Thursday, April 5, 2012

Seperti Cinta Pertama


Waktu kelas tiga, kalau tak salah ingat, untuk pertama kalinya saya merasakan antusiasme yang begitu besar terhadap sesuatu. Seperti orang jatuh cinta rasanya (ah, kayak saya pernah merasakan saja hehe). Jatuh cintanya bukan sama anak laki-laki sebaya tetapi saya jatuh cinta sama buku. Iya, buku. Buku pertama yang saya punya berjudul Seri Tokoh Dunia : Napoleon Bonaparte dan Sidharta Gautama yang sampai sekarang masih tersimpan rapi di rumah. Hadiah dari Om Win, adik ketiga Papa. Harganya saya masih ingat benar : Rp3.900,00 per buah (sekarang harganya sudah mencapai Rp24.000,00). Dalam waktu sehari saya langsung tuntas membacanya.

Kedua buku itulah yang menjadi awal kecintaan saya membaca. Semenjak itu semangat baca saya tinggi sekali. Tiap hari saya tak pernah absen baca koran (Suara Merdeka) sepulang sekolah. Buku pelajaran juga rajin saya baca loh (waktu SD hehe). Setiap minggunya saya menunggu dengan tak sabar kedatangan majalah Bobo di rumah. Kebahagiaan yang sederhana.

Saya langganan Bobo dari harganya Rp1.500,00 hingga harganya Rp7.500,00 (entah kapan itu, kalau tak salah ingat dari kelas tiga SD sampai SMP, setelah itu sudah tak langganan tapi kadang-kadang beli). Majalah Bobo itu tak terlupakan. Mulai dari cerpen-dongeng yang ada (ah siapa yang tak kenal Bobo sekeluarga, Husin, Paman Kikuk, Nirmala, Oki, Bona dan Rong-rong?), rubrik Boleh Tahu seputar pengetahuan-pengetahuan menarik, ulasan menarik seputar negeriku (Tanah Airku) dan artikel-artikel lainnya. Bahkan hingga sekarang (usia hampir dua puluh tiga) saya masih ingat persis alur cerita pendek  atau dongeng yang berkesan dan nama penulis yang sering wira-wiri saat itu : Ny. Widya Suwarna, Kemala P, Pipiet Senja. Rubrik ‘Untuk Latihan Di Rumah’ juga membantu untuk lebih memahami pelajaran. Entah ini kebetulan atau tidak, waktu SD tak pernah lepas dari sepuluh besar *saya merasa ini ada hubungannya dengan majalah Bobo yang memberikan banyak hal kepada pembacanya. Heu. 

Bisa dibilang Bobo mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan masa kecil saya *seriously. Seorang anak dengan ibu bekerja (sebagai PNS yang pulang sore) dan tinggal bersama Eyang (waktu SD saya tinggal bersama Eyang dan hanya tinggal bersama orang tua saat Sabtu-Minggu). Bobo membuat kecintaan saya akan membaca semakin besar, sampai sekarang.

Melihat majalah Bobo tergeletak di kamar adik sepupu saja membuat saya seperti menemukan suatu kenangan yang indah, membacanya tak henti sampai habis. Bobo juga membuat saya mempunyai sahabat pena (hingga sekarang masih berhubungan loh melalui dunia maya). Saya juga masih ingat betapa gembiranya saat mendapatkan hadiah tas bobo  lantaran menang TTS. Haha. Rasa-rasanya sedih dan tak rela saat Mama meloakkan sebagian koleksi majalah Bobo (lantaran ruang penyimpanan di rumah yang tak terlalu besar). 

Ah, nanti kalau saya punya anak, saya mau membacakannya majalah Bobo ah (sekalian baca lagi :D)... Bobo itu tak terlupakan, pantas saja ia seperti tak lekang oleh zaman. Semenjak terbit pertama kali tanggal 14 April 1973 hingga sekarang, Bobo masih tetap eksis dan menjadi majalah anak-anak nomor satu. Selamat Ulang Tahun dan sukses selalu, Bo! :)

*Bukan postingan berbayar, ingin menyampaian surat pembaca tapi kok ya umur sudah tak pantas haha*

4 comments:

  1. Waaaaaaaah.. Iya majalah Bobo kesukaan saya waktu kecil itu. ^^

    ReplyDelete
  2. hmmm.....
    kalo aq biasanya baca komik....
    :)

    ReplyDelete
  3. dulu majalah bobo itu bagus2,skrg mah udh gede y gk suka lg,

    ReplyDelete
  4. iya.. dulu keknya suka banget majalah bobo mon...
    manteup-manteup ceritanya... aq baru nyadar lho kalo penulis-penulis terkenal banyak yang nulis ke bobo...

    ReplyDelete