Monday, April 30, 2012

Moslems in Somewhere Outside Indonesia


she's so cute ^^
Sometimes I wonder how it feels living as a Moslem in somewhere else outside Indonesia or what if I were born as Palestinians, perhaps, I would not be what I am today. Moslems in Palestina meet different situations than moslems in Indonesia. You know what I’m talking about. People basically have different kind of problems to pass in life, some of them are insecure to have peaceful lives (for example those who live under the war), they have no choice but struggling (that makes me feel so thankful living in Indonesia). In Indonesia where we have so much ease to do anything we want, we can worship whenever we want without fear, Moslemah can wear hijab freely, our problems as Moslems might be ‘world temptations’ : food, fun, fashion.

Several months ago, I read such an incredible well-elaborated book titled ‘Garis Batas’, written by Agustinus Wibowo (you can read my review here) that broadens my mind, his journeys to unusually visited countries such as Tajikistan, Kazakhstan, Turkmenistan don’t only talk about what the countries are but also what attracts me most is his stories about Moslems living in countries which the culture of communist strongly inherited. Besides that, I also enjoyed reading ‘99 Cahaya di Langit Eropa’, written by Hanum Rais, (you can read my review here) which tells about the writer’s journey looking for the what Islam has remained in Europe. My imagination was like wandering around the places Hanum tells before I googled the pictures of them. ^^

By the way, If you have twitter account, I recommend you to follow @islamicthinking account. He/she is an Moslem lives in England (I don’t know whether he/she is an English or not yet), his/her (forgive me I don’t know the gender yet) tweets are enlightening in a simple yet powerful words. You can also visit Islamic Thinking. This account makes me curious about his living there in England, how people in Europe perceive Islam and other questions coming to my mind. Other social networking, Facebook, also enables me to know a sister from Arabia, I was a little surprised when she added me as friend but then we started to talk. Besides, I can practice my Arabic with her. I hope the nahwu (grammar) I use is appropriate ^^ (by the way, typing my keyboard to Arabic letters takes me so long time so I prefer talking in English with her ^^) 

I was told that if we pray for someone/people then they will know and feel close with us eventhough they never know about our prayers. One of my friend proved that. She often prays for Moslems in other countries, Moslems who live under the pressure of the government (she said Moslems from Uygur, Moro, Iraq, etc) before going pilgrimage. When she was in Baitullah, Moslemahs from all the countries that she has ever mentioned in her prayer came to her, one by one in unexpected ways of coming. A moslemah from Uygur suddenly came to her camp to take ablution because she ran out of water in her camp. How come, said my friend.

Traveling around the world is one of my dreams. I wanna see many places, meet many people and feel many things. The stories of Moslem’s living in other countries are very interesting for me but sometimes I think : how to get know with them? for example It will be weird adding friend over the world on Facebook randomly right.. (I should find the way next time).. Maybe if you read this and you have friend from other country, I prefer Moslemah ;), you can get her know me or if you are Moslem from other country, it will be nice to know you. Innamal mu’minuna ikhwah.. We are brother and sister, pray for one another ;)

"O you men! surely We have created you of a male and a female, and made you tribes and families that you may know each other; surely the most honorable of you with Allah is the one among you most careful (of his duty); surely Allah is Knowing, Aware. (translation of Al Hujurat : 13)

Sunday, April 29, 2012

Apa Niatmu Menulis?


Tiap-tiap orang memiliki niat dan tujuan tersendiri dalam menulis. Ada yang menulis sebagai sarana untuk mengekspresikan diri, alat propaganda, mata pencaharian, media berbagi, sarana dakwah, ingin populer dan sebagainya. Sah-sah saja menurut saya. 

Yang perlu diingat adalah bahwa kita akan mendapatkan apa yang kita niatkan. Sungguh. Kalau tulisan dibuat agar mendapatkan pujian orang lain maka itulah yang akan didapat, kalau tulisan dibuat untuk mendapatkan popularitas maka itulah yang akan didapat, sebatas itu. Jika tulisan dibuat untuk mencari keridhaan Allah, insya Allah itu yang didapat. Logikanya, apa yang menjadi niat kita melakukan sesuatu akan mendorong kita menuju arah itu. Misalnya seseorang menulis untuk menghibur orang lain, tentu ia akan mencari-cari tulisan yang bagaimana yang menghibur orang lain dan berusaha mewujudkannya. 

Disebutkan dalam hadits Arba’in pertama : Dari Amirul Mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khattab ra berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW  bersabda, “Seseungguhnya diterimanya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan. Barangsiapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya (akan diterima) sebagai hijrah karena Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa berhijrah karena dunia yang akan ia peroleh atau wanita yang hendak dinikahinya maka ia akan mendapati apa yang ia tuju,” (HR. Bukhari Muslim)

Namun, alangkah indahnya jika apa yang kita tulis kita niatkan agar membawa kebaikan di dunia dan juga di akhirat. Bi ‘idznillah.

“Barangsiapa yang mengkehendaki pahala di dunia saja (maka ia merugi) karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat,” (terjemahan Q.S An-Nisa:134)

Yuk bersama-sama meluruskan niat dalam menulis mungkin-mungkin selama menulis pernah ada niat yang ‘kurang lurus’. Seperti kata Ippho Santosa dalam bukunya yang fenomenal, ‘7 Keajaiban Rezeki’, jika ada niat yang melenceng luruskan niat dan tetap melangkah. Bukan malah berhenti.

Semakin banyak menulis artinya bisa jadi semakin banyak kebaikan yang disebar tetapi di sisi lain semakin banyak perkataan (tulisan) yang kelak akan dipertanggungjawabkan. 

Jadi apa niatmu menulis? *Hanya kamu dan Tuhanmu yang benar-benar tahu :)


#NotetoMySelf, tulisan ini sedikit banyak terinspirasi tulisan seorang teman, Deady, di blognya


Saturday, April 28, 2012

30-day Writing Challenge : Challenge Me!


Sedih sekali melihat jumlah tulisan bulan ini yang hanya berjumlah empat biji (sebelum tulisan ini) dan sekaligus menunjukkan grafik menurun. Hiks. Seperti yang pernah saya singgung di tulisan Blogger Versus PNS bahwa menulis adalah salah satu passion, sesuatu yang bisa membuat seseorang menjadi passionate, hanya saja tak mudah untuk meracik kata-kata menjadi sebuah tulisan utuh secara berkala dan konsisten. Entah karena inilah, itulah. Selama nggak nulis itu rasa-rasanya ada yang kurang buat saya, ya seperti lama nggak melakukan suatu hobi begitulah...

Kata orang, terkadang sesuatu yang baik itu harus dipaksakan. Karenanya, mulai esok hari saya ‘menantang’ diri sendiri untuk menulis penuh berturut-turut selama tiga puluh hari agar saya nggak punya pembenaran lagi untuk nggak (konsisten) menulis. Entah nanti jadinya bagaimana, bagus atau nggak, yang penting saya menulis dulu. Mengasah ‘pena’ setajam-tajamnya. Dari pembiasaan lama-lama jadi kebiasaan (semoga). Kejelekan saya salah satunya adalah suka menunda-nunda, termasuk menulis ini, entah sudah berapa rancangan tulisan yang tak usai teronggok di folder. 

Ngomong-ngomong soal challenge, pada waktu bulan Oktober yang lalu seorang teman (ini blognya) menantang untuk menulis di blog selama seminggu berturut-turut. Kami sama-sama suka menulis tapi produktivitas masih minim. Bisa juga kalau dipaksakan. Hehe. 

Selain itu, saya bersama enam teman seangkatan saat kuliah dulu membentuk ‘Kelompok Menulis Ceria (KMC)’ yang setiap dua minggu sekali (dulu tiap bulan) menyetorkan tulisan di Kompasiana dengan tema yang ditentukan salah satu dari kami. Lalu kami saling menilai tulisan masing-masing. Sederhana nampaknya tapi terkadang menulis tema yang ditentukan orang lain itu menantang (kadang nggak tahu mau menulis apa) dan dikejar deadline dua mingguan itu seru juga. Haha (terlebih untuk saya yang masih merasa deg-degan memasukkan tulisan di media sebesar kompasiana). Silahkan jika ada yang berkenan melongok tulisan-tulisan kami di sana (Saya, Chandra, Zuman, Tada, DodoBambang dan Kharly).

Bismillahirrohmanirrohiim. So here I go, my writing challenge will start from tomorrow. Ohya jika ada yang berkenan memberi tantangan tema menulis saya dengan senang hati menerimanya (asal nggak aneh-aneh ya hehe), silahkan komen di postingan ini/chatbox atau via apa saja. *Kalau ini terinspirasi writing challenge Naya :)

Biar lebih semangat, saya bikin juga gambar ‘30-day writing challenge’ untuk dipasang sebulan di blog ini. I will very appreciate every comment you make on my blog in the next, next and next posting guys. See you!

 

Thursday, April 26, 2012

Mata Merah Ayah


Setengah berlari aku menyambut kedatangan Ayah saat terdengar derap langkah kakinya memasuki rumah. Hari ini hari pembagian rapor semester, Ibu yang tadi pagi pergi ke sekolah mewakili Ayah yang masuk bekerja. Ayah berhenti sejenak dan menatapku, ia tersenyum sekilas sambil mengelus kepalaku. Aku terdiam sejenak, tak seperti biasanya Ayah bersikap demikian. Biasanya demi mendengar anak sulungnya meraih juara satu, ia memberi pelukan hangat sambil menepuk-nepuk punggungku dengan keras. “Ini baru anak Ayah,” begitu selalu katanya. Ia lalu akan mengajakku pergi keliling kota dan sepanjang perjalanan kami akan berbicara banyak hal. Membicarakan impianku melanjutkan sekolah di ibukota provinsi tahun depan tentu lebih mengasyikkan sambil memandang birunya langit daripada memandang eternit yang sudah mulai lapuk di rumah petak kami. Sepeda motor butut kesayangan Ayah akan berbelok ke sebuah toko kecil di tengah kota, Ayah akan membebaskanku membeli apa saja di sana.

Mungkin Ayah lelah, tepisku menghalau kekecewaan. Sebagai pegawai rendahan di sebuah pabrik konveksi ia bekerja sepuluh jam sehari dengan sistem shift, pulang dari kantor ia beristirahat sejenak sembari menonton acara televisi kesayangannya lalu selepas maghrib ia menarik motornya keliling kota, mengojek hingga pukul sepuluh malam. Terkadang aku menunggunya pulang untuk sekadar memijit punggungnya sambil bercerita apa saja meski Ayah jarang berkomentar. 

---

Siang yang cerah, libur semester baru berjalan tiga hari dan aku mencetak tiga gol hari ini. Dengan ringan kulangkahkan kaki menuju rumah, lezatnya sayur lodeh buatan Ibu terbayang di depan mata. Loh loh, aku tak salah lihat bukan, Ayah duduk bersandar di kursi beranda, pandangannya kosong. Bukankah beliau seharusnya sedang bekerja saat ini, aku bergegas menghampirinya.

“Ayah tak masuk kerja? Sakit yah?” tanganku memegang pundaknya pelan
Ayah menggeleng.
“Lalu?”

Ayah menggeleng lagi. Pasti ada yang tak beres. Aku mencari Ibu ke seluruh sudut rumah dan tak menemukannya. Ibuku hanya seorang ibu rumah tangga yang terkadang menerima jasa menjahit. Hampir tak pernah ia meninggalkan rumah kecuali untuk pergi ke pasar, mengikuti arisan atau pengajian. 

“Amiiiiiiiiiir!!!” 

Pekikan keras membahana, langkah tak sabar menuju arah kami. Lima orang laki-laki yang tak ku kenal memasuki rumah dengan kasar. Salah seorang dari mereka mencengkeram kerah kaus Ayah sambil memojokkan tubuh kurusnya ke tembok. Mataku melotot, apa-apaan ini. Aku mendorong tubuh laki-laki itu dengan keras, ia jatuh terjerembab ke tanah. Dua orang dari mereka dengan sigap memegangi tubuhku. Ayah menarikku dan memasang sikap bertahan. Belum pernah aku melihat wajahnya segarang ini. 

“Kau punya waktu dua minggu Amir untuk mengembalikan uang kami. Jika tidak, lihat saja apa yang bisa kami lakukan kepadamu dan keluargamu terutama putra semata wayangmu ini,”
Kelima laki-laki itu lalu pergi setelah puas memaki-maki dan meludahi Ayah.

---

Ayah sudah beberapa hari tak pulang rumah. Aku mencarinya kemana-mana, ke pabrik, ke pangkalan ojek tempat Ayah biasa mangkal, ke rumah teman-temannya dan hasilnya nihil. Ibu menangis tak henti di atas sajadah, tak jarang ia tertidur di atasnya. 
Pintu depan digedor dengan kasar.

“Hasan buka pintu Hasan!,”
Brak. Bunyi berdebam benda jatuh di atas lantai.
“Ayah,” seruku tertahan

Aku mendudukkan tubuh kurusnya. Matanya merah, amat merah, tubuhnya berbau tak sedap dan hey, dengan kuat aku mencium aroma alkohol dari mulutnya.

“Ayahmu Paman temukan di pinggir sebuah warung. Ia teler lantaran mabuk dan asal kau tahu, Ayahmu baru saja berjudi sebelumnya,”

Informasi demi informasi mengalir cepat dari mulut Paman Agus, salah seorang tetangga kami. Tak mungkin, desisku tak percaya, Ibu menggeleng. Ayahku tak mungkin begitu, Ayahku yang mengajarkanku mengaji dan memukulku kalau aku malas sholat tak mungkin begitu.

Paman Agus mengangkat bahu tak peduli sebelum pamit pulang. Aku menunggu Ayah hingga terjaga. Pukul dua malam ketika Ayah terbangun dengan nafas yang memburu, aku mengangsurkan segelas air putih ke hadapannya.

“Minum dulu Ayah,”

Ayah memandangku dengan tatapan nanar, agaknya kesadarannya belum pulih benar.

“Ini Hasan Yah, Ayah di rumah sekarang, “

Ada jeda yang panjang sebelum Ayah berucap, “Maafkan Ayah Nak, sungguh maafkan Ayah,”

Tiba-tiba Ayah meraung seperti anak kecil. Refleks aku memeluknya. 

“Sudah pagi Yah, Ayah akan membangunkan banyak orang. Tenang Ayah. Ada apa?”

Ayah menarik nafas panjang. Ia mulai bercerita tentang investasi yang dilakukannya atas saran seorang teman, investasi di sebuah usaha katering di kota, ia menghabiskan nyaris seluruh tabungannya dan juga menghimpun uang dari teman-temannya. Investasi yang pada mulanya lancar dan kemudian tersendat-sendat sebelum berhenti sama sekali. Uangnya dibawa lari. Ayah dituntut mengembalikan uang teman-temannya dan dengan kalut ia menggelapkan uang pabrik. Pemilik pabrik mengetahuinya dan mengancam memecat Ayah hingga larilah Ayah ke meja judi. Berakhir malam ini.

“Ayah untuk apa melakukan semua itu Ayah? Bukankah itu juga bukan kesalahan Ayah?”
“Ayah tak sanggup Nak sungguh, orang-orang itu mengancam akan mencelakanmu Nak, putraku satu-satunya yang lahir setelah sepuluh tahun menikah, Ayah sungguh tak sanggup Nak jika harus melihatmu terluka,”

Pipiku mulai terasa hangat.

“Uang hasil investasi itu nanti untuk biayamu sekolah di ibukota provinsi Nak, kau anak yang cerdas, mana mungkin aku membiarkanmu berakhir menjadi pegawai pabrik sepertiku,”

Aku memeluk tubuh Ayah yang berguncang. 

“Nasihatku Nak, tolong kau masih mau mendengar nasihatku, seberat apapun kehidupanmu nanti Nak, jangan pernah menyelesaikan masalahmu dengan hal yang haram Nak karena ia sungguh tak akan membantumu menyelesaikan masalahmu, cukup aku yang bodoh melakukannya, aku sungguh beruntung masih hidup, tadi aku bermimpi tak bisa melihatmu lagi” Suara Ayah terdengar pilu.

Aku mengangguk pelan.

Ayah mengambil air wudhu dan mulai menghadapkan tubuhnya ke kiblat. Tangisannya yang tertahan pelan terdengar. Suara tangisnya kemudian berganti dengan suara tilawah yang sangat ku kenal. Matanya memerah kembali, kali ini oleh air mata penyesalan. Ayah.

---

Tak ada lagi Ayah yang mengantarkanku berangkat sekolah menggunakan motor tua kesayangannya, tak ada lagi Ayah yang mencari tambahan penghasilan sebagai tukang ojek. Motor butut peninggalan kakek telah tergadai tunai. Ayah menemaniku berjalan kaki. Tiga belas kilometer setiap hari. Waktuku berbicang dengan Ayah lebih lama lagi.




-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Belajar menulis cerpen, masih sangat amatir, mohon saran dan kritiknya ya teman-teman  terkait apa saja (tokoh, penokohan, alur, dsb) ^^


Friday, April 6, 2012

Book Review #17 : 99 Cahaya di Langit Eropa

Apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kata Islam dan Eropa? Mungkin tipis hubungannya mengingat Islam bukanlah agama mayoritas di sana. Pada kenyataannya, Islam pernah menorehkan sejarah tinta emas peradaban beberapa abad yang lampau melalui ilmu pengetahuan yang berkembang begitu pesatnya saat Eropa sendiri sedang mengalami Abad Kegelapan atau biasa disebut Abad Pertengahan. Siapa yang tak kenal  Ibnu Rusyd atau Averroes, filsuf terkenal asal Cordoba yang disebut sebagai Bapak Renaissance Eropa, sosok yang memperkenalkan the double truth doctrine (dua kebenaran yang tak terpisahkan antara agama dan ilmu pengetahuan atau sains) atau Ibnu Sina melalui kitabnya Al Qanun Fit Thibb (Canon of Medicine) yang disebut-sebut sebagai Ensiklopedia Kedokteran.

Berpetualanglah bersama Hanum Rais dan Rangga Almahendra, sepasang suami istri yang mencoba menelusuri jejak-jejak peradaban Islam di Eropa. Petualangan dimulai dari Wina, ibukota Austria, tempat Rangga menempuh program studi doktoralnya selama tiga tahun. Wina adalah kota terakhir yang menjadi saksi kegagalan pasukan Islam Ottoman Turki menyerbu Wina. Tahun 1683, saat Kara Mustafa Pasha memimpin agresi militer terakhirnya sekaligus tahun terakhirnya hidup di dunia.

Buku setebal 392 halaman ini dibagi menjadi empat bagian : bagian yang menceritakan Wina, Paris, Cordoba dan Granada serta Istanbul.Di kota Wina, Hanum dan Rangga berkenalan dengan seorang muslimah turki bernama Fatma. Muslimah yang mengajarkan bahwa seorang muslim haruslah menjadi seorang agen Islam yang baik, Islam yang rahmatan lil alamin. Alih-alih membalas olok-olok para pemuda setempat yang menyebut roti croissant sebagai simbol kekalahan Turki, ia mentraktir mereka bir dan meninggalkan secarik kertas bertuliskan : Hi, I am Fatma, a Muslim from Turkey dan alamat emailnya membuat para pemuda tersebut malu dan mengirimkan email permohonan maaf.

Sungguh tak jemu membaca buku ini. Dituturkan dengan bahasa yang ringan, bernas dan cerdas pembaca seperti hanyut dalam perjalanan penulis. Perjalanan yang tak semata fisik tetapi juga spiritual. Lalu, ya, mungkin sedikit dari kita yang pernah mendengar tentang sejarah gemilang Islam di Eropa. Salah satu jejaknya tertinggal di Mezquita, masjid megah yang kini dijadikan sebagai Gereja Katedral. Ada juga Istana Alhambra, istana termahsyur di kota Granada yang merupakan salah satu Unesco World Heritage Site. Negara Turki juga tak kalah memesona dengan Hagia Sophia, bangunan yang pernah menjadi gereja, masjid dan kini berfungsi sebagai museum.

Buku ini ditutup dengan sebuah epilog yang memukau. Semua perjalanan yang dialami penulis membawanya menuju titik nol. Ka’bah, terminal terakhirnya. Pergi dan kembali hanya untuk-Nya.

A must-read book!
Hagia Sophia

*semoga suatu saat bisa ke tempat-tempat yang diceritakan di buku ini, aamiin*
Mezquita

Alhambra


Anak Jalanan Oh Anak Jalanan


Tubuh kecilnya berhenti persis di depan saya yang tengah duduk di barisan tengah metromini, suatu pagi saat hendak berangkat ke kantor.  Tangannya menengadah, saya menggeleng pelan. Saya pikir ia akan berlalu dari hadapan tapi ternyata tidak. Kedua tangan bocah yang berusia kira-kira sembilan tahun itu mendorong-dorong bahu saya keras. Tak cukup dengan itu, ia memajukan kedua kakinya juga, membenturkan lututnya ke kaki saya. “Saya sudah teriak-teriak dari tadi sampai suara serak, nggak ada yang ngasih,”bentaknya keras. Olala, ini penyebabnya. Ia telah ‘mengeluarkan suara’ dan tak ada yang memberinya sepeser pun semenjak tadi. Apesnya, saya yang kena ‘kemarahannya’. 

Saya tak bereaksi, nanti juga capek sendiri pikir saya. Namun cukup lama rupanya saya menjadi sasarannya sehingga saya risih juga. “Dek udah dek,”kata saya. Beberapa penumpang juga membela saya. “Biarin, biar kapok,”bentaknya. Akhirnya saya menggeser badan. Tak lama kemudian ia berlalu dengan mengumpat kencang menyebutkan alat kelamin laki-laki. Bocah sembilan tahun.

Kalau Anda pengguna metromini, Anda pasti akan sering menemui orang-orang yang berdiri dan mengeluarkan suaranya, ”Assalamu’alaykum pak bu ya, kita hidup harus saling tolong menolong pak bu ya, daripada kami harus mencuri, menjambret atau merampok lebih baik kami berterus terang kepada Anda pak bu ya, lebih baik kami cari makan dengan halal seperti ini pak bu ya, seribu atau dua ribu tak akan membuat Anda miskin pak bu ya, harta itu tak akan dibawa mati pak bu ya” temannya lalu menyahuti, “Benar pak bu ya,” lalu salah seorang dari mereka menengadahkan tangan ke para penumpang metromini. 

Tak masalah jika mereka kemudian berlalu. Namun sering saya temui mereka marah jika tak dikasih uang. Mulai dari mengeluarkan kata-kata yang memaksa, mencolek-colek tangan, hingga mengumpat, “Berjilbab kok nggak punya hati nurani,”. Pernah juga ketika saya mengulurkan koin lima ratus ia melempar koin tersebut ke muka saya. Bukan masalah nominal, hanya saja hati saya seperti tak rela memberi para pemuda gagah yang saat meminta terkadang rokok menyelip di antara kedua jari.

Anak jalanan. Saya tak tahu apakah Pemerintah (dalam hal ini instansi yang berwenang) telah memberikan perhatian yang cukup kepada mereka. Ketika saya bercerita kepada Ibu yang kebetulan bekerja di instansi pemerintah yang mengurusi bidang sosial masyarakat (di daerah), Ibu bercerita panjang lebar, “Pemerintah itu perhatian sama anak jalanan. Sudah berulang kali kami mengajak mereka ke rumah singgah atau panti asuhan tapi mereka selalu kabur. Di sana mereka dididik dengan baik, disekolahkan sampai SMA, dikasih makan tiga kali sehari, dibelikan baju baru secara berkala, bahkan diberikan les juga, hidupnya dijamin dan teratur bahkan banyak anak jalanan yang berprestasi tapi ya itu di panti kan disiplin, mereka pengennya bebas jadinya tak tahan lalu kabur,” saya mendengarkan,”Nanti kalau kamu mau, saya ajak melihat langsung keadaan panti,” 

Ah, saya bermimpi suatu hari nanti tak ada lagi anak-anak yang berkeliaran di jalanan demi mencari sesuap nasi. Mereka duduk manis di sebuah kelas mendengarkan pelajaran dan memimpikan masa depan yang tentu saja bukan di jalanan. Saya bermimpi suatu hari nanti, para pemuda gagah itu malu meminta-minta dan kemudian menyingsingkan lengan mereka dan bekerja. Entah menjadi penjual tisu atau penjaja koran, tentu lebih mulia dari meminta-minta. Namun hingga saat itu tiba, anak jalanan adalah sosok yang akan saya temui setiap kali menggunakan jasa metromini. 


*previously published in Kompasiana*

Thursday, April 5, 2012

Seperti Cinta Pertama


Waktu kelas tiga, kalau tak salah ingat, untuk pertama kalinya saya merasakan antusiasme yang begitu besar terhadap sesuatu. Seperti orang jatuh cinta rasanya (ah, kayak saya pernah merasakan saja hehe). Jatuh cintanya bukan sama anak laki-laki sebaya tetapi saya jatuh cinta sama buku. Iya, buku. Buku pertama yang saya punya berjudul Seri Tokoh Dunia : Napoleon Bonaparte dan Sidharta Gautama yang sampai sekarang masih tersimpan rapi di rumah. Hadiah dari Om Win, adik ketiga Papa. Harganya saya masih ingat benar : Rp3.900,00 per buah (sekarang harganya sudah mencapai Rp24.000,00). Dalam waktu sehari saya langsung tuntas membacanya.

Kedua buku itulah yang menjadi awal kecintaan saya membaca. Semenjak itu semangat baca saya tinggi sekali. Tiap hari saya tak pernah absen baca koran (Suara Merdeka) sepulang sekolah. Buku pelajaran juga rajin saya baca loh (waktu SD hehe). Setiap minggunya saya menunggu dengan tak sabar kedatangan majalah Bobo di rumah. Kebahagiaan yang sederhana.

Saya langganan Bobo dari harganya Rp1.500,00 hingga harganya Rp7.500,00 (entah kapan itu, kalau tak salah ingat dari kelas tiga SD sampai SMP, setelah itu sudah tak langganan tapi kadang-kadang beli). Majalah Bobo itu tak terlupakan. Mulai dari cerpen-dongeng yang ada (ah siapa yang tak kenal Bobo sekeluarga, Husin, Paman Kikuk, Nirmala, Oki, Bona dan Rong-rong?), rubrik Boleh Tahu seputar pengetahuan-pengetahuan menarik, ulasan menarik seputar negeriku (Tanah Airku) dan artikel-artikel lainnya. Bahkan hingga sekarang (usia hampir dua puluh tiga) saya masih ingat persis alur cerita pendek  atau dongeng yang berkesan dan nama penulis yang sering wira-wiri saat itu : Ny. Widya Suwarna, Kemala P, Pipiet Senja. Rubrik ‘Untuk Latihan Di Rumah’ juga membantu untuk lebih memahami pelajaran. Entah ini kebetulan atau tidak, waktu SD tak pernah lepas dari sepuluh besar *saya merasa ini ada hubungannya dengan majalah Bobo yang memberikan banyak hal kepada pembacanya. Heu. 

Bisa dibilang Bobo mempunyai pengaruh besar dalam perkembangan masa kecil saya *seriously. Seorang anak dengan ibu bekerja (sebagai PNS yang pulang sore) dan tinggal bersama Eyang (waktu SD saya tinggal bersama Eyang dan hanya tinggal bersama orang tua saat Sabtu-Minggu). Bobo membuat kecintaan saya akan membaca semakin besar, sampai sekarang.

Melihat majalah Bobo tergeletak di kamar adik sepupu saja membuat saya seperti menemukan suatu kenangan yang indah, membacanya tak henti sampai habis. Bobo juga membuat saya mempunyai sahabat pena (hingga sekarang masih berhubungan loh melalui dunia maya). Saya juga masih ingat betapa gembiranya saat mendapatkan hadiah tas bobo  lantaran menang TTS. Haha. Rasa-rasanya sedih dan tak rela saat Mama meloakkan sebagian koleksi majalah Bobo (lantaran ruang penyimpanan di rumah yang tak terlalu besar). 

Ah, nanti kalau saya punya anak, saya mau membacakannya majalah Bobo ah (sekalian baca lagi :D)... Bobo itu tak terlupakan, pantas saja ia seperti tak lekang oleh zaman. Semenjak terbit pertama kali tanggal 14 April 1973 hingga sekarang, Bobo masih tetap eksis dan menjadi majalah anak-anak nomor satu. Selamat Ulang Tahun dan sukses selalu, Bo! :)

*Bukan postingan berbayar, ingin menyampaian surat pembaca tapi kok ya umur sudah tak pantas haha*