Friday, September 23, 2011

Catatan (Tidak) Galau Sebelum Penempatan : Semeleh



diunduh dari google
Sebagai CPNS, memang sudah menjadi suatu konsekuensi untuk ditempatkan dimana saja di seluruh wilayah Indonesia. Namun tetap saja, bagi saya, membayangkan penempatan seperti membentangkan peta Indonesia di depan mata mengingat instansi saya, Ditjen Kekayaan Negara (DJKN) memiliki kantor vertikal yang tersebar dari Aceh hingga Jayapura. Menunggu penempatan itu ‘sesuatu banget’ dan sukses membuat galau.

Ngomong-ngomong soal galau penempatan, rasa-rasanya sudah melewati masa puncaknya. Gosip penempatan sudah santer terdengar semenjak bulan Juni dan tulisan ini dibuat belum terjadi. Apalagi DJKN adalah satu-satunya instansi di Kementerian Keuangan yang hingga sekarang belum penempatan, teman-teman yang ditempatkan di instansi lain sudah menyebar ke seluruh wilayah Indonesia, mulai dari kota-kota besar hingga kota-kota di daerah. Walau sudah melewati ‘puncak kegalauan’ (mungkin karena banyaknya gosip dan sudah terlalu lama galaunya :p) tetap saja rasa harap-harap cemas masih ada di dalam hati.

Salah satu bentuk nikmat Allah adalah mempertemukan kita dengan orang yang tepat, disaat yang tepat. Bulan puasa lalu tiba-tiba saja mendapatkan sms dari tante seorang sahabat saya yang tinggal di Semarang. Seseorang yang hanya sempat saya kenal sekilas saat duduk di bangku SMA. Omong punya omong, beliau sekarang sudah bersuami dan tinggal di Jakarta. Saya memanggilnya teteh. Usianya beberapa tahun di atas saya. Teteh mengajak silaturahmi ke kontrakannya yang ternyata cukup dekat dengan kos saya. Ia dan suaminya memutuskan meninggalkan pekerjaan mereka sebagai karyawan swasta dan bersama-sama merintis usaha mereka dari nol, berjualan bakso. Ya, mereka mengelola sebuah kedai bakso di daerah Kramat. Pekan lalu saya berkesempatan bertemu dengan mereka, di kedai bakso tersebut. Wajah cerah teteh kembali saya temui setelah bertahun-tahun.

Monday, September 19, 2011

Klik #1 : Pilih Satu Atau Dua Tujuh?



dari sekolahmadani.com
Akhir-akhir ini sering sholat sendirian. Di kos yang sekarang nampaknya budaya sholat berjama’ah kurang. Tentu akan terasa perbedaan antara kos mahasiswa dengan kos pegawai. Kos mahasiswa ramai, dengan budaya ‘ngumpul-ngumpul’ yang kental. Sedangkan pada kos pegawai, bisa jadi satu kos tetapi tidak saling mengenal. Berangkat atau pulang kerja sering kali tidak bertemu karena jam atau lokasi kerja yang berbeda. Hampir di setiap kamar terdapat televisi pribadi, berbeda dengan kos mahasiswa yang umumnya satu televisi untuk satu kos sehingga sering berkumpul di depan televisi. Pintu kamar kos pegawai rasa-rasanya juga selalu tertutup, jarang sekali ada yang membuka pintunya. Dulu waktu kuliah, semua pintu teman satu kos diketok semua, hingga semua bangun, lalu sholat berjama’ah. Sholat berjama’ah menunggu semua personel lengkap.

Biasanya saya sholat berjama’ah dengan dua orang teman kos yang sebelumnya sudah saya kenal saat kuliah. Bukan apa-apa, hanya saja sebagai penghuni baru di kos ini, saya merasa sungkan mengajak penghuni lama yang baru saya kenal untuk sholat berjama’ah sementara di kos ini tak ada budaya sholat berjama’ah.

Selain itu, menurut saya, tak semua orang mau diajak sholat berjama’ah. Pernah saya mengajak seorang teman (perempuan) yang saya kenal di suatu mushola sebuah kantor dan ia menjawab “Sendiri-sendiri saja ya,”. Dan cukup sering jawaban itu saya peroleh. 

Suatu ketika saya melihat ketika sedang dilaksanakan sholat berjama’ah di suatu tempat, seorang ibu datang. Saya pikir beliau akan menjadi makmum masbuk dari jamaah tersebut tapi ia malah mendirikan sholat sendiri (kebetulan saya masbuk dan di belakang ibu tersebut sehingga sempat melihatnya). Hal yang cukup sering saya lihat.

Pernah juga saya membaca tweet yang dibagikan oleh seseorang di twitter yang kira-kira begini bunyinya : “Gue orangnya mandiri, sholat pun gue mandiri, sendiri”.