Thursday, October 27, 2011

Dua Puluh Empat Jam

Orang-orang terhebat sekalipun mempunyai waktu dua puluh empat jam sehari, yang sama denganmu*

sumber gambar : di sini
Dua puluh empat jam sehari. Milikku, milikmu dan milik orang-orang terhebat sejagad raya. Itulah salah satu bentuk keadilan Tuhan bukan, Dia tidak melebihkan waktu barang sedetik pun bagi menteri, presiden atau orang-orang yang merasa dua puluh empat jam sehari adalah waktu yang sangat sempit, pun Dia juga tidak mengurangi jatah dua puluh empat jam bagi para pecundang, penjahat atau sampah masyarakat sekalipun.


Dua puluh empat jam yang sama. Milik orang-orang yang merutuki takdirnya, menyebut Tuhan tidak adil, menyalahkan hidupnya yang dikatakannya selalu sial dan merasa menjadi orang paling malang sedunia. Milik orang-orang yang menerima segala yang digariskan dengan keridaan, menjalani takdirnya dan mencari cara terbaik menjalani kehidupan dengan apapun yang dipunya.


Dua puluh empat jam yang sama. Milik orang-orang yang merasa tak punya bakat, kemampuan atau kesempatan. Milik orang yang merasa ia bodoh dan memilih menjadi bodoh dengan tidak belajar, tidak berkembang atau memilih mengurung dirinya dalam kekurangannya. Milik orang yang merasa bodoh lalu mencari cara untuk menjadi tidak bodoh. Milik orang yang percaya bahwa nasibnya tidak akan berubah selama ia tidak mengubah dirinya.


Dua puluh empat jam yang sama. Milik orang-orang yang lalai dan terbuai dunia. Milik orang yang melupakan Tuhannya atau bahkan mengingkari-Nya. Milik sang pendosa yang lantas menyesal dan memohon ampun. Milik orang-orang yang selalu berusaha hidup dalam ketaatan.


Dua puluh empat jam yang sama.
Dua puluh empat jam yang ku pilih bagaimana ia akan berjalan
Dua puluh empat jam yang kau pilih bagaimana ia akan menjadikanmu

Dua puluh empat jam yang sama. Dan hidup adalah tentang pilihan bukan?




*kalimat yang pernah saya baca tapi lupa baca dimana


Friday, October 21, 2011

Efek Dahsyat Menulis


dari voa-islam.com
Menulis itu menyenangkan. Rasanya plong bisa mengeluarkan pikiran atau perasaan yang mengganjal menjadi deretan kalimat. Seminggu ini, saya mencoba menargetkan diri everyday blogging in this week, artinya senggang atau nggak, mood atau nggak mood mencoba menulis apa saja yang ada di kepala. Lagian ada yang nantangin saya nulis lantaran saya bilang kepadanya saya punya banyak ide di kepala tapi hanya sedikit sekali yang menjadi tulisan jadi. Folder ‘Just A Little Thought of Mine’ di komputer sudah melewati angka enam puluh file draft tulisan tapi rekam jejak notes di facebook baru mencapai empat puluh enam. File dengan judul ‘Ide menulis’ sudah mencapai belasan ide tapi baru dua yang benar-benar jadi. Selebihnya hanya ide atau tulisan beberapa paragraf yang kemudian ditinggal lantaran malas melanjutkannya. 

Kata teman, suatu perbuatan baik itu harus dipaksakan. Menargetkan diri itu adalah salah satu bentuk ‘pemaksaan’. Lalu woro-woro di situs jejaring sosial adalah bentuk pemaksaan kedua. Yang pertama merasa tak enak dengan diri sendiri dan yang kedua malu dengan orang-orang jika sudah woro-woro tapi nggak dilakukan (yah walau mungkin nggak ada yang nungguin juga sih :P). Dari melakukan sesuatu ‘keterpaksaan’ lama-lama menjadi 'kebiasaan'. Kata teman sih setelah dua bulan ‘dipaksakan’ sesuatu itu akan menjadi kebiasaan. 

Menulis itu, menurut saya, amat besar manfaatnya untuk diri sendiri. Dulu sempat bikin serial notes ‘Book of The Week’ dengan tujuan utama mempersingkat waktu membaca satu buku menjadi seminggu untuk satu buku dan agar menyelesaikan buku yang sudah dimulai (sering membaca suatu buku dan tidak menyelesaikannya) tetapi menghentikannya di minggu ketujuh lantaran merasa keteteran membaca satu buku setiap minggunya. Setelah menghentikannya, waktu menyelesaikan suatu buku bisa mencapai dua hingga tiga minggu, malah ada yang sebulan belum kelar juga hiks. Hasil kegalauan saya menunggu penempatan saya tuangkan dalam Catatan (Tidak) Galau Sebelum Penempatan : Semeleh dan hikmah yang saya dapat dari masalah-masalah yang pernah saya alami saya tuangkan dalam Catatan (Anti) Galau : Big Girls Don't Cry . Menuliskan keduanya membuat saya merasa lebih kuat.

Yang kedua, dari tulisan yang kita buat, sebenarnya kita membuat komitmen terhadap diri sendiri dan dengan disaksikan orang-orang yang membacanya. Si penulis haruslah menjadi orang pertama yang menerapkan apa yang ditulisnya. Sekaligus sebagai pengingatnya jika suatu hari nanti dia melenceng dari apa yang pernah ditulisnya. “Dulu saya pernah menulis ini,” Jadi semacam self-control yang cukup efektif. Pernah suatu teman menulis status atau note (saya lupa-lupa ingat) tentang keutamaan sholat tepat waktu. Saya, entah kenapa, merasa perlu mengingatkannya yang sedang online di facebook dengan sekadar mengajak chat “Eh udah masuk waktu sholat tuh, kemarin aku baca tulisanmu tentang sholat tepat waktu loh hehe,”. 

Hal yang tak kalah menarik lainnya dari menulis adalah dengan menulis orang mengenal kita. Kata Jamil Azzaini melalui akun twitternya “Dengan membaca kita tahu dunia, dengan menulis dunia tahu kita,”. Artinya dengan tulisan, kita menunjukkan siapa diri kita sebenarnya. Sering kali ada saja teman atau kenalan yang tiba-tiba mengajak ngobrol tentang buku, entah buku yang pernah saya review, bertanya tentang buku baru apakah saya sudah membacanya atau memberikan rekomendasi buku bagus. Tiba-tiba saja kami terlibat pembicaraan yang seru tentang buku dan dari sana sering saya memperoleh banyak informasi, tentang buku, penulis atau hal-hal seputar itu. Dari review buku 'Islam Liberal 101' misalnya dan cukup seringnya saya nge-tweet tentang anti liberalisme misalnya, saya berkenalan dengan orang-orang dengan pemikiran sama yang dari mereka saya banyak belajar. Tulisan akan semakin mendekatkan orang-orang yang memiliki kecenderungan yang sama. Pernah juga saya bercerita dengan seseorang yang saya panggil ‘teteh’ yang mengelola kedai bakso (dalam Catatan (Tidak) Galau Sebelum Penempatan : Semeleh ) dan ada teman yang bertanya dimana lokasi persisnya kedai teteh, lumayan membantu promosi kedainya hehe.

Thursday, October 20, 2011

Asyiknya Bermain Twitter


Dicari dari google
Jejaring sosial twitter menurut saya memiliki keunikan tersendiri yang membuat penggunanya menjadi addicted alias kecanduan. 

Ini beberapa keasyikan twitter menurut saya :
1.       Simpel (hanya berupa tweet yang berupa semacam kotak untuk update status di facebook, dengan pembatasan maksimal 140 karakter), hanya tinggal tweet, reply atau retweet.

2.       Pengguna twitter pun tak khawatir dianggap ‘nyampah’ kalau nge-tweet sekadar untuk berkata misalnya ‘lapar, capek, atau hujan’ dengan jumlah apdetan  berkali-kali dalam sehari (kalau di facebook rasa-rasanya malas melihat satu orang update status beberapa kali dalam sehari hehe).

3.       Sangat banyak tokoh-tokoh ternama yang selama ini hanya kita lihat di televisi atau kita ketahui sepak terjangnya melalui media massa yang mempunyai akun twitter. Bisa berkomunikasi secara langsung dengan mereka (melalui mention kita) yang tentu saja susah kita lakukan di dunia nyata. Beberapa tokoh ternama ternyata sangat ramah loh :D

4.       Dari tweet-tweet akun yang kita follow kita bisa belajar banyak ilmu mereka secara cuma-cuma. Mau lebih pintar ilmu agama? Bisa follow @aagym, @salimafillah, @yusuf_mansyur, @kang_abik atau akun seperti @islamicthinking, @backondeen. Mau lebih pintar ilmu finansial? Bisa follow @safirsenduk, @mrshananto atau @ahmadgozali. Mau terkena motivasi dahsyat tingkat tinggi bisa follow @jamilazzaini, @ipphoright atau @tungdw. Mau tahu pemikiran tokoh politik? Bisa follow @tifsembiring, @fahrihamzah atau @indrajpiliang misalnya. Para tokoh ternama juga sering menulis tentang kultwit (kuliah twitter kalau tak salah singkatannya) tentang hal-hal yang dikuasainya. Intinya tinggal cari ahli sesuatu dan follow mereka. ^^

Wednesday, October 19, 2011

Yang Muda Yang Berbeda : Loving Life!


Dicari dari google

Usia muda itu tak berulang dua kali, anak muda itu spesial. Salah satu karakteristiknya adalah spontanitas. Action dulu. Bergerak dulu. Tiba-tiba saja jam setengah 8 pagi di-sms seorang kawan yang mengajak ke Dufan sejam kemudian sudah berangkat atau tiba-tiba saja sudah berada ratusan kilometer dari Jakarta, ditengah bus sambil bernyanyi-nyanyi riang. Kadang-kadang rencana yang dibicarakan berulang kali malah tak jadi bukan?

Kuliah saya di STAN berjalan flat-flat saja hingga tingkat dua, jujur saja orientasi kuliah pada tahun pertama benar-benar murni akademis, hanya ingin belajar dan memperoleh hasil tinggi. Kuliah pulang, kuliah pulang (kupu-kupu), seputar kosan dan menghindari organisasi (takut mengganggu kuliah). Hingga saya bertemu dengan teman-teman tingkat dua yang membuat saya merasakan nyamannya persahabatan. Mulailah berkembang pikiran, lagipula akhirnya jenuh juga belajar terus :P

Dari situ mulai jalan-jalan kemana-mana atau sekadar berkumpul ngobrol-ngobrol. Orientasi pun mulai bergeser, tak sepenuhnya untuk akademis. Dulu waktu tingkat satu masih rajin meringkas hampir semua bab mata kuliah pelajaran-pelajaran susah dengan dihias warna-warni yang menarik hati (ah kemana ya catatan-catatan saya itu sekarang?), lalu mulai malas sedikit demi sedikit, waktu tersita untuk jalan-jalan dan mulai ikut organisasi. Malah ada teman kos yang berkata tak pernah melihat saya waktu weekend -_-“

Lalu mulailah petualangan think out box, melakukan hal berbeda yang sebelumnya tak pernah dilakukan. Rutinitas itu kadang membosankan kan? Mulailah saya ikut les bahasa Mandarin, jadi pengajar dan coba-coba berbisnis (walau yang terakhir ini bisa disebut gagal hiks).  Hidup terasa lebih berwarna.

Dan sekarang sedang menunggu dengan antusias untuk ikut tur Museum Nasional dan Istana Negara besok minggu (baru saja bergabung dengan Komunitas Historia Indonesia), sudah tak sabar ikut kursus menjahit bersama Anita (jalan-jalannya juga ding :D), sedang mencari peluang bisnis baru, menikmati blogwalking dan belajar menulis setiap harinya, membaca banyak buku dengan genre-genre yang sebelumnya bukan genre saya, antusias berkenalan dengan banyak orang, menikmati setiap pertemuan les bahasa Arab dan hal-hal lainnya.

Iya, telat banget baru sekarang menikmati enaknya mengeksplor diri tapi tak apa-apa lah ya. Better late than never. Dulu benar-benar menolak membaca buku yang bukan-saya-banget tetapi setelah coba-coba membacanya, saya menikmati juga. Melihat sesuatu dengan sudut pandang yang berbeda dan yang lebih penting mendapat ilmu baru. Kursus jahit saya pikir awalnya bukan-saya-banget mengingat dulu waktu SMP nilai tata busana saya yang menyedihkan tapi setelah dipikir-pikir kalau saya nggak bisa dan menghindar kapan bisanya?

Jadi eksplor diri sebanyak-banyaknya, mumpung masih muda. Ikut apa saja selama positif dan mampu (ya nggak mungkin juga saya ikut kursus angkat besi :p). Nikmati hidup dan jangan batasi pikiran serta jangan batasi diri dengan pikiran seperti ‘nggak mampu’, ‘bukan saya banget’, dsb. Masa muda tak berulang dua kali, kesempatan itu kadang tak menunggu. Masa ketika fisik, antusiasme dan kemampuan sedang berada di puncaknya. 

Yuk, temukan hal yang menakjubkan dari hidup ^^

Tuesday, October 18, 2011

Catatan Anti Galau : Big Girls Don't Cry


dicari dari google
Selepas SMA, saya merasa sudah dewasa. Sudah melewati usia tujuh belas tahun yang katanya merupakan usia kedewasaan, punya SIM, KTP dan ijazah SMA. Diterima di STAN dan siap meninggalkan rumah, merantau untuk pertama kalinya. Jauh dari orang tua, mengambil keputusan sendiri dan mengatur keuangan sendiri (walau masih uang kiriman ortu). Ada perasaan siap menjadi dewasa.

Namun rupanya, titik dewasa saya tak benar-benar mulai disana. Usia sembilan belas, saat masih duduk di tingkat dua, ada satu hal tak enak yang membuat sedih, kecewa, terluka hingga memikirkannya berbulan-bulan hingga sekarang pun jika terlintas hal tersebut masih meninggalkan sedikit rasa sakit. Itu cobaan terberat yang pernah saya alami. Saya keliru. Setahun berikutnya saat tingkat tiga, saya mengalami hal yang lebih tak enak lagi. Berhentikah? Setahun berikutnya saya mengalami hal yang jauh lebih tak enak. Beberapa bulan yang lalu lebih tepatnya.

Saya menangis dan berteriak, mengapa hal ini terjadi. Saya merasa lemah dan tak mampu menghadapinya. Mengapa harus saya? Mengapa bukan orang lain? Mengapa harus cobaan ini, mengapa bukan cobaan yang lain?

Berat badan saya merosot drastis pada waktu itu, sering menangis memikirkannya, tak selera makan, tidur tak nyenyak, mendadak sering sakit kepala, masuk angin dan sakit perut. Pikiran pun sering tak fokus dan lebih sering berpikiran negatif.

Status facebook yang saya tulis waktu itu “I wish i could just cry and then my problem’s solved but as i’m getting older, it can’t be that simple,”

Iya, saya harap dengan menangis semua selesai seperti waktu kecil tinggal menangis dan ada orang tua yang menyelesaikan masalah atau bahkan esok harinya sudah lupa, kembali pada keriangan dunia kanak-kanak.
Suatu idiom terkenal menyebutkan “What doesn’t kill you makes you stronger”. Idiom yang pada akhirnya menunjukkan tuahnya. Badai pasti berlalu dan masalah pasti berakhir. Insya Allah. Dan ya, perlahan-lahan masalah tersebut (yang nampak amat ruwet pada mulainya) mulai mengurai solusinya perlahan-lahan, dengan cara yang kadang-kadang ajaib.

Bismillah. Berikut ini hal-hal yang insya Allah saya bagi kali ini :
1. Masalah akan selalu ada dalam setiap fase kehidupan manusia dan semakin bertambah usianya, semakin berat pula masalah yang akan dihadapinya. Namun kemampuan manusia juga semakin meningkat , insya Allah ^^ #ingatkandiri

Monday, October 17, 2011

Duhai Ustadz


dicari dari google
Beberapa kali televisi kantor menayangkan channel suatu stasiun televisi swasta yang mempunyai suatu program pencarian dai muda. Dalam pariwara program itu ditampilkan seorang laki-laki muda berpeci berjalan di tengah tatapan kekaguman orang-orang, terutama para gadis berjilbab (akhwat). Adegan berikutnya sang laki-laki sedang menunaikan ibadah sholat sementara di belakangnya para akhwat tampak kasak-kusuk memperbincangkannya.

Dalam perspektif saya sebagai orang awam, saya merasa pariwara tersebut agak menganggu. Mengganggu disini dalam arti pekerjaan (atau bisakah saya sebut dai sebagai suatu profesi?) mengajari umat perihal masalah agama, tidak dilakukan oleh sembarang orang. Pun niatnya tentu saja bukan untuk mencari pujian orang tetapi merupakan suatu bentuk ibadah kepada-Nya. Pariwara tersebut, tentu menurut perspektif pribadi saya, seakan-akan menunjukkan bahwa dengan mengikuti program tersebut seseorang bisa menjadi sosok yang dikagumi dan dipuja-puja.

Hal kedua, jujur saja saya merasa terganggu dengan beberapa tayangan infotainment yang menampilkan seorang ustadz muda yang sedang naik daun tampil berdua dalam satu frame dengan seorang gadis yang disebut-sebut sebagai calon istri beliau. Dikatakan bahwa sang ustadz akan menikahi gadis tersebut pada Februari tahun depan. Artinya ada jangka waktu sekitar empat bulan yang mana mereka berdua belum resmi menjadi suami istri. Disana dikatakan ustadz tersebut melakukan ta’aruf. Ya ta’aruf, bukan pacaran. Ta’aruf  yang saya tahu bukanlah tampil berdua di depan publik, ta’aruf yang saya tahu adalah suatu majelis atau katakanlah pertemuan dimana seorang laki-laki dan seorang perempuan yang berniat untuk segera menikah membicarakan mengenai hal-hal yang serius mengenai rumah tangga (seperti kesamaan visi misi, riwayat kehidupan, dsb) dan mencari tahu apakah dari pertemuan tersebut dapat dilanjutkan dengan lamaran. Iya, lamaran. Pun ta’aruf tidak dilakukan berdua saja. Adapun apabila tercipta kesepakatan untuk menikah dan karena alasan tertentu kedua calon mempelai harus menunggu beberapa lama sebelum benar-benar bersanding di pelaminan, mereka tidak tampil berdua. Orang-orang yang melakukan ta'aruf, yang saya tahu, benar-benar orang yang berusaha menjaga hati mereka karena rentang waktu beberapa bulan itu cukup lama untuk menjaga hati.

Sunday, October 16, 2011

Kalau Kamu Jangan Terlalu Berharap

dicari dari google
Dalam hidup, saya mengenal dengan beberapa orang yang mempunyai pikiran skeptis. Salah satu dari teman saya pernah mengatakan kurang lebih seperti “Yakin Mon, kamu mau ikutan itu? Saingannya kan banyak banget,” dengan tatapan  menyangsikan yang mengganggu serta mimik wajah yang tidak percaya. “Ya, memang kenapa?” “Ya, kalau aku sih lebih baik enggak mendaftar daripada kecewa,” Waktu itu emosi saya agak naik lantaran itu bukan kali pertama dia mengatakan hal semacam itu, “Kenapa sih kamu selalu membuat saya down?” ia menjawab, “Aku hanya menjaga kamu agar kamu nggak kecewa kalau nggak kesampaian”

 Saya rasa nggak ada salahnya saya mendaftar apapun itu, tentu saja sebelumnya dengan mengukur kemampuan saya, misalnya saya sadar diri memiliki suara yang jauh dari bagus, saya nggak akan daftar audisi menyanyi. Dalam kondisi di atas, saya rasa (insya Allah) saya memiliki kapasitas atas hal itu, hanya saja banyak orang yang menginginkan hal yang sama. 

Jika Anda melihat kertas dengan setengah halaman gambar bunga dan setengah halaman gambar rumput, apa yang akan Anda katakan? Gambar bunga atau gambar rumput? Seorang sangunis seperti saya akan mengatakan bahwa saya melihat bunga. Ia cenderung akan melihat hal dari sisi bagusnya. Iya saya tahu saingan saya bejibun, lantas kenapa? Setidaknya saya mempunyai peluang yang sama bukan? Saya akan lebih menyesal menyadari saya punya kesempatan untuk memenangkan sesuatu tapi saya tidak menggunakannya daripada saya menyesali kekalahan atau kekecewaan. Teman saya itu memutuskan untuk tidak ikutan, padahal saya tahu ia menginginkannya, ia menjaga hatinya dari kekecewaan. Lebih baik tidak mendaftar daripada kecewa jika kalah. Well, sah-sah saja menurut saya, tiap orang mempunyai cara tersendiri dalam menjalankan kehidupannya. Namun bagi saya, tidak mencoba memperjuangkan sesuatu yang saya inginkan itu akan menimbulkan rasa penasaran seumur hidup seperti kata-kata coba kalau dulu saya ikutan, coba kalau dulu saya nyobain.

Pernah ada suatu fase ketika rasa percaya diri saya berada di titik terendah. Orang-orang yang dekat dengan saya waktu itu adalah orang-orang skeptis nan pesimis, ditambah mungkin sebenarnya inner confident saya yang enggak besar-besar amat, walhasil saya jadi peragu akut dalam mengambil suatu keputusan plus enggak yakin jika melakukan sesuatu, bawaannya takut salah dan minder duluan. Hingga seorang teman berkata kepada saya “Kenapa sih Mon kamu takut salah banget? Kalau salah toh kamu bisa perbaiki, dimarahi orang pun habis itu juga selesai” Saya cuma diam mendengarkan perkataannya. Ia melanjutkan “Mon-mon, coba aja kali, lebih baik menyesal melakukan sesuatu daripada tidak melakukan sesuatu, kamu itu jangan membatasi pikiran,”

Saturday, October 15, 2011

Jatuh Cinta dengan Al Manar


Pertama kali mengenal tempat ini dari seorang teman yang menawari tentang kursus bahasa Arab. Kebetulan saya berminat maka meluncurlah saya ke jalan Nangka, Utan Kayu. Lahannya menurut saya tidak terlalu luas untuk ukuran madrasah, dengan bangunan bertingkat tiga dan masjid yang lumayan luas. (Nah lho? Coba dibayangkan sendiri ukurannya). Berdiri di atas tanah wakaf semenjak tahun 1994 (berdasarkan plang yang saya baca di depan masjidnya). Bisa dilihat disini.

                Lalu dimulailah pertemuan demi pertemuan kursus bahasa Arab setiap hari Sabtu dan Ahad sore semenjak bulan Maret tahun ini. Tak hanya materinya yang komprehensif menurut saya yang membuat saya betah belajar di tempat ini (muhadasah, qiroah dan nahwu) tetapi cara mengajar ustadz-ustadznya (ada empat ustadz untuk tiap level) yang subhanallah kalau boleh saya bilang. Misalnya saat tadi sore pelajaran qiroah yang menceritakan seseorang yang mencintai pekerjaannya sebagai petani. Ustadz pun mengatakan bahwa mahabbah (suka/cinta) terhadap suatu pekerjaan adalah hal yang mutlak harus dipunyai seseorang agar pekerjaan dilakukan dengan penuh semangat dan didasari dengan keikhlasan karena menyukai sesuatu pekerjaan akan membuat seseorang melakukan pekerjaan tersebut. Tak jarang dalam pertemuan sang Ustadz menyelipkan ayat-ayat Al-Qur’an atau hadits yang nyambung dengan teks. Jadi belajar bahasa sekaligus mendapat pelajaran agama. Terkadang Ustadz juga menceritakan tentang kisah-kisah hikmah yang menginspirasi.

                Bulan September lalu, Al Manar membuka kelas baru (ohya Al Manar merupakan STIDA atau Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah yang juga menyelenggarakan beberapa kelas, salah satunya kelas bahasa Arab). Di tengah ketidakjelasan penempatan kota manakah tempat saya bekerja sebagai abdi negara (kebetulan saya seorang CPNS yang masih menunggu penempatan), saya nekat ikut mendaftar STIDA meski saya belum tahu di kota mana saya akan ditempatkan sementara kuliah STIDA ini terdiri dari delapan semester. Beberapa teman yang saya ceritakan tentang hal ini semua berkata “Yakin Mon kamu daftar STIDA? Emang kamu nanti penempatan Jakarta?” ya saya jawab saya tidak tahu nanti penempatan dimana “Nah lho gimana kalo kamu nanti nggak penempatan di Jakarta?”

Wednesday, October 12, 2011

A Memory Rendezvous

Setahun yang lalu, ya sudah setahun rupanya, untuk pertama kalinya mengenakan toga. Pagi-pagi benar sebelum subuh berangkat dari rumah om di Bekasi berpacu di tengah lengang jalan tol arah Bogor. Ya, setahun yang lalu saat seremoni pelepasan status kemahasiswaan digelar. Saat buncah itu menyusup, saat perjuangan tiga tahun seperti terbayar lunas. Setiap melihat megah bangunan Sentul Internasional Convention Centre (SICC) saat melintasi jalan tol, masih saja senyum itu ada. Mengembang mengingat di tempat itu pernah terlukis satu kenangan indah yang tersimpan rapat di suatu sudut memori.

Setiap melintasi jalanan di daerah sekitar kampus, rasa-rasanya seperti melakukan ‘perjalanan memori’. Lebih memilih jalan yang dahulu sering dilalui meski kadang harus memutar, menyusuri ingatan di tempat ini pernah berkumpul dengan orang-orang yang tak terlupakan, di tempat ini pernah tertawa dan berbagi bersama. Melihat gedung kampus dan memejamkan mata sejenak, menikmati kenangan yang seperti datang mengajak berkencan. Kampus yang lebih dari indah untuk dikenang.

Wednesday, October 5, 2011

Book of The Week #7 : Menciptakan Dunia Tanpa Kemiskinan


Kemiskinan merupakan masalah terbesar yang dihadapi oleh banyak negara. Separo penduduk dunia hidup hanya dengan dua dolar sehari bahkan kurang dari itu, sedangkan hampir satu miliar orang hidup dengan kurang dari satu dolar sehari. Muhammad Yunus, peraih Nobel Perdamaian tahun 2006, membagikan pemikirannya melalui sebuah buku yang menceritakan mengenai asal muasal Bank Grameen, sebuah bank dengan strategi kredit mikro yang menjangkau penduduk paling miskin di negaranya, Bangladesh, serta menceritakan mengenai pengalaman, harapan dan mimpi-mimpinya. Betapa ia mengangankan suatu hari nanti akan ada dunia tanpa kemiskinan.


Muhammad Yunus memulai buku ini dengan awal mula terciptanya sebuah bisnis baru, bisnis sosial, yang lahir akibat permasalahan yang ditimbulkan oleh sistem kapitalisme, kegagalan pemerintah dalam memecahkan masalah sosial hingga kurang efektifnya gerakan nirlaba. Ia juga menunjukkan perbedaan antara perpaduan antara badan pemerintah dan kelompok nirlaba, yakni lembaga multilateral, seperti Bank Dunia dan korporasi keuangan internasional dengan Bank Grameen, sebuah bank dengan basis bisnis sosial serta Corporate Social Responsibility (CSR) yang dewasa ini telah banyak dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar. Kapitalisme menurutnya tak lebih dari sekadar struktur setengah jadi yang memandang manusia sebagai makhluk satu dimensi yang hanya tertarik mengejar keuntungan sebesar-besarnya.


Bisnis baru yang ditawarkan oleh Muhammad Yunus, bisnis sosial adalah bisnis yang mengakui sifat multidimensi manusia. Pengusaha bukan mendirikan bisnis dengan target keuntungan sebesar-besarnya (profit-maximizing business-PMB) melainkan untuk mencapai tujuan sosial yang luas. Terdapat dua jenis bisnis sosial yakni perusahaan yang fokus menyediakan manfaat sosial, bukan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dan dimiliki oleh investor yangmengharapkan manfaat sosial. Yang kedua adalah bisnis pencari keuntungan maksimal yang dimiliki oleh orang miskin dan orang kurang beruntung.