Sunday, April 29, 2012

Apa Niatmu Menulis?


Tiap-tiap orang memiliki niat dan tujuan tersendiri dalam menulis. Ada yang menulis sebagai sarana untuk mengekspresikan diri, alat propaganda, mata pencaharian, media berbagi, sarana dakwah, ingin populer dan sebagainya. Sah-sah saja menurut saya. 

Yang perlu diingat adalah bahwa kita akan mendapatkan apa yang kita niatkan. Sungguh. Kalau tulisan dibuat agar mendapatkan pujian orang lain maka itulah yang akan didapat, kalau tulisan dibuat untuk mendapatkan popularitas maka itulah yang akan didapat, sebatas itu. Jika tulisan dibuat untuk mencari keridhaan Allah, insya Allah itu yang didapat. Logikanya, apa yang menjadi niat kita melakukan sesuatu akan mendorong kita menuju arah itu. Misalnya seseorang menulis untuk menghibur orang lain, tentu ia akan mencari-cari tulisan yang bagaimana yang menghibur orang lain dan berusaha mewujudkannya. 

Disebutkan dalam hadits Arba’in pertama : Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khattab ra berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW  bersabda, “Seseungguhnya diterimanya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya (akan diterima) sebagai hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang akan ia peroleh atau wanita yang hendak dinikahinya maka ia akan mendapati apa yang ia tuju,” (HR. Bukhari Muslim)

Namun, alangkah indahnya jika apa yang kita tulis kita niatkan agar membawa kebaikan di dunia dan juga di akhirat. Bi ‘idznillah.

“Barangsiapa yang mengkehendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi) karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,” (terjemahan Q.S An-Nisa:134)

Yuk bersama-sama meluruskan niat dalam menulis mungkin-mungkin selama menulis pernah ada niat yang ‘kurang lurus’. Seperti kata Ippho Santosa dalam bukunya yang fenomenal, ‘7 Keajaiban Rezeki’, jika ada niat yang melenceng luruskan niat dan tetap melangkah. Bukan malah berhenti.

Semakin banyak menulis artinya bisa jadi semakin banyak kebaikan yang disebar tetapi di sisi lain semakin banyak perkataan (tulisan) yang kelak akan dipertanggungjawabkan. 

Jadi apa niatmu menulis? *Hanya kamu dan Tuhanmu yang benar-benar tahu :)


#NotetoMySelf, tulisan ini sedikit banyak terinspirasi tulisan seorang teman, Deady, di blognya


3 comments:

  1. Setuju banget sama ini.
    {Kalau tulisan dibuat agar mendapatkan pujian orang lain maka itulah yang akan didapat, kalau tulisan dibuat untuk mendapatkan popularitas maka itulah yang akan didapat, sebatas itu. Jika tulisan dibuat untuk mencari keridhaan Allah, insya Allah itu yang didapat.}

    Dan yang mungkin perlu digarisbawahi adalah meski kita niatkan meraih keridhaan Allah, bukan berarti segalanya berjalan lancar. Sebab "Bagaimana bisa disebut beriman sebelum kau diuji" dan ini ada buktinya di Quran, kisah para nabi semua adalah kisah kesusahan karena fitnah dan kedengkian.

    Adakalanya kita musti "kebal muka" jika ada sesama muslim yang menuduh ini itu. Kita diuji dengan prasangka sesama yang memfasikkan dan mengata sesat tanpa pengetahuan. Allahua'lam. :)

    Mari luruskan niat menulis, mari jangan berhenti menulis. :D

    ReplyDelete
  2. Baiknya memang semua yg kita lakukan ikhlas karena Allah,,bagus skali tulisannya :)
    salam kenal ya :)

    ReplyDelete
  3. Dengan demikian, niat tidak boleh dipandang ringan, apalagi dilupakan, begitu ya, Mbak. Berangkat dari niatlah perbuatan seseorang dapat dinilai sebagai ibadah yang akan mendapatkan pahala dan ridha-Nya atau tidak. Itulah kenapa dalam fiqh niat termasuk dalam rukun yang terkait erat dengan keabsahan sebuah ibadah.

    Wah, postingan yang penting nih, Mbak. Makasih banyak ya....

    ReplyDelete