.000.000,00 ditambah Rp 133.200.000,00 (berdasarkan hitungan penulis buku ini di tahun 2010).

Perjuangan di jalan Allah tak hanya membutuhkan iman tetapi juga harta benda, seperti firman Allah SWT dalam Q.S. Al-Anfal (8):60 yang terjemahannya berbunyi : “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu ) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya ...” seperti halnya para sahabat Rasulullah SAW yang menggunakan kekayaannya sebagai alat perjuangan. Endy menutup bab ini dengan memaparkan bukti-bukti kejayaan ekonomi Islam bahkan saking sejahteranya masyarakat Islam pada zaman Umar bin Khattab, Mu’adz bin Jabal ra menuturkan di Yaman sampai kesulitan menemukan seorang miskin pun yang layak diberi zakat. Kelebihan utama buku ini, menurut opini saya, terletak pada isinya yang komprehensif dan sistematis. Diawali dengan pemberian dorongan kepada kaum Muslim agar kaya lahir dan batin seperti yang telah saya ceritakan di atas, dilanjutkan dengan bab yang membahas mengenai mitos dan fakta seputar sistem ekonomi kapitalis. Sistem yang disebut oleh Dr. Ahmad Riawan Amin, Direktur Utama Bank Muamalat Indonesia sebagai satanic finance atau sistem keuangan setan yang memiliki tiga pilar yakni uang kertas (alih-alih digunakannya uang yang berbahan dasar emas atau perak), persyaratan cadangan minimum pada bank (fractional reserve requirement) dan sistem ekonomi ribawi dengan penggunaan interest (bunga bank).

Baru di bab ketiga, penulis melakukan pembahasan mendalam mengenai Dinar dan bagaimana Dinar memberikan solusi atas permasalahan ekonomi yang dihadapi masyarakat dan bagaimana Dinar bekerja menyejahterakan masyarakat. Dinar yang dimaksudkan dalam buku ini adalah koin emas 22 karat dengan berat 4,25 gram yang memenuhi standar Internasional Dinar, bukan dinar yang dilabelkan pada mata uang negara tertentu. Dalam bab-bab selanjutnya dibahas lebih lanjut mengenai rahasia kekuatan Dinar emas, Dinar dan dirham sebagai solusi masa depan dan Dinar emas sebagai konsep ekonomi Islam untuk kesejahteraan. Keunggulan-keunggulan lain buku ini adalah selain memaparkan secara komprehensif dan sistematis, pembaca seperti diajak untuk menyelami ilmu ekonomi moneter melalui pemilihan kata sederhana dengan dilengkapi penjelasan yang mudah dicerna oleh orang awam ilmu ekonomi sekalipun. Misalnya dalam buku ini dijelaskan mengenai sejarah perubahan penggunaan mata uang kertas yang di-back up dengan emas hingga menjadi sistem mata uang (kurs) mengambang seperti yang berlaku saat ini. Selain itu penulis juga memberikan contoh-contoh perhitungan matematis aplikasi penggunaan Dinar untuk kehidupan masyarakat seperti penggunaan Dinar sebagai investasi, tabungan untuk menikah, tabungan naik haji, tabungan pensiun dan lain sebagainya. Endy juga membandingkan perhitungan matematis penggunaan Dinar tersebut dengan penggunaan tabungan serupa yang menggunakan mata uang kertas. Tak lupa buku ini juga dilengkapi dengan daftar FAQ (Frequently Asked Questions) yang mungkin selama ini ada di benak masyarakat tentang Dinar ataupun penggunaannya.

Tak kalah pentingnya, penulis menutup buku ini dengan pentingnya berzakat dan penegasan bahwa penggunaan Dinar sebagai awal penyelamatan kekayaan umat dari serangan sistem ekonomi kapitalis yang tujuan akhirnya tentu saja untuk mewujudkan ekonomi Islam yang memberikan kebaikan untuk semua pihak.

Dua kata yang mencerminkan buku ini : mencerdaskan dan mencerahkan. Buku yang layak untuk Anda koleksi :)

Book of The Week #1 : Ayahku (Bukan) Pembohong

Kapan terakhir kali kita memeluk ayah kita? Menatap wajahnya, lantas bilang kita sungguh sayang padanya? Kapan terakhir kali kita bercakap ringan, tertawa gelak, bercengkerama, lantas menyentuh lembut tangannya, bilang kita sungguh bangga padanya?”

Dam, laki-laki berusia empat puluh tahun dibesarkan dengan kebijaksanaan hidup yang ia dapatkan dari cerita-cerita sang ayah, seorang pegawai negeri yang dikenal seantero kota lantaran kejujuran dan kesederhanaannya. Namun Dam, sang anak kandung, justru membenci ayahnya lantaran ia tak pernah menemukan fakta bahwa cerita-cerita sang ayah adalah cerita yang dapat dibuktikan kebenarannya, ia menganggap bahwa cerita-cerita ayahnya tak lebih dari sekadar dongeng dan berhenti mempercayai cerita-cerita itu semenjak ia berusia dua puluh tahun. 

Dituturkan oleh Tere-Liye dengan indah, novel ini memiliki kekuatan cerita lewat pemilihan kata-kata yang sederhana tetapi mengena, misalnya tatkala Dam dimarahi sang ayah lantaran ayahnya keberatan mengirimkan surat Dam kepada pemain bola idola Dam, Dam pun menulis surat untuk ayahnya,
... Ayah dulu pernah bilang padaku, “Jangan-jangan kau akan menjadi orang paling sedih sedunia jika malam ini tim sang Kapten kalah.” Ayah keliru. Malam ini, saat sendirian di kamar, saat menyadari bahwa Ayah telah kurepotkan sebulan terakhir dengan permintaan itu, Ayah bahkan berteriak marah untuk pertama kalinya di rumah kita, aku jauh lebih sedih dibandingkan melihat tim sang Kapten kalah. Boleh jadi aku menjadi anak yang paling tidak berterima kasih sedunia.”

Masalah muncul ketika sang ayah bersedia menerima permintaan istri Dam untuk tinggal di rumah mereka, Dam merasa terusik oleh ayahnya yang bercerita kepada Zas dan Qon, anak-anak Dam, tentang cerita-cerita yang sama persis seperti yang diceritakan sang ayah padanya saat ia masih kecil. Bagi Dam, cerita-cerita itu tak lebih dari sekadar cerita bohong dan ia ingin mendidik anak-anaknya dengan kerja keras dan kedisiplinan.

Novel ini memiliki pola yang hampir serupa dengan novel Tere-Liye berjudul “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin”, menggunakan alur maju-mundur dengan memberikan satu pertanyaan besar yang membuat pembaca mencari dan terus mencari jawaban untuk menuntaskan rasa penasaran. Dam seumur hidupnya mencari apakah cerita-cerita sang ayah merupakan cerita yang nyata ataukah dongeng belaka. (dan tentu saja saya juga penasaran dan mencarinya hingga ending novel :D)

Kelebihan novel setebal 299 halaman ini terletak pada kekuatan ceritanya (khas novel Tere-Liye yang sebagian besar bertemakan keluarga) dan juga kebijaksanaan yang bisa kita dapatkan dari cerita-cerita sang ayah. Pada akhirnya Tere-Liye menutup novel ini dengan sebuah pesan yang menggugah :“Berlarilah secepat mungkin menemui ayah kita, sebelum semuanya terlambat, dan kita tidak pernah sempat mengatakannya,”

Recommended!