Friday, August 19, 2011

Have You Ever?

Have you ever felt like being lonely in a crowded place?
Have you ever felt like you wanna scream loudly but you don't wanna anyone hear?
Have you ever felt like you can't rely on no one but you?
Have you ever felt like going no direction?
Have you ever wanted to dance under the rain that no one sees you crying?
Have you ever pretended like everything happened?
Have you ever proscratinated something, hoped for better thing then you got nothing?
Have you ever wondered what life would be if you chose another way?
Have you ever been hurted that you felt you would not be healed?
Have you ever been underestimated by someone you adore so much?
Have you ever regreted the things you had missed?
Have you ever hated yourself for being someone you hate to be?
Have you ever asked what God had created you for?
Have you ever cried so loudly knowing that your tears were for vain?
Have you ever thought it would be easier to be someone else?


Tuesday, August 2, 2011

Kata-Kata Ini

dicari dari google


Ada kata-kata yang menjatuhkan kita. Ada kata-kata yang membuat kita senang, sedih, jengkel, kecewa dan merasakan perasaan lainnya.  Namun akan selalu ada kata-kata yang mengubah hidup kita. Mengubah cara pandang...

Niat saya berjilbab saya utarakan kepada beberapa orang dekat, dua diantaranya mengatakan kata-kata yang tak hanya menguatkan niat saya tetapi juga menjadi kata-kata yang menjadi salah satu dasar cara saya memandang suatu persoalan. 

“Sebenernya aku pengen berjilbab tapi gimana ya? Sikapku kan belum baik-baik amat, nanti kalau ada orang bilang orang jilbaban kok sikapnya gitu gimana coba? Ntar imej orang berjilbab jadi buruk gimana? Lagian gimana ya kalau aku pakai jilbab terus ntar di tengah jalan aku pengen lepas lagi?” (Biasa, mau bertambah baik pasti ada bisikan keraguan)

Teman saya yang pertama menjawab, “Mon, justru dengan berjilbab itu kamu akan termotivasi untuk menjadi lebih baik mon, bukan kamu nunggu baik dulu baru berjilbab, jilbab itu akan menjagamu mon”

Teman saya yang kedua berkata, “Mon, kayak sholat deh, kalau kamu nunggu sholatmu khusyuk kapan kamu mau sholat? Kalau kamu nunggu kamu jadi orang baik dulu sebelum berjilbab, kapan kamu mau berjilbab? Sementara kewajiban berjilbab itu telah ada semenjak kamu baligh..”

Bismillah. 17 Agustus 2006 niat itu terwujud menjadi tindakan. Waktu itu saya tidak begitu paham dengan kata-kata ‘jilbab itu akan menjagamu’. Namun seiring berjalannya waktu, kata-kata itu tak hanya sekadar kata-kata, ia membuktikannya. Mulai dari pikiran “Aduh, saya akan pakai jilbab, malu dong sama jilbab saya,” hingga “Nggak pantes orang berjilbab bersikap seperti ini,”. Ya, sedikit banyak jilbab menjadi perisai bagi pemakainya.

Kata-kata ‘ajaib’ dalam hidup saya berikutnya dilontarkan oleh seorang teman dekat saat menyemangati saya yang waktu itu sedang enggan berangkat liqo. Dia berkata, “Kebaikan itu terkadang harus dipaksakan Mon,” katanya tegas. Saya berangkat juga dengan setengah malas dan pulangnya saya bertanya kepadanya, “Kalau kebaikan dipaksakan berarti nggak ikhlas dong? Sementara syarat diterimanya suatu ibadah itu kesesuaian dengan syariat dan niat bukan?” Dia menjawab panjang lebar, ”Mungkin pada awalnya kamu kurang ikhlas melakukan suatu kebaikan, tapi paksakan saja melakukannya. Lama-lama kamu akan terbiasa melakukannya dan setelah kamu terbiasa melakukannya, kamu akan merasa kehilangan jika kamu tidak melakukannya. Tahu nggak mon, suatu perbuatan itu akan menjadi kebiasaan jika dilakukan terus menerus tanpa henti selama minimal dua bulan,”