Wednesday, September 5, 2012

The Working Mom



Perempuan bekerja tentu memiliki konsekuensi tersendiri dibandingkan dengan perempuan yang tak bekerja, terutama apabila ia telah memiliki suami dan anak. Memang, mencari nafkah bukanlah kewajiban seorang wanita tetapi mungkin ada hal-hal tertentu yang membuat seorang wanita tetap bekerja di luar rumah. 

Banyak ibu-ibu muda di lingkungan kantor dengan anak yang masih bayi. Usai cuti melahirkan tentu mereka diharuskan kembali bekerja. Lingkungan kerja saya kebetulan memiliki tempat penitipan anak yang cukup representatif sehingga sebagian ibu muda tersebut menitipkan bayi mereka. Merupakan pemandangan yang lazim, pagi hari sebelum masuk kantor sang buah hati dititipkan di tempat penitipan anak tersebut lalu dijemput usai jam kerja. Keuntungannya tentu pada saat jam istirahat dapat menengok anak, dapat memberikan ASI langsung dan lebih mudah jika sewaktu-waktu ingin menemui, tentu memudahkan dalam mengawasi juga. 

Seorang teman yang telah menikah dan baru saja menimang sang buah hati memiliki pendapat berbeda. Ia berencana menggunakan jasa pengasuh anak selama ia bekerja. Menurutnya, ia merasa tak tega membawa sang anak yang masih bayi ke sana kemari melalui jalanan Jakarta yang penuh asap dan polusi menggunakan sepeda motor sehingga ia lebih memilih menitipkan sang anak pada pengasuh di rumah. Kebetulan, rumahnya masih mengkontrak sehingga dekat dengan kantor. Tentu berbeda cerita  lagi apabila ia telah memiliki rumah (sebagian orang kantor tinggal di Depok, Bekasi, Tangerang, Bogor) yang memiliki waktu tempuh lama dari kantor. Dapat dibayangkan jam berapa ia harus berangkat dari rumah dan jam berapa sampai di rumah apabila jam kerja berlangsung dari pukul 07.30 hingga 17.00. Waktu bertemu buah hati terbatas, tentu saja, lagi-lagi konsekuensi dari ibu bekerja.

Pilihan, bukan?

Mama kebetulan adalah seorang PNS. Saat kecil, saya dititipkan di rumah Eyang (kami tinggal tak jauh dari rumah Eyang) dan saat kecil saya diasuh oleh Eyang Puteri beserta dua orang yang bekerja di rumah Eyang. Saya tak banyak mengingat kenangan masa kecil sebelum berusia empat tahun, setelahnya saya hanya ingat pagi-pagi Mama memasakkan untuk kami sekeluarga sebelum berangkat kantor , siang hari makan masakan pagi hari juga lalu sore hari sepulang kantor Mama memasak lagi untuk malam hari. Waktu SD saya lebih sering tinggal di rumah Eyang juga (untuk waktu sekian lama tinggal di rumah Eyang dari Senin-Jum’at, baru pada akhir pekan tinggal di rumah orang tua)sehingga praktis lebih banyak kenangan di rumah Eyang.

Memori masa kecil begitu membekas... Sampai kapanpun…

Hingga sedewasa ini, kenangan yang tersimpul di masa kanak-kanak amat membekas dan tak bisa dipungkiri membentuk kepribadian sang anak. Seringkali, saya dan teman-teman terlibat pembicaraan tentang kenangan masa kecil yang memorable misalnya tentang sang ibu yang setiap pagi mengepang rambut anak perempuannya atau ibu yang selalu menyiapkan bekal ke sekolah. Saya dapat merasakan, ketika menceritakannya kami tersenyum dan ada kerjap kebahagiaan yang tiba-tiba menjalar.

Menurut saya, perempuan bekerja memiliki tantangan tersendiri. Ia harus pandai-pandai membagi waktu antara bekerja, mengurus suami dan mengurus anak. Boleh dibilang ia harus menjadi ‘supermom’ yang tangguh. Seperti Mama misalnya, usai shalat Tahajud beliau terkadang mencuci pakaian/menyetrika, sholat subuh lalu memasak untuk keluarga sembari menyiapkan keperluan keluarga dan mempersiapkan adik untuk sekolah (kebetulan si bungsu Hilmy masih kelas lima SD).  Selepas bekerja, rasa-rasanya menjadi naluri seorang ibu untuk ‘beres-beres rumah’ selelah apapun. Seorang teman mengatakan bahwa meskipun ibunya bekerja ia tak pernah merasakan kekurangan kasih sayang sang ibu lantaran ibunya selalu memasak untuknya. Pagi, siang dan malam ia memakan masakan sang ibu. Itulah kuncinya, kata teman.

Istri adik laki-laki Mama (saya memanggilnya Tante) memutuskan untuk berhenti bekerja dan mengurus sang anak. Kariernya pada sebuah perusahaan swasta amat bagus pada saat itu tetapi ia lebih memilih menuruti saran sang suami untuk keluar dan menjadi ibu rumah tangga. Berat pada awal-awal (tentu dulu dengan dua penghasilan menjadi satu saja) tetapi seiring berjalannya waktu, Tante yang luwes berdagang membuka usaha. Ia memiliki sebuah butik busana Muslim yang cukup laris di dekat tempat tinggalnya sebelum ini dan sekarang sedang mempersiapkan membuka usaha spa rumahan di kediamannya. 

Ah, lagi-lagi pilihan tentu saja…


--- Semoga sebelum kelak (jika) mengalaminya, saya sudah punya 'ilmu'nya, adakah yang ingin berbagi? :)

35 comments:

  1. Ya, semuanya kembali menjadi pilihan... Semoga semuannya berujung pada keridhoan. Keridhoan ALLAH tentunya.

    ReplyDelete
  2. wanita karier atau nggak? sebenarnya sama saja bagi saya

    tapi seorang working mom atau not-working mom tidak boleh melupakan tugas2nya di rumah

    ReplyDelete
  3. tergantung pilihan, mbak. ada juga yang memang disarankan oleh suami untuk di rumah aja. nanti kalo sudah punya suami, dikomunikasikan aja, mba monik. kalo suami keberatan kita kerja di luar, ya turuti aja. bisa jadi itu memang yang terbaik untuk memantau tumbuh kembang buah hati. soalnya aku juga kadang ngerasa pengen banget krja di rumah aja, ga perlu kerja di luar kalo memang bisa menghasilkan uang dari rumah tanpa meninggalkan anak dalam pengasuhan baby sitter :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bener, surganya istri ada di suami.. ya semoga nanti melangkahkan kaki di jalan terbaik yg diridoi-Nya :)

      Delete
  4. Pilihan hidup itu. Gua sih nanti pengen istri gua ga usah kerja, tapi gua pengen dia punya hobi, punya minat, punya impian, dan punya cita2...jadi ga cuma ngurus anak doank...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju sama Kevin... walo enggak kerja tetep kudu mengembangkan diri..

      Delete
  5. kalo saya sudah punya Istri! saya ingin istri saya dirumah saja dan tidak bekerja! kenapa? karena wanita itu bagai perhiasan yang dimana saya tidak mau ada goresan sedikit pun pada perhiasanku itu :)

    akan saya suruh dia berhijab, akan suruh dia taat dan hanya bekerja apa yang seharusnya dia kerjakan sebagai akhwat saja. dan pada dasarnya yang wajib bekerja itu adalah ikhwan dan bukanlah akhwat..

    *afwan kalo salah ya :D
    orang ceroboh asal koment

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga mendapatkan istri yg demikian ya mas...

      Delete
    2. waiaki, semoga wa aamiin...

      salam kenal kak monik -_-

      Delete
  6. surga seorang istri katanya nurut sama suaminye ye, ntar.. ikut kata suami aje dah baeknye pegimane.. hehhe #calonistripenurut :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. ehehe.. iya selama dalam kebaikan tentunya :)

      aamiin, buruan mpo, ntar jangan lupa undang2 aye ye :D

      Delete
  7. memang menjadi wanita karir itu pilihan. sering kali karena alasan ekonomi atau mengekspresikan diri ...
    salam

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mas... semua tergantung niatnya menurut saya hehe

      Delete
  8. senada dengan kaze kate







    jadi perempuan bekerja di luar rumah itu boleh....begitu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada dalil yang tidak memperbolehkan gitu? setauku aku pernah baca perempuan jaman nabi juga keluar rumah utk beraktivitas..

      Delete
    2. lha ayat yang gak memperbolehkan wanita ber-tabarruj kalo keluar rumah kuwi dilihat dari sudut pandang santriwati Al Manar piye, mbak?

      Delete
    3. klo gak bertabaruj boleh kan berarti? ada dalil yg ga memperbolehkan wanita keluar rumah utk bekerja atau belajar? *tentu dgn syarat dan ketentuan berlaku ya :)

      Delete
    4. kalo suami memperbolehkan maka hukumnya boleh, namun jika tidak maka tidak boleh ngekang :D | afwan kalo salah mohon koreksi...

      Delete
    5. sungguh aku takut dengan mereka yang berteriak-teriak tanpa JIL, tanpa JIL, tapi dalam kesehariannya nyelewengin makna Quran dan Sunnah sesuai hawa nafsunya...

      Delete
    6. aku hanya ingin kamu menunjukkan dalil...

      maaf hati2 dlm nge-judge seseorang....

      Delete
    7. kak deadyrizky | afwan sebenarnya boleh2 saja kok perempuan bekerja!!! kenapa tidak??? saya rasa akhwat bekerja tidak itu adalah sama dengan liberal! . . . tidak ada dalil kalo akhwat tidak boleh bekerja . . . ketika Rasul menikahi Sity Khadizah dan melarangnya untuk bekerja, itu melarangnya bukan karena Haram, jika perempuan haram untuk bekerja.... coba pikirkan....

      bagimana jika keadaan darurot seperti :
      1. Ayah yang tidak bertanggung jawab atas keluarganya.
      2. Cerai dan anak terlantarkan
      3. suami sakit panjang
      4. penghasilan suami kecil sehingga kebutuhan hidup minus dan skil suami sangat kurang bekerja. saya rasa boleh2 saja...


      kalimat saya di atas *komentar saya yang pertama, bukan berarti saya mengharamkan wanita untuk bekerja. Namun karena saya sangat ingin mencintai istri saya (saya sudah menikah), afwan kak monik jika setiap komentar saya kurang berkenan untuk kakak.

      “Para lelaki (suami) itu pemimpin bagi para wanita (istri), karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (yang lelaki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (yang lelaki) telah memberikan nafkah dari harta mereka” (QS. An-Nisa: 34).

      surah diatas bukan berarti wanita dilarang bekerja, oke jujur saja, Ibuku pun seorang PNS, Guru SD di SDN 2 Cinyasag (Panawangan, Ciamis, jawabarat)

      namun bagi anda seorang laki2 (untuk semua) andalah yang harus lebih bertanggung jawab...

      soal JIL, jujur saja saya kurang berkenan dengan komentar anda kak deadyrizky jujur saya pernah menjadi anggota FPI, saya dari pesantren Miftahul Khoer benteng, Ciamis, jawa barat...... DAN SAYA SANGAT TIDAK SUKA DENGAN ORANG ORANG YANG BERGOLONG-GOLONGAN menjudge orang ini sesat dalam fiqihnya, orang ini salah dengan fiqihnya yang tidak sesuai dengan golongan yang 1. astagfirulloh, dan inilah alasan saya kenapa saya malah keluar dari komunitas FPI... dan terkadang karena dirinya (maaf) salafi atau apa, sudah merasa benar karena beliau termasuk salafi meskipun kelakuan masih jauh dari Quran wa sunnah. dan karena mereka (yang lain) bukan salafi maka mereka itu sesat....

      coba di pikirkan dan direnungkan.... Apakah Nabi menyuruh umatnya bergolong-golongan???

      Apakah Nabi Muhammad Sunny? jika iya kirimkan artikelnya ke mail saya di kazukitakemura57@yahoo.com

      dan apakah Syaidina Ali ibn Abu Thalib adalah pencetus Syi'ah?

      dan kenapa sekarang malah ada yang bergolong2an???

      Para Imam pun seperti Asy-Syafii, Hambali, dan Imam yang lainya Tidak saling mengkafirkan dan tidak mengajarkan perpecahan umat

      afwan jika kurang berkanan....
      jika kalaam saya benar, maka ambilah, namun jika salah silahkan hapus saja.... kebenaran hanya milik Allah, wAllohu'alam bi showab

      Delete
    8. afwan salah ketik : saya rasa akhwat bekerja tidak itu adalah sama dengan liberal! . . .

      menjadi : saya rasa akhwat bekerja itu tidak sama dengan liberal

      Delete
  9. Yup, itu adalah pilihan :)
    My Mom too ^^ and I think My Mom is amazing~

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepakat mbak May, yg terpenting nggak melupakan kewajibannya sbg ibu dan istri serta suaminya ridho :)

      btw mbak Maya, ikutan giveaway saya yuk ^^

      Delete
  10. yg penting suami Ridho dengan apa yg Istri lakukan, dan tidak keluar dari apa yg diajarkan Agama :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepakat mas.. dan ga melupakan kewajibannya tentu saja :)

      Delete
  11. temanku bilang puncak karier seorang wanita adalah menjadi ibu rumah tangga yang hebat, sepertinya itu benar :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup, setuju banget.. btw mba ikutan giveaway saya yuk ^^

      Delete
  12. ngikut apa kata suami aja deh ntar.. :D
    yg jelas masing2 tentu ada konsekuensinya ya.

    btw, Mooon, jangan lupa oleh2 dari Medan yoo. hihii

    ReplyDelete
  13. jadi teringat ponakan, waktu mamanya kerja, bisa masuk 5 besar, eh giliran mamanya brenti kerja anakna 10 besar
    eh gak taunya karena mamanya doyan nonton sinetron aja di rumah jadi weh urusan anak nomor sekian :(

    jadi kerja ato gak kerja, tidak menjamin seorang perempuan akan mendedikasikan dirinya sebagai seorang ibu yang baik, semua tergantung pada diri masing2.

    namun begitu, idealnya ya tentu berharap saya bisa jadi ibu yg di rumah saja hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya kak, tetap tanggung jawab terbesar seorang perempuan adalah sebagai istri dan ibu...

      btw salam kenal ya kak, makasih kunjungannya :)

      Delete
  14. pembahasan yang menarik, Momon..
    itu semua adalah pilihan :D

    ReplyDelete
  15. aku seorang ibu dan aku bekerja ... meski berharap suatu saat bisa di rumah saja, mendidik anak ... tapi yang ada saat ini , mari menikmati dan mari menjadikan berkerja menjadi nilai lebih buat kita, karena kita bisa menjadi ibu bekerja sukses yang bisa mendidik anak shalih ... aamiin

    ReplyDelete