Friday, December 14, 2012

Mau Dibawa Kemana Anak Kita?


my little bro, Hilmy, ketika kecil
Anak-anak. Ah, siapa yang tak suka dengan anak-anak? Anak-anak yang lucu dan menggemaskan tatkala kecil, tumbuh menjadi anak yang dapat dibanggakan orang tua dan berguna bagi banyak orang. Generasi terbaik adalah generasi pertama, kemudian selanjutnya dan selanjutnya 1. Generasi saat ini menghadapi tantangan zaman yang lebih berat daripada generasi sebelumnya, tentu saja. 

Lalu mau dibawa kemana anak kita?
Ibu sebagai madrasah pertama sang anak memiliki perkembangan penting dalam kehidupan sang anak tetapi tentu saja peran sang ayah tak kalah pentingnya. Ibaratnya, ayah adalah sang kepala sekolah, ia tak selalu ‘nampak’ dalam keseharian sang anak, bisa jadi lantaran kewajiban sang ayah mencari nafkah menyita sebagian besar porsi waktunya (misal berangkat pagi pulang malam) tetapi kehadirannya yang tak terlalu sering memberikan kesan yang membekas di hati.

Nah, tentu saja membentuk generasi tangguh nan berkarakter pada zaman sekarang tak bisa dibilang mudah, generasi yang tak hanya cerdas secara akademis tetapi tentunya juga memiliki akhlak islami. Ustadz Bendri Jaisyurrahman memberikan pemaparan-pemaparan beliau dalam salah satu sesi parenting beberapa waktu yang lalu :

1.       Ada apa dengan anak kita? 
Generasi saat ini menghadapi tantangan berupa BLAST yakni Bored, Lonely, Angry, Stressful, Tired. Penyebabnya bisa bermacam-macam. Misalnya pelajaran anak SD zaman sekarang dengan materi pelajaran padat, tas berisi buku-buku nan tebal (jadi ingat si bungsu Hilmy tasnya beratnya na’udzubilah), pulang sekolah masih mengikuti les ini itu, pulang ke rumah masih harus mengerjakan PR seabrek, ia tak punya cukup waktu untuk bermain. Apalagi jika orangtua jarang berinteraksi dengannya, sang anak jarang ditanya tentang bagaimana harinya, jarang didengarkan ceritanya. Diceritakan bahwa beberapa santri di pondok pesantren penghafal Al Qur’an ketika malam tiba melompati pagar pesantrennya, menuju warnet dan menghabiskan berjam-jam untuk membuka game online dan situs porno. Bisa jadi penyebabnya adalah kebosanan yang luar biasa atas rutinitas keseharian yang monoton dan itu-itu saja.

2.       Apa yang menyebabkan anak memiliki karakter yang lemah?
Bermula dari ketiadaan ayah. Ayah tak hadir secara psikologis. Ia hanya ada untuk memberi nafkah dan memberi izin untuk menikah. Anak yang tak memiliki sosok ayah (secara psikologis) dalam hidupnya akan mengalami apa yang disebut dengan Father Hunger yakni suatu kerusakan psikologis yang diderita anak yang tidak mengenal ayahnya.

Ciri-ciri ‘Father Hunger’ antara lain sebagai berikut :
a.      Rendahnya harga diri
b.     Bertingkah kekanak-kanakan
c.     Terlalu bergantung pada orang lain
d.     Kesulitan menetapkan identitas sosial
e.     Kesulitas dalam belajar
f.       Kurang bisa mengambil keputusan
g.   Sulit menentukan pasangan yang tepat untuknya, bagi perempuan bisa-bisa ia salah memilih pria yang layak sebagai pasangannya karena ia tak menemukan sosok itu pada ayahnya.

3.       Apa saja peran ayah dalam pendidikan sang anak?

Tanggung jawab pengasuhan di pundak ayah. Bahkan Al Qur’an banyak memuat kisah pengasuhan dari sudut pandang seorang ayah. Dari tujuh belas dialog pengasuhan dalam Al Qur’an, empat belas di antaranya adalah dialog antara ayah dengan anaknya, sebut saja dialog Ibrahim-Ismail, Yaqub dan Yusuf. Ustadz mengatakan bahwa nabi Yusuf as bisa terlepas dari godaan Zulaikha salah satunya lantaran ia ingat pesan sang ayah untuk tidak mempermalukan nasabnya yang berasal dari nabi Ibrahim as (kata ‘burhan’ seperti pada QS Yusuf:24), ayahnya ‘hadir’ dan melalui pengajarannya, ia menolong anaknya di saat kritis kehdiupannya. Rasulullah SAW pun tumbuh dalam asuhan paman dan kakeknya yang berperan sebagai pengganti ayahnya.
Ibnul Qoyyim dalam Tuhfatul Maudud 1/242 menyebutkan bahwa “Jika Anda amati kerusakan pada anak-anak, penyebab utamanya adalah ayah,”
Anak memiliki hak-hak yang harus dipenuhi oleh sang ayah yakni ayahnya memilihkan ibu yang baik untuknya, ayahnya memberikan nama yang baik untuknya dan ayahnya memberikan/menunjukkan pengajaran/akhlak yang baik.
 
Jika sang ayah tak memenuhi kewajiban-kewajiban di atas, mengutip perkataan khalifah Umar bin Khattab saat menyelesaikan aduan seorang ayah yang merasa anaknya mendurhakainya : “ Sesungguhnya Engkau mendurhakai anakmu sebelum anakmu mendurhakaimu,” (ayah tersebut tidak memilihkan ibu yang baik untuk anaknya, tidak memberikan nama yang baik untuk anaknya juga tidak menunjukkan akhlak yang baik kepada anaknya)

4.  Bagaimana sih cara menaklukkan hati sang anak dan membentuk anak yang memiliki karakter tangguh?
a.   Alkisah, Abu Aswath Ad Dhuali menaklukkan hati anaknya dengan menceritakan sejarah masa lalu. Ia memberikan hak anak bahkan sebelum anaknya lahir. Ia menceritakan kepada sang anak bahwa ia terlambat menikah karena ia sibuk mencari ibu yang pantas untuknya.
b.   Tak kalah penting adalah mendokumentasikan setiap pertumbuhan sang anak (tentu mudah di zaman canggih seperti sekarang bukan)
c.   Kebiasaan para ulama dalam menyambut sang anak adalah membuat surat menyambut sang anak sebelum ia dilahirkan ke dunia ini. Kelak ketika sang anak cukup dewasa dan membaca surat tersebut ia akan merasakan emotional bounding yang erat antara ia dan sang ayah.
d.      Pengasuhan yang lengkap yakni kehadiran ayah dan ibu
e.      Keterlibatan lingkungan terdekat
f.        Pengajaran iman sebelum Al Qur’an
g.      Habis-habisan di usia dini yakni menciptakan emotional/father bounding di usia-usia awal sang anak. Malik Badri mengatakan bahwa terdapat lima usia kritis anak yakni : usia prasekolah, usia prapuber, usia remaja, usia pranikah dan usia setelah sepuluh tahun pernikahan sang anak.
h.      Menciptakan pengajaran berbasis hands on minds on yakni pegajaran yang sesuai antara di sekolah dan di dunia nyata. Ciptakan pengalaman untuk sang anak, misalnya tatkala idul adha ajak anak untuk melihat proses penyembelihan hewan kurban untuk mengajarkannya mengenai agama tak hanya secara teori.
i.    Ciptakan komunikasi yang patut dengan sang anak, misalnya dengan menanyakan penyebab anak melakukan sesuatu hal yang katakanlah kurang baik, mendengarkannya dan mberikan solusinya bukan hanya menyalahkan sang anak.

Demikian ‘oleh-oleh’ kali ini. Sedikit banyak semoga bermanfaat :)

NB : Ohiya barangkali ada yang mau berkenalan dengan sang ustadz yang memberikan materi ini atau bertanya-tanya bisa melalui akun twitternya @ajobendri


Catatan kaki
1Sebaik-baik manusia adalah generasiku ( para sahabat ) kemudian generasi berikutnya (tabi’in) kemudian generasi berikutnya ( tabiu’t tabi’in )” (Hadits Bukhari & Muslim)

12 comments:

  1. Meski 2 anak saya sudah dewasa, tapi saya perlu mencatat tulisan ini siapa tau kelak berguna untuk anak cucu...

    ReplyDelete
  2. Pentingnya peran ayah dalam perkembangan kehidupan seorang anak. Kadang hal ini diabaikan dan menganggap bahwa peran mengasuh dan mendidik anak adalah pada ibu.
    Tulisan yang bagus sekali. Mengingatkan pada keseimbangan peran ayah dan ibu bagi kehidupan anak-anak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya bun, doain bisa nemu calon ayah yg baik yah buat anak2 *eh

      Delete
  3. tulisan yang sangat bermakna mbak

    saya juga maerasa bahwa kehjadiran sosok ayah adalah suatu keuntungan apabila seorang anak berada di rumah, dengan adanya aya seorang anak akan membuat sosok untuk dirinya dan akan membuat ayahnya jadi panutan

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup bener, ceramah ustadz membuka mata bgt :)

      Delete
  4. wow baru ya mon tmpletnya :O unguuu

    ReplyDelete
  5. ayah emang berpen penting juga lho.

    saya suka ah tulisnnya.
    ijin copas ah, buat dibaca alias diprint ehhe, kadang sukanya ku print mon.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yups, makasi Nur, semoga bermanfaat... semoga nemu calon ayah yg baik buat anak2 juga yah *eh hihi

      Delete
  6. Subhanallah, ilmu yang bermanfaat, saya pernah dengar ceramah seorang ustadz hal yang pertama kali itanamkan kepada anak adalah tentang keimanan kepada Allah, rasa cinta pada Allah, takut akan azab Allah, Allah Maha Mengawasi, jadi anak akan tetap mengingat Allah dan tidak akan pernah merasa sendiri :)

    ReplyDelete
  7. Diceritakan bahwa beberapa santri di pondok pesantren penghafal Al Qur’an ketika malam tiba melompati pagar pesantrennya, menuju warnet dan menghabiskan berjam-jam untuk membuka game online dan situs porno.

    parahhhhhhh

    karena ia sibuk mencari ibu yang pantas untuknya

    yeah. And I am too

    mendokumentasikan setiap pertumbuhan sang anak

    maksude? Difoto gitu?



    ReplyDelete