Monday, July 30, 2012

Review Revolvere Project : Apologia untuk Sebuah Nama


 

Ibu. Sebuah kata panggilan sederhana untuk sesosok wanita luar biasa. Kata yang akan menghangatkan hati seiring buncahnya perasaan akan sejuta kenangan, lembut tatapan mata dan belaian. Inspirasi yang tak akan habis, kerinduan yang akan selalu tersimpan rapi di suatu sudut ruang hati... Dialah Ibu.. Sosok pertama yang darinya kita mengenal dunia...

Dialah Ibumu. Nama suci yang diizinkan Tuhan untuk pertama kali kita ucapkan, jauh sebelum nama-nama-Nya. Nama yang merangkum cinta dari seluruh sejarah manusia. Perempuan yang tak pernah dicemburui Tuhan untuk dicintai manusia jauh mendahuluiNya: Sebab mencintainya, juga berarti mencintai-Nya.

Ibu merupakan bukti nyata kasih sayang Tuhan kepada setiap umat-Nya. Perempuan yang menjaga rahimnya dengan segenap jiwa dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah hingga meregangkan nyawa. Yang selalu mendoakan kebaikan anaknya di setiap sujud panjangnya meskipun anak-anaknya berteriak seperti :

“Ibu, aku ingin mainan baru!”

“Ma, kenapa bajuku belum dicuci, sih?”

“Mak, aku kan sudah bilang jangan terlalu sering telepon!”

“Bun, aku tak sempat membelikan oleh-oleh buat Bunda.”

“Bu, aku nggak bisa pulang lebaran ini. Waktunya sempit sekali.”

Ah, bagian ini sungguh menohok. Bagian berikutnya secara halus menyentil :
Entahlah, tidak ada yang tahu. Sementara ibu kita terus menyayangi dan mencintai kita dengan luar biasa, meski dengan cara-cara sederhana. Kita? Entahlah. Barangkali takdir kedua kita sebagai anak adalah (mengaku) mencintai ibu kita, dengan pembuktian-pembuktian yang selalu tertunda.

Pada akhirnya, sebuah pesan moral menutup proyek hibrida ini :
Akankah tiba saatnya bagi kita ketika semuanya sudah terlambat, sementara sesal tak akan sanggup mengembalikan lagi senyumnya—lembut matanya?

Sederhana, apik dan menggugah. 
Serta tentu saja tak menggurui.

Kata demi kata mengalir lamat-lamat di video berdurasi enam menit lebih empat belas detik ini. Narasi yang tanpa melihat videonya saja telah berhasil membuat mata sembab (Ohya karya ini saya nikmati dua kali : dengan dan tanpa video). Siapkan indera penglihatan untuk lekat-lekat memaknai narasi indah khas penulis Fahd Djibran, indera pendengaran untuk menikmati denting demi denting ala musisi Fiersa Besari serta visualisasi ala fotografer dan video-maker Futih Aljihadi. Sebuah kombinasi apik yang akan mengaduk perasaan dan emosi penikmat karya. Ya, Revolvere Project. Cara membaca baru untuk lebih menikmati tulisan. Fiksi-auvi (Fiksi-audio-visual) begitulah proyek yang baru satu-satunya ada di Indonesia ini dilabelkan.

'Apologia untuk Sebuah Nama' adalah Revolvere Project yang paling saya suka di antara tiga karya yang telah dihasilkan. Kata pertama hingga kata terakhir seolah menghipnotis saya sementara bayangan Ibu berkelebat tak henti di kepala ditambah dengan perpaduan video dan musik yang menyatu dengan narasi, ah terlalu indah untuk tak Anda nikmati.

Energi yang ditulis dari hati niscaya sampai ke hati bukan?

Dan saya telah merasakannya, bahkan untuk ketiga kalinya saya memutarnya, energi itu tersimpan dan menunggu untuk dibagi. Energi kebajikan.

Jadi tunggu apa lagi. Silahkan nikmati sendiri :)


atau melalui blog kang Fahd pada Apologia untuk Sebuah Nama

Wednesday, July 25, 2012

Giveaway Azzet : Sembilan Suka-Sukanya Nulis


Menulis, menulis dan menulis…

Mulai dari menulis bulletin board di Friendster yang nyaris semuanya berisi curhatan, menulis catatan di Facebook hingga akhirnya timbul keberanian untuk membuat blog, ini suka dan sukanya menulis (rasa-rasanya hampir tak ada dukanya hihi) :

1.    Apa yang si penulis rasakan dapat dituangkan ke dalam tulisan. Tentu bukan hanya sekadar curhat tak ada juntrungannya, tulisan merupakan sebuah ekspresi atas apa yang dilihat, didengar, dirasa.
Ada perasaan lepas setelah menyelesaikan sebuah tulisan.

2.    Tak sreg dengan sesuatu tetapi sungkan mengungkapkannya secara langsung karena takut menyinggung? Merasa ada yang kurang pas lalu ingin bertindak sesuatu? Menulis akan memunculkan keberanian, berani mengungkapkan pendapat.

3.    Penulis haruslah menjadi orang pertama yang melakukan apa yang dikatakannya dalam tulisan. Tulisan bisa jadi ‘self-control’ yang efektif atas tindakan seseorang. Tak hanya itu, orang-orang yang membaca tulisannya dapat mengingatkan sang penulis jika ia tak sesuai apa yang ditulisnya

4.    Sejatinya, tulisan adalah salah satu cara paling mudah dalam memahami diri sendiri. Mengungkapkan apa yang diyakini akan membuat sang penulis mengeksplorasi apa yang ada dalam dirinya yang dapat ia bagikan. Tak jarang setelah menulis sesuatu timbul semacam perasaan “this is where I stand at,”

5.    Orang dapat menilai seseorang dari tulisannya. Orang akan lebih senang berkumpul atau mendekat dengan orang-orang yang memiliki pikiran sama/sejalan. Dengan menulis dan orang membaca tulisan kita, lebih banyak orang-orang satu visi yang datang mendekat dan tentu saja dapat berbuat sesuatu dari sana. Tak jarang timbul diskusi demi  diskusi yang membuka pikiran hingga memunculkan tindakan. Dan ini dirasakan setelah nge-blog untuk beberapa waktu  ^^

6.    Dari menulis akan mengenal lebih banyak orang. Mulai dari sesama penulis hingga orang-orang yang membaca tulisan. Banyak teman-teman baru. Memperluas silaturahmi tentunya :D

7.    Apa yang tak lekang ketika raga telah berkalang tanah? Buah pikir seseorang yang diwujudkan dalam bentuk tulisan adalah salah satu jawaban. Menulis adalah salah satu cara seorang manusia berkontribusi atau bermanfaat bagi orang lain, sesederhana apapun itu. Ada jejak yang ditinggalkannya di dunia. Jejak kebaikan, insya Allah.

8.    Bisa jadi ada yang terinspirasi setelah membaca tulisan kita, bisa jadi ada yang kemudian bersemangat, bisa jadi ada yang kemudian melakukan sebuah kebaikan. Bisa jadi. Yang dari hati akan kembali ke hati.

9.    Last but not least, semoga tulisan demi tulisan yang diniatkan sebagai salah satu bentuk ibadah dan ditujukan untuk kebaikan bermuara pada kebaikan.

Jadi? Mari menulis lagi dan lagi, mari nge-blog lagi dan lagi ^^

*Menyemangati diri sendiri terlebih dahulu tentunya ^^

numpang narsis hihi
Tulisan ini diikutkan pada kontes Betapa Senangnya Ngeblog dan disponsori oleh Mahabbah


Tulisan terkait :
1. Efek Dahsyat Menulis
2. Ceritanya Setahun Nge-blog pengalaman setahun gabung Blogger
3. Menulis Lagi dan Lagi : Catatan Tiga Puluh Hari pengalaman memaksakan diri nge-blog sebulan penuh

Tuesday, July 24, 2012

Quick Update : Me-Left-Behind



Ramadhan 1433 H. Alhamdulillah bertemu lagi dengan bulan yang di dalamnya terdapat malam yang lebih baik daripada malam seribu bulan. Kalau-kalau saya ingat selalu bahwa dua hari sebelum Ramadhan (Kamis minggu lalu) ikut menyolati jenazah salah satu keluarga orang kantor seharusnya lebih dan lebih semangat lagi berlomba-lomba di bulan ini.

Karena perwujudan rasa syukur adalah tindakan….

Beberapa waktu yang lalu sempat berbincang-bincang dengan teman seangkatan. Kami mempunyai jam kerja sama dengan kesibukan yang bisa dikatakan hampir sama. Nyatanya, si teman ini dalam tempo waktu setahun mampu menghafalkan empat juz dari Al Qur’an.  Ia ikut program tahfizh yang mau tak mau membuatnya menghafal setiap hari lantaran ada target pekanan yang harus disetor. 

“Kamu menghafalnya kapan?” tanya saya penasaran
“Habis subuh,sebelum tidur, dan paling efektif saat aku di jalan. Di atas metromini,”
“Oh, baca Al Qur’an di atas metromini gitu. Nggak takut dianggep gimana gitu?”
“Pertamanya sih aku masih baca lewat hape lama-lama ngapain juga aku malu. Orang-orang juga punya kesibukan sendiri-sendiri,”

Jleb. Seharusnya tak pernah ada alasan. Tak punya waktu luang. Tak usah takut pandangan orang jika melakukan suatu kebaikan.

Hasil bincang-bincang dengan seorang teman yang lain membuat saya sempat tercengang. Ia bercerita bahwa sehari bisa mengkhatamkan tujuh juz. Waktu yang dibutuhkannya untuk membaca satu juz sebanyak tiga puluh menit saja. Orang yang sama-sama bekerja dengan jam kerja sama.

Kencangkan ikat pinggangmu
Berlomba-lombalah nduk
Selagi masih bisa berlomba-lomba

Wednesday, July 18, 2012

Budaya yang Dicuri?


Sudah beberapa kali masyarakat Indonesia dibuat gerah oleh pemberitahuan mengenai klaim negara tetangga atas kebudayaan yang kita miliki. Sebut saja Reog Ponorogo, Tarian Tor-Tor, Gordang Sambilan dan sebagainya.

Kita, kalau boleh saya bilang, mendadak geram dan tak terima lantaran tentu saja, sedikit banyak, ada perasaan memiliki, ada perasaan kebangsaan di sana.

Pertanyaannya, apa yang telah kita lakukan selama ini?

Manortor, source : here
Untuk para penggiat kebudayaan tradisonal rasa-rasanya pertanyaan tersebut tak perlu mendapatkan jawaban, mereka telah membuktikannya melalui tindakan nyata melestarikan salah satu kekayaan bangsa tersebut. Kalau pertanyaan itu dikembalikan ke kita, jawaban apa yang kan ku beri *pakai nada ‘Andaikan Kau Datang Kembali’ ya *apasih.

Misal nih, sebagian besar dari kita mungkin lebih memilih menonton DVD dibandingkan menonton pertunjukan wayang kulit. Mungkin sebagian besar dari anak-anak zaman sekarang lebih memilih bermain playstation dibandingkan memainkan grobag sodor (seru loh ini hihi). Mungkin sebagian besar dari kita lebih hafal lagu-lagu barat dibandingkan lagu-lagu daerah.

Kata orang, even stumble can prevent from falling

Mungkin kita perlu disentil dan ditegur melalui klaim-mengklaim budaya oleh negara lain untuk sadar  dan lebih menghargai bahwa Indonesia punya kekayaan yang sedemikian luar biasa. Wilayah negara yang luas, jumlah penduduk yang besar hingga kebudayaan yang kaya tersebar di seantero Nusantara. Mulai dari makanan, tari-tarian, pakaian, permainan, dan sebagainya. Mungkin Pemerintah perlu disentil untuk lebih memerhatikan dan mempromosikan kebudayaan, mungkin rakyatnya perlu disentil untuk lebih mencintai dan sadar (syukur-syukur berpartisipasi) akan apa-apa yang negeri ini punya.

Kalau bukan kita, siapa lagi?


*tulisan ini sekaligus catatan untuk diri*

Sunday, July 15, 2012

Energi : SGBI


Gambarnya diambil dari blog kang Fahd

“Selama jalan kita sama, kita pasti akan bertemu, cepat atau lambat,” (How to Master Your Habits, hal 95)

Bukan kebetulan bila di antara sekian banyak orang yang membaca Undangan : Mari Berbuat! yang diadakan oleh Fahd Djibran, langkah-langkah kami yang kemudian menapak menuju Sawangan pagi ini. Ada semacam energi, ada semacam perasaan “Oh, inilah yang saya cari,” saat membaca tulisan tersebut. Pengajaran. Kanak-kanak. Pendidikan, pengajaran dan pengalaman yang didapat saat kanak-kanak akan banyak membentuk seseorang hingga masa dewasanya. Membekas.

Berlokasi di lahan seluas kurang lebih 1,1 hektar, Sekolah Generasi Baru Indonesia (SGBI) berdiri. Hanya terdapat satu bangunan kelas di sekolah yang mengusung konsep sekolah alam ini. Hingga saat ini SGBI membuka kelas Taman Kanak-kanak (TK). Anak didik menghirup segarnya udara yang belum tercemar polusi seraya dibebaskan berekspresi, bercocok tanam, berkreasi dengan seni dan banyak hal lainnya. Belajar tak hanya di lingkungan kelas tetapi juga di saung, di kebun, di kolam. Mengasyikkan.

Kang Fahd menceritakan banyak hal. Betapa tingkah laku orang-orang dewasa dapat berubah melalui para kanak-kanak seperti seorang perokok berat yang memutuskan berhenti lantaran permintaan anaknya hingga seorang ayah yang mendadak menjadi seorang pencuri guna membelikan handphone untuk putrinya yang telah mendiamkannya selama dua minggu. Anak-anak ibarat kertas putih yang menjadi seperti apa ia dicelupkan. Anak-anak pada zaman sekarang yang akan menjadi generasi Indonesia pada masa yang akan datang. Generasi Baru Indonesia.

Seperti tagline undangan : Mari Berbuat! SGBI agaknya muncul dari kegelisahan para pendiri. Bahwa ada sesuatu yang dapat dilakukan untuk bangsa ini. Tak muluk-muluk seperti kata ‘Membangun bangsa’ tetapi mulailah dari melakukan apa yang bisa dilakukan. Mengajar. Mendidik. Berkontribusi untuk lingkungan sekitar. Seperti sebuah film berjudul ‘Pay It Forward’ bahwa dengan memberikan kebaikan kepada tiga orang lalu tiga orang tersebut memberikan kebaikan untuk masing-masing tiga orang lainnya, begitu seterusnya, kebaikan akan beranak pinak layaknya sebuah Multi Level Marketing. MLM Kebaikan.

Kebaikan yang dilakukan secara individu tentu memiliki keterbatasan dan daya jangkau yang lebih sempit dibandingkan dengan kebaikan yang dilakukan oleh orang banyak. Untuk itulah diperlukan tangan komunitas. Saling berbagi energi, saling bersinergi. Ide-ide muncul seperti air terjun saat kami berdiskusi guna mengembangkan sekolah ini dan turut serta menyebarluaskan kebaikan dalam masyarakat.

“Kejelekan saja membekas, apalagi kebaikan, apa yang kita lakukan pasti ada bekasnya, insya Allah” begitu perkataan Kang Aan, salah satu pendiri SGBI yang juga merupakan dosen dan pembicara pendidikan.

Pertemuan hari ini memberikan energi lebih. Energi untuk berbuat. Energi untuk berbagi. Mudah-mudahan bisa berkontribusi walaupun mungkin hanya sedikit yang bisa saya lakukan.

Semoga Tuhan memudahkan langkah-langkah kami.

I Care, I Share!

NB :

Berkunjunglah ke Sekolah Generasi Baru Indonesia (SGBI), Jalan Mawar (sebelum Perumahan Puri Bali), Bojongsari, Sawangan, Bogor dan rasakanlah kenyamanannya (i felt it for the first time i came) J

Friday, July 6, 2012

Book Review #20 : How to Master Your Habits


from goodreads
Apa yang membedakan antara seseorang yang satu dengan yang lainnya? Apa yang membuat seseorang menjadi lebih dibandingkan yang lainnya? Faktor apa yang membuat seseorang menjadi luar biasa?

Jawaban ketiga pertanyaan tersebut bisa jadi sederhana : habits. Ya, kebiasaan. Kebiasaan (habits) adalah segala sesuatu yang kita lakukan secara otomatis, bahkan kita melakukannya tanpa berpikir. Hingga pada akhirnya kebiasaan tersebut menjadi suatu bagian dari kehidupan sehari-hari dan menjadi bagian tak terpisahkan dari kita. Menjadi siapa kita.

Berhentilah sejenak dan luangkan waktu membaca buku setebal 169 halaman ini. Ditulis oleh seorang ustadz muda dengan ghirah keislaman tinggi, Felix Siauw, buku ini mengajak para pembaca merenungkan tentang hal yang selama ini kita lakukan sehari-hari. Kebiasaan. Mengkaji ulang sejenak untuk kemudian ‘meluncurkan kembali’ dengan semangat dan pemahaman baru. Buku ‘Inspirasi Islam’, begitulah ia dilabelkan.

Pelabelan yang amat tepat agaknya. Memulai dengan kisah-kisah menarik dari sosok-sosok yang selama ini menjadi inspirasi umat Islam seperti Imam Syafi’i yang telah mampu menghafalkan Al Qur’an tatkala usianya belum genap tujuh tahun, Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel tatkala usianya masih dua puluh lima tahun, penulis mengajak pembaca untuk tak sekadar mengagumi kehebatan para inspirator tetapi juga meneladaninya. Imam Syafi’i lahir dari seorang ibu hafizhah yang memiliki kebiasaan mengkhatamkan Al Qur’an dua kali seminggu, ia terbiasa berada di lingkungan dimana menjadi suatu kelaziman anak-anak seusianya telah terbiasa menghafal di usia belia.

Faktor yang menentukan apakah kita akan memiliki habits hanya 2 hal yaitu practice (latihan) dan repetition (pengulangan) – hal 37

Buku ini disusun secara menarik. Pembaca dibawa memahami apa dan bagaimana suatu kebiasaan membentuk seseorang dengan pembahasan yang sistematis, gamblang dan tak membosankan sebelum penulis memberikan motivasi mengenai pentingnya habits. Apa yang membedakan antara orang yang biasa-biasa saja dan orang yang hebat. Orang yang tak dikenal dan orang yang diakui dunia. Apa yang dilakukan oleh seseorang yang tidak dilakukan seseorang lainnya. 

Kelebihan buku ini yang utama menurut saya terletak pada kekuatan pemilihan kata, kecerdasan sang penulis menyampaikan kepada pembaca secara ringan, tak menggurui tetapi tetap mengena serta kemampuan analogi secara deskriptif yang membuat pembaca memiliki visualisasi lebih. Selain itu tentu saja, di atas semuanya, nafas-nafas keislaman yang kuat mewarnai buku bersampul putih ini.

Just kill the excuses. Just do it.

Kendalikan habits atau habits yang akan mengendalikan hidup kita – hal 129


Recommended dan amat cocok dibaca sebelum Ramadhan (bulan terbaik untuk pembiasaan umat Islam) :)

Tuesday, July 3, 2012

Rencanakan Bulan Ramadhan dari Sekarang

Ingin mengisi bulan Ramadhan dengan kegiatan bermanfaat?
Ingin belajar tata bahasa Arab dalam waktu singkat?


Divisi Pendidikan Pusat Studi Islam Al-Manar akan menyelenggarakan
“PELATIHAN NAHWU RAMADHAN 1433 H.”
=> Hari : Sabtu & Ahad
=> Tanggal : 21 – 22, 28 – 29 Juli, 4 – 5 Agustus 2012
(Pekan I, II dan III bulan Ramadhan 1432 H.)
=> Waktu : 08.00 s/d 11.45 WIB. (Tiga Sesi)
=> Tempat : Pusat Studi Islam Al-Manar, Jl. Nangka I No. 4 Utan Kayu Utara Jakarta Timur. (denah lokasi)

=> Tempat Terbatas
=> Fasilitas : Modul & Sertifikat
=> Infaq : Rp. 165.000,-
=> Contact Person : 0852 4295 1651, 021 851 0132



 Insya Allah para asatidz yang mumpuni di bidangnya, lingkungan yang kondusif dan banyak hal lain akan didapatkan :)

Don't Miss It! 


Source : http://www.almanar.co.id/kegiatan-ramadhan/pelatihan-nahwu-ramadhan-1433-h.html