Sunday, May 6, 2012

Saputangan Ayah


Ayah selalu membawa sapu tangan dan menyisipkannya di saku celana. Kemanapun. Kapanpun. Beraneka warna saputangan. Bertuliskan ‘Versace’ di salah satu sudutnya, ‘Versace’ palsu tentu saja. Bukan Ayah yang sering memakainya tetapi ketiga anaknya. Mengelap keringat, membersihkan mulut sehabis makan, mengelap ingus, mengusap luka, menghapus air mata, apa saja, tergantung apa kejadian hari itu. Beda Ayah dengan Ibu. Ibu selalu menggunakan saputangan untuk menutup wajahnya sebelum mengenakan helm. Melindungi dari debu-debu yang bertebaran sepanjang kota Semarang. Saputangan mungkin salah satu benda paling berguna sedunia.

Aku mengambilnya satu. Saat pertama kali hidup tanpa orang tua. Saputangan berwarna putih yang sudah kusam warnanya. Kalau aku rindu rumah tinggal aku ambil ia dan ku tempelkan ke hidung lekat-lekat. Seperti tertinggal aroma khas yang enggan beranjak. Aroma ayah. Aroma rumah. Seperti ada jejak Ayah tertinggal di setiap sisi kain katun persegi. Dan melakukannya selalu membuatku nyaman. Membuatku merasa lebih baik.

Ada cerita di balik setiap saputangan yang membawa memoriku kembali ke masa kecil. Masa ketika Ayah mengusapkan sapu tangan di wajahku dengan lembut sementara aku tak malu bila ada teman yang melihatku. Sementara saat beranjak dewasa aku memilih menyimpan sapu tangan yang diberikan Ayah ketimbang membiarkannya mengusap wajahku. Aku sudah besar. Aku lupa bahwa di hati Ayah mungkin aku selalu menjadi gadis kecilnya.

Gadis kecil dengan rok merah yang suka merengek meminta duduk di depan motor lantaran ingin merasakan menjadi seorang pengendara, gadis kecil yang selalu ingin diantarnya kemana-mana, gadis kecilnya yang suka memeluknya dari belakang ketika ia mengendara, gadis kecil yang suka menggandengnya setiap kali berjalan di pusat perbelanjaan…

Usiaku hampir dua tiga. Ibu bisa dengan terang-terangan bertanya “Sudah punya calon belum?” kepadaku sementara Ayah diam saja. Kupikir ia tak memikirkannya sampai ku dengar secara tak sengaja Ayah bertanya kepada adik perempuanku,”Mbakyumu sudah punya calon belum?”. Mungkin cara Ayah mencintai dan memperhatikan berbeda. Mungkin begitulah cara lelaki mencintai. Tak banyak kata....


--------------------------------------------------------------------------------------------------------

Selamat ulang tahun Ayah yang kelima puluh empat, semua doa terbaikku untukmu, jangan banyak-banyak mengonsumsi gula, Ayah…
   
Dariku, gadis kecilmu selalu…

Untuk Ayah yang berulangtahun tepat seminggu lagi.

12 comments:

  1. Wahh...
    sangat sayang sekali ya dengan sang ayah..
    ayah juga merupakan inspirasi kita,.
    selamat ulang tahun ayah,,. :D

    ReplyDelete
  2. selamat ulang tahun buat ayahnya ya :) semoga sehat dan makin disayang putrinya.

    ReplyDelete
  3. Bapakku kemaren juga habis ultah.. :D
    Terus hari sebelumnya Ibuku yang ultah..
    :D

    Pas ditanyain mau kado apa, jawabnya malah balik nanyain *something* *if you know what i mean* *doeeeeng

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh ya selamat ulang tahun buat ayahnya Monce yaaa... Barakallah

      Delete
    2. makasih Kyong *bighug

      ywda sih cepet2 kasih m**ant* #eeaa :D

      Delete
    3. Ohya met ultah juga buat papa mama kyong
      smoga cepet dapet ******* #tetep :D

      Delete
  4. aaaaak momon, jadi bikin kangen sama rumah. aduh tapi aku gak tau kapan si bapake ulang tahun hahaha.

    ReplyDelete
    Replies
    1. masak gatau ultah bapakmu sendiri pank -_-"

      Delete
  5. jadi inget waktu abi ultah juni lalu. aaahh tidak terasa juni itu akan datang sebentar lagi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo Mulki bikin tulisan tentang Abinya.. :)

      Delete