Saturday, September 1, 2012

Book Review #21 : Sepatu Dahlan


Mata berkunang-kunang, keringat bercucuran, lutut gemetaran, telinga mendenging... Siksaan akibat rasa lapar ini memang tak asing, tetapi masih saja berhasil mengusikku... Sungguh, aku butuh tidur. Sejenak pun bolehlah. Supaya lapar ini terlupakan...

diambil dari goodreads
Sepatu Dahlan. Buku ini merupakan pembuka dari sebuah trilogi novel yang terinspirasi oleh sosok fenomenal Dahlan Iskan yang saat ini menjabat sebagai Menteri Negara BUMN. Berlatar kehidupan masa kecil Dahlan, anak laki-laki yang baru saja menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat. Sepatu dan sepeda merupakan dua benda yang amat diidamkannya tetapi jangankan memiliki uang untuk membeli keduanya, kerap kali ia merasakan lapar akibat tak ada makanan untuk dimakan. Ya, kehidupan bisa jadi amat keras bagi orang miskin.

Hidup, bagi orang miskin, harus dijalani apa adanya

Pesan di atas disampaikan berulang-ulang dalam buku yang dalam waktu singkat menjadi best-seller di negeri ini. Dahlan cukup tahu diri dengan kondisi keluarganya sehingga ia pun memupus keinginannya bersekolah di SMP Magetan dan menuruti perintah ayahnya untuk menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Takeran yang dari sana lah ia banyak belajar tentang arti kehidupan. Ia juga bersekolah sembari menggembalakan domba-domba kesayangannya. Tentu saja ia tak lupa untuk terus mengupayakan keinginannya memiliki sepatu dan sepeda.
Saya seperti hanyut dalam sudut pandang orang pertama yang digunakan oleh Khrisna Pabichara, sang penulis, dalam memvisualisasikan sosok Dahlan. Penokohan Dahlan terasa begitu kuat dan hidup tetapi sayang, agaknya tokoh lain seperti sekadar pelengkap cerita saja. Ketegasan tokoh Ayah dan kelembutan tokoh Ibu misalnya tak diceritakan terlampau banyak. Yang amat saya nikmati dari novel ini adalah banyaknya pesan moral yang disisipkan dan dikemas dalam cerita yang apik serta kepandaian sang penulis merangkai kata demi kata menjadi bahasa cerita yang amat nyaman untuk dibaca dengan kejelian pemilihan kata Bahasa Indonesia baku yang tak membosankan, misalnya saat Dahlan melukiskan perasaannya untuk seorang gadis bernama Aisha : 
Di jantung rinduku kamu adalah keabadian
Yang mengenalkan dan mengekalkan kehilangan (hal. 358)

Namun, saya tak merasakan ‘emosi yang teraduk’ saat membaca buku ini. Datar-datar saja dari awal hingga akhir tanpa gereget berarti. Entahlah, saya seperti tak merasakan klimaks yang biasanya dinanti-nanti bahkan pada saat akhirnya Dahlan berhasil mewujudkan kedua impiannya. Selain itu, pada beberapa bagian saya merasakan ‘rasa Jawa’ yang 'aneh' (tentu wajar mengingat sang penulis bukan orang Jawa).
Secara keseluruhan, tentu saja, buku ini merupakan buku yang layak untuk dijadikan koleksi dalam memperkaya khazanah baca Anda.

Judul : Sepatu Dahlan
Penulis : Khrisna Pabichara
Penerbit : Noura Books
Cetakan I : Mei 2012
Jumlah halaman : 392 halaman
Mon’s rating : 3 out of 5 stars

5 comments:

  1. Saya malah tersentuh baca buku ini. Terutama waktu dia nerima piala dan diminta sama Camat pakai sepatunya (yang sudah bolong) lagi. Yah, selera orang beda-beda, sih, ya...


    Kalo soal bahasa Jawa, bisa jadi karena Jawa-nya Jawa Timur jadi agak berbeda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba, selera beda2 hehe..
      Mungkin mba, btw salut dgn usaha Khrisna Pabichara yang melakukan riset enam bulan menyelami kehidupan Dahlan Iskan (baca d Twitter) ada bagian yang menceritakan tentang tradisi setelah lebaran di Jawa :)

      Delete
  2. hehhe belum baca jadi ga tw yg mana hehhee..
    tapi cukup berkesanlah utk memebaca karena pesan moralnya begtu banyak.
    pa kabar Mon?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya pesan moralnya bagus2 Nur... Alhamdulillah sehat, cuma bulan kmrn ga produktif nulis huhu.. Nur pa kabar?

      Delete
    2. alhamdulillah sehat mon, monika gmna? kangennya liht tulisanmu hehe

      Delete