Monday, January 16, 2012

Republik Insya Allah


Insya Allah. Sudah tak asing bagi kita mendengar kata insya Allah atau mungkin saja kata insya Allah telah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari, tak khusus untuk umat Islam saja. Bahkan ada yang memplesetkan RI (Republik Indonesia) menjadi Republik Insya Allah lantaran betapa seringnya kata insya Allah digunakan. Insya Allah sendiri bermakna “jika Allah mengizinkan” atau “jika Allah mengkehendaki” sehingga mengatakan insya Allah menunjukkan bahwa seseorang menjanjikan sesuatu kepada orang lain yang mana janji tersebut tidak dapat dipenuhi seseorang jika dan hanya jika ada hal-hal di luar kendali terjadi orang tersebut atau bahasa kerennya force majeur.
 
Rasa-rasanya kata insya Allah telah mengalami pergeseran makna menjadi semacam “insya Allah ya (nggak janji ya),”. Seorang teman pernah protes ketika saya mengatakan insya Allah kepadanya. “Kok insya Allah sih? Nggak pasti ya?”. “Insya Allah-nya orang Islam, bukan insya Allah-nya orang Indonesia,” jawab saya. 

Aih, alangkah beratnya nanti di akhirat jika ada barisan janji ‘insya Allah’ mengular dan menagih pengucapnya sementara sang pengucap hanya mengatakannya untuk menyenangkan hati lawan bicara atau mungkin dia sekadar ‘just saying’ tanpa menyadari urgensi kata insya Allah. Misalnya mengucapkan insya Allah datang ke pernikahan seorang teman tapi ternyata tidak datang lantaran sayang dengan harga tiket yang mendadak mahal (walau sebenarnya punya kemampuan untuk itu).

Insya Allah. Sudah berapa kali diucapkan semenjak akil baligh. Sudah berapa hati yang tersakiti lantaran kata ‘insya Allah’ yang tak dimaksudkan untuk benar-benar ditepati, melainkan sekadar pemanis kata. Berusahalah untuk benar-benar menggunakan kata insya Allah jika yakin dengan kemauan hati dan kemampuan diri mewujudkannya dan mengatakan untuk melakukan sesuatu tanpa mengatakan insya Allah juga telah dilarang dalam Q.S Al Kahfi : 23-24 yang terjemahannya berbunyi “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu : “sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut) : “insya Allah,”….” Bi’idznillah.

Allahu ‘alam. 

Catatan untuk diri sendiri khususnya. Mohon jika ada yang masih kurang berkenan dengan kata ‘insya Allah’ yang pernah saya ucapkan segera menagihnya daripada saya ditagih di akhirat T.T

2 comments:

  1. Sebuah kajian yang bagus, tentang kata Insya Allah, terkadang jawaban Insya Allah seolah jadi jawaban yg ringan di ucapkan, dan jika tidak bisa menepati janji lantas kesalahan di nisbatkan kepada Allah..., Astaghfirullah...
    atau dengan kata lain Insya Allah seperti sebuah jawaban basa-basi belaka...
    postingan yang bagus adik Monika...

    ReplyDelete
  2. Singkat, padat, dalam, juga nyentil kita semua yang terlalu "fasih" mengucap insya Allah sehingga tidak menyadari hakikatnya. Syukron atas sentilannya, wabilkhusus buat saya. :-)

    ReplyDelete