Wednesday, November 30, 2011

Sepotong Rindu untuk Bidadariku


Pagi sayang, mungkin saat kau membaca ini kita masih terpisah ribuan kilometer jauhnya, kau mungkin masih bisa mencium bau embun yang jatuh di depan pohon mangga depan rumah, merasakan kelezatan masakan mama setiap pagi, tidur di kamar yang menyimpan setiap jengkal kenangan masa kecil. Hal-hal istimewa yang mungkin belum kau sadari lantaran kau menemuinya setiap hari tapi percayalah dengan sepenuh hati bahwa kau akan begitu mensyukuri keberadaannya saat kau hanya pulang ke rumah sesekali dalam setahun. Mungkin benar kata orang jika setelah kehilangan kita baru menyadari apa yang kita miliki. Mudah-mudahan kau tak seperti aku yang terlambat menyadari bahwa hal-hal sederhana yang mungkin tampak biasa saja itu adalah hal-hal yang membuat dirimu utuh.

Kau tahu saat jauh dari rumah dan tak ada yang bisa kau andalkan selain dirimu sendiri, saat kau tak bisa merengek-rengek bagai anak kecil lantas orangtuamu datang dan membereskan semua masalahmu, kau sadar bahwa sudah waktunya kau menjadi gadis dewasa, berdiri tegaklah dan hapus air matamu, hidup mungkin tak selalu berjalan seperti yang kau inginkan dan kita tidak hidup di negeri dongeng bukan, kau akan begitu bersyukur bahwa kau memiliki seorang ibu luar biasa yang mengajarkan anak-anaknya untuk menjadi tangguh dalam menghadapi dunia. Kau tahu apa yang dikatakannya saat aku ikut menangis lantaran melihatnya menangis pada suatu sore? “Kamu nggak usah nangis, cukup mama saja yang sedih, Nak,” dan bagaimana mungkin aku tak memeluknya erat-erat. 

Mungkin kau masih terlalu kecil untuk mengingatnya, biarkan aku yang menceritakan padamu sayang. Ketika itu pukul satu malam dan saat itu aku terbangun dari tidurku di rumah Nenek lantaran perutku melilit luar biasa, aku tak bisa berhenti menangis karena sakitnya. Nenek dan Oom hendak membawaku ke UGD rumah sakit saat Mama yang diberi kabar oleh Nenek via telpon datang, dini hari sendirian membelah jalanan dengan perut yang sedang hamil besar, ya saat itu Mama sedang mengandung Hilmy. Papa menjagamu di rumah dan tak kuasa mencegah Mama yang bersikeras ingin segera menemui anak pertamanya.

Ingatkah kau saat aku SMA dan keluarga kita sedang mengalami kondisi keuangan yang buruk lantaran ada orang yang menjahati keluarga kita sementara aku membutuhkan biaya yang cukup besar untuk masuk kuliah dan kau butuh biaya masuk SMA? Kedua orang tua kita bekerja jauh lebih keras dan Mama menjual semua perhiasan yang ia miliki. Mama tak pernah mengeluh sedikitpun, ia selalu berusaha tampak kuat di depan anak-anaknya. Mama jugalah yang mengajariku arti kesabaran dan luasnya sebuah pintu maaf. Ia  sedikit berkata-kata, ia menunjukkannya dengan apa-apa yang dilakukannya. Apakah kau menyadarinya? Mama juga lah yang akan marah kalau aku meminta uang untuk sekadar jalan ke mal walau mungkin jumlahya tak seberapa tapi Mama selalu mendukung dan tak segan-segan bekerja lebih keras untuk membelikanku tiket seminar yang terkadang harganya selangit dan semua buku di lemari biru itu. 


Wednesday, November 16, 2011

Amplop Coklat Sebelas Bulan



si amplop coklat yang ditunggu-tunggu sebelas bulan
8 November 2011. Selasa minggu lalu. Pengumuman penempatan yang ditunggu-tunggu selama sebelas bulan datang juga. Setelah sebelas bulan menunggu kepastian, sebelas bulan magang, melewati masa galau penempatan (mungkin ada yang ingat catatan saya yang berjudul "Catatan (Tidak) Galau Sebelum Penempatan : Semeleh" yang saya tulis di masa pucak galau penempatan hehe) terjawablah semua penantian dan doa panjang. Kantor Pusat DJKN, Direktorat Kekayaan Negara Dipisahkan, melanjutkan perjalanan magang sebelas bulan di tempat yang sama, dengan status berbeda. Seorang pelaksana. Alhamdulillah.

Hari Selasa kemarin saat pengumuman penempatan, entah mengapa rasanya ‘semeleh’ menghadapi penempatan. Rasa takut pasti ada, tapi dengan kadar yang masih bisa dikendalikan hehe. Saat nama saya dipanggil untuk menerima amplop coklat yang berisi Surat Keputusan Penempatan, saya nyaris tak ada rasa deg-degan. Dua hari sebelum penempatan, saat idul adha, saya bertandang ke rumah om dan tante di Bekasi, salah satunya memohon doa dari mereka. Tante bertanya,”Kamu pengen mana Nik?,” “Jakarta tante,” “Apa niat utamamu pengen di Jakarta,” Saya sebutkan alasan-alasan utama saya. “Kalau begitu niatmu, insya Allah, dapet atau enggak kamu di Jakarta, Allah sudah mencatat niatmu,” Kata-kata tante begitu menenangkan dan semakin memantapkan hati untuk menerima apapun keputusan hari Selasa. 

Amplop coklat itu saya buka perlahan dengan berteriak kencang-kencang dalam hati, “Apapun yang kamu dapatkan itu yang terbaik, apapun yang kamu dapatkan itu yang terbaik,” Subhanallah, alhamdulillah, allahu akbar. Dua kali saya sujud syukur, syukur saya yang pertama karena mendapatkan Kantor Pusat dan sujud syukur yang kedua karena mendapatkan penempatan di Direktorat KND, semata-mata karena kasih sayang-Nya persis menjawab semua doa.
isi si amplop coklat yang bikin sujud syukur dua kali


Seorang teman pernah bertanya dengan nada skeptis, “Memang apa yang bisa kita lakukan menghadapi penempatan? Kan kita nggak bisa usaha apa-apa,” “Berdoa,”jawab saya. “Kalau begitu nggak ada yang nggak bisa kita usahakan, kan at least kita bisa berdoa,” “Ya memang iya”

Doa saya kepada Allah panjang dan ‘nrithik’ kalau orang jawa bilang. Saya mohon ditempatkan di tempat yang ‘nggak usah pindah kantor dan pindah kosan’ alias di Kantor Pusat, di bagian yang ilmu akuntansi banyak dibutuhkan, yang sering melihat angka, di bagian yang sering melakukan analisis, yang ada ikhwah yang bisa saya tanya-tanya di lingkungan itu dan kriteria-kriteria lainnya. Mungkin ada sepuluh kriteria yang saya minta.  Semua dikabulkan, persis, sama sekali tak ada yang kurang. 

Tuesday, November 1, 2011

Klik #2 : Kecil Kecil Cabe Rawit


Mama selalu menyuruh menyimpan bukti pembayaran, meletakkan peniti, bros, lem, gunting kuku, karet gelang dan benda-benda kecil lainnya di wadah khusus yang kadang-kadang berbeda letaknya di lemari. Terkadang saya masih asal saja menggeletakkan benda-benda itu di satu tempat. Praktis. Namun agaknya ‘mencari benda kecil yang dibutuhkan dalam waktu singkat’ menunjukkan bahwa hal sederhana yang selalu Mama contohkan adalah hal yang amat berguna pada waktu yang tepat. 

Peniti, misalnya, benda kecil ini senantiasa ada di kantong kecil dompet biru kesayangan. Terutama untuk para muslimah, benda ini bisa jadi merupakan benda yang wajib selalu dibawa. Peniti yang lepas dari jilbab atau kancing yang longgar bukan hal yang menyenangkan tapi tak menutup kemungkinan hal tersebut terjadi bukan? Hehe..

Ngomong-ngomong soal hal kecil, ingat dan hafal nama orang itu merupakan hal yang kadang-kadang bermanfaat besar. Saat asyik-asyiknya mengobrol dengan seseorang yang pernah kenalan sebelumnya, sedikit banyak akan ‘gondok’ juga kan kalau di tengah obrolan tiba-tiba ia berkata, “Eh kamu siapa namanya ya?” Gubrak. Nama merupakan identitas dasar seseorang. Lupa nama orang merupakan hal yang manusiawi bagi sebagian besar orang tapi tentu respek orang akan berbeda apabila pertama bertemu dan kita berbincang sambil menyebut namanya. Lebih respek lagi bila kita menyebut nama lengkapnya. Selain itu memperhatikan ejaan nama seseorang merupakan hal yang berguna juga loh. Pernah suatu ketika ada teman yang mau mengerjai saya melalui sms (menggunakan nomor asing) dengan mengaku-ngaku sebagai salah seorang teman. Hampir saja ‘terperdaya’ dengan isi smsnya tapi langsung sadar dikerjain begitu ia menyebutkan nama sang teman. Penulisan ejaan namanya keliru. Penulisan nama Rahmad, Rahmat, Rachmat, Rachmad berbeda bukan meski lafalnya mungkin sama. Satu yang pasti : tak mungkin orang salah mengeja namanya sendiri. Terhindar deh dari ‘dikerjain’ orang gara-gara hafal ejaan nama (btw facebook merupakan tempat yang amat bagus buat hafal nama orang lantaran kerapnya kita melihat nama lengkap teman-teman).