Monday, June 11, 2012

S.T.A.N


Lelah. Itu yang saya rasakan setiap membaca berita yang menyudutkan mengenai kampus dimana saya menghabiskan tiga tahun di sana, Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Seperti sebuah siklus, jika ada pegawai Kemenkeu yang ditangkap akan dilihat apakah ia alumni STAN atau tidak lalu akan ada komentar menyudutkan tentang kampus ini. Mulai dari dihentikan hingga dilebur dengan perguruan tinggi negeri.

Ada apa dengan STAN?

Tak sepeserpun uang yang saya dan teman-teman satu almamater berikan agar diterima menjadi seorang Pegawai Negeri Sipil. Kami tak perlu mengeluarkan uang puluhan atau bahkan ratusan juta. Murni. Kami lulus dan langsung ditempatkan. Uang yang saya keluarkan untuk masuk adalah sebesar seratus ribu rupiah untuk uang pendaftaran Ujian Saringan Masuk STAN (merupakan Pendapatan Negara Bukan Pajak) dan uang kemahasiswaan sebesar Rp750 ribu. Cukup itu saja. Sekitar dua ribu calon mahasiswa dari lebih dari seratus dua puluh lima ribu pendaftar. Kami berawal dari kejujuran….

Enam semester dengan tuntutan IPK minimal 2,75, puluhan orang setiap semester yang terpaksa angkat kaki lantaran drop out tak memenuhi standar minimal. Jangan sekali-sekali berani mencontek di kampus ini jika tak ingin ‘diusir secara paksa’. Tak ada ampun dan tak ada kesempatan kedua, mahasiswa yang ketahuan mencontek langsung di-drop out meskipun sebelumnya ia memperoleh IPK lebih dari tiga koma lima. Beginilah kami berproses. 

Tak kurang-kurangnya pihak STAN membekali para mahasiswanya dengan pelajaran Hukum yang selalu ada di setiap semester kecuali semester terakhir : Pengantar Ilmu Hukum, Pengantar Hukum Perdata, Pengantar Hukum Pidana (meliputi Hukum Tindak Pidana Korupsi), Hukum Administrasi Keuangan Negara dan Pengadilan Tata Usaha Negara serta pendidikan Agama, Kewarganegaraan, Etika Profesi hingga Kapita Selekta Pengembangan Kepribadian. Terdapat pula Spesialisasi Anti Korupsi (SPEAK) sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa aktif di STAN. Tak pernah sekalipun STAN mengajarkan untuk korupsi atau melakukan bentuk kecurangan lainnya…

Kami berproses dengan kejujuran…

Selain itu, yang menonjol pada STAN adalah kentalnya unsur relijius yang terasa pada lingkungan kampus ini. Kampus dakwah, begitulah sebagian orang menyebutnya. Studi Perdana Memasuki Kampus (Dinamika) merupakan cikal bakal mentoring dalam kampus STAN. Kajian demi kajian dengan mudahnya dapat ditemui di kampus setiap minggunya, mabit hingga berbagai kegiatan lainnya. Lingkungan kampus ini adalah lingkungan terbaik yang pernah saya dapatkan…

Saya yakin tak ada satu pun institusi pendidikan yang mengajarkan untuk melakukan tindakan kecurangan seperti korupsi, termasuk STAN. Kurang logis rasanya mengaitkan tindakan individu dengan tempat dimana ia pernah belajar. Ada rentang waktu tahunan antara ketika ia belajar di tempat tersebut dengan tindakannya, ada banyak faktor yang mempengaruhi tindakan seseorang ketika ia melenceng dari apa yang semestinya. 

Saya selalu bangga menjadi alumni dari Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Sekolah yang tak hanya mengajarkan mengenai ilmu-ilmu yang diperlukan dalam menjaga keuangan negara tetapi juga mengajarkan mengenai kejujuran, integritas, kedisiplinan dan sederet hal baik lainnya.

Monika Yulando Putri, alumnus STAN D-III Akuntasi Pemerintahan tahun 2010

10 comments:

  1. sekarang tugas dimana mbak...??
    semoga kita selalu dilindungi...
    sesungguhnya setan tidak di sekitar kita namun di dalam aliran darah dan nadi kita....
    ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Kantor Pusat DJKN, Lapangan Banteng :)

      Setan mah di mana, outside and inside hihi *serem

      Delete
  2. namanya juga manusia. suka menggeneralisasi. satu orang korupsi, satu instansi dituduh korupsi semua. apalagi kalo instansi pemerintah, disorot mulu, dihujat mulu, dibantu mah enggak. *numpang curhat*

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, dari situ aku belajar juga bahwa generalisasi itu menyakitkan :(

      Delete
  3. wah,,,STAN ya... sekolah impian aku tuh...hihi..sayang gak kesampean..hikss...

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe.. pasti ntar dapet yang lebih baik dari STAN kok :)

      Delete
  4. kakakq juga alumni STAN, kalo dah nton pemberitaan kayak gini...kadang tanduknya keluar depan tv...heheheh, nyantai aja mbak...yang ngasih komentar belum tentu lebih baik dari kita^_^
    Ganbatte kudasai...salam ukhuwah mbak^^

    ReplyDelete
  5. STAN ... Kampus yang dulu pernah saya impikan.

    Heran yaa.. Mereka yang menggeneralisasi seperti itu belajar generalisasi dari mana ya?? Padahal jumlah alumni STAN yang bekerja dengan jujur saya rasa lebih banyak jumlahnya daripada yang berbuat curang...

    _Salam kenal_

    ReplyDelete
  6. "Saya yakin tak ada satu pun institusi pendidikan yang mengajarkan untuk melakukan tindakan kecurangan seperti korupsi, termasuk STAN."

    Sungguh, saya setuju sekali, Mbak, tak tepat menyamakan individu dengan mayoritas, termasuk institusi darinya berasal...

    ReplyDelete