Saturday, May 26, 2012

Jilbab : Dulu dan Sekarang (Bagian Terakhir)


Saat SMP hingga SMA, saya memandang perempuan berjilbab dengan ‘tatapan lebih’. Mereka hebat, pikir saya. Kala itu masih sedikit perempuan Muslimah yang mengenakan jilbab (saya termasuk yang belum). Jika memandang teman-teman yang telah berjilbab saya iri, damai dan tentram memandang mereka dengan busana yang menutup seluruh tubuh kecuali muka dan tangan. Perilaku mereka pun santun dan dekat dengan nilai-nilai agama. Pendek kata, teman-teman saya yang berjilbab bagi saya merupakan sebuah teladan. 

Hingga akhirnya pun saya memantapkan niat berjilbab pada saat duduk di kelas XII. Salah satu faktor pendorongnya adalah saya banyak bergaul dengan mereka.

Sekarang ini, perempuan berjilbab dapat ditemui dimana-mana. Dengan jilbab dan busana beraneka ragam dan bentuk (silahkan jika berkenan membaca tulisan Jilbab : Dulu dan Sekarang (Bagian Pertama). Bukan hal yang asing lagi dalam masyarakat. Hal yang lumrah dan biasa.

Tere Liye pernah menulis dalam sebuah status yang saya kutip dari fan page beliau :
“Saya harus memberitahu kalian, tahun 80-an, 90-an, wanita yang berkerudung/berjilbab adalah keputusan berani demi menegakkan perintah kitab suci, jumlahnya sedikit, terlihat berbeda dan bisa-bisa dalam kondisi ekstrem dianggap subversif. Tanyakan pada orang tua, kakak2 kalian yang masih mengalaminya.

Hari ini, wanita yang berkerudung/berjilbab sedang pacaran mojok di manalah, naik motor memeluk erat pasangan lawan jenis, kelayapan malam2, terlihat lumrah sekali.

Selamat malam minggu. Lupakan saja status tidak penting ini.”
Perempuan berjilbab dan tidak berjilbab sama saja sekarang kelakuannya, kata seorang teman. Perkataan yang tak asing adalah : “Percuma berjilbab, kalau kelakuannya masih nggak bagus, mending nggak berjilbab sekalian,”

Ah apa iya. Perempuan yang telah berniat baik menutupi auratnya dan melaksanakan niatnya sama dengan perempuan yang belum tergerak hatinya. Setiap kebaikan dan keburukan dicatat dengan sempurna, sekecil apapun tak ada yang sia-sia. Lalu apabila perilakunya belum baik, bukan salah jilbabnya tentu saja. Menutup aurat adalah kewajiban, tak peduli bagaimana perilaku seorang perempuan Muslimah, ia tetaplah sebuah kewajiban. 

Jilbab adalah sebuah identitas keislaman. Identitas yang membawa sebuah konsekuensi atas sikap dan perilaku agar sesuai dengan identitas itu. Ya, menjadi seorang Muslimah…

Identitas secara busana dan perbuatan…

---

Ingatkan saya sungguh untuk semua salah dan khilaf, perilaku yang kurang sesuai, saya masih harus terus dan terus belajar dan belajar menjadi seorang Muslimah yang baik...

8 comments:

  1. aamiin..
    semoga dengan berjilbab, hati dan perilaku kita tetap terjaga, ya, Mon... ^^

    *siip..keep istiqomah ^^

    ReplyDelete
  2. Sekarang itu banyak orang berpakaian tapi telanjang.
    Astaghfirullooh...

    Kalau kata guru ana sih begini: berbuat kebaikannya 1 tapi berbuat keburukannya 5. berjilbab sih iya, tapi maksiatnya lebih2 dari orang yang tidak berjilbab. berjilbabnya iya tapi bagian tubuh yang lain tercetak dengan jelas.

    Semoga antum dan muslimah2 yang lain tidak termasuk pada golongan yang berpakaian tapi telanjang. Semoga Jilbab yang digunakan bisa menjaga diri dari bermaksiat.
    Semoga Allah mengampuni dan melindungi kita semua. Ammiin.

    ReplyDelete
  3. aku suka opini Monik di akhir... emang g bsa disamakan dan disuruh "ga berjilbab sekalian"..
    wallahu alam..
    semoga kita selalu berusaha semakin baik ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. dek.. selamat ya akhirnya selesai tantangan 30 day's writing nya...
      hebat..^^
      komen untk tulisan kali ini--> menutup aurat dengan memakai kerudung dan jilbab akan menjaga muslimah untuk berhati2 dalam perilaku..

      Delete
    2. aamiin..

      mudah2an jilbab kita selalu menjaga kita :)

      Delete
  4. Melanjutkan dari bagian pertama sebelumnya, semoga muslimah-muslimah seperti itu bisa berkurang jumlahnya. Kita yang tahu, tentu memiliki kewajiban tuk membagi ilmu.. :)

    ReplyDelete