Tuesday, March 20, 2012

Jleb #1 : “Di Ruangan Ini Ada yang Berasal dari Jurusan Akuntansi?”


Gambar yang bikin manggut-manggut
Suatu siang. Workshop tentang analisis perusahaan, analisis industri dan analisis ekonomi dengan seorang pembicara yang merupakan pengamat ekonomi, mantan bankir, pemilik beberapa usaha, pemain saham, penulis buku dan analis perusahaan. Materi disampaikannya dengan amat menarik, lalu pada hari terakhir beliau bertanya kepada para peserta :

“Di ruangan ini ada yang berasal dari jurusan Akuntansi?”

Seisi ruangan saling memandang dan tersenyum. Pertanyaan yang amat menohok mengingat dari sekitar tiga puluh peserta hanya dua orang yang bukan dari jurusan Akuntansi. Sang pembicara lulusan Teknik Elektro, ditunjang dengan pengalamannya sekian lama, hafalannya yang kuat tentang tanggal peristiwa-peristiwa penting, analisisnya yang tajam tentang penyebab dan akibat suatu peristiwa, kepekaannya terhadap data serta kemampuannya mengkaitkan, ia memiliki kemampuan menganalisis melebihi para peserta dengan latar belakang Akuntansi. 

Mungkin tak ada yang baru dalam presentasinya. Tentu tak ada lulusan Akuntansi yang tak mengenal istilah CAPEX, ROE, ROI beserta teman-temannya. Namun, kemampuan analisis sang pembicara lah yang membuatnya istimewa.  Misalnya saat ia memaparkan tentang hubungan antara usia dan produk yang laris di suatu negara. Negara Amerika Serikat, dengan usia penduduk rata-rata 44 tahun membutuhkan lebih banyak produk di bidang medical care, furnishing, second home dan penduduk Jepang dengan usia rata-rata 48 tahun membutuhkan lebih banyak produk di bidang insurance, private banking, travel, dan medical care. Sementara penduduk Afrika dengan usia penduduk rata-rata 18 tahun membutuhkan lebih banyak produk di bidang education dan hospital. Indonesia dengan usia penduduk rata-rata 27 tahun tentu memerlukan produk yang berbeda pula. 

Sang pembicara juga memaparkan mengenai konsumsi jagung yang terus naik. “Apakah semakin kaya penduduk semakin banyak  jagung yang dikonsumsinya? lalu mengapa konsumsi jagung meningkat?” Beliau kemudian melanjutkan, “Semakin kaya seseorang, besar kemungkinan konsumsinya akan daging meningkat, nah karena jagung merupakan alternatif pangan ternak yang relatif murah, semakin meningkat lah konsumsi jagung seiring peningkatan konsumsi daging,” Ah, siapa yang berpikir ke arah sana, kata seorang peserta workshop sehabis acara.

Belajar, tak cukup hanya dari bangku sekolah, mengamati peristiwa yang terjadi, update terhadap perkembangan dunia luar, mengenal banyak orang, mengalami banyak hal serta membuka pikiran (open-minded) adalah pembelajaran yang tanpa batas. Belajar dimana saja, kapan saja dan dari mana saja. Semoga. ^^

9 comments:

  1. Ajarin Nay ya mba... :D biar ilmunya makin nambah.. uhuiii

    ReplyDelete
  2. ahaha.. ada tuh slide bapaknya hihi.. klo ane sih masih belajar mpok :D

    ReplyDelete
  3. Belajar di mana saja dan kapan saja. Pelajaran hidup dan keseharian memang lebih menambah pengalaman daripada lembaga pendidikan resmi (yang kadang hanya memaksa otak anak menjadi seperti robot). :D #ngoceh

    ReplyDelete
  4. setuju sama point-point terakhirnya,,,
    manthap!

    ReplyDelete
  5. jarang ikut seminar wirausaha atau menonton acara wiraswasta atau membaca mengenai kewiraswastaan beserta tokoh-tokohnya ya??

    kalau sering,kayaknya tulisan ini bakal ditulis berulang-ulang deh

    :)

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete