Thursday, May 31, 2012

P.A.S.S.I.O.N


Apa cita-citamu saat kecil?

Sewaktu kecil setiap ditanya mengenai cita-cita, saya bingung menjawabnya. Saya belum terpikir untuk menjadi apa saat besar nanti. Sempat latah bercita-cita menjadi seorang dokter seperti kebanyakan teman tetapi menyadari bahwa saya tak tahan melihat darah, luka dan semacamnya. Gagal. Hidup mengalir saja hingga SMA. Belum terpikir menjadi apa, yang penting sekolah dulu. Hihi. Hingga pada SMA kelas XII baru menyadari bahwa pokoknya saya tak mau berhubungan dengan ilmu alam. Titik. Cita-cita saya maju satu langkah. Saya mau berkecimpung di ilmu sosial, entah apa itu bentuknya.

Singkat kata, akhirnya saya berkuliah di STAN (yang tak ada ilmu alamnya sama sekali tentu saja hoho), di sana saya menemukan passion yang selama ini saya cari-cari dan belum menemukannya : mengajar. Berbagi ilmu bahasa Inggris dengan siswa-siswa yang berjuang untuk lulus tes masuk kampus STAN. Ya,mengajar bimbel. Belum pernah saya merasakan semangat dan gairah yang meletup-letup seperti pada saat saya mengajar. Saya menunggu-nunggu jam mengajar, setelah mengajar saya mempersiapkan bahan untuk diajarkan keesokan harinya, membuat ringkasan materi untuk adik-adik yang saya ajar, hingga mencarikan jalan pintas agar siswa cepat paham dan melebihkan jam mengajar tanpa diminta. Sungguh mengajar membuat hidup saya lebih hidup. Binar mata murid-murid saat mereka paham apa yang saya ajarkan rasanya luar biasa. Kepuasan yang tiada terukur. Saya merasa berguna…

Saat pengumuman instansi kerja saya sangat berharap bisa bekerja di BPPK (Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan) lalu ditempatkan di kampus STAN dan mendaftar menjadi widyaiswara (dosen). Atmosfer dunia ajar-mengajar membuat saya merasa amat nyaman. Ketentuan Yang Di atas, keinginan itu tak terkabul. Saya bekerja di tempat yang tak bersinggungan dengan dunia pendidikan. Tak mengapa.

Mengajar dan belajar adalah satu paket yang tak terpisah. Meningkatkan satu sama lain. Ya, apa yang mau diajarkan kalau tak ada yang dipelajari sebelumnya. Mencari ilmu adalah sebuah kewajiban. Ulama zaman dahulu melintasi batas negeri demi mempelajari satu buah hadits, zaman sekarang yang mana segala fasilitas dan kemudahan belajar di depan mata seharusnya membuat pencarian ilmu menjadi jauh lebih bersemangat. Seluruh waktu, biaya dan pikiran yang tercurah bukanlah sebagai sebuah ‘biaya’ melainkan ‘investasi’, di dunia maupun di akhirat.

Salah satu keinginan terbesar saya dalam hidup adalah membuat sekolah untuk anak yang kurang beruntung. Mengajarkan macam-macam, mulai ilmu dasar Aqidah, Fiqih hingga Bahasa Arab, Mandarin dan beraneka keterampilan.Saya membayangkan berada di depan kelas, memegang spidol atau berada di taman yang rindang menggenggam cangkul, mengajarkan ilmu bercocok tanam. Ah, mimpi untuk sepuluh hingga lima belas tahun lagi. Dengan izin Allah tentunya.

Saya juga tak sabar mengajarkan beraneka rupa ilmu untuk anak saya nanti (walaupun saya masih belum tahu siapa ayahnya hehe). Ilmu-ilmu yang harus saya pelajari dari sekarang. Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Ia membentuk pondasi dasar sang anak. Karenanya ia harus pandai, paham ilmu agama nomor satu dan ilmu kehidupan setelahnya.

Doakan saya dapat menjadi pengajar yang baik untuk anak-anak saya nanti dan mendirikan sekolah yang diidam-idamkan. Saya terlambat sadar bahwa dunia pendidikan adalah passion saya, sesuatu yang membuat hidup ini lebih hidup tetapi insya Allah, saya akan berada di jalan ini… Mungkin kini, mungkin suatu hari nanti…

Karena salah satu pahala yang terus mengalir adalah ilmu yang bermanfaat…. 

----
Tulisan ini diikutsertakan dalam kontes giveaway yang diadakan oleh Mbak Awal (pemilik blog Khansa with Passion) :)


Monday, May 28, 2012

The Deadliner


Penyebutan ‘The Deadliner’ (sepertinya dalam bahsa Inggris tak ada istilah ini) mungkin merujuk pada seseorang yang suka menunda-nunda untuk melakukan pekerjaan hingga detik-detik terakhir tenggat waktu atas suatu hal. Contohnya, saya *tarik nafas panjang*, tercatat setidaknya tiga kali saya mengumpulkan tulisan untuk diikutsertakan dalam lomba menulis hingga detik-detik terakhir. Kalau deadline tanggal XX pukul 23.00 misalnya, saya baru mengumpulkan pukul 22.00. Ditulis sejam sebelumnya. Padahal jelas-jelas sudah tahu tentang lomba itu beberapa minggu sebelumnya. Pernah bahkan ketika hendak membuat tulisan di menit-menit terakhir lalu ketiduran, gagal deh. Contoh lain dari ‘The Deadliner’ adalah orang yang suka melakukan SKS (Sistem Kebut Semalam) untuk ujian keesokan harinya. Beda-beda tipis dengan ‘The Deadliner’ adalah ‘The Procrastinator’ yakni orang yang suka menunda-nunda melakukan suatu hal yang tidak ada atau tidak ia ketahui batas waktu terakhirnya. Perbedaan di antara mereka adalah pada deadline. Persamaan keduanya adalah mereka tidak bersegera.

Apa kira-kira yang menyebabkan munculnya ‘The Deadliner’ atau ‘The Procrastinator’?
1.    Malas
Jelas rasa malas yang menyerang (dan tak diserang balik) adalah faktor terbesar dari kebiasaan menunda-nunda.
2.    Kurang kesadaran
Kurangnya kesadaran akan betapa berharganya waktu. Akan terasa misalnya pada orang yang tertinggal kereta yang melaju beberapa detik sebelumnya.
3.    Kurang motivasi
Motivasi dapat berasal dari dalam dan luar diri seseorang. Motivasi terbesar berasal dari dalam diri. Bisa jadi pekerjaan yang ditunda-tunda itu adalah pekerjaan yang tak disukainya, tak dikuasainya atau dirasanya kurang penting.
4.    Sudah menjadi kebiasaan
Sekali menunda-nunda seseorang akan memiliki kecenderungan melakukan hal yang sama di masa yang akan datang. Lambat laun akan menjelma menjadi sebuah kebiasaan yang susah dihilangkan. Bisa jadi malah merasa aneh jika melakukan suatu hal saat belum dekat dengan batas waktu akhir.

Padahal tentu saja menunda-nunda suatu pekerjaan memiliki beberapa dampak negatif seperti :
1.    Tak tenang dalam menyelesaikan pekerjaan
Pekerjaan yang dilakukan dalam waktu singkat akan menyebabkan seseorang melakukannya secara terburu-buru dan gelisah lantaran takut akan tak cukupnya waktu yang ia miliki.
2.    Kurangnya persiapan dalam melakukan suatu pekerjaan
Seharusnya ia bisa memulai melakukan suatu pekerjaan dari jauh-jauh hari tetapi ia memulainya mepet dengan deadline. Alhasil ia hanya mempunyai waktu yang relatif terbatas dalam menyelesaikan pekerjaan tersebut.
3.    Tak mencapai hasil yang maksimal
Kalau saja persiapan yang dilakukan lebih baik, lebih besar peluang akan memperoleh hasil yang lebih memuaskan.
4.    Menambah kemalasan lagi dan lagi
Sikap menunda-nunda salah satuna disebabkan oleh rasa malas dan akan menghasilkan rasa malas yang bertambah. Menumpuk dan menumpuk.
5.    Risiko gagal terselesaikan tinggi
Pada saat waktu mepet untuk melakukan sesuatu, tak menutup kemungkinan muncul hal-hal pengganggu di waktu itu. Sudah SKS-an buat ujian keesokan harinya, sakit perut misalnya sehingga gagal untuk belajar atau seperti yang saya ceritakan di atas, gagal mengumpulkan tulisan lantaran ketiduran di menit-menit terakhir.

Nah, kalau sudah menyadari hal-hal tak enak dari menunda-nunda, berikut tips-tips agar menghilangkan kebiasaan menunda-nunda.
1.    Bayangkan dampak tak enaknya
Saya yakin sekali bahwa orang yang memiliki kebiasaan menunda-nunda pasti pernah mengalami ‘kualat’ atau ‘ketanggor’ kalau orang Jawa bilang. Entah dalam bentuk ketiduran, mendadak sakit perut atau hal lainnya. Bayangkan jika hal itu terjadi lagi, tentu tak enak rasanya.
2.    Memulai adalah setengah dari menyelesaikan pekerjaan
Yakini dengan sepenuh hati bahwa memulai suatu pekerjaan adalah setengah dari menyelesaikannya. Hal yang terberat dari suatu pekerjaan tak dipungkiri adalah memulainya. Pokoknya mulai dulu, entah nanti bagaimana prosesnya, mulai saja dengan tak lupa mengucap bismillah.
3.    Buat target
Target membantu kita untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Pokoknya harus selesai tanggak sekian, beberapa hari sebelum deadline misalnya. Atau untuk menghilangkan banyak alasan tak menulis, membuat 30-day writing challenge (iya ini adalah bagian dari menghilangkan kebiasaan buruk menunda-nunda) misalnya. Hehe.
4.    Self-reward and self-punishment
Jika berhasil menyelesaikan pekerjaan sebelum batas akhir berilah diri sendiri ‘reward’ atau memberi diri sendiri ‘punishment’ jika tak berhasil menyelesaikan target. Sesuaikan dengan diri masing-masing tentu saja.
5.    Bayangkan besok tak ada waktu lagi
Ini agak ‘serem’ tapi bayangkan waktumu tak tersisa banyak. Pasti akan cepat-cepat menyelesaikan hal-hal yang harus diselesaikan.
gambar dari sini
Jangan menunggu sore hari untuk melakukan suatu pekerjaan yang bisa dilakukan pada pagi hari kata Nabi. Katakan ‘tidak’ untuk menunda-nunda. Lepas label ‘The Deadliner’ atau ‘The Procrastinator’. Yeah. Mari-mari :)

Bersegeralah, duhai diri…

Karena kebaikan terkadang harus dipaksakan..

---
Tulisan terakhir dari 30-day writing challenge. Bisa juga jika memaksakan diri. Hehehe.


*Reflesi sekaligus nasihat untuk diri sendiri* :)

Sunday, May 27, 2012

The Similar Circle


Dulu saya jarang mengkonfirmasi permintaan pertemanan di Facebook dari orang-orang yang tak saya kenal. Minimal alumni sekolah yang sama bagi saya. Bukan apa-apa, malas saja rasanya berbagi dengan orang yang tak dikenal. Kadang ada yang menulis status yang membuat saya kurang nyaman membacanya sehingga akhirnya saya remove dari daftar teman. Hehe.

Namun lambat laun, rasa-rasanya berteman dengan orang yang satu almamater saja membuat dunia menjadi sempit. Orang yang satu almamater misalnya akan cenderung memiliki sudut pandang yang sama akan suatu hal, mengingat latar belakang yang sama.

Semenjak aktif menulis di blogger dan membaca tulisan-tulisan keren dari para blogger yang notabene tak saya kenal di dunia nyata dan memiliki latar belakang serta sudut pandang beragam, pikiran saya menjadi lebih terbuka. Ada hal-hal baru yang saya temui dan ada ilmu baru yang saya dapatkan. Dan tentu saja banyak teman baru yang dikenal.

Dalam berteman di Facebook pun begitu, saya mengkonfirmasi permintaan pertemanan dari orang yang tak dikenal selama jelas identitasnya (dan tak alay tentu saja hoho) dan menge-add orang-orang baru, berteman dengan orang baru yang mempunyai beragam bidang membuat News Feed tak monoton dan selalu ada hal-hal yang menarik di dapatkan. Misal berteman dengan para dokter akan membuat sedikit banyak tahu dunia kedokteran, berteman dengan penulis sedikit banyak tahu dunia kepenulisan. Memperluas jaringan. 

Itu baru di dunia maya. Apalagi di dunia nyata. Jauh lebih menarik tentu saja. Mungkin benar ungkapan dunia tak selebar daun kelor. Jelajahi dunia dan temui banyak hal. 

*Edisi jelajah dunia maya*
-bersambung-

Saturday, May 26, 2012

Jilbab : Dulu dan Sekarang (Bagian Terakhir)


Saat SMP hingga SMA, saya memandang perempuan berjilbab dengan ‘tatapan lebih’. Mereka hebat, pikir saya. Kala itu masih sedikit perempuan Muslimah yang mengenakan jilbab (saya termasuk yang belum). Jika memandang teman-teman yang telah berjilbab saya iri, damai dan tentram memandang mereka dengan busana yang menutup seluruh tubuh kecuali muka dan tangan. Perilaku mereka pun santun dan dekat dengan nilai-nilai agama. Pendek kata, teman-teman saya yang berjilbab bagi saya merupakan sebuah teladan. 

Hingga akhirnya pun saya memantapkan niat berjilbab pada saat duduk di kelas XII. Salah satu faktor pendorongnya adalah saya banyak bergaul dengan mereka.

Sekarang ini, perempuan berjilbab dapat ditemui dimana-mana. Dengan jilbab dan busana beraneka ragam dan bentuk (silahkan jika berkenan membaca tulisan Jilbab : Dulu dan Sekarang (Bagian Pertama). Bukan hal yang asing lagi dalam masyarakat. Hal yang lumrah dan biasa.

Tere Liye pernah menulis dalam sebuah status yang saya kutip dari fan page beliau :
“Saya harus memberitahu kalian, tahun 80-an, 90-an, wanita yang berkerudung/berjilbab adalah keputusan berani demi menegakkan perintah kitab suci, jumlahnya sedikit, terlihat berbeda dan bisa-bisa dalam kondisi ekstrem dianggap subversif. Tanyakan pada orang tua, kakak2 kalian yang masih mengalaminya.

Hari ini, wanita yang berkerudung/berjilbab sedang pacaran mojok di manalah, naik motor memeluk erat pasangan lawan jenis, kelayapan malam2, terlihat lumrah sekali.

Selamat malam minggu. Lupakan saja status tidak penting ini.”
Perempuan berjilbab dan tidak berjilbab sama saja sekarang kelakuannya, kata seorang teman. Perkataan yang tak asing adalah : “Percuma berjilbab, kalau kelakuannya masih nggak bagus, mending nggak berjilbab sekalian,”

Ah apa iya. Perempuan yang telah berniat baik menutupi auratnya dan melaksanakan niatnya sama dengan perempuan yang belum tergerak hatinya. Setiap kebaikan dan keburukan dicatat dengan sempurna, sekecil apapun tak ada yang sia-sia. Lalu apabila perilakunya belum baik, bukan salah jilbabnya tentu saja. Menutup aurat adalah kewajiban, tak peduli bagaimana perilaku seorang perempuan Muslimah, ia tetaplah sebuah kewajiban. 

Jilbab adalah sebuah identitas keislaman. Identitas yang membawa sebuah konsekuensi atas sikap dan perilaku agar sesuai dengan identitas itu. Ya, menjadi seorang Muslimah…

Identitas secara busana dan perbuatan…

---

Ingatkan saya sungguh untuk semua salah dan khilaf, perilaku yang kurang sesuai, saya masih harus terus dan terus belajar dan belajar menjadi seorang Muslimah yang baik...

Friday, May 25, 2012

Pinta Malam Ini


Al Manar.
Suara beberapa orang Nenek nyaring bersahut-sahutan. Syahdu sungguh. Saat para jama’ah satu persatu meninggalkan masjid seusai sholat maghrib, mereka masih bertahan, melantunkan ayat-ayat Tuhan. Mungkin ini hikmahnya tadi saya datang terlambat, bisa mendengarkan betapa di usia mereka yang senja, mereka masih diberi kekuatan dan semangat yang luar biasa. 

Saya teringat Nenek di Semarang, Nenek saya satu-satunya (cerita tentang Nenek di tulisan Yangti). Beliau diuji dengan sakit yang membuatnya tak bisa bangun dari tempat tidur. Dalam beraktivitas sehari-hari beliau dibantu oleh seorang perawat dan setiap hendak menunaikan sholat sang perawat membasuhkan kain handuk yang telah dibasahi air ke anggota tubuh yang disucikan. Betapa mahalnya sungguh harga sebuah kesehatan.

Mata saya tak lepas memandang beberapa Nenek di hadapan saya. Takjub. Berdoa nanti saat rambut memutih, kulit keriput, badan melemah atau apapun itu, saya senantiasa diberi kekuatan…

Kekuatan iman yang menyala meski raga telah renta
Kekuatan untuk menjalankan semua kewajiban yang akan digigit erat sekalipun dengan geraham
Kekuatan untuk senantiasa berada dalam keta’atan
Hingga saat nanti roh terpisah dari badan
Kekuatan untuk terus dan terus…
Merindukan-Mu Tuhan…
Merindukan setiap perjumpaan dengan-Mu…
Merindukan mati di jalan-Mu…

Seorang ulama pernah berpesan : "Jagalah dirimu dari maksiat di kala muda, Allah akan menjagamu di kala tua...


Semoga. Semoga dan semoga.
Semoga Dia berkenan mengabulkan pinta
Seorang hamba nan lemah dan berdosa ini...

Thursday, May 24, 2012

Jilbab : Dulu dan Sekarang (Bagian Pertama)


Dekade 80-an merupakan era kebangkitan Islam di Indonesia yang salah satunya dipengaruhi oleh pergerakan Islam di Iran. Kesadaran memakai jilbab mulai tumbuh di kalangan perempuan meski di era ini perempuan yang mengenakan jilbab bisa dilabeli sebagai pengikut aliran sesat hingga mengalami berbagai penolakan atas jilbab yang dikenakannya. 

Saya masih ingat benar, pada saat SMP dua orang teman yang sudah mengenakan jilbab harus menyerahkan pas foto untuk keperluan sekolah yang memperlihatkan kedua telinganya. Saat saya lulus SMA tahun 2007, seluruh siswi berjilbab di sekolah (entah ini peraturan sekolah atau peraturan dari mana) diwajibkan untuk membuat surat pernyataan bersedia menanggung risiko apa saja (atas jilbab yang dikenakan) sebelum kami lulus. Hingga sekarang saya pun masih belum bisa memahami apa makna di balik aturan pas foto harus memperlihatkan telinga dan surat pernyataan tersebut. 

Beberapa tahun belakangan ini, kesadaran menutup aurat (berjilbab) berkembang dengan pesatnya dalam masyarakat. Jilbab telah diterima dengan luas dalam berbagai lingkup masyarakat misalnya dalam profesi tertentu yang dahulu mensyaratkan karyawannya tidak berjilbab. Busana Muslimah dengan aneka model, jilbab dengan aneka gaya hingga berbagai aksesoris menarik. Pendek kata, terdapat berbagai kemudahan dalam upaya menutup aurat. Perempuan berjilbab dapat ditemui dimana-mana.

Sekarang ketika jilbab ramai dikenakan dimana-mana, ada beberapa hal yang saya lihat yang membuat saya kurang nyaman secara pribadi :

1.    Celana Legging
Dulu sebelum marak model perempuan berjilbab mengenakan legging sebagai pakaian luar, saya mengenal legging sebagai pakaian yang digunakan dalam senam. Celana legging membentuk lekuk kaki dengan sempurna lantaran melekat pada kulit. Pakaian yang , menurut saya, kurang pantas digunakan sebagai pakaian luar seorang perempuan Muslimah. Kecuali legging dikenakan sebagai pelapis rok panjang tentu saja :)

2.    Rok mini
Beberapa kali saya melihat perempuan berjilbab mengenakan atasan panjang lalu bawahan rok mini yang dikombinasikan dengan celana legging atau stocking. Jujur buat saya pribadi, saya tak habis pikir dengan model seperti ini.

3.    Kaos manset
Kaos manset adalah kaos yang biasanya digunakan sebagai pelapis pakaian lengan pendek. Yang menjadi masalah, menurut saya, jika kaos manset ini digunakan sebagai pakaian luar. Bahan kaos manset biasanya spandex atau katun yang jatuh di kulit membentuk lekuk tubuh bagian atas. Pernah saya melihat seorang perempuan berjilbab seleher pada waktu itu mengenakan kaos manset berwarna muda (sebagai pakaian luar) sebagai atasannya, busana yang tak hanya membentuk lekuk tubuh dengan sempurna tetapi juga memperlihatkan (maaf) pakaian dalamnya.

4.    Jilbab setengah-setengah
Pertama kali melihat fenomena ini pada saat SMA saat bertemu adik kelas yang berjilbab pada saat sekolah tetapi di mal ia berjalan-jalan tanpa mengenakan jilbab. Ada ya seperti itu? pikir saya pada waktu itu. Namun semakin hari rasa-rasanya saya melihat fenomena itu lebih banyak lagi. Misalnya saat kuliah/bekerja mengenakan jilbab, saat sudah tidak berada di kampus/kantor melepas jilbabnya.

5.    Jilbab yang terlalu tipis
Semakin banyak jilbab dari hari ke hari tetapi rasa-rasanya semakin tipis kain jilbabnya. Jilbab yang tipis (apabila tidak dilapisi tentu saja) memperlihatkan leher secara terawang sementara leher merupakan aurat yang semestinya ditutupi.

6.    Full-pressed body
Pakaian atas dan bawah amat sangat ngepas di badan.

Pakaian Muslimah yang kita  kenakan seyogyanya -meminjam istilah akuntansi- bersifat substances over form (subtansi melebihi bentuk) artinya tak sekadar berbentuk menutup aurat dalam arti hanya memperlihatkan muka dan telapak tangan saja tetapi lebih dari itu ada substansi yang jauh lebih penting dari bentuknya, bahwa jilbab yang dikenakan memiliki tujuan agar Muslimah mudah dikenal (akan identitas keislamannya tentu saja) dan tidak diganggu.
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak permepuanmu dan isteri-isteri orang mu’min : “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka “. Yang demikian itu supaya mereka lebih mdah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu….” (terjemahan Q.S Al Ahzab:59)
“… Dan hendaklah merka menutupkan kain kudung ke dadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya…” (terjemahan Q.S. An-Nuur:31)

Sayang rasanya kalau perempuan Muslimah sudah mau menutup aurat tetapi pakaian yang dikenakan dapat mengundang pikiran atau pandangan negatif dari lawan jenis. Seorang teman laki-laki pernah meminta saya untuk memberitahu seorang teman perempuan (berjilbab) agar tak mengenakan pakaian yang seksi dan terlampau membentuk lekuk tubuhnya lantaran beberapa teman laki-laki membicarakannya secara (maaf) ‘kurang pantas’. 

Mudah-mudahan kita termasuk golongan yang istiqomah dalam berjilbab dan berjilbab secara ‘substansi’nya. Aamiin.


                          Karena yang berharga, disimpan secara hati-hati bukan? :)


---
Catatan :
Mohon maaf jika ada yang kurang berkenan dengan tulisan ini, sama sekali tak ada maksud menyinggung siapapun secara pribadi. :)






Wednesday, May 23, 2012

Menjadi Dewasa


Menjadi dewasa adalah…
Menyadari betapa sedikitnya waktu yang tersisa. Betapa banyaknya waktu yang terbuang sia-sia.
Titik dimana ada perasaan ingin kembali ke suatu masa dan mengubahnya tetapi menyadari bahwa apa-apa yang terjadi adalah apa-apa yang menguatkanmu..

Menjadi dewasa adalah..
Mengetahui bagaimana cara bersikap dan menempatkan diri… sekalipun pada suatu kondisi yang paling tak diinginkan… menyadari benar arti suatu pilihan dan konsekuensi yang berdampingan…

Menjadi dewasa adalah…
Menyadari setiap kesalahan dan menangisinya…  bahwa manusia hanyalah sesosok lemah nan tak berdaya…  

Menjadi dewasa adalah…
Mengetahui apa yang terpenting dalam hidup ini dan tahu kemana harus melangkahkan kaki… 

Menjadi dewasa adalah…
Menjalani hari-hari .. dengan rasa syukur… bahwa masih ada kesempatan lagi dan lagi…

Menjadi dewasa adalah…
Sebuah perjalanan…
hingga nanti berhenti pada suatu titik…
Titik kembali…







Tuesday, May 22, 2012

Belajar Bahasa Arab Buat Apa?

Kata orang bahasa Arab termasuk bahasa yang susah untuk dipelajari. Pengelompokan kata benda misalnya tak semata tunggal untuk satu orang/benda lalu jamak untuk lebih dari satu orang/benda, dalam bahasa Arab terbagi menjadi mufrod (tunggal), mutsanna (dua orang/benda)  lalu baru disebut jama’ untuk lebih dari dua. Kata kerja pun tak seperti bahasa Indonesia yang tak mengenal perubahan kata kerja, seperti pada bahasa Inggris kata kerja dalam bahasa Arab (disebut fi’il) dibagi menjadi kata kerja sekarang (fi’il mudhari’) dan kata kerja lampau (fi’il madhi). Hurufnya pun berbeda dengan huruf yang kita kenal, disebut huruf Hijaiyah ada 28 huruf dalam bahasa Arab. Bagi umat Islam tentu sudah tak asing dengan huruf-huruf tersebut.  

Lantas apa menariknya mempelajari bahasa Arab?

Yang utama tentu saja, bagi umat Islam, bahasa Arab adalah bahasa diturunkannya kitab suci. Bahasa pemersatu. Umat Muslim bisa berbeda bangsa dan berbicara berbagai bahasa tetapi sholat (ibadah yang akan dihisab untuk pertama kalinya) tetaplah dilakukan dengan satu bahasa. Kalaupun ada terjemahan untuk Al Qur’an dalam bahasa lokal tetap saja rujukannya adalah Al Qur’an dalam bahasa aslinya. Ada reduksi makna yang akan terjadi setiap dilakukan pengalihbahasaan. Dalam suatu proses penerjemahan, masalah yang lazim ditemukan adalah fakta bahwa tidak adanya kesamaan arti yang mutlak (absolute synonymy)1. Itulah pentingnya merujuk pada bahasa asli.  

Kalau boleh saya ambil contoh ayat Q.S. Al Mu’min/Ghaffir (40):60 : 

…. وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُم

Dalam bahasa Indonesia akan diartikan salah satunya : “Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku,niscaya akan Kuperkenankan bagimu…”, kata استجب juga dapat diartikan sebagai menanggapi.

Dalam bahasa Inggris akan diartikan salah satunya : “And your Lord said: "Invoke Me, [i.e. believe in My Oneness (Islamic Monotheism)] (and ask Me for anything) I will respond to your (invocation)…” atau “And your Lord says, "Call upon Me; I will respond to you."… Makna call upon sendiri adalah ‘memanggil’

Tak berbeda makna memang tapi ada nilai rasa yang berbeda bukan jika membaca Al Qur'an melalui terjemahan :)

Yang kedua, belajar bahasa Arab sejatinya merupakan suatu bentuk belajar agama mengingat semua hal yang terkait dengan agama Islam diterangkan melalui bahasa ini. Al Qur’an, hadits, perkataan sahabat (atsar) dilafalkan dalam bahasa yang termasuk salah satu bahasa tertua di dunia ini.2

Lalu apalagi?
Membaca sebuah buku petunjuk dengan bahasa yang sama sekali tak dipahami tentu akan membuat sang pengguna kesulitan, begitu pula dengan Al Qur’an petunjuk dari segala petunjuk, petunjuk di dunia dan di akhirat. Membaca Al Qur’an lalu dilanjutkan dengan membaca terjemahan tentu berbeda dengan membaca ayat demi ayat dan seketika itu memahami apa yang sedang dibicarakan. Seorang teman pernah menceritakan saudaranya yang bisa menangis tergugu dalam sholatnya (saudaranya merupakan seseorang yang fasih menggunakan bahasa Arab). Bagaimana mungkin seseorang akan menghayati sholatnya apabila ia tak tahu persis apa yang diucapkannya?   

Dalam menghafal kitabullah pun akan jauh lebih mudah apabila paham dengan bahasa Arab. Tak akan ada ayat yang tertukar-tukar lantaran ada kata-kata yang mirip misalnya. Ada perbedaan yang signifikan antara hafal karena menghafal dan hafal lantaran paham. Kesalahan arti pun dapat dihindari. Kecepatan menghafal dapat meningkat dengan pesat apabila dibarengi dengan pemahaman arti. Keindahan Al Qur’an pun akan lebih mengena di hati.

Sebagai contoh, disebutkan dalam Q.S Fathir (35):28,

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاء

“… Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama…”

Perhatikan kata يَخْشَى اللَّهَ, يَخْشَى bermakna takut, اللَّهَ : (kepada) Allah. Kesalahan membaca Allaha menjadi Allahu di sini akan berakibat fatal karena menyebabkan perbedaan makna yang menjadikan ‘syirik secara tak sengaja’. Yakhsyallaha artinya (orang yang) takut kepada Allah, sedangkan Yakhsyallahu adalah Allah takut (kepada). Berbeda jauh bukan?

Last but not least..

Meniatkan lalu belajar bahasa Arab sebagai sarana untuk lebih memahami agama, sebagai ibadah, insya Allah sudah dicatat sebagai pahala. Mengutip perkataan salah satu ustadz : kewajiban seorang Muslim adalah menuntut ilmu, ia tidak dituntut untuk pandai. Jadi, ketika di tengah jalan menemui kesulitan dalam belajar, ia akan tetap mendapatkan pahala atas apa yang diupayakannya. Insya Allah.

Kalau bahasa Arab itu susah, tentu tak akan ada berjuta-juta penghafal Al Qur’an yang tak sedikitpun luput akan satu tanda baca saja…

Kalau bahasa Arab susah, tentu Tuhan Yang Maha Penyayang tak akan menurunkannya dalam bahasa Arab sehingga membuat hamba-hamba-Nya kesulitan dalam memahami surat cinta-Nya…

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya,” (terjemahan Q.S Yusuf:2) 

Terjemahan bebasnya : Mereka berkata "Miskin adalah siapa yang tidak mengetahui bahasa Inggris karena akan kesulitan memahami perkataan manusia", Aku katakan : Miskin adalah siapa yang tidak mengetahui bahasa Arab karena akan kesulitan memahami perkataan Tuhannya manusia,"


Jadi, sudahkah kita belajar bahasa Arab? :)

NB : Semakin dipelajari bahasa Arab itu semakin menunjukkan keindahannya ;)

Catatan kaki :


Wallahu a'lam bisshowwab 



Monday, May 21, 2012

"Hayo Mana Senyumnya,"



Senyum bisa jadi merupakan barang yang mewah untuk kehidupan ibukota yang cenderung individualistis. Wajah-wajah tanpa senyum, datar bahkan jutek adalah hal yang biasa di kota ini. Hidup di Jakarta berbeda dengan hidup di ‘Jawa’. Termasuk saya bisa jadi. Rasa-rasanya ‘tak bisa’ menyebar senyum begitu saja. Entah kenapa. Bagi saya yang seringnya kemana-mana (masih) sendiri, memasang tampang datar (atau jutek jika kondisi kurang kondusif) adalah salah satu bentuk ‘pertahanan’. Ah ya, apakah Jakarta mengubah penduduknya menjadi skeptis dan mudah curiga? Mungkin.

Dulu saya masih sering menyebar senyum ketika lewat di suatu tempat. Lalu jarang ada yang membalas sehingga membuat saya malas dan melenggang begitu saja. Sesuatu yang terlambat saya pahami. Senyum adalah salah satu bentuk ibadah. Ibadah adalah untuk Yang Di atas. Perkara senyum saya dibalas atau tak dibalas oleh manusia, itu urusan lain. Lagipula meniatkan senyum sebagai ibadah, insya Allah pahalanya sudah dicatat. Jadi saya sekarang ‘senyum-senyum’ saja ketika lewat di suatu tempat (bukan ‘senyum-senyum’ sendiri loh ya hehe).

Hayo mana senyumnya? ^_^
gambar dari sini
Senyum adalah bahasa komunikasi nonverbal yang paling mudah dilakukan. Suatu bentuk silaturahmi. Sesuatu yang makin langka saja rasa-rasanya. Pantaslah disebutkan dalam suatu hadits bahwa silaturahmi memperluas rezeki dan memperpanjang usia1. Tak banyak rasanya orang yang rajin menyambung silaturahmi. Iya, tak memutus silaturahmi memang tetapi bersikap cuek dan tak melakukan apa-apa  adalah salah satu bentuk pembiaran yang membuat hubungan menjadi renggang atau tak hangat. Tak semua orang mau bersusah payah meluangkan uang, waktu atau tenaga untuk sekadar berkunjung ke rumah saudara. 

Ngomong-ngomong, di keluarga besar saya ada perkumpulan keluarga dengan nama Ikatan Keluarga Besar Joesoep (Joesoep adalah kakek buyut saya), kami berkumpul setiap empat bulan sekali di salah satu rumah secara bergiliran. Mulanya banyak yang hadir, senang rasanya mengenal keluarga besar. Lantas lambat laun berkurang dan berkurang malah ada yang mengusulkan pertemuan keluarga IKBJ ditiadakan saja. Duh, itu saja masih saudara sudah enggan bersilaturahmi.

Semoga kita semua termasuk golongan orang yang suka menyambung silaturahmi. Aamiin…

1.       "Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturrahmi." (HR. Bukhari no. 5985 dan Muslim no. 2557)

Sunday, May 20, 2012

Aku, Kau dan Pertanyaanku


Aku tahu kau lelah dengan pertanyaan-pertanyaanku tapi biarkanlah aku menanyaimu lagi dan lagi, kau tahu aku begitu peduli padamu sehingga aku tak bisan bertanya… Sampai nanti kau menyergahku dan menyuruhku diam saja bagai brankas besarmu yang kau kunci rapat-rapat dengan segala kode…

Aku tahu kau masih mau mendengarkanku karena setiap kali diam-diam saldomu bertambah kau memperbanyak sedekahmu, pikirmu setidaknya ada penawar dari harta tangan-tangan kecil tak berayah yang membuat rumahmu semakin megah…

Kemejamu berbekas gincu murahan perempuan yang bahkan tak kau tahu siapa namanya tetapi tetap saja istrimu masih dengan setia mencuci nodanya, tak pernah luput ia mendoakanmu dalam sujud panjang dan derai air mata, berharap kau kembali menjadi laki-laki sama seperti yang dinikahinya lima belas tahun yang lalu…

Laki-laki lugu dari desa yang tak kenal gemerlap ibukota, laki-laki pekerja keras yang menyayangi keluarga, laki-laki yang lebih memilih miskin daripada memakan harta yang tak kau tahu asalnya, laki-laki yang telah menempelkan dahi pada dinginnya lantai jauh sebelum azan subuh bergema…
Kemana laki-laki itu? tanyaku. Kau diam, kau tak ingin menjawabnya bukan? Karena kau mulai muak denganku. Muak dengan semua pertanyaanku. Gelarku haji, katamu. Aku tahu Tuhanku Maha Pengampun…

Aih, kurang banyak apa lagi hartamu, kurang cantik dan solehah apa lagi istrimu, anakmu tiga dan masih menganggapmu ayah paling bijak sedunia, orang-orang menganggapmu sosok yang pantas untuk didengarkan tapi apakah kau masih mau mendengarku? Sebelum Tuhan menyingkap sedikit saja aibmu, kataku. Dengarkan aku, pintaku, masih mencari sisa-sisa jejakku di hatimu…

Gedung-gedung tinggi nan angkuh, mobil-mobil yang harganya lebih mahal dari rumahmu, wanita-wanita aduhai ramai berlenggak-lenggok, itukah yang kau cari? Ibukota telah menyilaukanmu sekaligus mengeraskan hatimu, menyudutkanku ke sudut terpojok…

Sudah lima hari kau terkapar tak berdaya, ranjang paling mewah di rumah sakit terbesar, istrimu masih setia mendampingimu, anak-anakmu tak mau kalah tentu saja. Dokter mengatakan kau terkena penyakit komplikasi, mulai dari stroke hingga penyakit gula, apa saja. Kau hanya bisa mengangguk, berjanji setengah mati kalau kau bisa sedikit saja memiliki daya kau akan mengubah dirimu…
Kali ini bukan rumah berlantai tiga yang bagaikan istana, bukan lagi hingar bingar Jakarta. Kau kembali, ke tempat darimana kau bermula. Desa di kaki gunung . Menghabiskan hari tua. Mengajak istrimu ikut serta. Katamu, kau mau menjadi seperti yang dulu, laki-laki yang lebih takut Tuhannya dibanding apa saja, kau ingin mati di tempat ini bersimpuh menghamba.. 

Kau masih mau mendengarkanku rupanya…


---

ditulis di atas bus yang melaju menuju ibukota 
tantangan seorang teman untuk menulis dengan tema Izinkan Aku Mati do Kaki Gunung dalam waktu 24 jam..

Saturday, May 19, 2012

Seberapa Jauh Kamu Percaya Informasi?


Media, gambar diambil dari sini

Media sosial memudahkan para penggunanya untuk berbagi informasi secara cepat. Pengguna BBM/Facebook/Twitter misalnya cukup melakukan ‘share’ atau ‘retweet’ sebuah informasi untuk menyebarkannya secara luas. Risikonya belum tentu informasi yang dibagikan adalah informasi yang dapat diandalkan keakuratannya lalu dengan mudahnya dibagi tanpa dilakukan konfirmasi atau cross-check yang berimbang sehingga tersebarlah informasi yang tidak sesuai dalam masyarakat.

Tempo hari ramai diberitakan bahwa foto-foto korban kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 adalah palsu. Foto-foto yang telah dengan cepatnya menyebar di dunia maya. Seseorang berinisial YS ditetapkan sebagai tersangka kasus penyebaran foto palsu dan dijerat dengan pasal 51 (1) jo pasal 35 UU No. 11 Tahun 2008 (UU ITE) dengan hukuman penjara paling lama 12 tahun atau denda paling banyak Rp 12 miliar.

Beberapa waktu yang lalu juga ramai diberitakan dalam media sosial mengenai surat tilang slip biru dan slip merah. Cerita tentang seorang supir taksi yang meminta slip biru saat hendak ditilang dan berniat memotret sang petugas polisi. Disebutkan bahwa jika slip biru yang didapat maka tinggal membayar denda yang nominalnya tak lebih dari lima puluh ribu rupiah, transfer ke salah satu bank BUMN, lalu tinggal tukarkan bukti transfer dengan SIM/STNK yang ditahan. Ketika membaca berita tersebut, “Wow, ada informasi baru yang berguna nih,”pikir saya tetapi telusur punya telusur bahwa pelanggar dapat menitipkan uang denda kepada bank yang ditunjuk pemerintah sebesar denda maksimal yang dikenakan untuk setiap pelanggaran (diatur dalam UU No 22 Tahun 2009).

Contoh informasi yang tak tepat lainnya adalah ketika ramai beredar berita bahwa produk es krim populer Magnum mengandung kode E472 yang dicurigai berasal dari lemak babi sementara produk tersebut telah mencantumkan logo halal MUI pada kemasannya. LPPOM MUI pun memberikan klarifikasi atas tudingan tersebut menjamin kehalalannya. Pertama membaca berita tersebut saya sontak bimbang dalam membeli Magnum dan memilih membatalkan niat sebagai bentuk kehati-hatian, saya terpengaruh berita yang dibagikan secara luas pada saat itu. Berita hoax tersebut merugikan tiga pihak : pihak produsen yang utama tentu saja, pihak MUI sebagai pihak yang mengeluarkan sertifikasi produk halal bisa jadi dianggap tak kompeten, hingga pihak konsumen yang ragu-ragu atau membatalkan keinginan membeli. Saya pernah menuliskan tentang kehalalan suatu produk di sini.   

Beberapa contoh yang saya sebutkan menunjukkan bahwa berita yang tak sesuai dengan kenyataan dapat beredar dengan cepat dan luas dalam masyarakat, berita sebagai suatu bentuk informasi yang diterima mempengaruhi persepsi, persepsi yang salah akan menimbulkan penghasilan keputusan yang salah. Bijak-bijaklah dalam menerima informasi, menelusurinya (misalnya menelusuri langsung ke sumber peraturannya) dan membagikanya (jangan sampai kita turut membagikan informasi yang kurang tepat tentu saja). Salam. 

Wallahu a'lam bisshowwab.
(jika ada kekeliruan dalam tulisan ini mohon diluruskan) 




Referensi :





Friday, May 18, 2012

Perempuan #1



Kenangan apa yang paling membekas pada sang anak atas ibunya? Salah satunya saya yakin adalah masakan yang dibuat sang Bunda. Bisa jadi masakan biasa tapi rasanya menjadi tak biasa, dengan bumbu cinta tentu saja dan ketulusan seorang wanita menyediakan makanan untuk keluarga.

Seorang teman pernah bercerita bahwa ia sekalipun tak pernah merasa jauh dari ibunya meski ibunya seorang wanita bekerja yang berangkat pagi dan pulang sore. Kuncinya adalah masakan ibu, kata teman. Ibunya selalu memasak sebelum berangkat ke kantor untuk sarapan dan makan siang lalu sepulang bekerja beliau memasak lagi untuk makan malam. “Karena selalu makan masakan ibulah saya tak pernah merasa jauh dari beliau,”

Saya manggut-manggut. Mama yang bekerja sebagai PNS juga melakukan hal yang sama. Beliau bangun pagi-pagi, menyiapkan sarapan untuk satu rumah, menyiapkan kebutuhan sekolah adik bungsu sebelum berangkat ke kantor. Pulang terkadang memasak lagi atau kadang-kadang membeli lauk di luar.

Seorang teman laki-laki pernah mengatakan kepada kami, saya dan seorang teman perempuan ketika itu, saat itu kami sedang ‘ada acara’ menggoreng pempek bareng, “Kalian bisa masak itu sebenernya bukan buat suami tetapi kalian bisa masak itu lebih utama untuk anak kalian,” Kami tertegun dengan perkataannya, tak menyangka ia berkata demikian.

Perempuan yang memilih bekerja memiliki tantangan yang lebih besar dibanding perempuan yang menjadi ibu rumah tangga secara penuh. Tentu saja dibarengi konsekuensi bahwa tugas utama seorang perempuan dalam keluarga adalah sebagai istri dan ibu, ia haruslah pandai membagi waktu. Perempuan haruslah tangguh. Tangguh dalam hal apa saja. Tangguh dan juga pandai. Tak sekadar pandai ilmu dunia tetapi terlebih penting ilmu agama. Ia adalah guru pertama bagi anak-anaknya…
Perempuan tangguh yang ku panggil Mama di tengah-tengah :)
 


Ah, saya memang belum tahu rasanya tetapi saya menunggunya terwujud satu persatu, sembari belajar, insya Allah :)