Friday, February 24, 2012

Book of The Week #13 : Madre


Madre merupakan judul buku sekaligus judul cerita yang menjadi cerita utama di buku setebal 160 halaman ini. Bercerita tentang seorang lelaki muda bernama Tansen yang mendadak mengetahui kenyataan bahwa silsilah keluarganya berubah sekejap ia tahu. Seperti pertanyaannya,

“Apa rasanya sejarah hidup kita berubah dalam sehari? Darah saya mendadak seperempat Tionghoa, nenek saya ternyata tukang roti, dan dia, bersama kakek yang tidak saya kenal, mewariskan anggota keluarga yang tidak pernah saya tahu : Madre,”

Madre tak hanya sebuah biang adonan biasa. Bukan hanya lantaran usianya yang telah menginjak usia tujuh puluhtahun, melainkan seperti halnya kata Madre sendiri yang berasal dari bahasa Spanyol yang bermakna ‘ibu’, ia menjelma sebagai sebuah benda yang memberi penghidupan bagi sebuah toko roti tua sekaligus para pegawai toko tersebut. Biang adonan yang akhirnya membawa sesosok bebas bernama Tansen meninggalkan Bali untuk tinggal di kota pengap Jakarta. Kata demi dalam cerita ini mengalir dengan luwes dan seakan mengajak pembaca menyelami emosi sang tokoh. Tengoklah saat Dee mendefinisikan arti kebebasan dalam suatu dialog ringan :

“Satu-satunya yang ingin saya teruskan adalah kebebasan saya,”
“Kalau bebas sudah jadi keharusan, sebetulnya sudah bukan bebas lagi, ya?” cetus Mei kalem
Aku menghela napas. Pembicaraan ini, entah kenapa, jadi terasa memojokkan.

Dituturkan oleh Dewi Lestari dengan gaya renyahnya yang khas, cerita yang menghabiskan lebih dari setengah buku bersampul oranye menarik ini perlahan-lahan mengajak saya seperti menikmati legitnya sepotong demi sepotong roti ditemani secangkir teh hangat di suatu sore. Kesederhanaan yang memikat.

Terdiri dari tiga belas karya fiksi dan prosa pendek, Dewi Lestari agaknya semakin mengukuhkan diri sebagai seorang penulis yang tak hanya cerdas dan piawai memilih kata tetapi juga sebagai seorang penulis yang piawai menyelami emosi dan pikiran pembaca misalnya saat ia bercerita tentang janin yang dikandungnya dalam tulisan berjudul Rimba Amniotik atau jeli membidik dua pertanyaan dasar manusia dan menuliskannya dalam 'Semangkok Acar untuk Cinta dan Tuhan'.

Prosa dalam buku ini, menurut preferensi saya tentunya, tak terlalu meninggalkan kesan, pun dua cerita pendek yang seakan diselesaikan dengan tergesa. Rasanya tak sememikat Filosofi Kopi memang tapi Madre  manis untuk dijadikan koleksi.


Penulis : Dewi Lestari
Penerbit : Bentang
Mon's rating : 3/5 stars ^^

Thursday, February 23, 2012

Dua Tiga di Dua Tiga

dari hatidanlogika.wordpress.com

Pertama aku mengenalmu, aku melihatmu sebagai sesosok pintar yang rajin. Kalau saja kamu ingat waktu SD kita bersaing untuk memperebutkan predikat si rangking satu di kelas bahkan bersaing dalam urusan dagang juga (ingatkah saat kelas enam SD dulu kita bersaing berjualan kertas surat yang popular pada saat itu?) jadi maafkan ya kalau waktu SD aku menganggapmu sebagai saingan hihi…

Aku rindu masakan ibumu yang lezat setiap aku bermain ke rumahmu, aku rindu berbincang-bincang denganmu, sesosok ukhti yang memiliki ghiroh yang besar dalam belajar dan mengajar. Aku rindu mendengar cerita-ceritamu yang selalu kamu sampaikan dengan terbuka dan blak-blakan. Aku rindu jalan-jalan bersamamu juga. Hehe..

Dua puluh tiga di dua puluh tiga, mendoakanmu dari sini semoga engkau selalu berada dalam lindungan-Nya, keberkahan menyertai setiap langkahmu, dimudahkan cita-citamu (aku tahu kamu seorang gadis yang punya banyak cita-cita tinggi), panjang umur dan sehat, semakin bermanfaat untuk umat dan semoga dipertemukan dengan seseorang yang telah ditakdirkan Allah SWT untukmu. Semua doa terbaik untukmu ^^

Barokallahu fii umriki ya ukhti, boleh nggak ngedoain kamu kerja di Jakarta? Hehe.

hijau warna favoritmu kan ^^
“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali,” (terjemahan Q.S Maryam:33)

Teruntuk ukhti sayang, Ania Maharani yang sedang berulang tahun ke-dua puluh tiga hari ini :)


Sunday, February 19, 2012

Book of The Week #12 : Eliana

Bagi yang sempat menonton serial Anak Kaki Gunung di SCTV tempo hari lalu, tentu tak asing dengan sosok Eliana, seorang gadis remaja pemberani. Ia adalah anak sulung dari empat bersaudara yang amat menyayangi ketiga adiknya : Burlian, Pukat dan Amelia. Eliana merupakan judul buku keempat dari serial Anak-anak Mamak, serial yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan dan keluarga yang ditulis oleh Tere Liye.

                Tere Liye agaknya semakin memosisikan diri sebagai seorang penulis cerita dengan gaya penulisan khasnya : cerita mengalir dengan bahasa sederhana, deskripsi latar yang kuat, nuansa Sumatera yang kental, tokoh cerita yang berasal dari keluarga sederhana dan karya-karya apik nan menyentuh bahkan tak jarang membuat pembaca mengeluarkan air mata.

                Eliana, meski untuk ukuran ‘menyentuh’ masih kalah dengan Hafalan Sholat Delisa dan Bidadari-Bidadari Surga, dibuka dengan apik oleh cerita bahwa seorang gadis remaja pemberani mati-matian membela sang ayah yang dihina oleh pengusaha kaya lantaran kemiskinannya. Ia adalah gadis pintar di sekolah yang rajin membantu orang tuanya hingga pada suatu hari ia merasa bahwa ia benci menjadi anak sulung, ia benci dimarahi Mamak atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh ketiga adiknya. Satu-satunya hal yang dipikirkannya adalah kabur dari rumah. Ini adalah bagian yang paling menguras emosi dari buku ini saat Eliana akhirnya menyadari kesalahannya dan memeluk Mamak.
                “Jangan pernah membenci Mamak kau, Eliana. Karena kalau kau tahu sedikit saja apa yang telah seorang ibu lakukan untukmu, maka yang kau tahu itu sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta, serta rasa sayangnya kepada kalian,”
                Bagian yang paling menarik dari buku ini menurut saya adalah petualangan Eliana bersama tiga rekannya, Geng Empat Buntal, dalam usaha mereka mengusir penambang pasir dari desa mereka. Mulai dari menggembosi ban truk-truk pengangkut pasir hingga masuk ke hutan lubuk larangan. Perjuangan yang sekaligus menghasilkan sebuah cerita sedih. Cerita sedih apakah itu? Tak seru rasanya jika dibocorkan di sini hehe.

                Recommended!

Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Mon’s rating : 4/5 stars ^^

N.B : Ohya buku-buku Tere Liye juga bisa dipesan melalui toko buku online yang dikelola istrinya (bisa dibuka di tbodelisa.blogspot.com), lumayan mendapat diskon :D

Sunday, February 12, 2012

Book of The Week #11 : Buku Pintar Mind Map

gambar dari situs Gramedia
Tak berlebihan rasanya jika buku yang ditulis oleh Tony Buzan yang disebut-sebut sebagai multi-mullion copy bestselling author ini dinamakan sebagi buku pintar. Tak hanya membahas seluk beluk mind map (peta pikiran) sebagai sebuah cara penempatan informasi secara kreatif dan efektif, penulis seperti mengajak para pembaca melakukan suatu perjalanan ‘mengenali diri’.

Ditulis dengan bahasa ilmiah yang tak membuat dahi berkerut, buku yang terdiri atas enam bab ini diawali dengan kegunaan mind map dan orang-orang jenius terkenal yang menggunakan mind map untuk mengoptimalkan kemampuan otak, Leonardo Da Vinci misalnya. Buku catatan Da Vinci penuh dengan gambar, diagram, simbol dan ilustrasi untuk menangkap pikiran-pikiran yang muncul di otaknya.

Tujuh langkah membuat mind map :
  1. Mulailah dari bagian tengah kertas kosong yang sisi panjangnya diletakkan mendatar
  2. Gunakan gambaratau foto untuk gambar sentral Anda
  3. Gunakan warna
  4. Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat (otak bekerja secara asosiasi, ia senang mengaitkan beberapa hal sekaligus
  5. Buatlah garis hubung yang melengkung, bukan garis lurus
  6. Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis
  7. Gunakan gambar

I like this pic (taken from squidoo.com)
Kelebihan buku ini terletak pada pembahasan yang sistematis yang dimulai dengan peranan mind map, fakta-fakta ilmiah menarik tentang otak dan elaborasi mendalam dengan langkah-langkah konkret tentang peningkatan kinerja baik secara mental maupun fisik. Kemampuan mental manusia yang tentu saja ditunjang oleh kemampuan otaknya berperan besar dalam kemampuan fisik seseorang. Seorang pria muda yang divonis mengidap kanker ganas dan harapan hidupnya diprediksi tak lebih dari dua puluh persen berhasil memenangkan lomba Tour de France enam kali berturut-turut. Ya, seorang Lance Amstrong.

Tak kalah menariknya, buku ini memaparkan bahwa seorang manusia adalah sebuah keajaiban hidup berjalan. Jumlah sel otak manusia yang berjumlah satu triliun yang setiap satu selnya memiliki kecerdasan mandiri. Penulis juga menyebutkan bahwa kekuatan dan daya dari otak seorang manusia diwakili oleh gedung pencakar yang alasnya seluas sepuluh blok persegi dan puncaknya mencapai bulan. Luar biasa. Buku ini juga bertaburan gambar mind map dengan warna warni dan ilustrasi yang menarik.

Buku yang amat sangat menarik!
Mon’s rating : 4/5 stars ^^

Penulis   : Tony Buzan
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tebal     : 225 halaman

Saturday, February 11, 2012

Tips Bepergian Aman Ala Monika

“Naik busway digrepe-grepe, naik bus dicopet, naik angkot diperkosa, jalan kaki ditabrak Xenia, ngesot ditendang satpam,” (Guyonan di twitter pada suatu hari)

Well, kalau di postingan sebelumnya berbicara tentang tips nyaman di Jakarta ala Monika, kali ini yuk mari berbicara tentang tips aman bepergian menggunakan angkutan umum di Jakarta  ala Monika. Check it out :D

1.       Pakai alas kaki yang nyaman. Kalau memang kemana-mana menggunakan angkutan umum ya sebaiknya jangan pakai high heels yang membuat gerak terbatas dan membuat kaki cepat lelah. Alas kaki yang nyaman dan bisa diajak untuk lari juga, kalau ada hal-hal tak diinginkan terjadi (na’udzubillah).

2.       Letakkan tas di depan dan jangan biarkan menggantung begitu saja. Pegangin. Bisa jadi sasaran empuk tuh. Kalau naik bajaj, letakkan tas di sisi dalam bajaj (banyak kasus penjambretan penumpang bajaj juga)

3.       Sediakan uang kecil dan letakkan di kantong luar, jadi tidak perlu mengeluarkan dompet. Minimalisir mengeluarkan hape juga di angkutan umum. Bisa mengundang. Perhiasan apalagi.

4.       Benda seperti payung selain sebagai pelindung dari hujan juga bisa digunakan sebagai alat perlindungan darurat. Jika terpaksa, kembangkan payung dan ambil jarak dengan penjahat, pukulkan. Lalu cepat-cepat lari. Hehe.

5.       Usahakan jangan bepergian terlalu malam. Kalau terpaksa, menurutku gunakan angkutan taksi yang sudah punya reputasi atau naik bajaj. Kalau aku sih lebih suka naik bajaj, lebih ‘terbuka’ daripada taksi dan bisa lebih cepat kabur kalau ada apa-apa. Hehe.

6.       Kalau menggunakan jasa taksi :
a.     Pilih taksi yang sudah punya reputasi jangan asal naik taksi abal-abal (terutama jika malam  hari), lebih baik bayar lebih. Hehe.
b.      Lihat dan catat nomor taksi dan nama pengendara
c.       Sebisa mungkin tahu jalan jika naik taksi, soalnya kalau penumpang nggak ngerti jalan sering diputar-putarin sama sopir taksi, jadi lebih mahal ongkosnya. Pernah juga dulu karena saya dan sopir taksi sama-sama nggak tahu jalan, saya disuruh sopir taksi turun menanyakan jalan. Ckckck. Waktu itu saya menurut saja soalnya sopir taksinya bertampang preman (dan kebetulan bareng teman juga sih)
d.      Siapkan uang pas (kan bisa mengira-ngira ongkos taksi sekitar berapa). Beberapa kali naik taksi dan sopir taksinya nggak punya uang kembali, sopir taksinya diam saja nggak mau turun menukarkan uang. Alhasil saya yang terpaksa turun. Ckckck.
e.      Lihat bagasi (kalau ini aku juga belum pernah) hanya saja kemarin dapat cerita dari teman sekantor kebetulan naik taksi yang ada orang di dalam bagasi. Serem.
f.        Ajak mengobrol supir taksi
Dari obrolan bisa diketahui kalau sopir taksinya berniat jahat misalnya (pemilihan kata dan intonasi bisa mengindikasikan) atau setidaknya membuatnya berpikir-pikir kalau mau niat jahat. Mudah-mudahan.

7.       Kalau naik busway atau naik bus mayasari yang biasanya penuh sesak, usahakan membawa jaket dan tas selempang/ransel. Bisa digunakan untuk menjadi pemisah kalau terpaksa berdesak-desakkan dengan lawan jenis. Cari posisi ujung busway (pojok kiri depan dekat supir paling aman tuh), menghindari ‘digrepe-grepe’ orang, kalau di bus cari posisi dekat pintu dan usahakan di depan. Kalau naik metromini, terkadang ada yang meminta uang dengan paksa. Jika keadaan tak memungkinkan, kasih saja nominal uang terkecil. Cari aman.

8.       Kalau naik mikrolet, cari mikrolet yang sudah ramai dan ramainya oleh penumpang laki-lak dan perempuan. Jangan naik mikrolet terlalu malam juga. Pilih posisi duduk di sebelah sopir.

9.       Kalau jalan kaki, berjalanlah dengan cepat, waspada kanan kiri, dekap erat tas dan pasang tampang jutek. Jangan sekali-kali pasang tampang bingung. DI Jakarta ini lebih baik pasang tampang sok tahu hehe.

10.   Waspada dengan orang yang mendekati, bicara tegas dan jaga jarak. Hidup di Jakarta memang tingkat kewaspadaan harus lebih tinggi (dibanding Semarang misalnya hehe) dan harus selektif memercayai orang. Hiks.

Yang terpenting adalah berdoa sebelum bepergian. Bismillahi majreha wa mursaha, la haula wala quwwata illa billah karena sesungguhnya tak ada hal yang terjadi kecuali dengan izin Allah. Dan banyak-banyak bersedekah karena sedekah menolak bala. Bi’idznillah. Semoga Allah SWT senantiasa melindungi kita.

Semoga  (sedikit banyak) bermanfaat ^^

Silahkan jika ada yang ingin menambahkan ^^

Friday, February 10, 2012

Loving (Living in) Jakarta


dari wikipedia
Kalau di postingan kemarin bercerita tentang suka dukanya merantau, kali ini aku ingin membagi hal-hal yang membuatku ‘betah’ di Jakarta. Hihi.

Jakarta. Apa yang pertama terlintas mendengar kata Jakarta? Macet, polusi, kriminalitas tinggi? Bisa jadi. Namun jujur saja, untuk saat ini aku lebih suka tinggal di Jakarta daripada tinggal di Semarang, bahkan sampai bener-bener berdoa agar dapat penempatan di sini (sebagai PNS yang siap ditempatkan dimana saja di seluruh Indonesia hehe) dan Alhamdulillah terkabul :D

Tips enjoy Jakarta ala Monika, check it out :
  1.  Ikut banyak kegiatan
Ilmu bertebaran dimana-mana. Mau kursus bahasa? Banyak. Bahasa Arab misalnya, baru menemukan satu tempat kursus di Semarang, di Jakarta banyak bertebaran majelis ilmu. Mau kursus menjahit, memasak atau kursus lainnya? Banyak! Belum lagi festival dan pameran (Banyak diskon juga maksudnya hihi). Pameran buku saja bisa lebih dari tiga kali dalam setahun. Kemarin-kemarin juga sempat ikut merasakan kemeriahan Indonesia Open dan Sea Games.  Rugi kalau tinggal di ibukota tapi tak bertambah ilmu alias mendekam saja di kamar :D

2.       Enjoy macet dan menunggu!
Kalau di Semarang, waktu perjalanan satu jam rasanya sudah jauuuhh, bisa sampai luar kota. Kalau di Jakarta, sejam itu untuk jarak tempuh yang dekat (plus macetnya tentu saja!). Enjoy saja. Mau meng-klakson berkali-kali juga tak ada guna, apalagi mengeluarkan kata-kata umpatan. Rugi. Selain itu (karena menggunakan jasa transportasi umum) jadi sering menunggu : menunggu busway, menunggu kereta, menunggu teman yang terjebak macet :P.  Jangan lupa sedia buku di tas dan tenggelam dalam bacaan (Lumayan sejam bisa habis setengah buku :D), waktu tunggu juga bisa jadi waktu yang efektif untuk mengulang hafalan atau menambah hafalan baru. Enjoy!
3.       Banyak tempat murah (banyak tempat belanja juga)
Karena sebagian besar produksi barang di Jakarta, harga jual barang relatif lebih murah dibanding di kota lain. Mau beli barang elektronik? Bisa ke Glodok, mau beli komputer? Bisa ke Mangga Dua. Mau beli baju? Bisa ke Tanah Abang. Mau beli hape? Bisa ke Roxy. Harga tentu lebih murah karena untuk sampai ke kota lain butuh biaya pengiriman. Bisa buat kulakan (reseller lah bahasa kerennya) :D

4.       Banyak kesempatan bertemu banyak tokoh
Namanya juga ibukota, banyak tokoh tinggal atau berkegiatan disini. Banyak-banyak mencari informasi tentang kegiatan-kegiatan seru yang melibatkan tokoh-tokoh terkenal. Datangi kegiatannya atau kadang malah tak sengaja bertemu artis (kalau ini sih kemungkinan besarnya di mal hehe). Bertemu secara langsung dengan Asma Nadia, Oki Setiana Dewi, Tung Desem, Salim A Fillah dan orang-orang keren lainnya tentu lebih ‘berjejak’ di hati ketimbang membaca buku mereka (lebih bagus lagi plus baca buku mereka hehe). Aura para tokoh itu ‘beda’, belum lagi mendengar cerita dan pengalaman mereka secara langsung. Salim A Fillah misalnya, ‘menghipnotis’ para jama’ah dengan pelajaran Aqidah yang dibungkus secara indah melalui cerita-cerita Sirah Nabawiyah dengan gaya bahasanya yang keren. 

5.       Sendirian? Don’t worry!
Tak seperti kehidupan kuliah yang punya banyak teman untuk diajak jalan, saat sudah bekerja begini, teman yang ‘satu selera’ tak terlalu banyak, itupun lokasi tempat tinggalnya menyebar dimana-mana. Plus belum ada mahram yang menemani kemana-mana *jiah* jadi lah saya sering kemana-mana sendirian. Ya masak nggak jadi ikut kegiatan keren cuma gara-gara nggak ada temen? Rugi dong. Di tempat tujuan bisa dapat kenalan baru juga. Hehe. Lagipula di Jakarta ini, banyak juga orang-orang yang kemana-mana sendirian, jadi tak aneh juga. Hehe.
6.       Perhatikan keamanan
Waspada barang bawaan dan orang-orang sekitar. Apalagi kalau ada orang yang kelihatan mencurigakan, mending segera pergi menjauh. 

Oke itu tips-tips enjoy Jakarta ala Monika. Ada yang mau menambahkan? Silahkan :D. Ikuti postingan (insya Allah) esok hari ya tentang tips bepergian aman di Jakarta ala Monika. See you  :D




Thursday, February 9, 2012

R.A.N.T.A.U


           Entah sudah berapa puluh kali kereta dan bus membawaku meninggalkan kampung halaman, Semarang, menuju ibukota tetapi selalu saja sebersit rasa sedih singgah untuk beberapa saat lamanya. Entah sudah beberapa puluh kali pulang ke kotaku tetapi selalu saja setiap menjejakkan kaki lagi, ada rasa nyaman yang tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh, rasa nyaman yang sulit untuk dideskripsikan. Mungkin itulah yang disebut kampung halaman. Mungkin itu yang disebut dengan pulang.

Usia delapan belas, meninggalkan rumah untuk pertama kali demi menuntut ilmu di kampus STAN, sekitar enam ratus kilometer jauhnya dari rumah. Masih teringat jelas, satu tetes air mata jatuh saat pertama kali berada di rumah kosan yang pertama. Alangkah jauhnya aku dari rumah! Bahkan aku sempat berpikir “Bertahanlah di STAN, ya seenggaknya satu semester lah, kalau benar-benar tak tahan jauh dari rumah” mengingat STAN terkenal dengan sistem DO-nya yang ketat. Haha, kalau diingat-ingat konyol juga. Saking tak ingin jauh dari rumah waktu itu.

Jauh dari rumah artinya mau tak mau (belajar) siap untuk menjadi dewasa. Jauh dari perlindungan orang tua, jauh dari masakan mama, mencari makan sendiri dan hal-hal lainnya yang selama ini dilakukan oleh orang tua, sekarang apa-apa sendiri. Amat terasa saat puasa di kampus, paling lambat jam tiga pagi bangun dan dengan mata yang masih merem melek keluar kosan mencari makan sahur. Apalagi kalau sakit, duh rasanya ingin pulang rumah saja lah. Btw, terkadang sakit itu sembuh dengan sendirinya loh kalau pulang, homesick ini ya hihi.

Mungkin benar kata orang kalau terkadang kita butuh rasa kehilangan agar kita merasa memiliki. Saat jarak memisahkan itulah, mulai terasa betapa keberadaan orang tua di sisi adalah hal yang teramat berharga dan betapa mereka sangat menyayangi kita. Kalau tak merasakan jauh dari rumah, mungkin hubungan dengan orang tua tak akan seerat saat ini (mungkin seperti saat SMA yang agak tertutup dengan orang tua dan lebih sering berkumpul dengan teman-teman). Bercerita apa saja tanpa sungkan atau tiba-tiba menangis lantaran rindu yang begitu hebatnya tapi tak bisa begitu saja pulang. Ah.

Kata Imam Syafi’I merantaulah, manisnya perjuangan akan kau rasakan. Air yang menggenang tak akan menghasilkan air yang jernih. Merantau, selain berjuang untuk hidup tanpa orang tua, merantau menempa mental untuk menjadi dewasa. Bagaimana untuk berusaha sebaik mungkin beradaptasi dengan lingkungan baru di samping meraih tujuan dari merantau itu sendiri. Melihat banyak hal dengan sudut pandang yang berbeda. Selain itu, dengan merantau saya jadi mengenal teman-teman dari seluruh Indonesia, dengan adat yang berbeda-beda dan tentu saja merasakan lezatnya makanan khas daerah masing-masing saat usai liburan hehe.

            Merantau, entah untuk berapa lama merantau. Mungkin suatu saat saya akan kembali tinggal di Semarang, mungkin tidak. Hanya Tuhan yang tahu. Namun walau telah bertahun-tahun merantau, saya selalu merasa sebagai penduduk Semarang, entah kenapa di Jakarta ini seperti menumpang. Menumpang kerja, menumpang belajar. KTP juga tak (belum) berniat menggantinya. Haha.

Saat jauh dari rumah itulah, merasakan dengan sangat betapa saya membutuhkan keluarga, betapa kedua orang tua menyayangi saya. Dan semakin saya mengingat betapa sayangnya mama papa kepada saya, semakin saya menyadari betapa penyayangnya Yang Menciptakan mereka untuk saya. :')
Yang selalu bikin kangen: Mama, Papa, Thia dan Hilmy

Merantaulah! :D

Monday, February 6, 2012

Biarkan Hujan Berdendang


Biarkan hujan berdendang
Memeluk jiwa yang resah
Dalam sajadah yang basah
Oleh air mata sang pendosa yang tak lelah
Mengemis cinta dan ampunan Dia yang akan terus singgah
Di dalam hati insan yang lemah
Dan tak mau lalai berserah

Biarkan hujan berdendang
Tak pernah membantah titah
Menguapkan petrichor dari tetumbuhan basah
Memburatkan pelangi nan indah
Mencurahkan sejuta berkah

Biarkan hujan berdendang
Di hari-hari bulan Februari
Agar suatu hari nanti kau mengerti
Akan ada yang selalu menemani
Setiap hati yang sepi

Biarkan.. biarkan saja hujan berdendang
Tak usah kau berkeluh atau meradang
Sebinar mata kanak-kanakmu saat ia datang
Cukup kau katakan
Terima kasih, Tuhan





Saturday, February 4, 2012

Book of The Week #10 : Dua Tangis dan Ribuan Tawa


CEO Notes (CEO kependekan dari Chief Executive Officer atau bisa disebut sebagai pimpinan eksekutif) adalah salah satu bentuk komunikasi yang dilakukan oleh seorang CEO kepada karyawan-karyawannya, catatan sang CEO sebut saja demikian. Buku ini adalah kumpulan dari tiga puluh dua CEO Notes yang ditulis oleh Dahlan Iskan, mantan Direktur Utama PT PLN (Persero). Sosok pendiri Grup Jawa Pos yang saat ini menjabat sebagai Menteri Negara BUMN. Sosok yang sempat ramai diperbincangkan saat ia menghadiri rapat di Istana Negara menggunakan jasa kereta api listrik dan tukang ojek. 

Dua Tangis dan Ribuan Tawa yang menjadi judul buku ini adalah judul dari salah satu CEO Notes yang disampaikannya. Selama enam bulan pertama menjabat sebagai dirut di salah satu BUMN terkemuka ini Dahlan Iskan dua kali menangis, yang pertama di ruang rapat dan yang kedua di komisi VII DPR RI. Beban berat berada di pundaknya. PT PLN (Persero) merupakan BUMN yang memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat, pemegang hak monopoli atas listrik dan di satu sisi mempunyai berbagai permasalahan yang harus dipecahkan sekaligus yang pertama mendapat cercaan jika terdapat permasalahan yang terkait dengan salah satu hajat hidup terbesar masyarakat modern kini

      Buku ini menunjukkan bagaimana seorang Dahlan Iskan memimpin dan bagaimana ia melakukan perubahan-perubahan. Ruang kerja PLN yang penuh asap rokok menjadi bersih semenjak ia menerapkan SK Direksi yang melarang para karyawan merokok di tempat kerja jika tak ingin kehilangan pekerjaannya. Ia juga menghapuskan kebijakan perjalanan dinas yang jumlahnya mencapai puluhan ribu dalam sebulan.

        Berlatar belakang sebagai wartawan, tulisan-tulisan yang disampaikan oleh sang CEO ini seperti ditujukan secara personal ke karyawan. Ia seperti mengajak karyawan untuk ikut serta dalam perjalanan-perjalanan dinasnya ke seluruh negeri dan memahami bagaimana jalan pikiran sang pemimpin. Dahlan Iskan sendiri dikenal sebagai sosok yang merakyat, salah satu komentar karyawan atas CEO Notes mengapresiasi sosoknya yang mau turun hingga ujung tombak PLN di daerah terpencil. Para karyawan PLN sendiri berkomentar positif terhadap CEO Notes ini dan dengan adanya komunikasi ini mereka tak sungkan untuk mengeluarkan ide-ide dan uneg-unegnya.    

Kelebihan CEO Notes sendiri menurut saya terletak pada kemauan sang pemimpin untuk berkomunikasi lebih dekat dan intens kepada karyawannya (CEO Notes sendiri ‘wajib’ hadir setiap bulan) sehingga karyawan merasa dekat dengan pimpinannya yang pada akhirnya akan mempengaruhi kinerja karyawan, semangat Dahlan yang ia tularkan dan kemauannya mendengarkan para bawahan. Tak segan di CEO Notes ia menyebut nama orang-orang yang berjasa atas suatu proyek PLN tertentu. Satu lagi yang saya tangkap adalah dalam setiap perjalanan dinasnya, Dahlan tak lupa mengajak sang istri. Sang istri mempunyai peranan penting dalam kariernya.

Karena buku ini merupakan kumpulan dari komunikasi internal sang pemimpin dengan karyawannya, membaca buku ini seolah-olah memasuki perusahaan. Sang CEO tentu saja sedikit banyak berbicara dengan bahasa teknis seperti singkatan-singkatan yang tak dimengerti oleh orang luar sepeti saya (saya menyayangkan tak disebutkan kepanjangan dari singkatan-singkatan itu). Dengan membaca buku ini kita akan belajar banyak bagaimana seorang pemimpin memiliki visi. Visi yang sempat menjadikan perusahaan besar yang pernah mengalami kerugian ini bangkit. Be inspired!

Mon's rating : 4 stars ^^

Thursday, February 2, 2012

Kalau Kau Paling Paling

Kalau kau seorang menteri dan menggunakan kereta api listrik untuk menuju istana Negara, akan ada orang yang menyebutmu paling-paling sedang melakukan pencitraan

Kalau kau seorang muslimah dan ingin berubah meninggalkan hal-hal jahiliahmu, akan ada yang berkata bahwa paling-paling kau berubah karena ingin menjadi istri seorang ikhwan

Kalau kau seorang yang diberi anugerah kemampuan menghafal tiga puluh juz kitab suci dan kebetulan kau berkulit albino, akan ada yang berkata wajar saja kau bisa menjadi seorang penghafal lantaran dengan kekuranganmu paling-paling kau malu bersosialisasi, mengurung diri dan Al Qur’an lah satu-satunya pelarianmu

Kalau kau bersedekah dan menunjukkannya untuk syiar agama, akan ada yang berkata bahwa paling-paling kau riya’ dan menyebut ibadahmu percuma

Kalau kau punya niat baik dan tak jadi bergerak lantaran kau takut akan perkataan orang kepadamu, alangkah ruginya dirimu, karena hanya niatmu yang dicatat sebagai kebaikanmu…

Kalau kau yakin niatmu tertuju pada Yang Maha Satu, tetap bertahanlah dengan niatmu dan teruskan pekerjaanmu karena hanya kau dan Dia yang tahu… Kalau kau rasa niatmu melenceng, perbaharuilah niatmu tapi janganlah hentikan langkahmu…

Mengutip perkataan ustadz Akhlak, “Kewajiban orang yang melakukan suatu perbuatan (kebaikan) adalah ikhlas dan kewajiban orang yang melihatnya adalah khusnudzon,”

Mengutip perkataan Fudhail bin ‘Iyadh, “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amalan karena manusia adalah riya’ dan ikhlas adalah Allah menyelamatkanmu dari keduanya”. 


*terinspirasi dari berbagai perkataan orang tentang orang lain*