Sunday, September 2, 2012

Menikahi Orang Tak Dikenal?

Kata ta’aruf terdengar amat asing bagi saya ketika masih SMA. Seorang teman berbaik hati menjelaskannya : “Jadi Mon, ta’aruf itu singkatnya perkenalan antara laki-laki dan perempuan dengan tujuan menikah. Nggak pakai pacaran gitu, langsung nikah,” Saya kaget, masih kurangnya pemahaman saya pada waktu itu sehingga timbul pertanyaan “Kok bisa nikah tanpa pacaran? Nanti gimana tau sifat aslinya? dan bla bla bla...” “Kan saat perkenalan itu ditanya visi misi perkenalan, sifat-sifatnya, terus kita kan juga bisa menanyakan sifat orang tersebut kepada orang terdekatnya,” Saya terdiam, berusaha memikirkan kata-katanya.

Kata ta’aruf sepertinya hanya sebuah kata yang akan saya temui di cerita-cerita Islami atau kisah orang-orang yang tak saya kenal hingga dua tahun kemudian salah seorang kakak kelas yang akrab dengan saya pada waktu itu (beliau lima tahun di atas saya) memberi berita mengejutkan, “Dek, mbak mau nikah ya,” Hah?” seru saya terkejut, bukan apa-apa, beliau tak pernah bercerita atau nampak tengah dekat dengan seseorang. “Kapan mbak?” . “Tanggal 16 dek,” seketika mengingat tanggal, kala itu tanggal sembilan. “Haaaaah,”

Beliau kemudian bercerita tentang prosesnya menuju pernikahan  bahwa beliau dan sang calon saling bertukar biodata dengan perantara murobbi sebelum kemudian bertemu pada majelis ta’aruf yang berlangsung selama 45 menit, saling bertukar visi misi pernikahan dan mengajukan pertanyaan tentang kehidupan pernikahan maupun kepribadian, mbak tersebut juga menanyakan sifat-sifat mas itu kepada orang-orang yang mengenalnya dengan baik, kemudian sholat istikharah beberapa kali sebelum akhirnya menemukan kemantapan, lamaran dan menentukan tanggal. Cukup sebulan proses yang dijalani beliau. Yang membuat saya lebih terkejut adalah Mbak dan calonnya sebelumnya tak saling kenal sama sekali, keduanya memang sesama alumni STAN tetapi tak pernah kenal. Pertemuan pertama mereka ya di majelis ta’aruf itu.

“Kok bisa mbak berani banget menikahi orang tak dikenal?”

Mbak pun bercerita tentang keinginannya memiliki seorang suami yang sholeh serta keinginannya untuk menjaga diri dan menjadikan pernikahan sebagai jalan menuju keridaan Allah. ‘Bukan dengan siapa, tetapi mau dibawa kemana’ agaknya ungkapan yang tepat untuk mewakili keinginan Mbak kala itu. Sesosok perempuan yang sholehah nan santun yang senantiasa berusaha menjaga dirinya, kata-kata yang dikeluarkannya pun dipilih dengan hati-hati lantaran takut menyinggung orang lain. Pendek kata, saya mengenal beliau sebagai seorang yang baik, amat baik malah.

Mencari keridaan Allah

Tujuan yang seharusnya ke sana lah setiap perbuatan seorang Muslim bermuara. Pernikahan sebagai sebuah ikatan yang kokoh antara laki-laki dan perempuan yang ditujukan untuk mencari keridaan Allah dengan menyempurnakan setengah agama. Saya mengangguk, seketika itu mata saya terbuka lebar, pemahaman baru akan arti sebuah pernikahan melalui kata demi kata yang diucapkan Mbak. Menikah tak sekadar hanya menikah. Ia adalah ibadah, yang terlalu indah jika dicapai melalui jalan yang tak diridai-Nya. Ia adalah sarana, sarana menggapai keridaan-Nya. Ia adalah awal, awal sebuah generasi baru mengenal Tuhannya. Mitsaqan ghalitza. Perjanjian yang kuat.

Tetap saja, ketika itu timbul pertanyaan selanjutnya, “Bisa ya mbak menikah dengan orang yang baru dikenal? Menikahi laki-laki yang belum dicintai?


Dan hey, jangan salah, kemudian saya melihat rona kemerahan dari pipi Mbak, nada malu-malu Mbak saat menceritakan sang calon seperti dimana kerjanya, asalnya darimana, dan sebagainya. Mbak, agaknya, mulai memupuk perasaannya kepada laki-laki yang seminggu kemudian menjadi suaminya.

“Allah dek yang menggenggam hati manusia,”


Ah, sang pemilik hati. Mudah saja bagi-Nya menautkan hati kedua insan tak dikenal yang dikehendakinya untuk bersanding di pelaminan atau sebaliknya mudah saja baginya melepaskan perasaan antara dua orang yang telah berpacaran bertahun-tahun misalnya. Dialah yang menggenggam hati semua makhluk di muka bumi. Dialah yang memberi kemantapan kepada seorang laki-laki untuk meminang seorang wanita dan kepada seorang wanita untuk menerima pinangan laki-laki yang datang kepadanya.


Tentu saja, ta’aruf tak harus dilakukan dengan orang yang tak dikenal. Bisa juga dilakukan dengan seseorang yang telah dikenal. Meskipun telah saling mengenal tentu tak serta merta seseorang tahu apa-apa yang diinginkan seseorang dari sebuah pernikahan dan bagaimana seseorang akan menjalani pernikahan misalnya. Di sanalah peran ta’aruf, ketika seseorang dapat menanyakan hal tersebut kepada sang calon. Tentu hal tersebut dilakukan melalui perantara orang yang dapat dipercaya.


Selain melalui majelis ta’aruf, seorang teman ada yang berta’aruf melalui email. Ya, keduanya saling bertukar email yang berisi biodata serta pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan. Tentu, dengan menghindari interaksi fisik dan interaksi via email yang tak diperlukan (keduanya pada saat itu saling tahu tetapi belum kenal, tempat kerja memungkinkan untuk bertemu). Keduanya kemudian beristikharah untuk memantapkan hati. Kemudian sang laki-laki pun pergi ke kota sang perempuan untuk menemui orang tua teman saya tersebut dan mengutarakan keinginannya meminang. Ohya hal yang tak kalah penting saat ta’aruf adalah mengkondisikan kedua orang tua sebelumnya sehingga tak terkejut jika tiba-tiba sang anak mengutarakan keinginannya untuk menikah atau jika tiba-tiba ada seorang laki-laki melamar anak gadisnya. Begitulah.


Ta’aruf adalah salah satu jalan menuju pernikahan untuk lebih mengenal calon agar timbul kemantapan. Bisa juga apabila telah mantap dengan pilihannya (tanpa melalui ta’aruf, biasanya telah kenal sebagai teman), seperti salah seorang teman yang secara tiba-tiba ditanya oleh teman sekantornya apakah boleh melamarnya. Sesederhana itu. Begitulah. Semoga tujuan yang baik dicapai melalui cara yang baik. 


 “Ya Allah, aku mengharap cinta-Mu, cinta para hamba yang mencintai-Mu, dan kecintaan terhadap amal yang bisa mendekatkan diriku pada cinta-Mu,”          (HR Tirmidzi)


Wallahu a’lam.
*disarikan dari pengalaman-pengalaman teman*

17 comments:

  1. "Indah."

    Orang-orang skeptis akan memandang ta'aruf sebagai "beli kucing dalam karung".
    Orang-orang oportunis-liberalis akan mengatakan ta'aruf sebagai judi. Dan judi itu haram dalam Islam, ahaha!

    Begitulah orang-orang yang mengandalkan akal jasadinya, sedangkan agama ini senantiasa mendorong umatnya untuk mengutamakan akal ruhani alias iman. Artinya, "kecerdasan tingkat lanjut". :D

    Saya sendiri memahami hukum ta'aruf dan poligami cukup terlambat sebab "didorong" Allah pada agama, waktu menjelang kepala 3, itu pun karena pernah baca sejarah perjuangan seorang alawiyyin yang menyebarkan Islam di nusantara, hehe. (sebelumnya saya ini ya, gitu deh.. islam KTP dan humanis yang hampir jadi liberal, wkwkwkw!)

    Salut dan selamat buat kakak yang Neng Monik ceritakan di atas. Utamanya pada bagian ini "kata-kata yang dikeluarkannya pun dipilih dengan hati-hati lantaran takut menyinggung orang lain". <-- asli, ane sering gak bisa begini, padahal ane bukan keturunan preman pasar >.<"

    Saya sendiri ama istri, dulu emang gak pake pacaran, tapi juga bukan ta'aruf murni (<-- lha wong sms-an campur telfonan..wkwkwkw!) dan gak diniatin ta'aruf malah, soale kan waktu itu masih islam ktp hehe..

    Dan memang, sebenar-benarnya Allah Sang Penggenggam hati, bukan kita, sama sekali bukan kita, dan gak pernah kita. Allahua'lam.

    ReplyDelete
  2. Makasih komennya kang Adam, entah kenape ane slalu seneng dengan komen2nya kang Adam hehe.. Semoga langkah2 kita selalu dalam koridor yang diridai-Nya ya kang...

    ReplyDelete
  3. aamiin, aku berharap MOnika dan semua ukht bisa taarufan dgn baik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ehehe, aku ga harys ta'aruf juga sih nur,siapa tau dilamar langsung kan hehe... ya mudah2an jalan apapun menuju pernikahan itu adalah jalan yang baik (ga pacaran)... aamiin.. kamu juga, semoga dimudahkan.. eh udah nikah belum sih Nur? masih kurang ta'aruf nih kita :p

      Delete
    2. hehe, iya maksdny taarufnya ya bgni aku ma kamu hehe :P
      iyalah dilamar langsung bisa lebih baik ya?
      hehhe

      aku belum UKHT, MASIH sendiri. walau sudah ada yng melamar tuh kan jadi aku belum bisa nerima hehe.. mngkin belum waktunya ehehe..
      ishbir kayak postinganku

      Delete
    3. iya ukh, insya Allah dengan orang terindah, di waktu terindah :D

      Delete
  4. dari pada pacaran mending langsung melamar melalui orang tuanya itu bisa di bilang pria pemberani :D

    salam persahabatan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener banget mas Fajar.. salam kenal ya :)

      Delete
    2. Pernah berikhtiar utk ta'aruf dgn seseorang di seberang pulau, saat pertama kesana mengutarakan langsung ke orang tua.. tp Allah berkehendak lain..

      Delete
  5. kalau melihat pengalaman2 orang tua kita dulu.. bukannya mereka kebanyakan yang lebih sukses dari pada anak di era sekarang bukan :) tanpa saling kenal sebelumnya, namun lebih kuat mengakar hingga banyak yang mampu ngerayain 50 thn pernikahan ;)

    ReplyDelete
  6. denger juga akhirnya kisah nyata tentang ta'aruf di jaman sekarang, bukan film atau cerita fiksi belaka. semoga makin banyak orang yang memilih jalan kayak gini. ta'aruf yang bener bukan cuma istilah karena banyak yang menganggap bahwa ta'aruf adalah pacaran islami...

    ReplyDelete
  7. Kak Monika ta'arufan yuk :)

    ReplyDelete
  8. aamiin, aku berharap MOnika dan semua ukht bisa taarufan dgn baik.

    ReplyDelete
  9. Membaca tulisan ini, menambah motivasi untuk ikhtiyar dlm ta'aruf..Barakallah, semoga tiap-tiap kita selalu diberkahi ya demi mengharap ridhoNya, Allah SWT ^_^

    ReplyDelete