Sunday, March 4, 2012

"Mbak, Makanannya Kok Nggak Ada Tulisan Halalnya,”


Deg. Saya sontak kaget dengan perkataan polos seorang bocah yang usianya terpaut tiga belas tahun lebih muda ini. Di sebuah supermarket sementara anggota keluarga lain tatkala itu lengah meneliti tulisan arab tiga huruf, si bungsu tak lalai mencermati bungkus-bungkus makanan yang kadang dimasukkan begitu saja ke dalam troli. Serta merta kedua kakak dan sang ibu mengambil bungkus makanan dan baru mencermati dengan teliti. Malu-malu, membenarkan perkataan sang adik, dikembalikan makanan tersebut ke tempatnya. Kejadian tiga tahun yang lalu.

Sudah beberapa bulan saya mengikuti sebuah akun twitter yang bernama @halalcorner (saya rekomendasikan untuk Anda follow). Sebelumnya, mungkin status ‘halal’ yang saya cermati hanya semata-mata sebatas tulisan pada suatu kemasan, ternyata bisa lebih dari itu. Kue donat kesukaan, tempat makan favorit atau kosmetik yang kadang-kadang dipakai semenjak mengetahui bahwa belum ada jaminan halal dari LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia) rasanya lebih aman diganti dengan produk lain yang telah mendapatkan sertifikat halal. (silahkan cek di situs resminya)
'Jaminan halal' dari MUI

Ada apa dengan sertifikat halal LPPOM MUI?

Sederhana saja, orang awam seperti saya tak mempunyai kemampuan untuk mengecek kehalalan dari suatu produk jadi lebih aman bagi saya untuk menisbatkan diri kepada ‘jaminan’ para ulama yang berani menentukan kehalalan suatu produk. Mengatakan sesuatu sebagai halal sementara hal tersebut adalah haram dan sebaliknya mengatakan sesuatu itu haram sementara hal tersebut halal merupakan suatu perbuatan yang diancam dengan dosa yang besar. Saya yakin para ulama yang berani menjamin memiliki suatu kemampuan dan keyakinan yang dapat dipertanggungjawabkan di akhirat nanti.

Memang, tak bisa serta merta mengklaim bahwa produk yang belum bersertifikat halal dari LPPOM MUI sebagai suatu produk haram, hanya saja tak ada yang menjamin bahwa ia halal, entah dari LPPOM MUI atau produsennya sendiri (terkadang ada produsen yang mencantumkan tulisan ‘HALAL’ atau dalam bentuk huruf arab, jika tulisan halal dari LPPOM MUI ada tulisan MUI juga) sehingga dikhawatirkan produk tersebut jatuh pada kategori syubhat (berada di antara halal dan haram) yang sebaiknya dihindari sebagai sutu bentuk wara’ (kehati-hatian).

Dari produsen biasanya seperti ini
Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir r.a,”Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka, barang siapa yang takut terhadap syubhat, berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan barang siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan….”(HR. Bukhari dan Muslim)
Selain itu, perkara syubhat akan menimbulkan suatu keragu-raguan dalam hati lantaran belum jelasnya status halal atau haramnya suatu produk.
Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu” (HR.Tirmidzi)

Mudah-mudahan kita semua semakin cermat dalam mengkonsumsi suatu produk karena halal merupakan syarat mutlak bagi seorang Muslim. Insya Allah, produk-produk halal jauh lebih banyak dan lebih bermanfaat daripada produk yang haram ataupun diragukan kehalalannya. Seperti nasihat om saya (adik Mama) yang selalu diulang-ulang dikatakannya :
Lebih baik berhati-hati di dunia karena kalau sudah di akhirat tak akan bisa kembali di dunia.  ^^

-----
Insya Allah, besok kita berjumpa lagi dengan ‘book of the week’ yang mengupas tentang halal dan haram karya ulama kontemporer terkemuka Yusuf Qaradhawi (telat sehari dari jadwal hehe), sampai jumpa besok ^^


14 comments:

  1. iya kak, kadang juga suka nggak sadar, hehe.
    eh, salam kenal ya kak, oh iya, keep posting ya kak, suka deh ^^
    kalo ada waktu kosong, bisa mampir ke gubug saya kak wehehehe

    ReplyDelete
  2. makasih infonya , kita harus jeli sekarng dalam msaah halal haramnya maknan.

    ReplyDelete
  3. bener banget. . . . label halal mah bisa dibuat sendiri. . .

    kunjungan pagi ahhh. . . da orangnya ndak ya. . .

    ReplyDelete
    Replies
    1. selain itu, menurut An lebih mencermati juga kandungan bahan makanan yang ada..jangan s/d terlena jika enak..karena setiap masakan yg enak belum tentu dijamin kehalalanya...

      Delete
  4. Sekarang label itu jadi penting buatku kalau belanja ke supermarket mba, kebiasaan ambil2 seenaknya tanpa melihat labelnya, khawatir berbuah penyesalan pas di rumah, qiqiqi

    ReplyDelete
  5. menarik sekali
    makasi atas infonya
    salam sukses selalu mbak

    ReplyDelete
  6. emm mbegitu ya,,kdang emang suka gak diliat dgn teliti bungkus2 mkanan...
    lain kali musti teliti^^

    ReplyDelete
  7. iya bener. sering juga di supermarket yang pasti ditiap kecamatan ada tidak di sertai label halal. kudu teliti liatnya

    ReplyDelete
  8. saya sarankan sahabat2 semuanya mampir ke http://www.kaze-kate.net/2011/11/ceramah-dari-mantan-misionaris.html dan download filenya.. ceramah yang menyatakan barang halal namun haram!

    Ustadz matius

    ReplyDelete
  9. ah bicara halal, di pasarpun banyak yg sudah tak halal :(
    kemarin di pasar, saking nepsong liat lemper bakar, langsung pilih2 eh si penjualnya yang liat saya berjilbab langsung bilang, isinya BABI itu mbak ...
    huaaa langsung ilfil saya :(

    ReplyDelete
  10. artikel yang bagus Ini Mbak.....

    semoga kita dimudahkan mendapat barang2 yang halalan toyyibah...

    ReplyDelete
  11. sebagai seorang muslim selayaknya kita berhati-hati dalam memilih apa yang akan kita konsumsi, ditengah banyaknya makanan oplos yang beredar sepantasnya kita lebih jeli dalam hal tersebut.

    salam blogger jatim : http://www.burungnusantara.com/

    ReplyDelete