Saturday, September 22, 2012

Aku Tetap Ibumu (Meski Kau Di Luar Kandungan)

oleh Athiah Listyowati dalam Giveaway yang lalu 

Merah. Ada bercak merah. Tidak. Aku takut. Sangat takut.

***

Aku buru-buru mengetik keyword 'flek' di Google. Rasanya detak jantungku jauh lebih cepat dibandingkan hasil pencariannya. Flek. Aku sudah tau bahwa dalam kehamilan mungkin saja ada flek. Tidak semua flek berbahaya. Tapi aku sudah melewati minggu-minggu kehamilan dengan flek yang aman. Ini sudah memasuki minggu kesepuluh. Astaghfirullohal'adzim. Ya Allah, mohon bantu hamba.
Sambil mencari informasi tentang berbagai kemungkinan penyebab flek dan solusinya, kuketik akun Mamas di Gtalk. 

"Athiah : Mamas, adek flek. nanti sore kita ke dokter ya".
"Mamas : Astaghfirullohal'adzim. Baik. Pulang kantor kita ke Tambak"
"Mamas : Adek, gakpapa kan?"
"Athiah : Adek gakpapa Mas. Kita harus mempersiapkan diri untuk hal yang terburuk Mas ."
"Mamas : InsyaAllah. Mas malah khawatir sama Adek"
"Athiah : InsyaAllah Adek gakpapa."
Rasanya hati tak menentu. 
***
Perjalanan ke RSIA Tambak terasa begitu lama. Setelah sampai di sana pun rasanya tidak ingin masuk. Tapi aku menyayanginya, menyayangi anak yang kukandung. Aku ibunya, aku harus mengusahakan keselamatannya. Aku bersalah jika membiarkan ia menderita di dalam kandunganku sendiri. Nak, bertahanlah. 

Di dalam ruang tunggu itu aku berusaha tegar. Kulihat mata Mamas merah. Tapi aku tidak ingin berkomentar. Diam saja cukup. Sebaiknya masing-masing dari kami tidak membuka pembicaraan yang mungkin meninggikan kekhawatiran. Untuk menenangkan hati aku membuka mushaf. Dengan membaca deret-deret kalam Allah aku berharap setitik ketangguhan. Ya Rabb, tolong kami. 
Nyonya Athiah Listyowati. 
Suara perawat. Itu namaku. Akhirnya namaku dipanggil. Kami berdua pun masuk ke sana. Ruang dokter Ika, dokter langganan kami, emm, seharusnya. Tapi ini baru kunjungan kami yang kedua. Ya, yang kedua. Terbayang lagi saat pertama kali kami memasuki ruangan ini. Dokter hanya tersenyum keheranan karena antusiasme kami memeriksakan kandungan padahal saat itu aku baru dua hari terlambat datang bulan. Bu Dokter, kami hanya ingin yang terbaik untuk anak kami. Secepat apa kami bisa menjaganya,  sesegera itu kami ingin menjaganya. 

Dan bu Dokter memulainya dengan sebuah kalimat.
"Oh, periksa yang kemarin dengan Dokter Prasetyo?"
"Iya Dok, kemarin pas kami datang dokter Ika sedang ada konferensi"
"Oh iya. Janinnya sudah kelihatan?"
"Belum, Dok"
"Belum???"

Oke, wait. Aku butuh bernapas dan menenangkan diri. 
"Seharusnya ini sudah minggu ke-10.Ada keluhan?" 
"Hari ini keluar flek, Dok"
"Yasudah, ayo kita lihat lagi. Semoga sudah ada ya"
***
Di layar USG isi perutku terpampang jelas. Tapi aku tidak bisa membacanya. Ya Allah.

"Ini rahim. Ini saluran telur."
"Ini sudah ada janinnya".

Dokter memperlihatkan sebuah gumpalan berwarna hitam. 

"Masalahnya janin tidak di dalam rahim"


MasyaAllah. Dokter Ika mengecek ke kanan dan ke kiri. Sepertinya ia sudah yakin.
"Iya. Kehamilannya di luar kandungan. Gakpapa ya. Anak pertama kan? Masih bisa dicoba lagi."
Aku diam. Dan tersenyum.
"Iya Dok, gakpapa".
Untuk meyakinkan bahwa diagnosa hamil di luar kandungan ini benar Dokter Ika mengajak kami menemui salah satu dokter senior di rumah sakit. Dan hasilnya sama. Ia mendiagnosa bahwa aku hamil di luar kandungan. Selama menunggu hasil cek darah, aku dan Mamas terdiam. Entah kenapa tiba-tiba air mataku menetes, jatuh begitu saja tanpa bisa kubendung. Satu demi satu. Aku ingin menghentikannya. Tapi ia begitu deras. Ya Rabb, sungguh semua berada di bawah kendali-Mu. 

Akhirnya Dokter Ika memberi kami dua pilihan solusi, tidak bisa tidak, hamil yang di luar kandungan harus dibatalkan. Jika tidak, kantung yang kami lihat tadi akan pecah. Bahkan bisa menyebabkan kematian. Alternatifnya ada dua, operasi atau terapi Metrhoxete (semacam terapi kanker). Hasil cek darah menunjukkan ada ketidaktepatan kondisi pada leukositku, ada risiko gagal jika mengambil terapi. Jika gagal, aku tetap harus operasi. Dokter Ika pun menyarankan untuk operasi saja.
Nak, bukan Ibu tidak sayang padamu Nak. Ini takdir Allah, kita harus ikhlas. Ibu harap, pada kesempatan selanjutnya, Allah mempertemukan kita kembali. Di dunia ataupun di akhirat. 
Aku berusaha setegar mungkin menelpon orang rumah, Bapak Ibu. Alhamdulillah, mereka mendukung apapun keputusan kami asalkan itu untuk keselamatan kami. Bismillah, kami memilih untuk menjalani operasi. 
"Ibu, dongaaken mugi-mugi kantong-e mboten pecah sakderenge operasi nggih"
"Nggih. Atos-atos mawon."
***
Mas sudah membuat janji dengan dokter untuk jadwal operasi. Kamis pagi. Ya, ini hari Rabu, dan besok aku harus menjalani operasi. 
Mual-mual ini mungkin berakhir dengan cara yang tidak kuinginkan, tapi aku yakin ini semua adalah akhir yang tepat.

Di kantor aku berusaha bekerja seperti biasa. Khawatir ada apa-apa dengan kandungan, aku memilih untuk tidak begitu banyak melakukan aktivitas gerak. Ya Allah, semoga kantungnya tidak pecah sebelum operasi.
Sore sudah datang. Saatnya mengepak barang dan menuju rumah sakit. Aku tidak ingin makan, lebih baik aku minum jus alpukat saja sebagai asupan karbohidrat. Aku sedikit grogi sebenarnya. Aku beruntung, Mamas selalu mengerti. Ia tidak memaksa.
Tiba di rumah sakit kami masih dibingungkan dengan pilihan kamar dan kisaran biaya yang harus kami tanggung. Di atas angka sepuluh juta. MasyaAllah. Sekejap itu aku bersyukur, Allah sudah memberi kami  banyak rejeki sehingga kami tidak harus kebingungan dengan biaya. Di setiap kesulitan ada kemudahan bukan?

Alhamdulillah, hingga waktunya aku istirahat di kamar sebelum operasi tidak terjadi hal-hal yang kami takutkan. Semua tindakan yang dilakukan sebelum, pada saat dan pasca operasi harus mendapat ijin dari Mamas, sabar ya Mas. Everything gonna be okay, insyaAllah. 

Jam 5 pagi aku harus sudah siap untuk tindakan operasi, sudah ganti pakaian operasi dan mengosongkan perut. Mushaf, aku butuh pertolongan Allah. Aku pun membaca surat Ar Rahman. Allah Maha Penyayang, ini semua yang terbaik dariNya. 

Pukul setengah 6, perawat datang ke kamar dan mengecek suhu tubuh, serta tekanan darah. Saat itu Ibu sudah datang. Alhamdulillah, Mamas tidak sendiri lagi, kasian dia harus menanggung semua ini sendiri. Jika ada Ibu, beban Mamas bisa berkurang. Pukul 6 Mamas ijin untuk bisa absen terlebih dahulu ke kantor. Akhirnya aku pun diantar Ibu saja ke ruang operasi, saat aku harus masuk ruang operasi Mamas belum kembali. Aku hanya berpamitan dengan Ibu, meminta doanya. 
Tiba-tiba terbersit dalam hatiku, jika ini adalah hari yang terakhir untukku, ingin rasanya sekali saja memeluk Mamas, selain tentu saja memeluk Ibu. Berterima kasih dan meminta maaf bahwa selama 3 bulan terakhir aku belum menjadi istri yang baik baginya. Berterima kasih karena ia telah begitu baik, dan begitu mengerti betapa istrinya kadang sangat menjengkelkan. Jika seorang istri meninggal, dan suaminya ridho, Maka surga adalah ganjarannya. Aku butuh ridho suamiku. Sayangnya aku harus segera masuk ruang operasi. 
***
Aku tidak sempat berpesan apa-apa padanya. Pada calon bayiku. 
Bahkan di detik-detik terakhir ia masih dalam kandunganku.
Tapi, sejak ia ada dalam kandunganku, aku belajar banyak dari keberadaannya.
Betapa banyak pengorbanan seorang Ibu ketika ia mengandung. 
Dan betapa kasih sayang Ibu tidak pernah habis untuk anak-anaknya.
Ibu selalu memberi yang terbaik. 
Ibu selalu mendoakan yang terbaik.
***
Operasi berjalan selama 4 jam. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Bapak, Ibu dan Mamas. Pastinya mereka khawatir sekali di luar sana. Ketika tiba waktunya aku kembali ke kamar, aku lihat Ibu, Bapak... di mana Mamas? Dan ternyata Mamas ada di kamar. Dia terlihat sedang membereskan bed. Setelah sekian lama aku baru tahu bahwa saat itu sebenarnya Mamas kecewa, ia sudah mempersiapkan ekspresi terlucu untuk menyambutku. Tapi ternyata aku sudah dibawa ke kamar saat ia belum kembali ke ruang tunggu operasi. Mamas, melihatmu ada di sampingku saja itu sudah cukup.

***
Selama tiga hari di RS, sebenarnya banyak kejadian yang membuat aku semakin bersyukur. Aku tak bisa menceritakan detilnya satu-satu. Biarlah menjadi kenangan tak terlupakan hingga akhir hayat. Meski dengan segala keterbatasan yang aku miliki setelah operasi ini. Aku melihat di sekitarku masih banyak orang-orang yang peduli, menyayangi, dan mendoakanku. Kekhawatiran-kekhawatiran yang menghantui seketika luruh dan pergi. Aku akan kembali janjiku pada diriku sendiri. Aku akan segera sembuh dan memperjuangkan kembali semuanya. Mengejar ketinggalanku di kelas, memasak, bekerja dan melanjutkan hidup. Menjadi diriku yang seperti ini lagi. Ceria dan bersemangat. 

Nak, Ibu bersyukur kamu pernah hadir, Ibu jadi banyak belajar tentang kehidupan. Orang bilang, semakin dekat kita pada titik nol, semakin dekat kita kepada Allah. Karena sungguh manusia itu lemah, Allah-lah yang menguatkan. 

Doakan Ibu Nak, semoga nanti, lain waktu, Allah mengaruniakan kepada Ibu dan Bapak, adik-adikmu. Doakan mereka menjadi anak-anak yang sehat dan sholih, sempurna jasadiyah, fikriyah dan ruhiyahnya. 

Ibu merelakanmu pergi Nak, 
Ibu tetap ibumu meski kau tidak lahir ke dunia.
Ibu tetap ibumu meski kau kukandung di luar kandunganku.
Dan Bapak, dia tetap Bapakmu Nak,
Doakan ia juga ya,
Doakan agar Bapak senantiasa sehat, agar ia selalu mendoakan kita.
Merapal nama-nama kita di hadapan Allah. 
I love you Nak...

Tulisan ini adalah pengalaman saya pribadi.
Semoga bisa menjadi hikmah untuk semuanya.
Sayangi Ibu kalian, mereka adalah orang-orang yang diciptakan Allah untuk selalu punya hati baik dan doa tak terputus.
Sayangi Ayah kalian, karena dalam diamnya, mereka selalu melakukan yang terbaik untuk anak-anaknya.
Titip salam untuk Ayah Ibu kalian, doakan kami bisa menjadi seperti mereka.

seperti dituturkan oleh Athiah Listyowati dalam tulisannya, semoga para pembaca dapat mendapatkan hikmah dari cerita yang menggugah ini dan semoga mbak sekeluarga senantiasa diberkahi Allah dimanapun dan kapanpun :) 

1 comment:

  1. Subhanallah, bergetar membacanya, Bunda...
    Sangat salut atas ketabahan dan keikhlasannya.. :)

    Hadist yang diriwayatkan oleh Mu'adz ibnu Jabal yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, "Demi Tuhan yang diriku berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, sesungguhnya Siqth benar-benar akan menarik ibunya ke dalam syurga dengan pusarnya, bila sang ibu rela dengan kehilangannya." (HR Ahmad no.21076 dan Ibnu Majah dalam Kitabul Janaiz no.1598). Kedudukan ini hanya diperoleh bagi sang ibu yang sabar demi mengharapkan pahala Alloh dengan kematian bayinya.
    *As Siqth adalah bayi yang lahir dari rahim ibunya secara prematur dalam keadaan tidak bernyawa. Mungkin di sini, bisa juga untuk calon bayi/kandungan..

    ReplyDelete