Sunday, May 20, 2012

Aku, Kau dan Pertanyaanku


Aku tahu kau lelah dengan pertanyaan-pertanyaanku tapi biarkanlah aku menanyaimu lagi dan lagi, kau tahu aku begitu peduli padamu sehingga aku tak bisan bertanya… Sampai nanti kau menyergahku dan menyuruhku diam saja bagai brankas besarmu yang kau kunci rapat-rapat dengan segala kode…

Aku tahu kau masih mau mendengarkanku karena setiap kali diam-diam saldomu bertambah kau memperbanyak sedekahmu, pikirmu setidaknya ada penawar dari harta tangan-tangan kecil tak berayah yang membuat rumahmu semakin megah…

Kemejamu berbekas gincu murahan perempuan yang bahkan tak kau tahu siapa namanya tetapi tetap saja istrimu masih dengan setia mencuci nodanya, tak pernah luput ia mendoakanmu dalam sujud panjang dan derai air mata, berharap kau kembali menjadi laki-laki sama seperti yang dinikahinya lima belas tahun yang lalu…

Laki-laki lugu dari desa yang tak kenal gemerlap ibukota, laki-laki pekerja keras yang menyayangi keluarga, laki-laki yang lebih memilih miskin daripada memakan harta yang tak kau tahu asalnya, laki-laki yang telah menempelkan dahi pada dinginnya lantai jauh sebelum azan subuh bergema…
Kemana laki-laki itu? tanyaku. Kau diam, kau tak ingin menjawabnya bukan? Karena kau mulai muak denganku. Muak dengan semua pertanyaanku. Gelarku haji, katamu. Aku tahu Tuhanku Maha Pengampun…

Aih, kurang banyak apa lagi hartamu, kurang cantik dan solehah apa lagi istrimu, anakmu tiga dan masih menganggapmu ayah paling bijak sedunia, orang-orang menganggapmu sosok yang pantas untuk didengarkan tapi apakah kau masih mau mendengarku? Sebelum Tuhan menyingkap sedikit saja aibmu, kataku. Dengarkan aku, pintaku, masih mencari sisa-sisa jejakku di hatimu…

Gedung-gedung tinggi nan angkuh, mobil-mobil yang harganya lebih mahal dari rumahmu, wanita-wanita aduhai ramai berlenggak-lenggok, itukah yang kau cari? Ibukota telah menyilaukanmu sekaligus mengeraskan hatimu, menyudutkanku ke sudut terpojok…

Sudah lima hari kau terkapar tak berdaya, ranjang paling mewah di rumah sakit terbesar, istrimu masih setia mendampingimu, anak-anakmu tak mau kalah tentu saja. Dokter mengatakan kau terkena penyakit komplikasi, mulai dari stroke hingga penyakit gula, apa saja. Kau hanya bisa mengangguk, berjanji setengah mati kalau kau bisa sedikit saja memiliki daya kau akan mengubah dirimu…
Kali ini bukan rumah berlantai tiga yang bagaikan istana, bukan lagi hingar bingar Jakarta. Kau kembali, ke tempat darimana kau bermula. Desa di kaki gunung . Menghabiskan hari tua. Mengajak istrimu ikut serta. Katamu, kau mau menjadi seperti yang dulu, laki-laki yang lebih takut Tuhannya dibanding apa saja, kau ingin mati di tempat ini bersimpuh menghamba.. 

Kau masih mau mendengarkanku rupanya…


---

ditulis di atas bus yang melaju menuju ibukota 
tantangan seorang teman untuk menulis dengan tema Izinkan Aku Mati do Kaki Gunung dalam waktu 24 jam..

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete