Friday, April 6, 2012

Anak Jalanan Oh Anak Jalanan


Tubuh kecilnya berhenti persis di depan saya yang tengah duduk di barisan tengah metromini, suatu pagi saat hendak berangkat ke kantor.  Tangannya menengadah, saya menggeleng pelan. Saya pikir ia akan berlalu dari hadapan tapi ternyata tidak. Kedua tangan bocah yang berusia kira-kira sembilan tahun itu mendorong-dorong bahu saya keras. Tak cukup dengan itu, ia memajukan kedua kakinya juga, membenturkan lututnya ke kaki saya. “Saya sudah teriak-teriak dari tadi sampai suara serak, nggak ada yang ngasih,”bentaknya keras. Olala, ini penyebabnya. Ia telah ‘mengeluarkan suara’ dan tak ada yang memberinya sepeser pun semenjak tadi. Apesnya, saya yang kena ‘kemarahannya’. 

Saya tak bereaksi, nanti juga capek sendiri pikir saya. Namun cukup lama rupanya saya menjadi sasarannya sehingga saya risih juga. “Dek udah dek,”kata saya. Beberapa penumpang juga membela saya. “Biarin, biar kapok,”bentaknya. Akhirnya saya menggeser badan. Tak lama kemudian ia berlalu dengan mengumpat kencang menyebutkan alat kelamin laki-laki. Bocah sembilan tahun.

Kalau Anda pengguna metromini, Anda pasti akan sering menemui orang-orang yang berdiri dan mengeluarkan suaranya, ”Assalamu’alaykum pak bu ya, kita hidup harus saling tolong menolong pak bu ya, daripada kami harus mencuri, menjambret atau merampok lebih baik kami berterus terang kepada Anda pak bu ya, lebih baik kami cari makan dengan halal seperti ini pak bu ya, seribu atau dua ribu tak akan membuat Anda miskin pak bu ya, harta itu tak akan dibawa mati pak bu ya” temannya lalu menyahuti, “Benar pak bu ya,” lalu salah seorang dari mereka menengadahkan tangan ke para penumpang metromini. 

Tak masalah jika mereka kemudian berlalu. Namun sering saya temui mereka marah jika tak dikasih uang. Mulai dari mengeluarkan kata-kata yang memaksa, mencolek-colek tangan, hingga mengumpat, “Berjilbab kok nggak punya hati nurani,”. Pernah juga ketika saya mengulurkan koin lima ratus ia melempar koin tersebut ke muka saya. Bukan masalah nominal, hanya saja hati saya seperti tak rela memberi para pemuda gagah yang saat meminta terkadang rokok menyelip di antara kedua jari.

Anak jalanan. Saya tak tahu apakah Pemerintah (dalam hal ini instansi yang berwenang) telah memberikan perhatian yang cukup kepada mereka. Ketika saya bercerita kepada Ibu yang kebetulan bekerja di instansi pemerintah yang mengurusi bidang sosial masyarakat (di daerah), Ibu bercerita panjang lebar, “Pemerintah itu perhatian sama anak jalanan. Sudah berulang kali kami mengajak mereka ke rumah singgah atau panti asuhan tapi mereka selalu kabur. Di sana mereka dididik dengan baik, disekolahkan sampai SMA, dikasih makan tiga kali sehari, dibelikan baju baru secara berkala, bahkan diberikan les juga, hidupnya dijamin dan teratur bahkan banyak anak jalanan yang berprestasi tapi ya itu di panti kan disiplin, mereka pengennya bebas jadinya tak tahan lalu kabur,” saya mendengarkan,”Nanti kalau kamu mau, saya ajak melihat langsung keadaan panti,” 

Ah, saya bermimpi suatu hari nanti tak ada lagi anak-anak yang berkeliaran di jalanan demi mencari sesuap nasi. Mereka duduk manis di sebuah kelas mendengarkan pelajaran dan memimpikan masa depan yang tentu saja bukan di jalanan. Saya bermimpi suatu hari nanti, para pemuda gagah itu malu meminta-minta dan kemudian menyingsingkan lengan mereka dan bekerja. Entah menjadi penjual tisu atau penjaja koran, tentu lebih mulia dari meminta-minta. Namun hingga saat itu tiba, anak jalanan adalah sosok yang akan saya temui setiap kali menggunakan jasa metromini. 


*previously published in Kompasiana*

4 comments:

  1. Ada yang bilang, sepertinya sih salah satu pasal dalam UUD. Hehe. Disitu disebutkan kalau pengemis dan anak jalanan dipelihara oleh negara. Dan sampai sekarang, saya belum menemukan esensi yang tepat dari pasal tersebut. Apakah dipelihara dan diayomi sebaik-baiknya? Ataukah dipelihara seperti ini bentuknya? Dijadikan penghias kota bobrok dan bergedung tinggi, sehingga kontras rasanya kalau masih banyak anak jalanan. :)

    Salam.

    ReplyDelete
  2. iya mbak, semacam sedih2 miris, tapi ya itu perlu ditelusuri akar masalahnya juga menurutku hehe...

    ReplyDelete
  3. ya bener Mon. Miris banget sama sikap mereka tuh, serba salah ngadepinnya

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete