Monday, January 30, 2012

Book of The Week #9 : Garis Batas

"Berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah..."

Agustin Wibowo agaknya tahu benar arti sebuah perjalanan. Tatkala ia menghadirkan sebuah buku berjudul Garis Batas, ia menemani pembaca ikut melanglang buana ke negara-negara pecahan Uni Soviet yang mungkin selama ini hanya sekilas terdengar namanya. Negara-negara yang berakhiran -stan : Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan. Siapa yang tak kenal Jalur Sutera? Bersiaplah mengenalnya lebih dekat. Bersiap-siaplah mengikuti sebuah negara tetapi juga lebih dekat lagi dengan 'nafas' negara tersebut, dari sejarah berdirinya hingga filosofis yang membersamai setiap derap langkah kehidupan negeri nun jauh di sana.

Akhiran -stan sendiri berasal dari bahasa Persia, istan, yang bermakna tanah. Tajikistan adalah tanah orang Tajik, Uzbekistan adalah tanah orang Uzbek. Tatkala negeri adidaya bernama Uni Soviet yang pernah menjadi negara terluas di dunia pecah, itulah awal mula suatu garis batas dimulai. Garis batas fisik yang membagi satu negara-negara besar menjadi beberapa negara pecahan. Sebut saja wilayah teritorial.

Jika mendengar kata 'Uzbekistan' mungkin yang terbayang di benak kita adalah kecantikan perempuan Uzbekistan yang menjadi istri dari orang terkenal di negara ini. Di negara mayoritas Muslim ini lahirlah Imam Bukhari, seorang perawi hadits terkenal yang lahir di kota bernama Bukhara. Ibnu Sina, seorang ilmuwan mahsyur yang menguasai ilmu kedokteran dan filsafat belajar di kota ini. Kota ini adalah kota penting pada zamannya, kota yang melahirkan seniman, ilmuwan hingga penyair.

Walaupun wajah Asia Tengah yang digambarkan oleh penulis dalam buku ini adalah wajah negara yang mayoritas penduduknya adalah penganut agama Islam, tetapi lantaran pengaruh komunis yang pernah mengakar sedemikian kuat, penganut Islam di sana adalah orang Islam yang meminum minuman keras, memakan babi hingga tak berpuasa di bulan Ramadhan.

Mungkin seperti halnya sebutan 'Islam abangan' di negara ini. Selain itu, Islam juga digambarkan memiliki berbagai tarekat seperti Tajikistan yang kental dengan Islam Ismaili hingga Uzbekistan tempat pendiri aliran Naqshabandi, Bahauddin Naqshabandi menjadi pahlawan nasional.

Kelebihan buku ini terletak pada kekuatan penggambaran latar cerita sehingga pembaca sekan-akan mengikuti perjalanan penulis, ikut tegang saat penulis menyelundup ke suatu negara dan tertangkap polisi setempat, kekuatan filosofis arti kata 'garis batas' yang mengalir melalui kata-kata sarat emosi yang mengalun perlahan, penceritaan sejarah dengan detail dan foto-foto indah yang dilampirkan di buku ini.

Ah, terlalu panjang rasanya untuk menceritakan buku setebal 510 halaman ini. Buku yang menurut saya tak bagus untuk dibaca cepat-cepat lantaran dari buku ini seorang pembaca melakukan suatu perjalanan, perjalanan yang menembus suatu garis batas hingga perjalanan yang membuka mata betapa terkadang manusia dikotak-kotakkan hingga dibatasi oleh ras, warna kulit, bahasa atau hal-hal lainnya.

Hidup sejatinya adalah sebuah perjalanan panjang. Ayat yang saya nukil untuk menjadi pembuka tulisan ini adalah ayat Al Qur'an yang disebut hingga lebih dari tiga kali. Adakan perjalanan dan perhatikan. Perhatikan. Mungkin lantaran banyaknya hikmah dari suatu perjalanan. Hikmah tercecer dari luasnya jagad raya. Dan kali ini Agustin Wibowo berhasil membuka mata saya untuk belajar dari negara-negara nun jauh di sana. Recommended!

Mon's rating : 5 stars ^^

Thursday, January 26, 2012

Ternyata Aku Tak Ingin Kado


13 September 2009. Hari lahir ke dua puluh. Tengah malam, awal hari itu. Seorang teman datang ke depan rumah setelah sebelumnya menelpon untuk menyuruhku ke halaman rumah. Dengan pelan ia mengucapkan selamat ulang tahun, mengulurkan kado dari celah-celah pagar lalu bergegas pergi. Kejutan pertama.

Pada hari itu aku sedang liburan di rumah, kuliahku di Jakarta dan teman-teman dekat berada di kota masing-masing. Telpon dan sms aku dapatkan dari teman-teman, iseng-iseng aku membalas sms teman-teman dekat dengan kata-kata,”Makasih ya, sayang nggak bisa ngumpul bareng kalian, coba kalian ada di Semarang kita bisa makan malam bareng hehe,”

Eh tak disangka, sore-sore beberapa teman dekat sudah ada di depan rumah. “Hai Mon,” kata mereka sambil senyum-senyum. Wow. Rasanya benar-benar kejutan. Beberapa teman dekatku datang jauh-jauh dari Pasuruan, Surabaya, Klaten, Blora, Kendal untuk makan malam bersamaku di hari lahirku, menempuh perjalanan darat berjam-jam hanya untuk menemuiku di hari itu. 

Kami makan malam di sebuah foodcourt di Mal Ciputra Simpang Lima, berjalan kaki menuju kawasan Undip bawah untuk mencari penjual tahu gimbal, teman-temanku ingin merasakan makanan khas Semarang itu. Mumpung di Semarang katanya. Bercerita kesana kemari dan berfoto-foto dengan beraneka gaya di pinggir jalan. Haha.

Ternyata bukan kado yang aku butuhkan di hari ulang tahun, bukan itu pula yang aku inginkan, tapi berada di antara orang-orang yang membuat kita nyaman di hari spesial (walau tak semua teman dekat bisa datang pada malam itu) adalah hal terindah yang dirasakan oleh hati. Didoakan oleh mereka, berbagi canda dan keriangan, bercerita dan tertawa bersama adalah keindahan yang tak dapat diungkapkan oleh kata-kata, keindahan yang hanya bisa dirasakan oleh hati. Terima kasih untuk hari yang tak terlupakan  itu dan semoga kita tetap menjadi teman baik selalu :D



Gadis-gadis cantik ^^
Teman-teman yang datang jauh-jauh

Narsis dulu yuk ^^
Adikku yang dudukdi depanku, mirip ga? :D





Postingan ini adalah diikutsertakan dalam lomba postingan dBlogger


Monday, January 23, 2012

Those Disturbing Pictures

Internet memang ibarat pedang bermata dua, bisa jadi membawa kebaikan dan bisa jadi membawa keburukan, tergantung sang pengguna memanfaatkannya. Berbagai peristiwa dapat tersebar luas dengan cepat di dunia maya. Tak luput pula apabila ada kejadian kecelakaan, berita tersebar dengan cepat, dengan menyertakan gambar atau video tentang peristiwa tersebut.

Seperti halnya kemarin siang saat kecelakaan maut di daerah Gambir yang menewaskan sembilan pejalan kaki. Foto-foto dan video tersebar luas di dunia maya, entah di youtube atau situs jejaring sosial. Bukan kali ini saja foto atau video yang masuk dalam kategori 'disturbing pictures' itu beredar. Mungkin masih hangat dalam ingatan foto atau video pembantaian Mesuji, foto korban yang tewas saat terjatuh dari kereta api di daerah Sumatra Barat dengan kepala (maaf) terputus, foto korban kecelakaan mobil yang dikendarai Syaiful Jamil, dan lainnya. Entah betapa banyak 'disturbing pictures' yang masuk ke dalam otak kita. Enough.

Saya hanya tak habis pikir bagaimana mungkin foto yang, let me say, 'inappropriate' itu disebarluaskan dengan mudahnya, mungkin melalui twitter, facebook atau BBM. Apa iya pantas untuk disebarluaskan? Bagaimana jika anggota keluarga kita lah yang berada dalam posisi itu (na'udzubillah, semoga kita dan keluarga selalu dalam lindungan-Nya) apa iya kita tega menyebarluaskan foto jenazahnya yang mungkin berada dalam kondisi mengenaskan menjadi tontonan umum hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu orang?

So please, stop sharing those pictures, bukan hanya karena itu gambar yang (maaf) tak pantas untuk disebarluaskan tetapi lebih dari itu, hormatilah jenazah untuk yang terakhir kalinya, at least dengan tidak menyebarkan fotonya (apa pantas foto jenazah disebarluaskan?). The pictures are disturbing bur your sharing the pictures is much more disturbing. Maaf, kali ini saya hanya benar-benar risih. :(

Friday, January 20, 2012

Book of The Week #8 : Twitografi Asma Nadia


Tak seperti buku Catatan Hati Seorang Istri yang membuat pembaca larut dalam keharubiruan atau Sakinah Bersamamu yang membuat pembaca merasakan kisah-kisah indahnya pernikahan, kali ini Asma Nadia menyajikan beraneka rupa tema kehidupan yang disajikan melalui buku berjudul Twitografi Asma Nadia. Seperti judulnya, buku bersampul dominan biru langit ini merupakan kumpulan tweet penulis yang memiliki akun twitter @asmanadia ini.

Keunggulan utama buku ini adalah temanya yang beraneka ragam sehingga banyak ilmu yang akan didapat pembaca dari buku setebal 292 halaman ini. Bersiap-siaplah mengenang kembali saat pertama kali mengenakan jilbab bersamaan dengan Anda membuka halaman pertama buku ini, merenungkan sejenak apakah busana yang dikenakan sehari-hari telah memenuhi syarat busana muslimah seperti tidak tipis, tidak memperlihatkan lekuk tubuh hingga salah satu busana popular saat ini, legging, tak lepas dari sorotan Asma. Bagi yang belum menggenapkan separuh agamanya, buku ini juga berbicara mengenai cinta, pacaran, patah hati hingga ta’aruf (termasuk ta’aruf gagal juga!). Penulis yang produktif ini juga tak segan-segan berbagi tips seperti tips untuk tidak menjadi muslimah nyebelin, tips diet,tips parenting, tips menulis hingga tips traveling untuk para muslimah. 

Ditulis dengan gaya bahasa Asma Nadia yang khas yakni renyah, lugas dan menggunakan bahasa yang mudah dicerna, buku ini disampaikan secara ringan tanpa menggurui dengan kata-kata singkat bermakna yang tepat sasaran (jadi jangan kaget kalau tiba-tiba merasa tertohok :P). Keunggulan lainnya adalah kepiawaian Asma Nadia mengangkat berbagai tema yang mungkin tak terpikirkan sebelumnya misalnya saat ia mengangkat tema #cintamusala untuk mengapresiasi tempat-tempat umum yang menyediakan musala yang cukup representatif untuk kaum muslim. Melalui buku ini Asma juga mengapresiasi para follower-nya dengan menampilkan cukup banyak tweet dari para @asmanadians (sebutan untuk para follower @asmanadia) di buku ini, siapa tahu tweet Anda ditampilkan di buku ini :)

Buku ini membuat saya tak bosan membacanya hingga habis satu buku. Ohya, Anda bisa memesan buku ini (selain di toko-toko buku ternama) melalui www.tokoasmanadia.com. Buku ini manis sekali dan terlalu sayang untuk tak dikoleksi :)


Wednesday, January 18, 2012

China, I'm coming!


Not to mention that China is the most populous country in the world, this country is the most-wanted-to-visit country for me after Saudi Arabia. I really love the long history of its civilization (A chinese invented the paper for first time right?), the knowledge and wisdom of east culture which are so blended with the life of people there nowadays. (of course from the news and books I’ve read, coz I’ve never been there yet :P). China is called as the giant of Asia. Its economy amazes many people all over the world. But in this posting, I’m not going to talk about that, I just wanna share about the things which I’m really interested in from this country.

First, the big wall is so impressive. No wonder that it is one of the seven wonder in the world. Coming there and wandering around the big wall will really be a fancy for me. (of course not taking all the distance which is about 14 kilometres if I'm not mistaken :P).
A black and white animal which is often associated with this country, Panda, is soooo cute. I wish I could just touch one (or maybe at least taking a picture with it) ^^.
I'll go here someday, insya Allah (all images are from google)

cute
Furthermore, I admire the China’s rich culture and history very much. Forbidden kingdom is also  in my top list. By the way, you can find Chinese wisdom words easily. Even, a popular Arabic quote says, “Study until China,”. Chinese are well-known as persintent people, they work really hard for what they dream. 

beautiful, right?
Mandarin is said to be the hardest language in the world. I should agree with this. The grammatical way is like Indonesia language (not having a changing form of verb), so I think English grammar and Arabic grammar (evenmore) are much more difficult from that but the Chinese letters (named hanzi) reach thousands in number and I can call it ‘makes my hair curly’. I love to listen to what the anchor of Metro Xinwen says (Mandarin always sounds beautiful for me), try hard to understand the quick rhythm of the words, try to imitate the accent. Hard doesn’t mean impossible right? ^^

I don’t know when or how but I always keep the hope that someday I will say “China, I’m coming!”. I always wonder when I will have a warm conversation aroud the table with friends all over the world. It is always be my dream to go visit the places I’ve never been across the world, know people with different hair, countries and languages. I don’t know how and when but I strive for this dream. I used to take Mandarin course when I studied in college (it stopped because I moved to work and I just haven’t found the suitable one near my boarding house), I read Chinese books and eventhough I get my head full, it is so interesting to rewrite hanzi letters on a paper (sometimes :P). I’m having my Arabic course for now and also learn English more and more. I don’t think I can afford the ‘trip’ around the world by myself, that’s why I aim to be able to understand and speak with those three languages because I believe it will find me my way and something I’ll thank for someday. Someday. Maybe by scholarship or short-course offering and I will have had myself ready when the time comes. Or maybe from other way which I can’t expect yet, who knows, it will always be a way for what you really dream right? ^^ 

By the way, this is the book that I really want to buy but the cost is expensive for me (I will be so excited if someone lends me or buys it for me :P).


it costs about IDR 500k

I blogwalked and excitedly found Kenni's blog which sometimes talks in Mandarin (I also envy his trip to China). It will be nice if someone offers to have a talk in Mandarin with me (I am really a beginner and my partner in practicing is now far from me, sadly) or maybe someone can recommend blogs which I can follow. I’ll be glad. ^^

Sometimes it is not the dream which is worthed to pursue, however, the hard effort and the journey to get the dreams are worthed to have! (Monika, an optimistic dreamer :p)

P.S : It takes me long time not to write in English and I hope you can enjoy this posting (please forgive the simple vocabulary chosen :P), please let me know if you find any grammatical mistake in this posting because I myself don’t feel comfortable if I read the usage of inappropriate grammar. Hihi.

Monday, January 16, 2012

Republik Insya Allah


Insya Allah. Sudah tak asing bagi kita mendengar kata insya Allah atau mungkin saja kata insya Allah telah mendarah daging dalam kehidupan sehari-hari, tak khusus untuk umat Islam saja. Bahkan ada yang memplesetkan RI (Republik Indonesia) menjadi Republik Insya Allah lantaran betapa seringnya kata insya Allah digunakan. Insya Allah sendiri bermakna “jika Allah mengizinkan” atau “jika Allah mengkehendaki” sehingga mengatakan insya Allah menunjukkan bahwa seseorang menjanjikan sesuatu kepada orang lain yang mana janji tersebut tidak dapat dipenuhi seseorang jika dan hanya jika ada hal-hal di luar kendali terjadi orang tersebut atau bahasa kerennya force majeur.
 
Rasa-rasanya kata insya Allah telah mengalami pergeseran makna menjadi semacam “insya Allah ya (nggak janji ya),”. Seorang teman pernah protes ketika saya mengatakan insya Allah kepadanya. “Kok insya Allah sih? Nggak pasti ya?”. “Insya Allah-nya orang Islam, bukan insya Allah-nya orang Indonesia,” jawab saya. 

Aih, alangkah beratnya nanti di akhirat jika ada barisan janji ‘insya Allah’ mengular dan menagih pengucapnya sementara sang pengucap hanya mengatakannya untuk menyenangkan hati lawan bicara atau mungkin dia sekadar ‘just saying’ tanpa menyadari urgensi kata insya Allah. Misalnya mengucapkan insya Allah datang ke pernikahan seorang teman tapi ternyata tidak datang lantaran sayang dengan harga tiket yang mendadak mahal (walau sebenarnya punya kemampuan untuk itu).

Insya Allah. Sudah berapa kali diucapkan semenjak akil baligh. Sudah berapa hati yang tersakiti lantaran kata ‘insya Allah’ yang tak dimaksudkan untuk benar-benar ditepati, melainkan sekadar pemanis kata. Berusahalah untuk benar-benar menggunakan kata insya Allah jika yakin dengan kemauan hati dan kemampuan diri mewujudkannya dan mengatakan untuk melakukan sesuatu tanpa mengatakan insya Allah juga telah dilarang dalam Q.S Al Kahfi : 23-24 yang terjemahannya berbunyi “Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu : “sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut) : “insya Allah,”….” Bi’idznillah.

Allahu ‘alam. 

Catatan untuk diri sendiri khususnya. Mohon jika ada yang masih kurang berkenan dengan kata ‘insya Allah’ yang pernah saya ucapkan segera menagihnya daripada saya ditagih di akhirat T.T