Monday, May 28, 2012

The Deadliner


Penyebutan ‘The Deadliner’ (sepertinya dalam bahsa Inggris tak ada istilah ini) mungkin merujuk pada seseorang yang suka menunda-nunda untuk melakukan pekerjaan hingga detik-detik terakhir tenggat waktu atas suatu hal. Contohnya, saya *tarik nafas panjang*, tercatat setidaknya tiga kali saya mengumpulkan tulisan untuk diikutsertakan dalam lomba menulis hingga detik-detik terakhir. Kalau deadline tanggal XX pukul 23.00 misalnya, saya baru mengumpulkan pukul 22.00. Ditulis sejam sebelumnya. Padahal jelas-jelas sudah tahu tentang lomba itu beberapa minggu sebelumnya. Pernah bahkan ketika hendak membuat tulisan di menit-menit terakhir lalu ketiduran, gagal deh. Contoh lain dari ‘The Deadliner’ adalah orang yang suka melakukan SKS (Sistem Kebut Semalam) untuk ujian keesokan harinya. Beda-beda tipis dengan ‘The Deadliner’ adalah ‘The Procrastinator’ yakni orang yang suka menunda-nunda melakukan suatu hal yang tidak ada atau tidak ia ketahui batas waktu terakhirnya. Perbedaan di antara mereka adalah pada deadline. Persamaan keduanya adalah mereka tidak bersegera.

Apa kira-kira yang menyebabkan munculnya ‘The Deadliner’ atau ‘The Procrastinator’?
1.    Malas
Jelas rasa malas yang menyerang (dan tak diserang balik) adalah faktor terbesar dari kebiasaan menunda-nunda.
2.    Kurang kesadaran
Kurangnya kesadaran akan betapa berharganya waktu. Akan terasa misalnya pada orang yang tertinggal kereta yang melaju beberapa detik sebelumnya.
3.    Kurang motivasi
Motivasi dapat berasal dari dalam dan luar diri seseorang. Motivasi terbesar berasal dari dalam diri. Bisa jadi pekerjaan yang ditunda-tunda itu adalah pekerjaan yang tak disukainya, tak dikuasainya atau dirasanya kurang penting.
4.    Sudah menjadi kebiasaan
Sekali menunda-nunda seseorang akan memiliki kecenderungan melakukan hal yang sama di masa yang akan datang. Lambat laun akan menjelma menjadi sebuah kebiasaan yang susah dihilangkan. Bisa jadi malah merasa aneh jika melakukan suatu hal saat belum dekat dengan batas waktu akhir.

Padahal tentu saja menunda-nunda suatu pekerjaan memiliki beberapa dampak negatif seperti :
1.    Tak tenang dalam menyelesaikan pekerjaan
Pekerjaan yang dilakukan dalam waktu singkat akan menyebabkan seseorang melakukannya secara terburu-buru dan gelisah lantaran takut akan tak cukupnya waktu yang ia miliki.
2.    Kurangnya persiapan dalam melakukan suatu pekerjaan
Seharusnya ia bisa memulai melakukan suatu pekerjaan dari jauh-jauh hari tetapi ia memulainya mepet dengan deadline. Alhasil ia hanya mempunyai waktu yang relatif terbatas dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut.
3.    Tak mencapai hasil yang maksimal
Kalau saja persiapan yang dilakukan lebih baik, lebih besar peluang akan memperoleh hasil yang lebih memuaskan.
4.    Menambah kemalasan lagi dan lagi
Sikap menunda-nunda salah satuna disebabkan oleh rasa malas dan akan menghasilkan rasa malas yang bertambah. Menumpuk dan menumpuk.
5.    Risiko gagal terselesaikan tinggi
Pada saat waktu mepet untuk melakukan sesuatu, tak menutup kemungkinan muncul hal-hal pengganggu di waktu itu. Sudah SKS-an buat ujian keesokan harinya, sakit perut misalnya sehingga gagal untuk belajar atau seperti yang saya ceritakan di atas, gagal mengumpulkan tulisan lantaran ketiduran di menit-menit terakhir.

Nah, kalau sudah menyadari hal-hal tak enak dari menunda-nunda, berikut tips-tips agar menghilangkan kebiasaan menunda-nunda.
1.    Bayangkan dampak tak enaknya
Saya yakin sekali bahwa orang yang memiliki kebiasaan menunda-nunda pasti pernah mengalami ‘kualat’ atau ‘ketanggor’ kalau orang Jawa bilang. Entah dalam bentuk ketiduran, mendadak sakit perut atau hal lainnya. Bayangkan jika hal itu terjadi lagi, tentu tak enak rasanya.
2.    Memulai adalah setengah dari menyelesaikan pekerjaan
Yakini dengan sepenuh hati bahwa memulai suatu pekerjaan adalah setengah dari menyelesaikannya. Hal yang terberat dari suatu pekerjaan tak dipungkiri adalah memulainya. Pokoknya mulai dulu, entah nanti bagaimana prosesnya, mulai saja dengan tak lupa mengucap bismillah.
3.    Buat target
Target membantu kita untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Pokoknya harus selesai tanggak sekian, beberapa hari sebelum deadline misalnya. Atau untuk menghilangkan banyak alasan tak menulis, membuat 30-day writing challenge (iya ini adalah bagian dari menghilangkan kebiasaan buruk menunda-nunda) misalnya. Hehe.
4.    Self-reward and self-punishment
Jika berhasil menyelesaikan pekerjaan sebelum batas akhir berilah diri sendiri ‘reward’ atau memberi diri sendiri ‘punishment’ jika tak berhasil menyelesaikan target. Sesuaikan dengan diri masing-masing tentu saja.
5.    Bayangkan besok tak ada waktu lagi
Ini agak ‘serem’ tapi bayangkan waktumu tak tersisa banyak. Pasti akan cepat-cepat menyelesaikan hal-hal yang harus diselesaikan.
gambar dari sini
Jangan menunggu sore hari untuk melakukan suatu pekerjaan yang bisa dilakukan pada pagi hari kata Nabi. Katakan ‘tidak’ untuk menunda-nunda. Lepas label ‘The Deadliner’ atau ‘The Procrastinator’. Yeah. Mari-mari :)

Bersegeralah, duhai diri…

Karena kebaikan terkadang harus dipaksakan..

---
Tulisan terakhir dari 30-day writing challenge. Bisa juga jika memaksakan diri. Hehehe.


*Reflesi sekaligus nasihat untuk diri sendiri* :)

6 comments:

  1. like this, Mon..
    dari awal sampai akhir..sebagian besar, An mengikuti jejak semangat menulismu ^___^

    semoga tak berhenti s/d di sini aja, yaa

    ReplyDelete
  2. Aku juga pernah terjebak dengan sikap menunda-nunda. Dan pada akhirnya dihadapkan dengan kejadian yang alhamdulillah mengubah sedikit demi sedikit kebiasaan itu.. Sungguh, menunda-nunda kan menyeret kita dalam kerugian..

    ReplyDelete
  3. Boleh nih tipsnya.
    Kadang aku suka kepengen ngerjainnya duluan, tapi ide kadang baru datang menjelang deadline hehe :D

    ReplyDelete
  4. tapi kak, entah kenapa kalo mepet waktunya selalu lebih bersemangat hehe, selalu ada dorongan dari 'the power of kepepet' hehehe

    ReplyDelete
  5. Ini yang nulis mantan (semoga) deadliner.. semangat semuahhh :D

    ReplyDelete
  6. Jadi inget waktu kuliah. Sering dimarahin ma dosen killer gara-gara telat nyerahin tugas. "Kalian ini kenapa suka mengulur2 tugas. Mending kalau kualitasnya lebih bagus. Semakin mengulur waktu, ternyata hasil tugas kalian sama-sama memprihatinkan." Begitu ujar bu dosen. Ternyata banyak yg mengamini perkataannya ini, termasuk adik saya :)

    ReplyDelete