Saturday, May 19, 2012

Seberapa Jauh Kamu Percaya Informasi?


Media, gambar diambil dari sini

Media sosial memudahkan para penggunanya untuk berbagi informasi secara cepat. Pengguna BBM/Facebook/Twitter misalnya cukup melakukan ‘share’ atau ‘retweet’ sebuah informasi untuk menyebarkannya secara luas. Risikonya belum tentu informasi yang dibagikan adalah informasi yang dapat diandalkan keakuratannya lalu dengan mudahnya dibagi tanpa dilakukan konfirmasi atau cross-check yang berimbang sehingga tersebarlah informasi yang tidak sesuai dalam masyarakat.

Tempo hari ramai diberitakan bahwa foto-foto korban kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 adalah palsu. Foto-foto yang telah dengan cepatnya menyebar di dunia maya. Seseorang berinisial YS ditetapkan sebagai tersangka kasus penyebaran foto palsu dan dijerat dengan pasal 51 (1) jo pasal 35 UU No. 11 Tahun 2008 (UU ITE) dengan hukuman penjara paling lama 12 tahun atau denda paling banyak Rp 12 miliar.

Beberapa waktu yang lalu juga ramai diberitakan dalam media sosial mengenai surat tilang slip biru dan slip merah. Cerita tentang seorang supir taksi yang meminta slip biru saat hendak ditilang dan berniat memotret sang petugas polisi. Disebutkan bahwa jika slip biru yang didapat maka tinggal membayar denda yang nominalnya tak lebih dari lima puluh ribu rupiah, transfer ke salah satu bank BUMN, lalu tinggal tukarkan bukti transfer dengan SIM/STNK yang ditahan. Ketika membaca berita tersebut, “Wow, ada informasi baru yang berguna nih,”pikir saya tetapi telusur punya telusur bahwa pelanggar dapat menitipkan uang denda kepada bank yang ditunjuk pemerintah sebesar denda maksimal yang dikenakan untuk setiap pelanggaran (diatur dalam UU No 22 Tahun 2009).

Contoh informasi yang tak tepat lainnya adalah ketika ramai beredar berita bahwa produk es krim populer Magnum mengandung kode E472 yang dicurigai berasal dari lemak babi sementara produk tersebut telah mencantumkan logo halal MUI pada kemasannya. LPPOM MUI pun memberikan klarifikasi atas tudingan tersebut menjamin kehalalannya. Pertama membaca berita tersebut saya sontak bimbang dalam membeli Magnum dan memilih membatalkan niat sebagai bentuk kehati-hatian, saya terpengaruh berita yang dibagikan secara luas pada saat itu. Berita hoax tersebut merugikan tiga pihak : pihak produsen yang utama tentu saja, pihak MUI sebagai pihak yang mengeluarkan sertifikasi produk halal bisa jadi dianggap tak kompeten, hingga pihak konsumen yang ragu-ragu atau membatalkan keinginan membeli. Saya pernah menuliskan tentang kehalalan suatu produk di sini.   

Beberapa contoh yang saya sebutkan menunjukkan bahwa berita yang tak sesuai dengan kenyataan dapat beredar dengan cepat dan luas dalam masyarakat, berita sebagai suatu bentuk informasi yang diterima mempengaruhi persepsi, persepsi yang salah akan menimbulkan penghasilan keputusan yang salah. Bijak-bijaklah dalam menerima informasi, menelusurinya (misalnya menelusuri langsung ke sumber peraturannya) dan membagikanya (jangan sampai kita turut membagikan informasi yang kurang tepat tentu saja). Salam. 

Wallahu a'lam bisshowwab.
(jika ada kekeliruan dalam tulisan ini mohon diluruskan) 




Referensi :





1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete