Tuesday, March 27, 2012

Blogger Versus PNS


Menulis adalah passion, sesuatu yang dilakukan karena saya suka, sesuatu yang membuat saya merasa lebih hidup. Menumpahkan apa yang ada di kepala dengan membiarkan jari jemari menari di atas keyboard. Umar bin Khattab pernah berkata,”Ajarkanlah sastra pada anak-anakmu karena sastra membuat anak pengecut menjadi berani,”. Menulis membuat saya lebih berani, berani menyuarakan pandangan dan sikap, atas sesuatu yang mungkin di dunia nyata bisa saja saya diam saja, karena faktor tertentu. 

Rasa-rasanya setiap hari saya ingin menulis, banyak ide di kepala yang ingin saya bagi. Iri rasanya melihat blogger yang setiap hari bisa menulis. Sebagai PNS dengan jam kerja 07.30-17.00 ditambah kegiatan lain atau lembur, rata-rata saya tiba di kosan pukul 20.30-21.00. Berangkat lagi pukul 06.30. Saya berusaha untuk nggak nyambi nulis saat jam kerja, walaupun rasanya tangan gatal ingin menulis lagipula jarang-jarang tak ada kerjaan. Oleh karena itu, saya paling kesal kalau ada orang yang bilang bahwa PNS itu banyak menganggurnya. Generalisasi itu sangat menyakitkan. 

PNS adalah pekerjaan, sesuatu yang berusaha untuk saya cintai (duduk di depan layar delapan jam sehari bukanlah hal yang mudah untuk saya). Menulis nota dinas itu bagi saya jauh lebih sulit dibanding menulis postingan blog. Menjadi PNS adalah salah satu bentuk pengabdian, sekecil apapun kontribusi saya untuk negara. Menjadi PNS adalah sesuatu yang saya syukuri karena tak mudah mendapatkannya, sesuatu yang saya perjuangkan.

Rasa-rasanya setiap hari saya ingin menulis tapi kadang-kadang saya merasa tak sempat dan tak ada waktu. Kata orang, orang-orang terhebat di dunia sekalipun mempunyai waktu yang sama, dua puluh empat  jam sehari, tak kurang dan tak lebih, jadi jangan pernah mengatakan tak ada waktu. Memaksakan diri setiap minggu membaca dan menuliskannya (melalui book of the week, walau sekarang sedang vakum) adalah salah satu cara misalnya. Sesuatu itu terkadang harus dipaksakan, apalagi jika itu kebaikan. Dari keterpaksaan lahirlah pembiasaan dan kebiasaan lalu kebutuhan yang akan membuat seseorang tak lengkap karenanya.  Mungkin demikian.

Manajemen waktu. Mungkin itu yang saya perlukan sekarang. Mengurangi jam tidur, sesuatu yang berusaha pelan-pelan saya terapkan, meskipun rasanya sulit sekali untuk saya yang terbiasa tidur minimal enam jam sehari. Kata Ummi, “jika kamu merasa lemah dan butuh kekuatan, semakin mendekatlah kepada Allah, semakin kamu sibuk, jangan kamu mengurangi ibadahmu tapi tambahlah,” Berjuanglah, duhai jiwa….
*curhat di tengah jam istirahat*

Thursday, March 22, 2012

Book of The Week #16 : Indonesia Mengajar

“Mendidik adalah tugas setiap orang terdidik,” (Anies Baswedan)

Pendidikan sebagai sebuah amanat Undang-Undang Dasar dan amanat Undang-Undang untuk mengalokasikan dua puluh persen anggaran negara untuk pendidikan rupanya belumlah menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Pendidikan agaknya masih merupakan suatu barang mewah di negara kita. Anies Baswedan dengan dukungan Indika Energy Group sepakat untuk berkontribusi di bidang pendidikan melalui Gerakan Indonesia Mengajar yang didirikan pada tahun 2010. Tercatat 1.383 calon mendaftarkan diri sebelum terseleksi menjadi lima puluh satu Pengajar Muda.

Buku “Indonesia Mengajar” merupakan kumpulan kisah para Pengajar Muda di daerah penempatan. Daerah-daerah yang mungkin terdengar asing di telinga dimana listrik masih merupakan suatu barang langka. Berbagai kisah diceritakan dalam empat bagian : Anak-Anak Didik Pengajar Muda, Memupuk Optimisme, Belajar Rendah Hati, Ketulusan Itu Menular dan dilengkapi dengan peta penempatan para pengajar, profil Indonesia Mengajar serta Profil Pengajar Muda.

Membaca buku ini seperti membuka mata betapa akses pendidikan belum menyentuh semua. Diawali dengan kisah tentang seorang bocah laki-laki bernama Rizki yang tinggal di daerah Passau, sebuah daerah yang sama sekali tak dialiri listrik. Sang Pengajar Muda dengan kegigihannya tak pantang menyerah mendekati sang anak hingga akhirnya terucaplah kata “Puang, yakkuq meloq maassikola, (Puang, saya mau sekolah),”. Kisah demi kisah pun mengalir, mulai dari anak kecil yang tak jadi putus sekolah lantaran bertemu guru yang menyenangkan (sang Pengajar Muda), para penduduk yang ‘memaksa’ si Pengajar Muda untuk memberi  nama anak-anak mereka, hingga anak-anak yang terbiasa dengan didikan keras, dipukul untuk bisa diam. Cara-cara kreatif para Pengajar Muda dalam menyampaikan pengajaran pun patut mendapat acungan jempol, misalnya saat sang anak yang tak bisa diam saat pelajaran bahasa Inggris disuruh untuk menghitung nyamuk dalam bahasa Inggris (bermain tepuk nyamuk).

Sayangnya, tak seperti Gerakan Indonesia Mengajar yang menurut saya patut mendapatkan apresiasi lima bintang, buku Indonesia Mengajar rasanya tak terlalu mengesankan. Entah karena keterbatasan halaman atau apa, banyak cerita yang rasanya ditulis dengan buru-buru. Cerita-cerita yang mungkin bisa lebih dieksplorasi sebelum mencapai klimaks seperti disudahi begitu saja. Beberapa cerita juga rasa-rasanya terlalu datar. Beberapa kesalahan pengetikan dan konsep cerita berulang-ulang yang kurang terorganisir membuat kurang nyaman, mungkin karena buku ini merupakan kompilasi jurnal harian dan postingan blog para pengajar.

Anyway, buku ini merupakan salah satu buku yang layak untuk dijadikan koleksi. Buku ini akan membuka mata para pembaca, mengenai arti pendidikan sebagai sebuah amanat bangsa, rasa syukur atas nikmat pendidikan yang tak semua orang bisa mengakses hingga bahwa masih ada orang-orang yang peduli terhadap anak bangsa dan rela berkontribusi nyata. Tak mengutuk kegelapan tetapi memilih menyalakan lilin. Memancarkan optimisme untuk Indonesia. Gerakan yang kemudian menginspirasi beberapa perguruan tinggi terkemuka untuk melakukan gerakan yang sama. Kebaikan itu nyata dan kebaikan itu menular. Indahnya!

Tuesday, March 20, 2012

Jleb #1 : “Di Ruangan Ini Ada yang Berasal dari Jurusan Akuntansi?”


Gambar yang bikin manggut-manggut
Suatu siang. Workshop tentang analisis perusahaan, analisis industri dan analisis ekonomi dengan seorang pembicara yang merupakan pengamat ekonomi, mantan bankir, pemilik beberapa usaha, pemain saham, penulis buku dan analis perusahaan. Materi disampaikannya dengan amat menarik, lalu pada hari terakhir beliau bertanya kepada para peserta :

“Di ruangan ini ada yang berasal dari jurusan Akuntansi?”

Seisi ruangan saling memandang dan tersenyum. Pertanyaan yang amat menohok mengingat dari sekitar tiga puluh peserta hanya dua orang yang bukan dari jurusan Akuntansi. Sang pembicara lulusan Teknik Elektro, ditunjang dengan pengalamannya sekian lama, hafalannya yang kuat tentang tanggal peristiwa-peristiwa penting, analisisnya yang tajam tentang penyebab dan akibat suatu peristiwa, kepekaannya terhadap data serta kemampuannya mengkaitkan, ia memiliki kemampuan menganalisis melebihi para peserta dengan latar belakang Akuntansi. 

Mungkin tak ada yang baru dalam presentasinya. Tentu tak ada lulusan Akuntansi yang tak mengenal istilah CAPEX, ROE, ROI beserta teman-temannya. Namun, kemampuan analisis sang pembicara lah yang membuatnya istimewa.  Misalnya saat ia memaparkan tentang hubungan antara usia dan produk yang laris di suatu negara. Negara Amerika Serikat, dengan usia penduduk rata-rata 44 tahun membutuhkan lebih banyak produk di bidang medical care, furnishing, second home dan penduduk Jepang dengan usia rata-rata 48 tahun membutuhkan lebih banyak produk di bidang insurance, private banking, travel, dan medical care. Sementara penduduk Afrika dengan usia penduduk rata-rata 18 tahun membutuhkan lebih banyak produk di bidang education dan hospital. Indonesia dengan usia penduduk rata-rata 27 tahun tentu memerlukan produk yang berbeda pula. 

Sang pembicara juga memaparkan mengenai konsumsi jagung yang terus naik. “Apakah semakin kaya penduduk semakin banyak  jagung yang dikonsumsinya? lalu mengapa konsumsi jagung meningkat?” Beliau kemudian melanjutkan, “Semakin kaya seseorang, besar kemungkinan konsumsinya akan daging meningkat, nah karena jagung merupakan alternatif pangan ternak yang relatif murah, semakin meningkat lah konsumsi jagung seiring peningkatan konsumsi daging,” Ah, siapa yang berpikir ke arah sana, kata seorang peserta workshop sehabis acara.

Belajar, tak cukup hanya dari bangku sekolah, mengamati peristiwa yang terjadi, update terhadap perkembangan dunia luar, mengenal banyak orang, mengalami banyak hal serta membuka pikiran (open-minded) adalah pembelajaran yang tanpa batas. Belajar dimana saja, kapan saja dan dari mana saja. Semoga. ^^

Thursday, March 15, 2012

Dear Miyung


Saat aku menulis ini, kita masih terpisah ratusan kilometer. Kamu mungkin baru melepas seragam merah putihmu, cepat-cepat berganti dengan baju rumah lalu berlari-lari ke lapangan sebelah rumah. Kamu bahkan tak ingat makan jika asyik bermain, itulah salah satu penyebab sakit tifusmu tapi tetap saja kamu susah makan. Tak heran jika badanmu kurus. Ayolah makan yang banyak, nanti aku buatkan nasi goreng lagi untukmu. Nasi goreng yang membuatmu minta tambah seperti saat itu. Ingat nggak dek?

Ah, pasti kamu bilang “Nggak tuh, nggak ingat,” kalau berhubungan dengan kakakmu ini atau kalau ada yang bertanya “Kangen nggak sama mbak Mon?” pasti kamu menjawab, “Nggak tuh, nggak kangen,”. Kamu memang paling gengsi kalau berhubungan dengan aku deh, huhu. Tapi tahu nggak dek aku senang banget waktu itu. Waktu kamu tiba-tiba meluk aku lama dan bilang sayang padaku, sehari sebelum aku berangkat kembali ke Jakarta. Saat tak ada orang di rumah. Eh, saat semua orang pulang dan aku bercerita kamu tak mau mengakui. Huhu. Dasar miyung *gemes.

Saat aku nulis surat ini, aku lagi kangen samamu loh. Sudah hampir dua bulan aku nggak pulang. Kangen sama adekku yang paling ganteng. Yang mirip sama aku tapi nggak pernah mau mengakui, yang sama-sama berkacamata tapi nggak mau kalau disama-samain, yang suka berantem kalau ketemu, yang udah nggak mau dicium lagi kalau ketemu. Hihi.

Ah, adekku. Nggak terasa sudah sepuluh tahun usiamu. Rasanya baru kemarin kamu lahir ke dunia ini, membuatku dan Thia nggak jadi kembang sepasang lagi. Sudah harus sholat terus ya dek, sholatnya jangan bolong-bolong dan jangan cepat-cepat ya. Ngajinya juga yang rajin ya dek, mudah-mudahan tahun ini kamu sudah bisa mengaji Al Qur’an, nggak buku Iqro’ lagi, malu dong udah gede. Hehe.

Aku ingat pernah aku bertanya padamu, “Dek, mau nggak ngasih mahkota yang indaaaaaah banget di kepala Mama Papa saat nanti hari kiamat?”, “Mau,”jawabmu lalu aku melanjutkan, “Nanti Allah ngasih mahkota sama Mama Papa kalau anaknya hafal Al Qur’an, adek mau jadi penghafal Al Qur’an nggak?” dan kamu pun mengangguk. Ah adekku, nanti kalau kamu sudah lulus SD semoga kamu mau melanjutkan ke pondok pesantren ya dek, semoga kamu kelak menjadi seorang penghafal Al Qur’an. Seperti namamu, Muhammad, semoga kamu bisa meneladani nabimu dengan sebaik-baiknya. Belajarlah sebaik-baiknya sayang, kakakmu selalu mendukungmu dari jauh.

with Hilmiyung :)
Untuk adekku tersayang, Muhammad Hilmy Herdiansyah yang sering dipanggil Hilmy atau Miyung (Itu panggilan sayang jadi nggak boleh protes hihi).

Sun sayang dari mbakyumu yang paling cantik :p





Tulisan ini diikutkan pada GIVEAWAY: Aku Sayang Saudaraku yang diselenggarakan oleh Susindra (kategori Surat untuk Saudaraku)

Tuesday, March 13, 2012

Kultwit #enjoyIslam oleh Ustadz Felix Siauw


Kultwit #enjoyIslam oleh Ustadz Felix Siauw :
1.       Bagi yang sulit baca qur'an dapat 2 pahala, bagi yang fasih bacaannya akan ditempatkan bersama para malaikat suci dan mulia #enjoyIslam :)
2.       Bersama niat baik ada pahala baginya, bila dilakukan berlipat pahala, dan bagi niat buruk ditahan hitungannya sampai dilakukan #enjoyIslam
3.       Gak bisa shalat berdiri >> duduk, gak bisa juga >> baring, gak bisa juga >> gerakan mata, #enjoyIslam
4.       Bagi yang takut pada Tuhannya ada 2 surga, bagi yang berharap surga pada Tuhannya pun diberi-Nya #enjoyIslam
5.       Yang punya duit sedekah dikasi pahala besar, yg disedekahin ucap "jazakallah" maka pahalanya sama seperti yg sedekah! #enjoyIslam
6.       Yang miskin dan beriman punya surga, yang kaya dan beriman juga punya surga #enjoyIslam
7.       Yang baca Al-Qur;'an satu huruf dikasi 1 kebaikan dan 10 pahala, yg dengerin juga dapet kebagiannya #enjoyIslam
8.       Islam itu mudah, jangan dipersulit bila ada dalil yg memudahkan, dan jangan dipermudah dengan liberalisme #enjoyIslam
9.       Bila ketemu musibah dia sabar, bila ketemu nikmat dia syukur, semua selalu ajib bagi mukmin, itulah Islam :) #enjoyIslam
10.   Suami dgn wajah kurang baik dapet istri cantik, si suami bersyukur dan istri bersabar, dua-duanya dapat bagian pahalanya masing2 #enjoyIslam
11.   Bila hidup peroleh kemuliaan, bila mati dapat syahid, itulah kisah mujahid fii sabilillah, tak ada ruginya :) #enjoyIslam
12.   Takbiratul ihram tangan sejajar kuping boleh, sejajar bahu boleh, diatas kuping juga boleh, enak kan :) yg gak boleh gak takbir #enjoyIslam
13.   Shalat shubuh qunut boleh, gak qunut juga boleh, yang nggak boleh yang nggak shalat shubuh :) #enjoyIslam
14.   Shalat tarwih 11 rakaat boleh 20 rakaat jg boleh, tak jadi masalah, yang jadi masalah yg males tarwih :) #enjoyIslam
15.   Bila bicara benar dapet pahala, berdiam karena khawatir salah juga dapet pahala, subhanallah :) #enjoyIslam
16.   Bila terjaga dalam mengingat Allah dihitung ibadah, rehat dan mengingat Allah pun dihisab pahala, #enjoyIslam,
17.   Sedekah sembunyi2 boleh, sedekah terang-terangan juga boleh, yang nggak boleh terang-terangan gak sedekah :) #enjoyIslam
18.   Sedekah dikit tapi ikhlas dapet pahala, sedekah banyak dan ikhlas juga dapet pahala, yg nggak boleh ikhlas gak sedekah #enjoyIslam

    diambil dari kultwit ustadz @felixsiauw pada tanggal 1 Maret 2012, semoga tidak ada yang terlewat dan semoga bermanfaat ^^

Sweet Escape : Bali!


Bali Island, 25th Feb till 29th Feb 2012 :)


welcome to Bali!


Kuta beach, about 11 a.m, how hot it was!









Git-git waterfall, brrr




Sunrise in Lovina beach



Kecak dance, so beautiful, see it!
infront of Antonio Blanco Museum, nice one!
Batur Mount and Lake, the view was great yet cloudy there

Lunch with the view of Batur, try this restaurant, great!
so delicious!

Barong Dance :)
i love the sky in Tanjung Benoa
Garuda Wisnu Kencana (GWK)
In Dreamland beach
Padang-padang beach

Monday, March 12, 2012

Goresan #1 : Shorof di Surga

"Nanti ketika penduduk surga berkumpul, mereka bernostalgia tentang apa-apa yang mereka lakukan di dunia. Kita akan bernostalgia bahwa saat ini ane mengajarkan shorof pada antum, semoga ilmu yang kita pelajari berguna bagi kita"

(perkataan Ustadz Shorof, ustadz Supriyadi, pada muridnya saat pertemuan terakhir pelajaran Shorof mustawa tsalisi)

Aamiin, aamiin ya robbal 'alamiin...

Sunday, March 11, 2012

Book of The Week #15 : Please Look After Mom

Pic's taken from Goodreads
Seberapa dalam kita mengenal ibu kita? Sesosok perempuan yang telah bersusah payah menghadirkan raga kita ke dunia dan membesarkan kita hingga dewasa? Seberapa besar kita mengenalnya, tak hanya sebagai sesosok perempuan dengan perannya sebagai ibu untuk anak-anaknya tetapi juga mengenalnya sebagai perempuan yang utuh, mengenal harapan-harapannya dan perasaan-perasaannya?

Bagaimana rasanya jika mengetahui bahwa ibu kalian tertinggal kereta yang akan membawanya ke kota dan tatkala Ayah yang saat itu bersamanya menyadari bahwa Ibu tak ada di belakangnya lalu kembali ke stasiun tak menemukan sesosok ibu di sana. Hari berganti hari dan Park So-nyo belum juga ditemukan.

Menggunakan alur maju-mundur dengan tempo sedang, novel yang ditulis oleh sastrawan berkebangsaan Korea Selatan, Kyung Sook Shin, ini bercerita tentang perasaan dan kenangan yang timbul dalam anggota keluarga yang kehilangan. Hyong Chol, si sulung yang teringat kembali bahwa ia pernah berjanji untuk menjadi jaksa karena itulah yang diinginkan oleh ibunya, si tengah Chi-hon yang menyesal bahwa ia terlalu sibuk untuk sekadar bertelepon dengan ibunya dan sang Ayah yang menangis menyadari perempuan yang dinikahinya lebih dari lima puluh tahun lalu ini tak pernah ia perhatikan dengan semestinya. Semua perasaan timbul manakala menyadari mungkin Ibu tak akan pernah kembali lagi.

Bersiap-siaplah tisu saat membaca novel setebal 293 halaman ini. Kalimat demi kalimat mengalir lembut dengan penuh emosi. Ibu, yang akan melakukan apa saja demi anak-anaknya, memikul semua beban dan selalu memperlihatkan bahwa ia baik-baik saja. Ia tak pernah mengeluh atau menangis. Tak ada yang tahu atau mungkin tak ada yang menyadari.

Apakah Ibu berhasil ditemukan? Apakah akhirnya anak-anaknya berhasil mengutarakan semua perasaan yang akan mereka utarakan pada Ibu kalau-kalau mereka diberi kesempatan bertemu Ibu beberapa jam saja? Temukan jawabannya di buku yang sarat dengan kalimat-kalimat indah nan menggugah. Tak hanya manis seperti sepotong coklat yang lumer tetapi juga memberikan pertanyaan besar kepada pembaca : “Seberapa dalamkah kau mengenal ibumu?” dan seolah-olah berteriak : “Please, look after Mom,” jangan sampai kita baru menyadari betapa luar biasanya seorang Ibu setelah ia tak ada...

Very very recommended! :)

Judul Buku: Please Look After Mom (Ibu Tercinta)
Penulis      : Kyung Sook Shin
Penerbit    : Gramedia Pustaka Utama

Wednesday, March 7, 2012

Nyari yang Haram Saja Susah!

Kalau Anda iseng-iseng mencari ‘arti sukses’ pada mesin penelusuran terbesar, Google, Anda akan menemukan sekitar 12.800.000 hasil. Agaknya, manusia memiliki betapa banyak arti mengenai sebuah kesuksesan. Ada yang mengartikan sukses sebagai suatu pencapaian yang dapat dilihat secara kasat mata seperti banyaknya gelar yang melekat pada nama, tingginya jabatan yang disandang atau seberapa panjang digit nominal tabungan. Tak salah memang karena tak ada definisi baku untuk kesuksesan. Relatif, sebagaimana manusia memandangnya.

Namun sayangnya, bermacam-macam cara dilakukan untuk disebut sebagai ‘orang sukses’. Ada yang rela menggelontorkan uang pelicin ratusan juta demi mendapatkan status sebagai PNS, ada yang rela melakukan apa saja demi memiliki harta menumpuk. Tergelitik rasanya mendengar salah seorang yang saya kenal berkata,”Nyari yang haram saja susah, apalagi yang halal!” tatkala ada yang menegur kebiasaannya berjudi togel. Miris. Kesuksesan tak lagi dimaknai sebagai sebuah proses melainkan hasil jadi. Yang penting hasilnya, entah caranya bagaimana itu nomor sekian.

Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Ungkapan itu menggambarkan bahwa seseorang dikenang melalui amal perbuatannya semasa hidup. Harta melimpah ruah pun tak akan dibawa ke liang lahat. Bekerja keras lagi kepayahan di dunia, melakukan apa saja hingga mengabaikan hukum Tuhan dan norma masyarakat lalu mati dan tak membawa apa-apa selain kain putih yang membungkus badan, belum ditambah pertanyaan “Dari mana hartamu dan untuk apa kau habiskan?” saat dibangkitkan kelak.

Sukses mulia. Slogan yang dipopulerkan oleh motivator terkemuka Jamil Azzaini rasanya tepat menggambarkan bagaimana untuk mendefinisikan sebuah kesuksesan. Sukses tak hanya sukses semata tetapi ada misi yang diembannya. Mulia. Mulia dalam cara untuk mencapai apa yang diyakini seseorang sebagai sebuah kesuksesan dan mulia dalam pemanfaatannya. Alangkah indahnya, jika manisnya sukses yang direguk di dunia diikuti dengan kemuliaan di akhirat nanti. ^^

previously posted in http://filsafat.kompasiana.com/2012/03/07/nyari-yang-haram-saja-susah/

Monday, March 5, 2012

Book of The Week #14 : Halal dan Haram


Gambar dicari melalui Google
Menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal merupakan hal yang mendapatkan ancaman serius dalam Islam karena perkara tersebut hanyalah milik Allah semata (bahkan ada yang menyetarakannya dengan perbuatan syirik), oleh karenanya diperlukan kecermatan dan kehati-hatian dalam menentukan halal atau haramnya suatu hal. Pun dalam menentukan hal tersebut tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang melainkan orang-orang yang mempunyai kemampuan untuk melakukan ijtihad sebagai salah satu sumber hukum Islam. Syarat untuk dapat melakukan ijtihad disebutkan antara lain mempunyai kemampuan menghafal AlQur’an, mengetahui asbabun nuzul ayat-ayat AlQur’an, menguasai ilmu Fiqih dan Ushul Fiqih, menguasai ilmu Hadits serta sederet  penguasaan ilmu lain. Tak heran jika disebutkan dalam suatu hadits bahwa jika seseorang berijtihad dan fatwanya benar maka baginya dua pahala (pahala atas ijtihadnya dan pahala kebenaran) serta apabila seseorang berijtihad dan menghasilkan fatwa yang salah, ia mendapatkan satu pahala atas usaha yang telah dilakukannya.

Yusuf Qaradhawi, seorang ulama Mesir yang kini berusia 85 tahun, menghadirkan sebuah kitab Fiqih yang mengupas perkara halal dan haram dalam kehidupan kaum Muslim. Agaknya, beliau menggunakan pendekatan ‘pemahaman’ dalam meneropong perkara-perkara yang hadir dalam keseharian umat Muslim. Membuka dengan Q.S Al Maidah:6 yang terjemahannya berbunyi,”Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu besyukur,” ulama yang hafal Al Qur’an di usia sembilan tahun ini seperti ingin menancapkan pemahaman umat bahwa ketetapan Allah atas suatu hal entah haram atau halal bukanlah dimaksudkan untuk menyulitkan. 

Pemahaman yang hendak diberikan oleh beliau tak hanya berupa dalil-dalil yang melarang atau membolehkan suatu hal tetapi juga diberikan pembahasan yang cukup komprehensif mengenai hikmah yang tersembunyi dibalik pelarangan sesuatu sehingga membuka pikiran orang awam yang membacanya. Pemilihan kata yang digunakan sederhana tanpa mengurangi ketegasan akan suatu perkara, disebutkannnya dalil-dalil hingga pandangan ulama empat madzhab beserta sebab turunnya suatu dalil. Yusuf Qaradhawi, agaknya, menggunakan bahasa yang santun dengan menyebutkan pandangan menggunakan kata “berdasarkan yang kami tahu,” “yang kiranya”,”yang lebih baik,”.

Buku ini tak semata-mata membahas mengenai halal atau haramnya makanan dan minuman yang menghabiskan lebih dari seperempat bagian buku tetapi juga menyangkut aspek halal dan haram suatu perbuatan kaum muslim ditinjau dari perspektif syari’at seperti mengenai pakaian dan perhiasan, memelihara anjing, bekerja dan usaha, halal dan haram dalam pernikahan dan kehidupan keluarga, serta perkara-perkara muamalah lainnya. 

Sebagai ulama yang hidup di zaman sekarang, beliau juga memetakan perkara kekinian umat Islam (diistilahkan sebagai Fiqih Kontemporer) seperti hukum asuransi hingga menonton bioskop menurut perspektif syari’at. Namun demikian, pendapat-pendapat Yusuf Qaradhawi tak luput luput dari kontroversi. Menurut pandangan saya, ambillah pendapat-pendapat beliau yang memiliki dasar hukum yang kuat dan tentu saja dengan rujukan kitab Fiqih lain yang tak semata dari satu sumber. Wallahu a'lam bisshowab.

Referensi :
1.       "Hai orang-orang yang beriman: Janganlah kamu mengharamkan yang baik-baik (dari) apa yang Allah telah halalkan buat kamu, dan jangan kamu melewati batas, karena sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang suka melewati batas. Dan makanlah sebagian rezeki yang Allah berikan kepadamu dengan halal dan baik, dan takutlah kamu kepada Allah zat yang kamu beriman dengannya." (terjemahan Q.S.Al-Maidah: 87-88)

2.       "Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya." (HR Muslim)

3.         Hadis riwayat Amru bin Ash ra.: Bahwa ia mendengar Rasulullah saw. bersabda: Apabila seorang hakim memutuskan perkara dengan berijtihad, kemudian ia benar, maka ia mendapatkan dua pahala. Dan apabila ia memutuskan perkara dengan berijtihad, lalu salah, maka ia memperoleh satu pahala. (Shahih Muslim)


Sunday, March 4, 2012

"Mbak, Makanannya Kok Nggak Ada Tulisan Halalnya,”


Deg. Saya sontak kaget dengan perkataan polos seorang bocah yang usianya terpaut tiga belas tahun lebih muda ini. Di sebuah supermarket sementara anggota keluarga lain tatkala itu lengah meneliti tulisan arab tiga huruf, si bungsu tak lalai mencermati bungkus-bungkus makanan yang kadang dimasukkan begitu saja ke dalam troli. Serta merta kedua kakak dan sang ibu mengambil bungkus makanan dan baru mencermati dengan teliti. Malu-malu, membenarkan perkataan sang adik, dikembalikan makanan tersebut ke tempatnya. Kejadian tiga tahun yang lalu.

Sudah beberapa bulan saya mengikuti sebuah akun twitter yang bernama @halalcorner (saya rekomendasikan untuk Anda follow). Sebelumnya, mungkin status ‘halal’ yang saya cermati hanya semata-mata sebatas tulisan pada suatu kemasan, ternyata bisa lebih dari itu. Kue donat kesukaan, tempat makan favorit atau kosmetik yang kadang-kadang dipakai semenjak mengetahui bahwa belum ada jaminan halal dari LPPOM MUI (Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia) rasanya lebih aman diganti dengan produk lain yang telah mendapatkan sertifikat halal. (silahkan cek di situs resminya)
'Jaminan halal' dari MUI

Ada apa dengan sertifikat halal LPPOM MUI?

Sederhana saja, orang awam seperti saya tak mempunyai kemampuan untuk mengecek kehalalan dari suatu produk jadi lebih aman bagi saya untuk menisbatkan diri kepada ‘jaminan’ para ulama yang berani menentukan kehalalan suatu produk. Mengatakan sesuatu sebagai halal sementara hal tersebut adalah haram dan sebaliknya mengatakan sesuatu itu haram sementara hal tersebut halal merupakan suatu perbuatan yang diancam dengan dosa yang besar. Saya yakin para ulama yang berani menjamin memiliki suatu kemampuan dan keyakinan yang dapat dipertanggungjawabkan di akhirat nanti.

Memang, tak bisa serta merta mengklaim bahwa produk yang belum bersertifikat halal dari LPPOM MUI sebagai suatu produk haram, hanya saja tak ada yang menjamin bahwa ia halal, entah dari LPPOM MUI atau produsennya sendiri (terkadang ada produsen yang mencantumkan tulisan ‘HALAL’ atau dalam bentuk huruf arab, jika tulisan halal dari LPPOM MUI ada tulisan MUI juga) sehingga dikhawatirkan produk tersebut jatuh pada kategori syubhat (berada di antara halal dan haram) yang sebaiknya dihindari sebagai sutu bentuk wara’ (kehati-hatian).

Dari produsen biasanya seperti ini
Dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir r.a,”Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang syubhat (samar-samar) yang tidak diketahui oleh orang banyak. Maka, barang siapa yang takut terhadap syubhat, berarti dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan barang siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam perkara yang diharamkan….”(HR. Bukhari dan Muslim)
Selain itu, perkara syubhat akan menimbulkan suatu keragu-raguan dalam hati lantaran belum jelasnya status halal atau haramnya suatu produk.
Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak meragukanmu” (HR.Tirmidzi)

Mudah-mudahan kita semua semakin cermat dalam mengkonsumsi suatu produk karena halal merupakan syarat mutlak bagi seorang Muslim. Insya Allah, produk-produk halal jauh lebih banyak dan lebih bermanfaat daripada produk yang haram ataupun diragukan kehalalannya. Seperti nasihat om saya (adik Mama) yang selalu diulang-ulang dikatakannya :
Lebih baik berhati-hati di dunia karena kalau sudah di akhirat tak akan bisa kembali di dunia.  ^^

-----
Insya Allah, besok kita berjumpa lagi dengan ‘book of the week’ yang mengupas tentang halal dan haram karya ulama kontemporer terkemuka Yusuf Qaradhawi (telat sehari dari jadwal hehe), sampai jumpa besok ^^