Friday, April 6, 2012

Book Review #17 : 99 Cahaya di Langit Eropa

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kata Islam dan Eropa? Mungkin tipis hubungannya mengingat Islam bukanlah agama mayoritas di sana. Pada kenyataannya, Islam pernah menorehkan sejarah tinta emas peradaban beberapa abad yang lampau melalui ilmu pengetahuan yang berkembang begitu pesatnya saat Eropa sendiri sedang mengalami Abad Kegelapan atau biasa disebut Abad Pertengahan. Siapa yang tak kenal  Ibnu Rusyd atau Averroes, filsuf terkenal asal Cordoba yang disebut sebagai Bapak Renaissance Eropa, sosok yang memperkenalkan the double truth doctrine (dua kebenaran yang tak terpisahkan antara agama dan ilmu pengetahuan atau sains) atau Ibnu Sina melalui kitabnya Al Qanun Fit Thibb (Canon of Medicine) yang disebut-sebut sebagai Ensiklopedia Kedokteran.

Berpetualanglah bersama Hanum Rais dan Rangga Almahendra, sepasang suami istri yang mencoba menelusuri jejak-jejak peradaban Islam di Eropa. Petualangan dimulai dari Wina, ibukota Austria, tempat Rangga menempuh program studi doktoralnya selama tiga tahun. Wina adalah kota terakhir yang menjadi saksi kegagalan pasukan Islam Ottoman Turki menyerbu Wina. Tahun 1683, saat Kara Mustafa Pasha memimpin agresi militer terakhirnya sekaligus tahun terakhirnya hidup di dunia.

Buku setebal 392 halaman ini dibagi menjadi empat bagian : bagian yang menceritakan Wina, Paris, Cordoba dan Granada serta Istanbul.Di kota Wina, Hanum dan Rangga berkenalan dengan seorang muslimah turki bernama Fatma. Muslimah yang mengajarkan bahwa seorang muslim haruslah menjadi seorang agen Islam yang baik, Islam yang rahmatan lil alamin. Alih-alih membalas olok-olok para pemuda setempat yang menyebut roti croissant sebagai simbol kekalahan Turki, ia mentraktir mereka bir dan meninggalkan secarik kertas bertuliskan : Hi, I am Fatma, a Muslim from Turkey dan alamat emailnya membuat para pemuda tersebut malu dan mengirimkan email permohonan maaf.

Sungguh tak jemu membaca buku ini. Dituturkan dengan bahasa yang ringan, bernas dan cerdas pembaca seperti hanyut dalam perjalanan penulis. Perjalanan yang tak semata fisik tetapi juga spiritual. Lalu, ya, mungkin sedikit dari kita yang pernah mendengar tentang sejarah gemilang Islam di Eropa. Salah satu jejaknya tertinggal di Mezquita, masjid megah yang kini dijadikan sebagai Gereja Katedral. Ada juga Istana Alhambra, istana termahsyur di kota Granada yang merupakan salah satu Unesco World Heritage Site. Negara Turki juga tak kalah memesona dengan Hagia Sophia, bangunan yang pernah menjadi gereja, masjid dan kini berfungsi sebagai museum.

Buku ini ditutup dengan sebuah epilog yang memukau. Semua perjalanan yang dialami penulis membawanya menuju titik nol. Ka’bah, terminal terakhirnya. Pergi dan kembali hanya untuk-Nya.

A must-read book!
Hagia Sophia

*semoga suatu saat bisa ke tempat-tempat yang diceritakan di buku ini, aamiin*
Mezquita

Alhambra


4 comments:

  1. wah...wah..
    sangat menikmati review nya..
    satu kata SUKSES..., ya sukses mereview sebuah buku

    ReplyDelete
  2. Reviewnya lengkap banget. Mengupas tentang Islam di Eropa, aku belum membaca, recommendd nih :)
    terima kasih :)

    ReplyDelete
  3. whaa.. momon, super sekali blognya.. ud banyak isine,,. mantaappp

    ReplyDelete