Thursday, May 10, 2012

Ani Telah Mati

Pandangan matanya tegak lurus menatap area persawahan dari balik jendela kamar. Air matanya pelan-pelan membasahi pipi gadis berkulit kuning langsat ini. Seharusnya ia berbahagia, tiga minggu lagi ia akan menjadi pengantin. Menggelar pesta pernikahan tiga hari tiga malam, meramaikan desa kecilnya dengan pergelaran wayang dalang terkenal dari ibukota provinsi. Seharusnya. Kalau saja laki-laki yang bersanding dengannya Agus sang pujaan hati, bukan seorang duda beranak satu sang pengusaha mebel.

“Nduk, kamu mbok ya mau ngerti keadaan orang tuamu. Bapakmu cuma petani. Utangnya banyak. Mbokmu cuma pembantu. Cuma kamu harapan simbok satu-satunya. Simbok capek jadi orang miskin seumur hidup,”

Kata-kata Simbok begitu terngiang-ngiang jelas. Seperti memantul di segala sisi kamar.
“Wis to, nanti kamu akan bahagia sama dia, kaya itu bahagia nduk,miskin itu sengsara, kayak kita sekarang ini”
“Ani sudah punya pekerjaan mbok walau cuma tukang jahit, Ani bisa membantu Simbok,”
“Wis to nduk, manut itu enak,” 

Ani menggelengkan kepalanya cepat. Menikahi orang yang tak dicintainya sama sekali bukan keinginannya. Ada Agus yang akan melamar ketika modal untuk menikah sudah mencukupi. Ia memantapkan niat. Mengemasi beberapa helai pakaian dan memasukkan ijazah SMK jurusan tata busana yang didapatnya sebulan lalu. Tak lupa ia meletakkan sepucuk surat untuk Simbok dan Bapak. Pelan-pelan dipanjatnya jendela, tanah depan rumah rumah becek sehabis hujan. Secepat mungkin ia berlari menuju Budi sahabatnya yang telah menunggu dengan motor di ujung gang. Meminta Budi menginjak gas kencang-kencang. Menuju stasiun. Ke Jakarta ia akan datang. Mengejar Agus yang bekerja sebagai teknisi pabrik di kota yang katanya lebih kejam dari ibu tiri. Mengejar mimpi-mimpinya…

---

Ani membuka matanya. Matahari pagi mulai memancarkan sina hangat. Sawah-sawah hijau di desanya telah berganti menjadi gedung tinggi nan angkuh. Selamat datang di ibukota. Dibacanya kertas kecil yang menunjukkan alamat pabrik tempat Agus bekerja sambil mengangguk-angguk. Dari stasiun Senen sekali naik mobil angkutan berwarna biru, turun di daerah bernama Pulo Gadung, kata Budi yang pernah bekerja di Jakarta. 

Tak susah pikirnya. Tahu-tahu ia sudah berada di daerah yang digambarkan Budi.
“Permisi Pak, tahu alamat ini?” Ani mengangsurkan kertasnya
“Oh, situ mbak.. Jalan ini lurus saja sampai mentok terus belok kiri, nah nanti mbak lurus saja sampai ada perempatan belok kanan. Di ujung jalan itu ada pabrik plastik gede. Itu mbak,”

Lurus, kiri, perempatan belok kanan. Ani berdecak melihat pabrik besar di depannya. Ia meraih ponsel bututnya dan memencet nomor Agus dengan tak sabar. Ini akan menjadi kejutan.
“Aniiiii, ngapain di sini?”
“Ani nggak tahan Mas, tiap hari Ani nunggu Mas datang menjemput tapi Mas nggak dateng-dateng. Ani sudah nggak betah sekali di rumah diam menunggu,”
Agus menghela napas. Ia menarik tangan Ani dan membawanya menuju kursi kayu di bawah pohon.
“Mas, Ani ingin segera menikah dengan Mas, tinggal di kota ini, biar miskin nggak apa-apa asal Ani nggak pisah sama Mas,”
“Ani, Mas minta maaf kamu sampai menyusul mas seorang diri. Mas harus jujur. Ani, sebenarnya Mas…”
Agus tak melanjutkan kata-katanya. Lidahnya kelu.
“Kenapa Mas? Ngomong saja Mas,”
“Mas….”
Dengan terbata-bata Agus bercerita. Tentang ia yang tak bisa menjemput Ani. Lalu sambil menangis Agus bercerita tentang seorang wanita yang dua minggu yang lalu dinikahinya lantaran telah mengandung anaknya, tentang kekhilafannya menenggak meminum keras sehingga ia tak sadar apa yang dilakukannya, tentang… Ani tak sanggup mendengar perkataan Agus lebih panjang lagi, air mata tumpah ruah membasahi blus krem yang dikenakannya.
Ia berlari. Tak tentu arah. Mencegat metromini sekenanya. Pokoknya ia ingin enyah dari hadapan Agus. Ia teramat membenci sebuah pengkhianatan. 

---

Mata Ani masih sembab saat bus berhenti di terminal. Ia memutuskan turun dan mencari tempat duduk. Untuk sekadar menenangkan diri.
“Butuh minum Mbak?”
Ani menoleh. Sesosok pria berkumis tipis mengangsurkan sebotol teh kepadanya. Ia menggeleng.
“Nggak usah pak,”
“Nggak papa mbak, kalau dari logatnya mbak dari jawa tengah kan, saya juga mbak, ya anggep saja ini minuman dari sodara jauh,”
Air teh perlahan-lahan membasahi kerongkongan Ani yang kering setelah menangis. Pandangan matanya perlahan-lahan kabur dan ia merasakan tubuhnya mendadak lunglai.
---
Ani tergeragap. Ia mengedarkan pandangannya sekeliling dengan nafas yang memburu cepat. Sekelilingnya kantong-kantong semen dan peralatan pabrik. Ia menggerakkan badan. Tangannya terikat. 

“Wah sudah bangun rupanya cantik.. Sudah siap melayani Om rupanya,”

Keringat dingin menjalari sekujur tubuh Ani. Si pria berkumis tipis yang tadi memberinya minum berdiri di samping seorang laki-laki gendut berkepala botak dengan pandangan liar ke arahnya.
“Silahkan Om, kayaknya masih perawan,”
Laki-laki gendut itu terkekeh. Ia memberi isyarat dengan tangannya menyuruh si pria berkumis untuk pergi.
“Kamu cantik sekali, siapa namamu?”

Ani meludahi wajah laki-laki di depannya. Laki-laki itu naik pitam. Ia mulai menggerayangi tubuh Ani dan merobek pakaiannya dengan paksa. Ani menggigit tangan laki-laki itu dengan keras. Kakinya menendang bagian vital sang laki-laki. Laki-laki itu mengaduh kesakitan. Kecil-kecil begini Ani pernah belajar karate. Ia bangkit dan beruntung ia menemukan pisau kecil di atas meja. Ikatan terlepas, Ani berlari sekencang-kencangnya.

---

Terseok-seok Ani berjalan menelusuri jalanan yang tak dikenalnya. Sudah cukup jauh jaraknya dari tempat mengerikan tadi. Pakaiannya sedikit robek lantaran kejadian barusan. Ia menangis terisak, mengapa ia begitu malang. Tas ranselnya entah kemana padahal di sana lah semua barang berharganya, uang dan telepon genggam. Ia merogoh saku celananya dan menemukan selembar uang dua puluh ribu. Satu-satunya uang yang ia punya. Sekarang ia hendak kemana sendirian di kota yang asing. Kepalanya begitu berat memikirkan kejadian yang bertubi-tubi.

“Hei kamu, punya mata dipakai dong, untung saya nggak nabrak kamu,”
Ani mendongak. Seorang laki-laki berdiri menudingnya. Ia tak sadar menyeberangi jalan tanpa melihat kiri kanan. Bahkan ia tak mendengar suara mobil yang menuju ke arahnya. Pikirannya kosong.
“Maaf.. “ Hanya itu yang bisa terlontar dari mulutnya.
“Maaf maaf..”
“Sudah-sudah Pak Yatno,” 

Kali ini seorang wanita. Modis sekali penampilannya. Rambutnya disasak tinggi dan pakaiannya mirip artis di televisi. Wajahnya cantik dan ia tersenyum kepada Ani,

“Sepertinya mbak sedang linglung. Ikut saya saja mbak nanti saya kasih pekerjaan,”

Seperti terhipnotis Ani mengikuti sang wanita memasuki mobilnya. Mobil mewah berwarna hitam itu memasuki halaman sebuah rumah. Halaman yang teramat luas. Rumah brtingkat tiga yang amat megah. Ani mengikuti langkah wanita di depannya seperti kerbau yang dicocok hidungnya.
“Duduk dulu di kursi itu lalu mandilah, di ujung ruangan ada kamar mandi,”
Perempuan itu mengambil sebuah pakaian dan mengulurkannya ke Ani.
“Pakailah,”
“Apa ini?”Ani terbelalak melihat baju yang dipegangnya, baju pesta yang minim
“Sudah pakai saja dulu,”

Lagi-lagi seperti terhipnotis Ani mengikuti perkataannya. Sekarang ia telah berdiri dengan gaun ungu yang menonjolkan tubuhnya.
“Hahaha, tak salah saya mengajakmu ke sini. Kamu memang cantik sekali. Kamu pasti akan menjadi primadona”
Perempuang itu mencerocos begitu saja. Tentang rumah itu, tentang profesinya.
“Tenang saja, kamu akan saya bayar mahal di sini. Kamu akan mendapatkan semuanya Ani,”
Ani terkesiap.
“Nggak tante, saya nggak mau, begini-begini saya takut dosa tante,”
“Ah dosa apa.. Tuhan itu sudah meninggalkanmu, buktinya kamu hampir diperkosa orang bukan tadi? Sudahlah, hidup di dunia ini sekali.. Nikmati saja,”

Ani mencerna kata-kata perempuan itu. Apakah Tuhan benar-benar meninggalkannya? Kemalangan datang bertubi-tubi kepadanya.
“Lagipula Tuhan itu Maha Pengampun Ani, nanti kalau sudah tua kau tinggal tobat,”

Potongan demi potongan kejadian melintas bergantian di kepala Ani. Perjodohannya, kepergiannya ke Jakarta, pengkhianatan Agus hingga ia yang nyaris diperkosa. Ia tak mungkin kembali ke desanya, simbok pasti mengusirnya lantaran telah membuat malu keluarga, Agus telah meninggalkannya. Ia sendiri dan tak punya siapa-siapa. Tak punya apa-apa.

“Bagaimana? Sepuluh juta untuk keperawananmu cukup kan?” Perempuan itu mengerling.

Aku tak punya pilihan lain, Ani berkata kepada dirinya sendiri. Ia memasuki kamar besar dan tak lama kemudian seorang laki-laki memasuki kamar itu. Menutup pintunya dan mulai melakukan keinginannya. Ani membiarkannya. Ia tertidur dan tahu-tahu ia bangun berselimut saja. Laki-laki itu sudah tak ada. Segepok uang bertuliskan sepuluh juta rupiah berada di sampingnya. Ani menyeringai memandangnya. Ia sudah lupa sholatnya, ia sudah lupa ayat-ayat  yang pernah dibacanya, ia sudah lupa nasihat yang sering didengarnya dari pengeras suara masjid kecil di desanya. Hari itu ia memilih mati. Mematikan diri.

---

 "Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk," (terjemahan Q.S. Al Isra : 32)

---
Belajar menulis cerpen. Tantangan menulis duamingguan dari Kelompok Menulis Ceria yang kali ini temanya "Hari ini Aku (Sedang) Mati",

9 comments:

  1. hei, ini keren. Ceritanya sederhana, tp sy suka penuturannya. Sya baca habis dlam skjap, pdhal dah lama sy mningglkn kesukaan bca cerpen. Ckckcckk..

    Sklian ikut kontes buat cerpen punya bloof, mon.

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasi komennya mbak ^^
      meluncur ke situs bloof :D

      Delete
  2. Kasian banget si Ani, karena keadaan dia jual semuanya.. :(

    cerpennye keren euy, ngalir dan mudah dicerna, sukses ye mba yu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. lagi belajar nulis cerpen Nay.. kritik sarannya ditunggu yang mpok :D

      Delete
  3. endingnya tragis :(
    Tapi inilah yg dicari pembaca

    Yg dimaksud mematikan dirinya sendiri itu bagaimana? Bunuh diri atau hanya berubah derastis?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maksudnya mematikan diri di sinin yakni hati manusia yg telah mati atau 'dimatikan' oleh manusianya dengan memilih jalan yg tak seharusnya :(

      makasih komenna ya mbak, salam kenal :)

      Delete
  4. hwaaaaaaaaaaaaaa aniii. real sekali, mbak monik. masya Allah, apa yang bisa aku lakukan untuk para ani? :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mulki.. kadang aku mikir.. sebelum aku menge-judge org ys salah di mataku apa iya aku tau alesan apa dibalik tindakannya serta mau memahami.. Ah, apa yg udah aku lakuin utk umat :(

      Delete
    2. humm.. aku tetap berfikir salah adalah salah (utk hal2 maksiat). kecuali mmg belum tau hal itu tidak boleh. walopun memang tidak ada orang jahat sejahat2nya dan tidak ada orang tanpa kesalahan setanpa2nya :D

      Delete