Saturday, December 31, 2011

Balance Life Sheet at Dec 31st, 2011 : Another Resolution?

dicari di google

Dec 31st, 2011. How many of us made any resolution at the beginning of this year? And how many of us don’t accomplish them all until today? If you say ‘yes’ to those questions, you are not alone.
Mencoba menganalisis apa yang mungkin menjadikan sebuah atau beberapa resolusi yang dibuat berakhir sebagai ‘Halfway resolution’ atau resolusi setengah jalan (atau mungkin malah ada resolusi yang tak dijalankan sama sekali?).

1.       Niat
Apa yang mendasari suatu resolusi seringkali menjadi faktor utama yang menyebabkan tercapainya resolusi tersebut. Lebih jauh lagi, untuk siapa resolusi itu dibuat? Dalam ilmu psikologis disebutkan bahwa faktor internal memegang peranan yang lebih besar dibandingkan dengan faktor eksternal. Kalau niat seseorang adalah untuk suatu kebaikan yang akan mendekatkannya pada Tuhannya, apalagi yang akan menghalangi langkahnya untuk bersungguh-sungguh? Niat baik, insya Allah, akan dimudahkan.

2.       Mulai
Sebuah nasihat terkenal menyebutkan bahwa “Kita telah menyelesaikan suatu pekerjaan apabila kita telah memulainya,”. Mario Teguh dalam status tersingkatnya yang pernah saya baca mengatakan, “Batas waktu dibuat- bukan untuk dicapai tapi tanda untuk memulai,”.
Memulai sesuatu bisa jadi merupakan faktor yang lebih berat dari pekerjaannya itu sendiri. Apalagi kalau ujian, terkadang ‘perlu’ menyadari waktu ujian yang tinggal sebentar lagi baru mulai belajar? Err. The power of kepepet? Setelah memulai seringkali pekerjaan menjadi lancar bukan? ^^

3.       Menunda-nunda
Menunda-nunda untuk memulai. Sudah mulai tetapi menunda-nunda untuk bergerak. Termasuk menunda-nunda adalah menunggu momen untuk bergerak. Seperti “Akan melakukan ini jika telah mendapatkan ini.” Padahal bisa jadi justru dengan bergerak itulah akan timbul berkah. Yang penting bergerak dulu.  
Abraham Lincoln pernah mengatakan “Yang sabar menunggu pasti dapat bagian. Tapi, hanya sisa-sisa dari orang-orang yang bergegas” Rasulullah SAW juga menyuruh umatnya tak menunggu sore untuk melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan di pagi hari1. Menunda-nunda suatu kebaikan hanyalah akan menjadi penghalang bagi kebaikan-kebaikan lainnya. 

4.       Luput mengukur baju
‘Mengukur baju’ artinya mengukur kemampuan diri sendiri. Kalau memang tak bisa menyanyi, mencanangkan resolusi tahun ini seperti ‘memenangkan satu perlombaan menyanyi tingkat kota’ hanyalah sebuah pemaksaan diri yang sia-sia. Bahasa kerennya membuat analisis SWOT terlebih dahulu sebelum menetapkan resolusi. Mungkin bisa saja seseorang berprestasi bukan pada bidangnya (nothing’s impossible right?) tetapi alangkah banyak waktu, tenaga dan pikiran yang harus dicurahkannya dibanding ia melakukan sesuatu yang memang berada dalam bidangnya bukan? 

5.      Mudah menyerah
Kalau tak sulit untuk dicapai, berarti tak layak untuk diperjuangkan kan?
Seorang khalifah sekaliber Umar bin Khattab membutuhkan waktu bertahun-tahun (ada yang menyebutkan 10, 12 tahun) untuk menghafalkan surat Al Baqarah. Seorang Thomas Alva Edison membutuhkan ribuan percobaan sebelum menemukan bola lampu yang mengubah dunia. Bahkan dalam AlQur’an diperintahkan untuk mengerjakan dengan sungguh-sungguh urusan yang lain apabila telah selesai dari suatu urusan2. Berhenti di tengah jalan adalah ‘penyakit’. Konsisten adalah obatnya. Batu yang keras pun akan pecah bila terus menerus ditetesi air bukan?^^

6.       Kurang Sungguh-Sungguh
Dalam suatu kajian, pernah dipaparkan bahwa ada lima syarat jiddiyah (kesungguhan) yakni direspon dengan cepat, memiliki kemauan yang kuat, tidak berhenti, menggerakkan segala potensi dengan maksimal dan kesungguhan akan mengalahkan uzur. Bahkan orang-orang yang berjihad (bersungguh-sungguh) untuk mencari keridhaan-Nya dijamin Allah akan diberi petunjuk tentang jalan mana yang dilewati3. Kembali lagi pada niat akan sebuah resolusi, untuk siapa resolusi itu ditujukan dan seberapa sungguh-sungguh seseorang. Mengerjakan sesuatu secara asal-asalan hanyalah menunjukkan adanya ketidaksungguhan.

7.       Mencari pembenaran (excuse)
Memang tak niat datang tepat waktu ke suatu acara, mengatakan macet padahal bisa saja ia memajukan jam keberangkatan untuk menghindari macet. Tak sungguh-sungguh dengan keinginannya mencari alasan-alasan lain yang mungkin saja bisa diatasinya bila ia bersungguh-sungguh. Btw, buku ‘No Excuse’ tulisan Isa Alamsyah, suami Asma Nadia merupakan buku yang sangat direkomendasikan untuk dibaca. Bahasanya sederhana tetapi mengena. ^^

Dan kalau sudah mulai, sungguh-sungguh dan gagal? Sederhana saja. Sesuatu yang baik di mata kita itu tak baik di mata Allah untuk kita dapatkan. Salah seorang ustadz mengatakan seperti ini saat menasihati murid-muridnya untuk lebih semangat belajar, “Manusia itu tidak dituntut untuk berhasil tetapi ia dituntut untuk berusaha. Hadits tidak menyuruh manusia untuk menjadi pintar tetapi menyuruh manusia untuk menuntut ilmu4. Artinya Allah melihat pada usahanya, bukan pada hasilnya. Apabila di tengah jalan atau di akhir perjalanan tidak mencapai suatu tujuan, yakinlah pasti ada hal-hal lain yang didapatkan,”
Allahu ‘alam. (mengingatkan diri sendiri khususnya ^^)
Selamat beresolusi bagi yang hendak beresolusi. Selamat bermuhasabah bagi yang hendak bermuhasabah (bukan berarti merayakan loh) ^^

Catatan Kaki :
1.       Ibnu Umar rodhiallahu ‘anhu berkata, “Jika kamu berada di sore hari, jangan menunggu pagi hari, dan jika engkau di pagi hari janganlah menunggu sore, manfaatkanlah masa sehat. Sebelum datang masa sakitmu dan saat hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Bukhari)
2.       Terjemah Q.S Al-Insyirah (94) : 7, “Maka apabila kamu telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,”
3.       Terjemah Q.S Al-Ankabut (29) : 69, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami”
4.       "Menuntut ilmu itu diwajibkan bagi setiap orang Islam" (Riwayat Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Adi, dari Anas bin Malik)

Sunday, December 18, 2011

PR Sekolah Dasar : Balik ke Esde Yuk!

Masa kanak-kanak merupakan masa yang paling menyenangkan. Tak ada tanggung jawab, tak ada tekanan, bermain dan berlari dengan bebasnya seolah tak ada hari esok. Dimanjakan bak raja dan ratu kecil yang tinggal mengeluarkan rengekan saja para manusia dewasa akan turut pada kehendaknya. 

Anyway, seindah apapun suatu masa tetap saja waktu berlalu dan menyimpannya indah atas nama kenangan. Sebelumnya, maaf buat Firman Fulcrum yang sudah memberi PR ini dan baru dikerjakan sekarang hehe dan terima kasih sudah memberi ruang untuk memanggil kembali memori dan tersenyum karenanya. Here are my strongest memories when i was in elementary :

1. Dulu, waktu kelas satu SD, memandang anak kelas tiga itu keren banget, mereka boleh menulis memakai pulpen sementara anak kelas satu memakai pensil. Kelas tiga itu sudah gede, pkir saya waktu itu. Eh tak tahunya, waktu kelas tiga merasa masih kecil dan anak kelas enam itu lah yang keren. Begitu seterusnya hingga SMA. Sindrom kakak kelas kah? entahlah.

2. Kelas tiga SD, pengalaman tak terlupakan (hingga sekarang terjadi). Ceritanya waktu itu habis sakit cacar dan di pipi sebelah kiri masih ada bekas luka mengering. Seorang teman mengejek-ejek "Wah monika jadi jelek sekarang, ada bekas lukanya," akibat perkataannya itu, pulang sekolah saya kelupas paksa bekas luka kering yang belum mengelupas itu. Menangis lah saya melihat pipi kiri nggak mulus lagi. Sampai sekarang masih sisa nyesek juga kalau ingat itu. Hiks.

3. Waktu SD, kelas empat SD tepatnya, sudah mengenal menaksir cowok loh. Haha. Waktu itu yang saya taksir kakak kelas yang ngajinya bareng. Kalau nggak salah, karena ganteng orangnya. Haha. Pernah suatu siang pas lewat di lorong sekolah, dua orang kakak kelas perempuan (saya masih ingat nama lengkapnya loh) kebetulan berpapasan dan tiba-tiba membentak saya, "Kamu ini jangan suka sama Y ya, dia itu pacarku," sambil memojokkan saya ke dinding. Waktu itu saya cuma diam dan berlari masuk kelas, sesampainya di kelas wali kelas saya (teman-teman SD ingat Pak Suwondo kah?) bingung melihat saya yang tiba-tiba menangis (ya iyalah!). Dipikir-pikir lucu juga, anak SD zaman dulu (fyi saya lahir tahun 1989, jadi masa SD antara tahun 1995-2001) sudah kenal labrak-melabrak (kayaknya dulu belum ada sinetron beginian deh hehe).

4. Zaman SD, pertama sadar kalau mata minus (saya pakai kacamata sejak kelas lima SD) pas duduk di belakang dan melihat papan tulis angka O terlihat sebagai angka 1. Nggak jadi deh dapat nilai seratus gara-gara salah lihat soal. Hiks. Masa SD juga masa yang menyenangkan karena selalu dapat rangking sepuluh besar (paling jelek rangking tujuh) dan dari kelas lima hingga kelas enam selalu rangking satu. Ahaha (ingat, pas zaman SD :p). Saingan terbesar saya dulu Ania yang sekarang menjadi seorang sahabat yang baik. Ah, inget nggak An dulu kita pernah saingan? hihi.

5. Jiwa dagang saya pertama muncul pas kelas lima SD. Sebelum berangkat sekolah sudah menyiapkan satu tas plastik besar yang isinya buku cerita dan komik (kebetulan sejak kecil memang sudah hobi baca) dan disewakan ke teman-teman kelas. Sedihnya, beberapa buku tak kembali, hiks (ayo ngaku yang pernah pinjem buku saya dan nggak dikembalikan). Juga berjualan kertas surat dan kertas file (hey ada yang ingat kertas file nggak, itu yang bentuknya seperti kertas binder dan bergambar tokoh-tokoh kartun).

6. Paling nggak bisa namanya permainan lompat tali dan selalu jadi 'pupuk bawang' yang kalau lompat tinggi-tinggi (kayaknya maksimal saya cuma bisa sedada deh :p) ditolong sama sang induk (lupa istilahnya, yang jelas yang paling jago). Yang paling sering jadi 'mbok' (maklum di jawa) yakni Zulfa.

7. Kelas enam SD, ikut lomba mapel PPKn/IPS dan dapat juara dua se-kota Semarang. Itu satu-satunya piala yang saya dapat pas zaman SD. Rasanya banga lantaran nama-nama tiga besar juara tiap mapel dimuat di LKS yang dibagi ke seluruh siswa SD (numpang terkenal dikit lah di kalangan adik kelas hahaha). Masih ingat juga sebenarnya pas lomba itu saya punya peluang jadi juara satu, skor saya pas babak terakhir (babak cerdas cermat, menjawab pertanyaan cepat-cepat dengan memencet bel) lebih tinggi (walau sedikit) daripada peserta yang akhirnya menjadi juara satu tapi lantaran saya menjawab pertanyaan dan salah (yang berarti nilainya dikurangi) akhirnya nggak jadi juara satu deh. Masih ingat juga, nama sang juara satu Melisa Candra Saputra, seorang gadis cantik berambut panjang. Belakangan saya tahu dia itu sering menang lomba dimana-mana dan lombanya beragam. Apa kabar ya sekarang? Hehe

8. Pas kelas enam SD, pertama kali mendapatkan tanda kedewasaan seorang perempuan. Eyangti (Eyang putri) berpesan "Kamu sekarang udah gede nduk, jangan mau dipegang sama laki-laki, nanti kamu hamil," Waktu itu saya yang polos menelan bulat-bulat pesannya. Akibatnya pas pelajaran renang dan diajari oleh guru laki-laki (yang otomatis pegang tangan atau kaki membenarkan posisi saat hendak berenang), pulang dari renang saya diam tercekat. Sangat ketakutan. Aduh, nanti saya hamil nih, pikir saya. Kalau diingat-ingat lucu juga hehe.

Ah, indah memang ya masa kanak-kanak? Ayo yang kenal saya pas zaman SD silahkan komen (kali-kali ada teman SD yang baca hehe).

Indah ya kalau orang dewasa seperti anak-anak yang nggak takut salah dan penuh rasa ingin tahu. Tertawa dan bahagia oleh hal-hal sederhana. Sesederhana itu.

P.S.: Well, sepertinya PR Sekolah Dasar sudah lama beredar jadi nggak saya edarin lagi ya (ganti PR kali ya hehe). Makasih ya buat blogger yang pertama kali melontarkan ide ini. ^^
Sayang foto-foto zaman SD di rumah semua and i just hundreds kilos away from home :(

Respek setinggi-tingginya untuk SD tercinta, SDN Siliwangi 03 Semarang

Saturday, December 17, 2011

Astaga!

Sudah menjadi kebiasaan kalau menggunakan jasa bajaj atau taksi saya mengajak mengobrol. Bukan apa-apa, hanya saja seorang sanguinis seperti saya ini akan merasa kurang nyaman berada di suasana diam sementara ada orang di depannya, lagipula terkadang dari obrolan tersebut mengalirlah cerita-cerita menarik yang ada juga hikmah yang bisa diambil.

Tadi siang, nampaknya tak ada yang istimewa ketika saya mencegat bajaj biru untuk mengantarkan dari Gambir ke Utan Kayu. Namun, agaknya siang ini menjadi lebih istimewa lantaran hari ini kuping saya dibuat sedikit memerah oleh perkataan sang pengendara bajaj.

Obrolan sebelumnya saya tak ingat pasti, yang jelas saat melintasi RSCM tiba-tiba bapak pengendara bertanya dengan nada menyelidik kepada saya sambil sedikit menoleh ke belakang "Mbak muslim?" Sontak saya terkejut dengan pertanyaannya yang tiba-tiba itu, "Ya iyalah pak, emang bapak nggak lihat saya pakai jilbab?" sahut saya dengan nada meninggi.

"Kok nanya gitu sih Pak?"
"Tadi mbak bilang apa,"

Bilang apa, batin saya. Perasaan saya nggak ada bilang aneh-aneh sebelumnya. Usut punya usut setelah dikejar dengan pertanyaan berikutnya, saya menggunakan kata 'astaga' mengomentari sesuatu hal (sepertinya demo di depan sebuah LBH di Cikini tadi).

"Memangnya ada apa dengan kata astaga Pak? Bukannya itu bahasa Indonesia ya?"
"Ya iya bahasa Indonesia tapi kalau orang Islam itu bilangnya astaghfirullah hal adzim mbak"
 DEG.
"Ya saya refleks aja pak tadi, kadang kalau kaget keluar astaga kadang istighfar. Teman-teman saya juga sering pakai astaga kok pak. Lagipula bapak kok nanya gitu tadi, kan bapak lihat saya berjilbab,"
"Berjilbab itu nggak jaminan seseorang muslim mbak. Saya tahu pasti ada orang-orang di luar Islam yang pakai jilbab dan gamis juga mbak. Jadi berjilbab itu hanya sekadar busana,"

Bapak itu berkata sambil tetap mempertahankan nada-nggak-percaya atas jawaban saya.
Alhamdulillah bajaj akhirnya tiba di halaman PSI Al Manar tercinta."Bener pak saya Islam Pak, ini buktinya pak saya mau belajar di masjid dakwah islam ini,"
Bapak itu melihat plang di depannya dan terdiam. Duh duh.

Wallahu'alam, entah benar cerita Bapak itu atau tidak, yang jelas saya merasa amat tertohok dengan pertanyaan Bapak itu. Yang pertama, ternyata perkataan-perkatan islami belum sangat mendarah daging dalam tubuh dengan masih terucapnya kata astaga alih-alih istighfar meski kadang-kadang. Setelah saya pikir-pikir, bersyukur saya diingatkan Bapak ini tadi siang, meskipun kata astaga adalah kata dari bahasa Indonesia yang mungkin lazim digunakan, alangkah indahnya kalau kata yang terucap adalah doa seperti kalimat istighfar yang maknanya sebagai permohonan ampun kepada Allah daripada menggunakan kata astaga yang hanya ekspresi kekagetan semata. Kata-kata adalah doa, alangkah indahnya jika kaget saja dicatat sebagai doa hehe. Selain itu juga turut membumikan kata-kata thayyibah di bumi Allah.

Yang kedua, ternyata tampilan luar mengenakan jilbab tak cukup untuk membuat bapak itu percaya bahwa saya seorang muslim(ah). Ngeri membayangkan kalau nanti ketika tak ada lagi pengadilan yang lebih tinggi, Yang Maha Tinggi bertanya, "Kamu muslimah?"
"Iya Tuhanku, saya muslimah. Saya sholat, puasa, (dan mungkin menyebutkan ibadah lain),"
"Benarkah?"
Saya (anggap saja) mengangguk.

"Kamu sholat, tapi pikiran kamu kemana-mana. Kamu puasa tapi masih puasamu masih belum bisa mengendalikan nafsumu sepenuhnya......."

DUAR. Na'udzubillah. Jangan sampai Dia menganggap ibadah-ibadah yang saya lakukan hanya bersifat zahir semata. Ampun. Mau lari kemana, mau ngeles apa lagi ketika pintu amal sudah tertutup.

Ah, sungguh terima kasih pak sudah mengingatkan saya siang ini :')


Friday, December 16, 2011

Lullaby

16 Desember 2011. Malam ini baru keluar kantor sekitar pukul delapan malam. Hampir dua belas jam menatap monitor laptop, mengolah data. Kalau saja si coklat ini teman cewek pasti udah saya peluk erat-erat sebagai rasa terima kasih selalu setia menemani haha. Dan saat ini saya lagi-lagi menatapnya, kali ini untuk mengolah kata menjadi postingan malam ini sambil ditemani cornetto strawberry yang saya sempatkan beli di minimarket dekat rumah kos.

Malam ini saya (lagi-lagi) melewatkan kelas Fiqih dan Bahasa Arab. Lepas jam kantor pukul lima sore hari ini saya tak buru-buru mencegat bajaj untuk mengantarkan ke tempat kuliah tapi berkutat dengan setumpuk pekerjaan yang sudah memasuki deadline satu persatu. Mudah-mudahan pekerjaan kantor lebih prioritas daripada kuliah, tanpa mengesampingkan kewajiban menuntut ilmu tentu saja. Fiqih prioritas, kata seorang teman.
Saat magang kemarin (kebetulan masih sebulan resmi menjadi pelaksana) rasa-rasanya saya pernah mengeluhkan sedikitnya pekerjaan, sekarang rasa-rasanya saya ingin mengeluhkan banyaknya pekerjaan yang mulai menumpuk seiring dengan tanggung jawab yang kian bertambah. Manusia memang tak pernah puas bukan? Panas atau hujan sama-sama mengeluh.

Sebelum lintasan keluhan berlanjut, syukurlah, seperti ada yang mengingatkan saya untuk berhenti meneruskan keluhan. Mengingatkan betapa beruntungnya saya (kalau boleh saya menyebutnya beruntung) bisa melewati 'jalan bebas hambatan' menjadi seorang PNS di kementerian yang katanya paling prestisius. Lulus kuliah langsung kerja tanpa harus melamar pekerjaan di sana-sini lagi. Dan kalau ingat anak-anak jalanan yang saya temui hampir setiap hari di metromini, betapa seharusnya saya banyak-banyak bersyukur. 

Dan kalau boleh menyebutnya kebetulan, sebelum saya mengeluhkan semakin terbatasnya waktu untuk diri sendiri, kemarin saya baru baca artikel mengenai seorang manajer suatu perusahaan telekomunikasi terkemuka yang bisa menghafalkan Al Qur'an tiga puluh juz hanya dalam waktu satu setengah tahun. Bayangkan betapa sibuknya beliau. Beliau berkata bahwa tak ada waktu yang bisa ia geser untuk khusus menghafalkan Al Qur'an kecuali waktu tidurnya dan itulah yang beliau geser. Pukul dua belas malam beliau bangun tidur dan hingga subuh digunakannya untuk menghafal ayat baru serta mengulang hafalan. Begitu setiap harinya. Sebulan pertama dirasakannya berat tapi lama-lama menjadi hal yang ringan dan biasa.

Manajemen waktu dan prioritas. Dua hal ini yang agaknya semakin harus digenggam erat seiring dengan bertambahnya tanggung jawab. Tak lagi menunda-nunda pekerjaan, mendahulukan mana yang penting dan mengesampingkan hal-hal yang kurang penting hingga bagaimana melakukan sesuatu secara efektif dan efisien. Nabi yang mulia hanya tidur empat jam sehari, masak umatnya kalah? *teriak kencang-kencang ke diri sendiri*

Teringat akan ucapan murobbi tercinta saat saya mengeluhkan waktu-untuk-diri-sendiri yang saya punya dan beliau berkata kira-kira seperti ini, "Semakin sedikit waktu yang kita punya, justru jangan dikurangi ibadahnya, dulu sehari bisa satu juz, jangan malah jadi setengah juz, harusnya malah tambah lagi. Semakin kita sibuk, ingatlah, semakin kita membutuhkan kekuatan dari Allah, semakin kita bergantung pada-Nya maka semakin mendekatlah pada-Nya,"

Dan lagi-lagi, sebelum lintasan keluhan berlanjut, saya diingatkan bahwa saya punya lebih banyak alasan dan cara untuk tidak mengeluh. ^^

Happy weekend ^^




Friday, December 2, 2011

Jadi Kapan Kamu Menyebar Undangan?


dicari di google
Apa lagi yang ditunggu oleh seorang muslim jika telah mencapai usia baligh dan memiliki maisyah (kemampuan untuk menafkahi)? Apa lagi yang ditunggu di tengah dorongan kebutuhan batin dan psikologis yang semakin meningkat sementara bukan lagi kebebasan atas kesendirian dan kebersamaan dengan teman yang mampu melengkapi kehampaan diri yang perlahan-lahan merambati? 

Bagi sebagian orang, melangkah pada fase tersebut bukanlah hal yang sesederhana itu. Ada kehati-hatian yang tinggi (atau bisakah menyebutnya sebagai suatu ketakutan?) untuk berani memantapkan diri mencapai suatu point of no return yang bisa jadi merupakan awal dari sebuah kehidupan baru. Mitsaqan ghaliza. Perjanjian yang berat, bahkan kedudukannya disetarakan dengan perjanjian Allah dengan para nabi dan perjanjian yang diangkat atas Bani Israil kepada Allah. 

Beberapa orang menunggu kesiapan, katanya. Kesiapan materi kadang kala tak hanya diukur dari telah dimilikinya kemampuan untuk menafkahi keluarga, bisa jadi keberadaan rumah serta kendaraan pribadi yang menjadi faktor penentu seseorang berani melangkah. Kesiapan yang lain adalah kesiapan mental, bagaimana menerima seseorang dengan segala kelebihan dan kekurangannya untuk menemani dalam segala macam kesenangan dan kesedihan dalam jangka waktu seumur hidup. Mungkin juga sebagian orang menunggu kesiapan ilmu, hanya akan berani melangkah apabila telah memiliki ilmu yang cukup menjadi seorang suami atau istri dan orang tua. Ibadah mutlak memerlukan ilmu untuk menghasilkan amal. Ibadah mutlak memerlukan keyakinan (iman) agar bernilai sebagai suatu ibadah.

Keyakinan. Mungkin itulah yang membuat sebagian orang berani mengikrarkan diri sehidup semati dengan hanya mengalami fase ‘penjajakan’ secara singkat tanpa melalui apa yang disebut orang-orang sebagai pacaran. Misalnya dengan melangkah melalui proses menceritakan kegundahan hati pada sang murobi, mengajukan biodata dan kemudian sang murobi mencarikan calon pasangan untuk mutarobinya dengan memperhatikan kriteria-kriteria yang diajukan, lantas dipertemukan dalam suatu majelis yang disebut dengan ta’aruf. Keyakinan bahwa ia ingin segera menyempurnakan setengah agamanya dengan seseorang yang ia yakini membawa kebaikan baginya, sebagai suatu wujud ibadah dan penyaluran kebutuhan psikologisnya di jalan yang diridhai Allah.

Niat seseorang memegang peranan yang penting sebagai suatu pondasi dasarnya dalam mengambil suatu tindakan dan niat pula lah yang menjadi salah satu dari tiga syarat utama diterimanya suatu amal. Jika seseorang memiliki suatu niat yang lurus dan keyakinan yang kuat atas keinginannya ini, apalagi yang ditunggunya? Apa lagi yang menghalanginya untuk menyegerakan?

Apalagi bagi seorang wanita muslimah yang telah mencapai usia akil baligh dan telah sampai ilmunya bahwa menjadi seorang pengantin merupakan satu dari enam hal yang harus disegerakan dalam Islam. Tak seharusnya seorang muslimah menunggu seseorang tertentu yang belum tentu menjadi suaminya datang melamar, sementara ia melepaskan orang lain dengan akhlak yang mungkin lebih baik. Akan ada rasa sakit yang teramat sangat untuk sang wanita apabila ia telah menunggu seseorang tertentu dan tiba-tiba saja laki-laki yang ditunggunya tidak jadi meminang atau ‘beralih haluan’ kepada wanita lain? Toh tidak ada yang mengikat laki-laki tersebut untuk harus melamar sang wanita. Janji-janji setinggi apapun yang dibuat oleh seorang laki-laki hanyalah sekadar janji apabila ia belum berani datang kepada orang tua sang wanita dan memintanya secara resmi. Sesederhana itu.

Sebagian wanita tidak menunggu seseorang tertentu untuk melamar. Ia menunggu seseorang yang berani melamar. Wanita memerlukan suatu ‘keyakinan yang memadai’. Keyakinan yang dibuktikan dengan datangnya pinangan. Lagipula, yakinlah, wanita adalah makhluk yang paling mudah untuk mencintai. Bisa jadi ia mencintai seorang laki-laki tetapi kemungkinan besar ia akan meninggalkan laki-laki itu apabila laki-laki itu tidak segera melamarnya sementara ada laki-laki lain yang memiliki kemampuan dan berani melangkah lebih maju.