Wednesday, May 2, 2012

Hanya Untuk Lulus


Dulu waktu saya bersekolah di SMA, SMA 3 Semarang, saya masuk jurusan IPA tapi tak terlalu tertarik dengan IPA. Orang bilang kalau masuk jurusan IPA itu nanti bisa masuk kuliah jurusan apa saja, tak seperti jurusan IPS atau bahasa yang pilihannya terbatas. Nilai minimal untuk masuk jurusan IPA adalah 70 per mata pelajaran untuk empat mata pelajaran : Matematika, Fisika, Kimia, Biologi.  Untuk saya yang tak suka (dan tentu tak pandai) ilmu eksak, susah payah meraih poin 292 pada rapor semester dua kelas sepuluh. Mepet sekali bukan?

Hasilnya jangan ditebak,  tertatih-tatih saya menjalani kehidupan kelas dua SMA. Hampir dipastikan saya remidi setiap ujian ilmu eksak, entah UTS atau UAS. Untuk melewati remidi saja (batas remidi minimal 70) adalah suatu prestasi. Yang pertama saya tak suka Matematika dan IPA, lantaran tak tertarik itulah saya malas belajar. Belajar mepet ujian. Menggunakan dopping latihan-latihan soal dari guru privat yang didatangkan Mama tapi tetap saja hasilnya pas-pasan. Pelajaran yang paling saya suka di SMA adalah Bahasa Inggris, kebetulan dulu ikut ekstrakurikuler English Conversation Club dan sering ikut lomba saat SMA. Kenakalan saya saat SMA adalah ‘menggunakan surat sakti izin meninggalkan kelas untuk persiapan lomba padahal nongkrong di kantin untuk sekadar kabur dari pelajaran’. Haha.

Kelas sebelas saya lalui dengan susah payah. Kelas dua belas adalah kelas perjuangan. Saya sangat takut tak lulus UAN karena merasa kemampuan Matematika pas-pasan selama kelas sepuluh dan kelas sebelas (Alhamdulillah pada waktu itu UAN cuma tiga mata pelajaran : Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris). Batas lulus adalah 4,26 ditambah ada kakak kelas sebelumnya yang tidak lulus dan mengulang kelas dua belas selama setahun membuat ketakutan saya semakin bertambah. Karena takut itulah, saya semakin mengakrabi Matematika, pokoknya saya harus lulus. Setiap pagi sehabis subuh saya langsung mengerjakan soal-soal Matematika, saya beli beberapa buku Matematika dan lahap soal-soalnya. Saat sekolah, pada waktu istirahat mengerjakan soal lagi. Pulang sekolah ikut bimbingan belajar dan juga les privat. Setelah itu mengerjakan soal sendiri lagi hingga malam hari. Tak jarang tak bisa tidur sebelum menemukan jawaban soal. Begitu terus selama setahun. 

Yang terlambat saya sadari adalah semakin saya mengakrabi Matematika, semakin saya menyukainya. Matematika begitu menarik. Saya menyesal baru pada kelas dua belas menikmati mengerjakan soal limit yang diajarkan pada kelas sebelas. Where have I been?. Usaha keras selama setahun terbayar lunas dan terasa amat manis saat nilai sepuluh tercetak di ijazah. Murni. Tanpa mencontek. Mama tertawa saat melihat ijazah saya : “Inget nggak dulu kamu pernah teriak aku benci Matematika sambil menangis saat mau ujian semester kelas dua” . Saya tersipu.

Lantaran merasakan tak enaknya melakukan sesuatu yang bukan bidang saya, saya bertekad tak mengambil jurusan kuliah IPA. Titik. Alhamdulillah mendapat kesempatan berkuliah di STAN jurusan Akuntansi Pemerintahan. Rasanya benar-benar nyamaaaaan sekali pindah dari IPA ke IPS. It feels like I belong here. Dan menekuni bidang yang memang saya sukai membuat saya belajar bukan karena paksaan atau tekanan takut lulus. Alhamdulillah lulus dengan lancar.

Berbeda dengan saya yang ‘memaksakan diri’ masuk IPA, adik perempuan saya masuk IPS (sepertinya kami memang sama-sama ‘otak IPS’). Saya tertatih-tatih saat SMA sementara adik saya ‘berjaya’. Beberapa kali ia meraih juara kelas dan memenangkan lomba. Ia sekarang kuliah di jurusan Manajemen dan yang terlebih penting ia tahu lebih awal kemana harus melangkah.

Memilih sebuah jurusan lantaran katanya jurusan itu lebih menjanjikan, memilih fakultas tertentu lantaran katanya lulusan fakultas itu gampang mendapatkan pekerjaan, memilih suatu fakultas lantaran ada prestise tersendiri jika belajar di sana, nampaknya ada semacam ‘diskriminasi ilmu’ pada masyarakat jika saya boleh menyebutnya demikian. Ada faktor lebih penting daripada pendidikan itu sendiri. Ya, saya juga pernah beranggapan demikian bukan? Sesuatu yang terlambat saya sadari…

Ah, saya hanya bertanya-tanya.. Apakah pendidikan kita memang diarahkan untuk sekadar lulus dari ujian. Jika itu yang menjadi tujuan, tak heran kita jumpai beberapa kasus seperti siswa-siswa yang beramai-ramai mendatangi makam ulama katanya agar lulus, jual beli soal ujian, contek mencontek hingga ada yang depresi bahkan bunuh diri lantaran tak lulus ujian. Miris. Pendidikan tak lagi dimaknai sebagai sebuah proses, melainkan hasil yang dimanifestasikan berupa selembar kertas. Mungkin itulah yang pernah saya alami dulu (dengan perbedaan saya tak memilih jalan pintas) : tiga tahun sekolah baru memahami pelajaran di tahun ketiga dengan tujan memperoleh hasil lulus. Hanya untuk lulus.

Selamat Hari Pendidikan Nasional. Semoga cerdas tak hanya dimaknai sebagai sebuah kemampuan mengerjakan soal ujian. Cerdas bukan hanya tentang berapa deret titel keilmuan yang berhasil disandang. Pendidikan adalah tentang ilmu dan bagaimana ilmu tersebut diaplikasikan dalam masyarakat. Rasanya sia-sia saja titel seabrek kalau kecerdasannya dipergunakan untuk korupsi.

Selamat Hari Pendidikan Nasional untuk para ibu. Guru pertama. Guru terhebat. 

Selamat Hari Pendidikan Nasional untuk para guru di seluruh dunia. Jasamu terlalu besar, hanya Tuhan yang mampu membalasnya dengan sempurna.

Selamat Hari Pendidikan!

  

10 comments:

  1. Iya mbak. Bener banget! makanya teman-temanku itu hobi banget bolos sekolah juga bolos les. katanya, "iya kalo masuk itu berpengaruh" nyatanya yang dibutuhkan guru2 itu nilai bagus, jadi mereka pikir ngapain repot-repot. Ada uang ada joki, bahkan itu teman sendiri biar nyontekin. Alhasil, ya bener nilai mereka 8, 9 semua :((

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah sedih ya klo mind-set salah dan menempuh jalan pintas juga :(

      btw slm kenal ya Wina ^^

      Delete
  2. Yang mengaku peduli pendidikan Indonesia :D
    like page ini yaa..
    https://www.facebook.com/GerakanCintaPendidikan

    tunjukkan kepedulian dengan masukan dan saran :D

    ReplyDelete
  3. Bagus banget postnya, mon...;) aku serasa flashback ke masa2 SMA saat membaca ttg pengalaman kamu. Aku juga masuk IPA, mengejar alternatif yang lebih luas, katanya.
    Iya ya.. pendidikan skrg ini orientasinya praktis banget, hanya utk lulus, cepat kerja, dsb. Segi Ilmu jadi no.2. Apalagi makna didikan. Kita di"didik" untuk menjadi terlalu realistis, if i may say so. But that's the condition in our country. Mungkin nanti, kalau di negara kita udah ga lagi pusing2 memikirkan perut, udah bisa sekolah semua, udah ga perlu khawatir besok bisa hidup atau ga... mungkin nanti makna ilmu bisa kembali dan disambut dengan tangan terbuka, sebagaimana halnya di negara2 berkembang",

    nice post, mon... a nice treat for my thoughts;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Agree with you, Nay.. mudah2an ya ilmu 'kembali' ke maknanya yg luhur..

      Thank Nay for ur appreciation :)

      Delete
  4. Sama seperti yg lu alami, gua juga dulu mati2an bela2in masuk IPA hanya gara2 gua belom tau mau kuliah apa nantinya. Eh ga taunya pas kuliah malah masuk desain, hehehe. Tapi gua sama sekali ga nyesel sih masuk IPA karena walopun gua ga jago ngitung tapi di IPA mental dan cara berpikir gua dilatih dan setelah masuk kuliah, gua jadi udah terbiasa sama yg namanya bikin makalah/laporan ;p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener Keven, aku juga ngrasain itu banget pas kuliah kuntansi udah terbiasa dgn itung2an matematika jadi berguna bgt hihi

      Delete
  5. Kok beda ya monce.. aku malah kepengen masuk IPA. Ngeliat pelajaran IPS itu rasanya mau muntah.. Banyak textbook.. iuuuhhhh..
    Ak seneng ngerjain diferensial, integral, redoks cs..
    Sekarang udah banyak lupaaa. Tapi kadangan aku sering ngutak atik trigonometri kalo lagi nganggur.. hahahaaa..

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwk.. klo sama semua ga seru kyong XD

      aku juga kadang kangen matematika, kangen akuntansi, sensasi nemu jawaban soal matematika sm kyk balance pas akuntansi hihi

      Delete
  6. Saya setuju dg kutipan ini:"Memilih sebuah jurusan lantaran katanya jurusan itu lebih menjanjikan, memilih fakultas tertentu lantaran katanya lulusan fakultas itu gampang mendapatkan pekerjaan, memilih suatu fakultas lantaran ada prestise tersendiri jika belajar di sana, nampaknya ada semacam ‘diskriminasi ilmu’ pada masyarakat jika saya boleh menyebutnya demikian." Kutipan yang jg pernah terngiang kala saya SMA.

    ReplyDelete