Thursday, November 8, 2012

A Tribute to STAN : Bukan Sekadar Kampus


12 Oktober 2010. Sentul International Convention Centre (SICC).

Matahari belum menunjukkan sinarnya ketika kami menuju Bogor. Diantarkan Om (adik Mama), Mama dan Budhe (Papa waktu itu tak bisa hadir) telah berdandan cantik mengenakan kebaya mengantarkan saya yang hari itu mengikuti prosesi wisuda. Ah, kalau mengingat betapa saya tiba pertama kali di kampus STAN dengan perasaan minder “Bisa nggak ya bertahan satu semester di sini?” mengingat kuliah di STAN katanya susah dan tiap semester selalu terdapat puluhan orang yang DO, ada haru kebahagiaan yang buncah saat menginjakkan kaki di SICC. Melihat Mama tersenyum bahagia itu sungguh… rasanya tak terkira. 

Sudah dua tahun rupanya. Tak terasa. Sepertinya masih tengiang buku-buku tebal berbahasa Inggris (buku-buku Akuntansi) yang suka saya ringkas dengan catatan warna-warni (kangen juga), ruang perpustakaan tempat menyusun KTTA, kos-kosan, kampus dan sekitarnya. Ah, saya rindu kuliah. Masa-masa tiga tahun di STAN adalah masa-masa terbaik dalam hidup saya, sejauh ini. STAN bukan hanya sekadar kampus, STAN mengajari banyak hal yang tak ternilai.

Kejujuran. Dari awal masuk, sudah diwanti-wanti kalau sekali ketahuan mencontek, langsung di-DO. Sudah beberapa kali terjadi. Sikap mental itu sudah ditanamkan dari awal masuk sehingga iItulah yang membuat kami (nggak tahu ya kalo masih ada yang nekad) tak berani mencontek, walaupun ujian tanpa diawasi. Rasanya sayang sekali kalau susah-susah masuk STAN lalu dikeluarkan hanya karena mencontek. Sampai sekarang, buat saya, membekas sekali. Bangga dengan tidak mencontek, bangga dengan apa-apa yang diusahakan sendiri.

Sikap mental juga dibentuk dengan pakaian yang diitentukan (tak ada seragam, hanya saja warna kemeja yang ditentukan : putih, biru, krem, abu-abu) dan ketatnya aturan. Absen yang ketat dan peraturan tak tertulis seperti ‘nggak boleh menginjak rumput’. Kalau yang ini sampai sekarang saya juga masih penasaran benarkah kalau menginjak rumput bisa di-DO. Disiplin kampus plat merah masih terasa hingga sekarang.

Yang kedua kesederhanaan. Rasa-rasanya di kampus semua orang bisa membaur, tak nampak perbedaan yang mencolok di antara kami. Tak terlalu mencolok anak orang berada dan biasa. Penampilan yang rata-rata sederhana. Bahkan bisa dikenali ‘gaya anak STAN’ bukan saat sudah bekerja di Kemenkeu. Bukan berarti yang lain terus serta merta tak sederhana ya, rasa-rasanya ada yang khas saja. Hehe. 

Dan di atas semuanya : lingkungan STAN adalah ‘madrasah kehidupan’ yang dahsyat. Salah satu titik balik saya dalam memahami agama (dan saya rasa banyak orang yang pernah berada di dalamnya). Lingkungan yang begitu agamis. Dari awal masuk sudah diarahkan untuk berkelompok mempelajari agama. Sebut saja mentoring. Awalnya, jujur, saya terpaksa ikut lantaran ‘nggak enak’ dengan mentor dan teman-teman lain. Sungkan. Lama-lama merasakan manfaatnya. Bisa disebut ia adalah charger ruhiyah pekanan. *walaupun saya bukan orang yang meletakkan liqo di atas segalanya.

Lingkungan STAN yang katakanlah yang membatasi pergaulan lawan jenis (misal rapat yang memisahkan tempat duduk laki-laki dan perempuan, rapat yang menggunakan hijab),pandangan mata sebagian orang tatkala berjalan berdua (jalan kaki secara literal) dengan lawan jenis di wilayah kampus, hingga teman sekelas laki-laki yang ‘membuang muka’ saat berpapasan (khusnudzon saja, mungkin saking ghodul bashor-nya), kajian pekanan yang bisa beberapa kali tiap minggu dan banyak hal lainnya. 

semoga suatu hari nanti bisa mengajar di sini :D

Tiga tahun yang tak terlupakan, tiga tahun yang membentuk diri saya sekarang. Terutama dalam masalah agama. Dari saya yang mengenakan jilbab sebatas leher, kaos panjang dan celana jeans dan berpikir pakaian seperti itu ‘sudah cukup’ bertemu dengan perempuan-perempuan berjilbab lebar yang dulu saya anggap ‘berlebihan’, dari saya yang nyaman dengan pakaian seperti itu lalu lama-lama risih sendiri karena merasa ‘belum sempurna menutup aurat’, bertemu dengan orang-orang luar biasa yang tak hanya mengerti agama tetapi juga mengaplikasikannya dan memberikan keteladanan, bukan hanya sekadar ‘judging somebody’. Lingkungan yang ‘dikondusifkan’ kata seorang teman. 

Meminjam salah satu judul catatan Tere Liye : Harga Sebuah Pemahaman. Priceless.

Dan ya, lingkungan berperan besar dalam membentuk sebuah pemahaman. And all my life I would feel so blessed that I have been there. Lingkungan STAN yang membuat saya ingin bekerja di sana, menjadi bagiannya *qodarullah tak kesampaian. Teman-teman yang luar biasa baiknya, I met lots of great people there. Dan semuanya. STAN bukan sekadar kampus. Semoga suatu hari nanti masih bisa mengajar untuknya *tetap menyimpan keinginan ini selalu.

Yes, I just miss it right now.

·     * Catatan ini rencananya dipublikasikan tanggal 12 Okt lalu bertepatan dengan dua tahun wisuda tapi belum selesai dan postingan ini tentu sama sekali nggak bermaksud meletakkan STAN melebihi kampus lain, kebetulan saja saya pernah kuliah di sana. Hehe
                                                                              

6 comments:

  1. hemm, semoga pengalaman yg didapet di STAN, tentang kejujuran dan kesederhanaan bisa diaplikasikan dalam dunia kerja mbak

    ReplyDelete
  2. Saya bersyukur karena tahun ini murid saya termasuk lulusan terbaik STAN.
    Dan tiap tahun pasti ada yg diterima di STAN

    ReplyDelete
  3. wah udah lama tidak mampir dan udah ketinggalan beberapa postingan :D

    ReplyDelete
  4. Ini kampus idaman saya mbak, tapi sayang tahun ini (2012) tdk dibuka pendaftarannya... tetap bersyukur masih keterima di negeri heheheh :D

    ReplyDelete
  5. berharap bisa ngajar di kampus ini juga mon ... habis lulus D4 insyaAllah, aamiin

    ReplyDelete