Friday, February 24, 2012

Book of The Week #13 : Madre


Madre merupakan judul buku sekaligus judul cerita yang menjadi cerita utama di buku setebal 160 halaman ini. Bercerita tentang seorang lelaki muda bernama Tansen yang mendadak mengetahui kenyataan bahwa silsilah keluarganya berubah sekejap ia tahu. Seperti pertanyaannya,

“Apa rasanya sejarah hidup kita berubah dalam sehari? Darah saya mendadak seperempat Tionghoa, nenek saya ternyata tukang roti, dan dia, bersama kakek yang tidak saya kenal, mewariskan anggota keluarga yang tidak pernah saya tahu : Madre,”

Madre tak hanya sebuah biang adonan biasa. Bukan hanya lantaran usianya yang telah menginjak usia tujuh puluhtahun, melainkan seperti halnya kata Madre sendiri yang berasal dari bahasa Spanyol yang bermakna ‘ibu’, ia menjelma sebagai sebuah benda yang memberi penghidupan bagi sebuah toko roti tua sekaligus para pegawai toko tersebut. Biang adonan yang akhirnya membawa sesosok bebas bernama Tansen meninggalkan Bali untuk tinggal di kota pengap Jakarta. Kata demi dalam cerita ini mengalir dengan luwes dan seakan mengajak pembaca menyelami emosi sang tokoh. Tengoklah saat Dee mendefinisikan arti kebebasan dalam suatu dialog ringan :

“Satu-satunya yang ingin saya teruskan adalah kebebasan saya,”
“Kalau bebas sudah jadi keharusan, sebetulnya sudah bukan bebas lagi, ya?” cetus Mei kalem
Aku menghela napas. Pembicaraan ini, entah kenapa, jadi terasa memojokkan.

Dituturkan oleh Dewi Lestari dengan gaya renyahnya yang khas, cerita yang menghabiskan lebih dari setengah buku bersampul oranye menarik ini perlahan-lahan mengajak saya seperti menikmati legitnya sepotong demi sepotong roti ditemani secangkir teh hangat di suatu sore. Kesederhanaan yang memikat.

Terdiri dari tiga belas karya fiksi dan prosa pendek, Dewi Lestari agaknya semakin mengukuhkan diri sebagai seorang penulis yang tak hanya cerdas dan piawai memilih kata tetapi juga sebagai seorang penulis yang piawai menyelami emosi dan pikiran pembaca misalnya saat ia bercerita tentang janin yang dikandungnya dalam tulisan berjudul Rimba Amniotik atau jeli membidik dua pertanyaan dasar manusia dan menuliskannya dalam 'Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan'.

Prosa dalam buku ini, menurut preferensi saya tentunya, tak terlalu meninggalkan kesan, pun dua cerita pendek yang seakan diselesaikan dengan tergesa. Rasanya tak sememikat Filosofi Kopi memang tapi Madre  manis untuk dijadikan koleksi.


Penulis : Dewi Lestari
Penerbit : Bentang
Mon's rating : 3/5 stars ^^

4 comments:

  1. wah tapi aku jadi penasaran. . . . .

    ReplyDelete
  2. "Rasanya tak sememikat Filosofi Kopi memang tapi Madre manis untuk dijadikan koleksi"
    Setuju banget.. ;).. wlopun aq ga punya bukunya.. he..he.. baca gretongan... ;) 6 bulan yg lalu..

    ReplyDelete
  3. kayaknya bagus, sayang nggak punya bukunya :D

    ReplyDelete
  4. sepakat, memang kurang menggigit. tp tetap sja, sya tidak tahan untuk tidak mengoleksinya. hehhe

    ReplyDelete