Monday, May 21, 2012

"Hayo Mana Senyumnya,"



Senyum bisa jadi merupakan barang yang mewah untuk kehidupan ibukota yang cenderung individualistis. Wajah-wajah tanpa senyum, datar bahkan jutek adalah hal yang biasa di kota ini. Hidup di Jakarta berbeda dengan hidup di ‘Jawa’. Termasuk saya bisa jadi. Rasa-rasanya ‘tak bisa’ menyebar senyum begitu saja. Entah kenapa. Bagi saya yang seringnya kemana-mana (masih) sendiri, memasang tampang datar (atau jutek jika kondisi kurang kondusif) adalah salah satu bentuk ‘pertahanan’. Ah ya, apakah Jakarta mengubah penduduknya menjadi skeptis dan mudah curiga? Mungkin.

Dulu saya masih sering menyebar senyum ketika lewat di suatu tempat. Lalu jarang ada yang membalas sehingga membuat saya malas dan melenggang begitu saja. Sesuatu yang terlambat saya pahami. Senyum adalah salah satu bentuk ibadah. Ibadah adalah untuk Yang Di atas. Perkara senyum saya dibalas atau tak dibalas oleh manusia, itu urusan lain. Lagipula meniatkan senyum sebagai ibadah, insya Allah pahalanya sudah dicatat. Jadi saya sekarang ‘senyum-senyum’ saja ketika lewat di suatu tempat (bukan ‘senyum-senyum’ sendiri loh ya hehe).

Hayo mana senyumnya? ^_^
gambar dari sini
Senyum adalah bahasa komunikasi nonverbal yang paling mudah dilakukan. Suatu bentuk silaturahmi. Sesuatu yang makin langka saja rasa-rasanya. Pantaslah disebutkan dalam suatu hadits bahwa silaturahmi memperluas rezeki dan memperpanjang usia1. Tak banyak rasanya orang yang rajin menyambung silaturahmi. Iya, tak memutus silaturahmi memang tetapi bersikap cuek dan tak melakukan apa-apa  adalah salah satu bentuk pembiaran yang membuat hubungan menjadi renggang atau tak hangat. Tak semua orang mau bersusah payah meluangkan uang, waktu atau tenaga untuk sekadar berkunjung ke rumah saudara. 

Ngomong-ngomong, di keluarga besar saya ada perkumpulan keluarga dengan nama Ikatan Keluarga Besar Joesoep (Joesoep adalah kakek buyut saya), kami berkumpul setiap empat bulan sekali di salah satu rumah secara bergiliran. Mulanya banyak yang hadir, senang rasanya mengenal keluarga besar. Lantas lambat laun berkurang dan berkurang malah ada yang mengusulkan pertemuan keluarga IKBJ ditiadakan saja. Duh, itu saja masih saudara sudah enggan bersilaturahmi.

Semoga kita semua termasuk golongan orang yang suka menyambung silaturahmi. Aamiin…

1.       "Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi." (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)

3 comments:

  1. :)


    *senyum selebar dua meter*

    hehehe

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete