Thursday, May 17, 2012

Yangti



Berapa lama seorang anak benar-benar bersama orangtuanya?
Saat kesibukan sekolah mulai menyapa
dan lebih menyenangkan bersama dengan teman sebaya
Saat pergi meninggalkan rumah untuk kuliah lalu bekerja
Saat menikah dan kemudian sibuk dengan rumah tangga
Mungkin hanya sesekali sang anak bisa datang menyapa
Saat orang tua lemah dan tak berdaya
Bisa jadi hanya ada perawat di sisinya
Tak sebanding sungguh jasa mereka
Melahirkan, membesarkan hingga menjadikan
sang anak seperti sekarang
Dengan berapapun biaya yang bisa disandingkan
Kebersamaan bersama orang tua, bisa jadi
Sedikit sekali


Tahun ini usia beliau menginjak tujuh puluh dua tahun. Saat tadi sore saya sowan ke rumah beliau, beliau sedang disuapi kue bandung (sebutan orang Semarang untuk martabak manis) oleh tante. Saya memanggilnya Yangti (singkatan dari Eyang Puteri), satu-satunya Simbah yang masih ada, perempuan yang melahirkan Papa. Bernama asli Siti Halimah tetapi mungkin seumur hidupnya dipanggil Bu Radji, istri dari Pak Soeradji, Eyangkung (Eyang kakung/Eyang laki-laki) yang sudah terlebih dahulu menghadap Tuhan lima belas tahun yang lalu. Anaknya tujuh, lima laki-laki dan dua perempuan. Papa anak pertama dan tante yang sedang menyuapi beliau adalah anak keenam.

Tak berani saya menanyakan “Apa kabar?” kepada Yangti mengingat tentu saja saya tahu kondisi beliau dari Mama dan takut kalau bertanya lalu Yangti menjadi sensitif dan tersinggung. Hingga awal Maret lalu beliau masih bisa berjalan tetapi akhir Maret beliau sudah tak bisa berjalan lagi. Penyakit rematik dan osteoporosis menggerogoti kinerja syaraf dan tulang sehingga untuk mendudukkan diri sendiri saja sekarang sudah tak mampu. Praktis beliau kini hanya bisa berbaring di atas ranjang. Untuk kebutuhan sehari-hari dibantu oleh seorang ibu yang membantu merawatnya dan tante yang rumahnya bersebelahan dengan rumah Yangti dengan pintu belakang yang menyambung.

Yangti adalah Eyang yang paling dekat dengan saya, saya juga cucu yang paling dekat dengan beliau mengingat saya pernah tinggal bersama Eyang saat sekolah dasar hingga SMP, pulang ke rumah orang tua hanya pada akhir pekan saja. Yangti jago memasak, masakannya lezat sekali (Mama saja kalah) dan tiap tahunnya saya menunggu lebaran untuk menikmati masakan beliau, tahun ini mungkin tak bisa mengingat kondisi beliau tentu saja. Yangti pandai menjahit, saat kecil pakaian-pakaian jahitannya hampir setiap hari saya kenakan hingga kekecilan. Yangti suka bercerita, apa saja, pernah beliau bercerita bahwa dulu saat masih gadis pernah didekati seorang laki-laki Belanda. “Yah. Yangti kok nggak mau sama orang Belanda itu? Kan nanti aku ada bule-bulenya Yang,” kata Monika kecil yang masih polos. Hehe. Hingga sekarang pun Yangti masih suka bercerita (ingatan beliau tajam dan kemampuan berkomunikasi baik).

Ah, Yangti. Saya tak bisa sering-sering menemuimu apalagi berbuat sesuatu untukmu. Yang bisa saya lakukan mungkin hanyalah mendoakanmu, mendoakanmu selalu berada dalam lindunganNya, mendoakan segala yang terbaik untukmu..

Semoga engkau masih bisa melihat cucu menantu dariku seperti yang sering engkau tanyakan, semoga engkau masih bisa melihatku menggendong cucu dari anakmu, semoga dan semoga.. Panjang umur dan selalu kuat…

2 comments:

  1. Insya Alloh...
    semoga Yangti sehat wal afiat selalu, ya, Mon, hingga menyaksikan keluarga barumu kelak..

    ReplyDelete
  2. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete