Sunday, May 13, 2012

"Saya benar dan kamu salah,"



Mengatakan “Saya benar dan kamu salah,” adalah hal yang teramat mudah untuk dilakukan. Mau memahami apa yang ada di balik perbuatan seseorang adalah hal yang membutuhkan usaha lebih. Cara manusia memandang sesuatu dipengaruhi oleh apa yang disebut dengan persepsi. Persepsi sendiri merupakan proses penilaian seseorang atas objek tertentu yang diperolehnya melalui proses penginderaan atas stimulus1. Artinya persepsi antara satu individu dengan individu lainnya atas satu hal yang sama teramat mungkin berbeda tergantung bagaimana ia memandang sesuatu. Persepsi yang berbeda dibentuk dari latar belakang, pengalaman masa lalu dan keadaan yang dialami berbeda-beda untuk tiap-tiap individu.

Melihat vas atau melihat dua orang yang saling berhadapan?

Bergabung dengan tim debat bahasa Inggris saat SMA memperluas sudut pandang dan cara berpikir yang ‘sempit’ dengan memandang bahwa pendapat saya yang paling benar dan tidak mau memahami sudut pandang orang lain. Dalam debat (Australia style) terdapat dua tim yang mempertahankan argymen dengan sudut pandang berbeda. Affirmative team dan negative team. Tim Afirmatif sebagai tim yang mempertahankan apa yang menjadi topik adalah benar dan Tim Negatif sebagai tim yang mempertahankan bahwa topik yang dibicarakan adalah salah. 2

Dalam suatu debat seringkali berada pada tim yang mempertahankan argumen untuk mendukung topik yang bagi saya tak sesuai dengan apa yang saya yakini. But, yeah, itulah yang membuat pikiran dan sudut pandang menjadi jauh berkembang dan tak hanya melihat dari satu sisi. Misalnya saat topik debat pada waktu itu ‘THBT (This house believes that) Euthanasia should be legalized’ saya berada pada Tim Afirmatif sementara saya merasa bahwa hal itu tak seharusnya dilakukan apapun alasannya. Debat mengajarkan untuk melihat suatu hal dari berbagai sudut pandang misal sudut pandang hukum, budaya, ekonomi dsb dan yang jauh lebih penting adalah memosisikan diri bagaimana jika saya yang berada di posisi orang itu, apakah saya akan melakukan hal yang sama dengannya?

Salah satu kisah yang menarik yang saya dapat saat diklat prajab lalu adalah begini inti ceritanya  :
Ada seorang gadis bernama Marni. Ia memiliki seorang kekasih bernama Bima yang sakit dan membutuhkannya. Satu-satunya cara menuju tempat Bima pada saat itu adalah menggunakan perahu yang kebetulan dimiliki oleh Parno. Parno mau meminjami perahunya dengan syarat Marni mau menyerahkan keperawanannya. Marni menolak dan merasa sedih. Ia mengadu kepada temannya Catur tetapi Catur tidak peduli dengan hal tersebut karena tak ingin ikut campur urusan orang lain. Marni merasa putus asa dan akhirnya ia menyerahkan keperawanannya kepada Parno dan sesudahnya Parno pun meminjami perahunya. Marni pun menemui Bima. Di sana ia bercerita semuanya termasuk ‘usaha’ Marni untuk tiba di tempat Bima. Bima pun marah besar dan mengusir Marni. Marni menangis dan bercerita tentang pengusiran Bayu kepada temannya Joko. Joko pun menemui Bayu dan menghajarnya.

Pertanyaannya : a.  Menurut Anda siapakah orang yang paling baik dalam cerita tersebut?
                           b. Siapakah yang paling jahat dalam cerita tersebut?

Satu keadaan yang sama dipersepsikan secara berbeda-beda oleh tiap orang. Saat jawaban tiap-tiap kelompok dipresentasikan muncul jawaban yang berbeda-beda dari sudut pandang yang beragam. Pendapat kelompok saya misalnya meyakini bahwa dalam cerita tersebut yang paling baik adalah Bima karena dengan perbuatannya ia menyadarkan Marni bahwa ada hal-hal prinsipil yang harus dipegang teguh, dalam hal ini adalah keperawanan, tak seharusnya tujuan yang baik dilakukan dengan cara yang salah dan kami berpendapat bahwa yang paling jahat adalah Catur karena dengan perbuatannya ia membiarkan Marni sementara ia memiliki kekuatan untuk mencegah hal itu terjadi tetapi ia memilih tak peduli.

Berbeda dengan kami, ada sebuah tim yang meyakini bahwa Marni yang paling baik dalam cerita tersebut karena ia tulus berkorban untuk orang yang dicintainya sementara mereka berpendapat bahwa yang paling jahat adalah Bima karena sama sekali tidak menghargai pengorbanan yang dilakukan oleh Marni. See? Betapa satu hal yang sama bisa dipersepsikan secara berbeda jauh oleh tiap-tiap orang tergantung bagaimana ia memandangnya.

Mengutip perkataan salah satu novel paling terkenal sepanjang zaman ‘To kill a mocking bird’:
“Kau tidak akan pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat segala sesuatu dari sudut pandangnya… hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya”
Kita bisa menggenggam erat dan menggigit dengan geraham sesuatu hal tetapi orang lain bisa jadi melakukan hal yang sama atas hal yang berbeda. Alangkah indahnya kalau tiap-tiap orang mau saling mendengar, mau saling memahami dan tak begitu saja menghakimi. Saling menghargai perbedaan yang ada…

“Even God postpones his judgement until the day of judgement” (salah satu quote yang pernah saya baca)


Disclaimer : di sini saya berbicara tentang perbedaan pandangan secara umum.. bukan dalam konteks kemaksiatan atau liberalisme beragama... Jika dalam kebebasan berpendapat ala JIL yang mengacak-acak agama Islam tidak ada kompromi bagi saya.. Pertanyaan silahkan ditulis di kolom komentar.. :)

Wallahu a'lam bisshowwab

 Catatan kaki :
1. Disarikan dari sini
2. www.actdu.org.au


11 comments:

  1. saya juga males jika dihadapin berdebat dengan teman2 yg berpikiran liberalis, mon..
    okee..keep semangat menuliss, yaa//

    ^^ www.aniamaharani.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. Kita dikasih 2 telinga dan satu mulut, itu tandanya kita harus lebih banyak mendengar daripada berbicara ;p

    ReplyDelete
  3. Kita perlu selalu membawa filter akidah dalam menghadapi segala sesuatu, Neng..

    Jerat-jerat Iblis pada kaum "bodoh" cukup dengan pancingan syahwat seperti dugem, khamr, zina, dll.

    Nah, Jerat iblis pada orang-orang "pintar" itu menyelinap melalui pemikiran (filsafati).

    {Dalam suatu debat seringkali berada pada tim yang mempertahankan argumen untuk mendukung topik yang bagi saya tak sesuai dengan apa yang saya yakini. But, yeah, itulah yang membuat pikiran dan sudut pandang menjadi jauh berkembang dan tak hanya melihat dari satu sisi.}

    Saya khawatir kita kemudian terbiasa bersikap permisif soal hal-hal yang prinsip (umum-duniawi) dan kemudian kita terbiasa melakukan sikap itu ke ranah akidah.

    Di sinilah bahaya latennya sehingga di dunia ini kemudian muncul muslim-muslim liberal (seperti yang disebutkan Mbak Maharani di atas) yang merancukan prinsip tauhid dengan filsafat (ketuhanan). Padahal agama itu beda dengan filsafat.

    Sikap permisif dan menghindari konflik bukanlah sikap akhlaqul karimah. Buktinya, dalam mempertahankan primordialisme akidah, Rasulullah saw sampai rela berdarah-darah dalam beberapa perang.

    Itu sebabnya, dikatakan tauhid itu diturunkan Allah untuk menjernihkan akal manusia sehingga bisa mendeteksi hal-hal yang samar di wilayah "perbatasan" (twilight-zone) :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dalam akhir postingan sudah saya tulis Mas bahwa yang saya maksud perbedaan persepsi di sini adalah secara umum, kalau berhubungan dengan agama memang ada garis tegas mutlak, terutama berhubungan dengan kaum liberalis tak ada kompromi dgn mereka bagi saya.. :)

      Menghargai pendapat bukan berarti membenarkan loh mas :D

      Delete
    2. Yups..setuju. Tentu yang dimaksud di komentar saya bukanlah bantahan atas sikap menghargai perbedaan sebab Allah sendiri menyukai dan berkehendak adanya perbedaan itu di antara manusia. :)

      Saya yakin, kita semua di sini berbeda dengan kaum JIL yang melampaui batas dalam hal menghargai perbedaan.. bahkan sebenarnya mereka itu justru tak sadar sedang "memaksakan persamaan untuk menghapus sunatullah perbedaan" :) Dan Allah tidak suka pada orang yang melampaui batas. :)

      Delete
  4. bagus mon, eh, tp bisa jelek juga sih, bisa liberal juga, mencerahkan, atau menyesatkan.
    tergantung persepsi sih. :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Siip, Kak Muxlimo dan Momon.. Memang butuh perjuangan untuk menjunjung nilai kebenaran; mempertahankan pendapat dengan cara yg akhsan ^^

      Delete
    2. walah aku kok dadi wedi ya jik... ntar aku tambahin keterangan di bawahnya..

      Delete
  5. bagus mon, eh, tp bisa jelek juga sih, bisa liberal juga, mencerahkan, atau menyesatkan.
    tergantung persepsi sih. :-)

    ReplyDelete
  6. kekasihnya M itu Bayu apa Bima?

    ReplyDelete