Tuesday, March 27, 2012

Blogger Versus PNS


Menulis adalah passion, sesuatu yang dilakukan karena saya suka, sesuatu yang membuat saya merasa lebih hidup. Menumpahkan apa yang ada di kepala dengan membiarkan jari jemari menari di atas keyboard. Umar bin Khattab pernah berkata,”Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu karena sastra membuat anak pengecut menjadi berani,”. Menulis membuat saya lebih berani, berani menyuarakan pandangan dan sikap, atas sesuatu yang mungkin di dunia nyata bisa saja saya diam saja, karena faktor tertentu. 

Rasa-rasanya setiap hari saya ingin menulis, banyak ide di kepala yang ingin saya bagi. Iri rasanya melihat blogger yang setiap hari bisa menulis. Sebagai PNS dengan jam kerja 07.30-17.00 ditambah kegiatan lain atau lembur, rata-rata saya tiba di kosan pukul 20.30-21.00. Berangkat lagi pukul 06.30. Saya berusaha untuk nggak nyambi nulis saat jam kerja, walaupun rasanya tangan gatal ingin menulis lagipula jarang-jarang tak ada kerjaan. Oleh karena itu, saya paling kesal kalau ada orang yang bilang bahwa PNS itu banyak menganggurnya. Generalisasi itu sangat menyakitkan. 

PNS adalah pekerjaan, sesuatu yang berusaha untuk saya cintai (duduk di depan layar delapan jam sehari bukanlah hal yang mudah untuk saya). Menulis nota dinas itu bagi saya jauh lebih sulit dibanding menulis postingan blog. Menjadi PNS adalah salah satu bentuk pengabdian, sekecil apapun kontribusi saya untuk negara. Menjadi PNS adalah sesuatu yang saya syukuri karena tak mudah mendapatkannya, sesuatu yang saya perjuangkan.

Rasa-rasanya setiap hari saya ingin menulis tapi kadang-kadang saya merasa tak sempat dan tak ada waktu. Kata orang, orang-orang terhebat di dunia sekalipun mempunyai waktu yang sama, dua puluh empat  jam sehari, tak kurang dan tak lebih, jadi jangan pernah mengatakan tak ada waktu. Memaksakan diri setiap minggu membaca dan menuliskannya (melalui book of the week, walau sekarang sedang vakum) adalah salah satu cara misalnya. Sesuatu itu terkadang harus dipaksakan, apalagi jika itu kebaikan. Dari keterpaksaan lahirlah pembiasaan dan kebiasaan lalu kebutuhan yang akan membuat seseorang tak lengkap karenanya.  Mungkin demikian.

Manajemen waktu. Mungkin itu yang saya perlukan sekarang. Mengurangi jam tidur, sesuatu yang berusaha pelan-pelan saya terapkan, meskipun rasanya sulit sekali untuk saya yang terbiasa tidur minimal enam jam sehari. Kata Ummi, “jika kamu merasa lemah dan butuh kekuatan, semakin mendekatlah kepada Allah, semakin kamu sibuk, jangan kamu mengurangi ibadahmu tapi tambahlah,” Berjuanglah, duhai jiwa….
*curhat di tengah jam istirahat*

16 comments:

  1. Terus semangat, Kawan! Teruslah menulis dan berkarya. Berkarya di tengah pengabdian Anda kepada negara. Salam sukses

    ReplyDelete
  2. Tetep semangat ya mba...:)
    jaga kesehatan walo jam tidurnye lagi dikurangin ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi... malah curhat begini ahaha... makasih mama Imah *ups :D

      Delete
  3. aku suka quotenya kak, ”Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu karena sastra membuat anak pengecut menjadi berani,”

    selain menjadi berani, menulis membuat aku jadi diri sendiri. sesuatu yang kadang enggak bisa kulakukan, karena berbagain faktor. salam kenal :)

    ReplyDelete
  4. he he he-----PNS oh PNS, disisi ada yang nyante ria disisi lain ada yang banting tulang dengan lembur tanpa kompensasi apapun,,,,semangat mb---

    ReplyDelete
    Replies
    1. lemburnya masih jarang sih, cuma kudu pandai2 bagi waktu :)

      Delete
  5. Nulisnya setelah shalat Subuh juga sempat. :D Hehehe. Saya lebih parah padahal. Kerja lembur setiap hari plus Minggu, sampai jam 10 malam. Berangkat pagiiii sekali berhubung Jakarta sering macet. Menulis di sela-sela antara tidur dan tidak. XD

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener mbak. pasti akan selalu ada waktu klo mau nyisihin, kudu lbh pintar mengelola waktu >.<

      wow semangat mbak, ditunggu tulisan2nya ^^

      Delete
    2. wah, jadi semangat menulis lagi..menulis menulis menulis...

      Delete
  6. PNS mana dulu tuh yg suka ngangguur...
    :P

    ReplyDelete
  7. Wah, gue setuju banget kalo menulis bisa bikin gue jadi lebih idup, dari idup di kolong jembatan, jadi idup d kolong tempat tidur...
    [Gak jelas lu!]

    Menulis kadang-kadang bikin gue lebih fresh kalo gue lagi puyenk?
    [Bukannya lu emang selalu puyenk? Tulisan lu juga pasti aneh-aneh, sama kayak lu]

    Sory, itu jiwa gue yang laen. Dia emang suka nyeletuk kalo gue lagi ngomong. Lo bisa kenal dia kalo lo mau maen ke rumah gue (baca: blog gue) di ghe-oghe.blogspot.com/2012/03/puyenk-dot-aidi-puyenk-dot-net.html?m=1

    Udeh dulu ya, gue mau nilis dulu. *ngiris pensil pakek gergaji*

    salam kepala memutar...

    ReplyDelete
  8. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete