Monday, March 5, 2012

Book of The Week #14 : Halal dan Haram


Gambar dicari melalui Google
Menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal merupakan hal yang mendapatkan ancaman serius dalam Islam karena perkara tersebut hanyalah milik Allah semata (bahkan ada yang menyetarakannya dengan perbuatan syirik), oleh karenanya diperlukan kecermatan dan kehati-hatian dalam menentukan halal atau haramnya suatu hal. Pun dalam menentukan hal tersebut tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang melainkan orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukan ijtihad sebagai salah satu sumber hukum Islam. Syarat untuk dapat melakukan ijtihad disebutkan antara lain mempunyai kemampuan menghafal AlQur’an, mengetahui asbabun nuzul ayat-ayat AlQur’an, menguasai ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih, menguasai ilmu Hadits serta sederet  penguasaan ilmu lain. Tak heran jika disebutkan dalam suatu hadits bahwa jika seseorang berijtihad dan fatwanya benar maka baginya dua pahala (pahala atas ijtihadnya dan pahala kebenaran) serta apabila seseorang berijtihad dan menghasilkan fatwa yang salah, ia mendapatkan satu pahala atas usaha yang telah dilakukannya.

Yusuf Qaradhawi, seorang ulama Mesir yang kini berusia 85 tahun, menghadirkan sebuah kitab Fiqih yang mengupas perkara halal dan haram dalam kehidupan kaum Muslim. Agaknya, beliau menggunakan pendekatan ‘pemahaman’ dalam meneropong perkara-perkara yang hadir dalam keseharian umat Muslim. Membuka dengan Q.S Al Maidah:6 yang terjemahannya berbunyi,”Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu besyukur,” ulama yang hafal Al Qur’an di usia sembilan tahun ini seperti ingin menancapkan pemahaman umat bahwa ketetapan Allah atas suatu hal entah haram atau halal bukanlah dimaksudkan untuk menyulitkan. 

Pemahaman yang hendak diberikan oleh beliau tak hanya berupa dalil-dalil yang melarang atau membolehkan suatu hal tetapi juga diberikan pembahasan yang cukup komprehensif mengenai hikmah yang tersembunyi dibalik pelarangan sesuatu sehingga membuka pikiran orang awam yang membacanya. Pemilihan kata yang digunakan sederhana tanpa mengurangi ketegasan akan suatu perkara, disebutkannnya dalil-dalil hingga pandangan ulama empat madzhab beserta sebab turunnya suatu dalil. Yusuf Qaradhawi, agaknya, menggunakan bahasa yang santun dengan menyebutkan pandangan menggunakan kata “berdasarkan yang kami tahu,” “yang kiranya”,”yang lebih baik,”.

Buku ini tak semata-mata membahas mengenai halal atau haramnya makanan dan minuman yang menghabiskan lebih dari seperempat bagian buku tetapi juga menyangkut aspek halal dan haram suatu perbuatan kaum muslim ditinjau dari perspektif syari’at seperti mengenai pakaian dan perhiasan, memelihara anjing, bekerja dan usaha, halal dan haram dalam pernikahan dan kehidupan keluarga, serta perkara-perkara muamalah lainnya. 

Sebagai ulama yang hidup di zaman sekarang, beliau juga memetakan perkara kekinian umat Islam (diistilahkan sebagai Fiqih Kontemporer) seperti hukum asuransi hingga menonton bioskop menurut perspektif syari’at. Namun demikian, pendapat-pendapat Yusuf Qaradhawi tak luput luput dari kontroversi. Menurut pandangan saya, ambillah pendapat-pendapat beliau yang memiliki dasar hukum yang kuat dan tentu saja dengan rujukan kitab Fiqih lain yang tak semata dari satu sumber. Wallahu a'lam bisshowab.

Referensi :
1.       "Hai orang-orang yang beriman: Janganlah kamu mengharamkan yang baik-baik (dari) apa yang Allah telah halalkan buat kamu, dan jangan kamu melewati batas, karena sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang suka melewati batas. Dan makanlah sebagian rezeki yang Allah berikan kepadamu dengan halal dan baik, dan takutlah kamu kepada Allah zat yang kamu beriman dengannya." (terjemahan Q.S.Al-Maidah: 87-88)

2.       "Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya." (HR Muslim)

3.         Hadis riwayat Amru bin Ash ra.: Bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: Apabila seorang hakim memutuskan perkara dengan berijtihad, kemudian ia benar, maka ia mendapatkan dua pahala. Dan apabila ia memutuskan perkara dengan berijtihad, lalu salah, maka ia memperoleh satu pahala. (Shahih Muslim)


2 comments:

  1. bagus ya pingin tnelaah baca bukunya langsung nie... rasanya ijtihad itu sangat suakar ya meliat syarat di atas

    ReplyDelete
  2. wah bisa jadi referensi diri nih. . . . makasih tas infonya mbak . .. .

    kunjungan malem ah. . . . . ada cemilan ndak nih. . .

    ReplyDelete