Saturday, September 22, 2012

Teringat Selalu

oleh RZ Hakim dalam tulisan untuk Giveaway yang lalu

Antara Saya, Ibu, dan Tamasya Band

Diantara setumpuk kenangan manis antara saya dan Ibu, ada dua hal fenomenal yang ingin saya tuliskan. Pertama, Ibu ingin melihat anak bungsunya perform di atas pentas, dan saya selalu menolaknya. Kedua, ada satu hal dalam hidup ini yang selalu Ibu takuti, tidak lain adalah jarum infus.

Pernah pada suatu siang di tahun 2007, Ibu (berdua dengan Kakak perempuan saya) naik becak menuju GET-Net. Saat itu Prit masih bekerja sebagai operator di warnet tersebut. Tujuannya hanya satu, membuka youtube dengan kata kunci tamasya band.

Sampai pada waktu yang sangat lama, saya tidak tahu menahu tentang hal itu. Ibu, Kakak, dan Prit benar-benar menjaga rahasia tersebut layaknya keluarga mafia. Lagipula saya jarang pulang ke rumah. Jadi, potensi saya untuk mengetahui hal tersebut sangat kecil.

Pertengahan tahun 2007 dan seterusnya, kondisi kesehatan Ibu memburuk. Beliau terserang stroke. Kondisi semakin parah manakala Ibu terjatuh di kamar mandi, sekitar akhir tahun 2007.

Di awal tahun 2008, saat di rumah hanya ada saya dan Ibu, dengan gerakan yang sangat lambat dan dipaksakan, Ibu membuatkan saya kopi. Beberapa saat kemudian, saya dan Ibu sudah ada di suasana yang romantis.
Ibu bertanya, kenapa saya selalu menolak saat Ibu ingin melihat saya tampil bernyanyi? Lalu saya menjawabnya. Saya tidak yakin bisa bernyanyi dengan lancar ketika ada terlihat Ibu diantara para penonton. Lha wong ndak ditonton Ibu saja, penampilan saya selalu kacau.

Hal-hal memalukan seperti lupa lirik, mulut yang 'kejadhug' mic, kaki yang terlilit kabel, sebentar-sebentar ke kamar mandi beberapa menit sebelum tamasya band tampil, itu sering saya alami. Bagaimana bila Ibu menonton? Saya takut akan ada hal-hal yang lebih memalukan lagi yang akan saya alami.

Ibu tersenyum ketika mendengar celoteh lelaki kecilnya. Memang, semenjak terserang stroke, Ibu tidak pernah lagi bisa tertawa lepas. Senyum adalah hal terindah yang bisa saya nikmati.

Suasana romantis masih berlanjut, saya masih berkisah seputar tamasya band. Saya katakan pada Ibu, tamasya adalah sebuah band indie. Lebih sering bernyanyi di panggung-panggung kecil, dan ditonton teman sendiri.

Tamasya Band lebih senang bernyanyi di space panggung buatan sendiri. Mandiri. Kadang memanfaatkan ruang kecil seperti sebuah aula. Yang nonton lebih sering merapat ke depan, berbaur bersama para personel tamasya. Di suasana yang seperti itu, bagaimana mungkin Ibu bisa menonton dengan nyaman?

Saat Tamasya Band Bernyanyi



Lagi-lagi Ibu menyunggingkan senyumnya. Sepertinya Ibu tahu, saya hanya sedang berusaha keras mencari-cari alasan. Suasana yang tadinya romantis mendadak berganti sunyi. Ibu terlelap.

Suasana di rumah masihlah sepi. Saya duduk di sampingnya, menyanyikan sebuah lagu milik Tetty Kadi yang berjudul 'teringat slalu'. Itu adalah satu dari beberapa lagu kesayangannya. Dan selama Ibu sakit, hanya sepenggal itu saja kisah romantis antara saya dan Ibu.

Gadis Istimewa dari Rahimku

oleh Amalia Dewi F. dalam tulisannya untuk Giveaway yang lalu

Judul di atas, bukan untuk menonjolkan tentang kehebatan putriku atau menghibur diriku. Tapi judul yang kuambil dalam rangka Giveaway di blog Monilando ini, adalah bentuk kekagumanku pada Pencipta putriku.
Mau tahu bagaimana putriku hingga aku menyebutnya gadis yang istimewa ?

Ini foto putriku, cantik bukan ? Semua ibu pasti akan mengatakan putrinya cantik :D. Namanya Fathin Nisa Elfathiyya. Putriku ini menderita autisme. Dia adalah putri kedua dari keempat putra-putriku.

Autisme yang dia derita aku ketahui ketika dia berumur dua tahun. Saat itu, seorang teman menyarankan untuk membawa ke seorang psikiater anak. Terapi yang diberikan adalah terapi obat. Selama dua tahun, putriku mengkonsumsi obat. Dan obat-obat itu harganya tidak murah. Tabunganku terkuras habis, bahkan sebidang tanah yang pernah aku rencanakan untuk dibangun rumah di atasnya pun terjual demi pengobatan putriku.

Bagi anak seusia dia, minum obat adalah siksaan terberat. Bagi anak autis, minum obat adalah siksaan berat bagi ibunya. Dia adalah seorang anak kecil dengan tenaga luar biasa. Untuk meminumkan obat padanya, tidak bisa dengan bujuk rayu atau iming-iming hadiah. Aku harus mendekap tubuhnya, mengunci kakinya, dan mendongakkan kepalanya. Orang lain ( ibu atau suamiku ) yang memasukkan obat ke dalam mulutnya. Itu pun dengan rangkaian teriakan dan tangisan. Setelah minum obat, dia akan terus menangis. Bahkan jika tantrum, bisa mencapai satu jam. Terus menerus menangis histeris dan membanting-banting tubuhnya. Hingga aku harus melepaskannya di ranjang agar dia tidak melukai dirinya sendiri.

Banyak teman mengatakan, walau memiliki anak tidak normal, wajahku tidak menunjukkan kalau aku stress. Maksudnya, aku tetap saja tersenyum-senyum dan bercanda lepas bila berkumpul dengan teman-temanku. Siapa bilang aku tidak stress ? Lebih tepatnya, aku tertekan. Jadi bila ada lengkung di bibirku, bukan berarti aku sedang gembira. Aku hanya mencoba berdamai dengan takdir. Dan itu tidak mudah.

Setiap kali mengajak putriku bertamu, baik itu ke rumah teman atau kerabat, tuan rumah selalu dengan reflek mengunci kamar-kamar mereka dan mengganjal lemari es mereka dengan kursi. Tentu saja, karena putriku akan langsung mengeksplorasi suasana baru di mana pun dia berada. Jujur, hatiku benar-benar tertohok. Apalagi kadang spontan mereka berkata, "Ada Fathin ... ada Fathin !". Seolah kalimat itu adalah warning untuk menyelamatkan semua barang. Dan mereka semua tak pernah tahu, bahwa air mata membanjiri batinku, bukan sepasang mataku.

Sedih luar biasa. Tidak ada orang yang mengharapkan kehadiran anakku !

Dari beberapa literatur yang aku baca, kebanyakan isinya menghibur para orang tua dengan anak autisme. Bahwa mereka adalah anugerah istimewa. Istimewa apanya ? Dia tak diharapkan di mana pun ! Dan berkali-kali aku berusaha berprasangka baik pada orang-orang di sekelilingku, tapi selalu kembali pada kenyataaan. Here I am. Sampai kapan pun, aku dan anak autisku, tak akan bisa kemana-mana. Di rumah saja, jauh lebih baik. Bagi aku, anakku dan orang-orang di sekitarku.

Tapi, pemikiran itu perlahan berubah. Seiring bertambahnya usianya, aku ingin dia bersekolah. Aku menyadari, aku dan suami akan semakin menua dan dia akan menjadi dewasa. Dia harus bersekolah dan mengenal dunia tempat dia hidup sekarang, bukan dunianya sendiri. Walau aku tidak tahu, bagaimana kelak dia menghadapi masa remaja dan dewasanya ? Apakah dia bisa mandiri dalam segala hal ? Adakah yang mau menikah dengannya ?

Aku Tetap Ibumu (Meski Kau Di Luar Kandungan)

oleh Athiah Listyowati dalam Giveaway yang lalu 

Merah. Ada bercak merah. Tidak. Aku takut. Sangat takut.

***

Aku buru-buru mengetik keyword 'flek' di Google. Rasanya detak jantungku jauh lebih cepat dibandingkan hasil pencariannya. Flek. Aku sudah tau bahwa dalam kehamilan mungkin saja ada flek. Tidak semua flek berbahaya. Tapi aku sudah melewati minggu-minggu kehamilan dengan flek yang aman. Ini sudah memasuki minggu kesepuluh. Astaghfirullohal'adzim. Ya Allah, mohon bantu hamba.
Sambil mencari informasi tentang berbagai kemungkinan penyebab flek dan solusinya, kuketik akun Mamas di Gtalk. 

"Athiah : Mamas, adek flek. nanti sore kita ke dokter ya".
"Mamas : Astaghfirullohal'adzim. Baik. Pulang kantor kita ke Tambak"
"Mamas : Adek, gakpapa kan?"
"Athiah : Adek gakpapa Mas. Kita harus mempersiapkan diri untuk hal yang terburuk Mas ."
"Mamas : InsyaAllah. Mas malah khawatir sama Adek"
"Athiah : InsyaAllah Adek gakpapa."
Rasanya hati tak menentu. 
***
Perjalanan ke RSIA Tambak terasa begitu lama. Setelah sampai di sana pun rasanya tidak ingin masuk. Tapi aku menyayanginya, menyayangi anak yang kukandung. Aku ibunya, aku harus mengusahakan keselamatannya. Aku bersalah jika membiarkan ia menderita di dalam kandunganku sendiri. Nak, bertahanlah. 

Di dalam ruang tunggu itu aku berusaha tegar. Kulihat mata Mamas merah. Tapi aku tidak ingin berkomentar. Diam saja cukup. Sebaiknya masing-masing dari kami tidak membuka pembicaraan yang mungkin meninggikan kekhawatiran. Untuk menenangkan hati aku membuka mushaf. Dengan membaca deret-deret kalam Allah aku berharap setitik ketangguhan. Ya Rabb, tolong kami. 
Nyonya Athiah Listyowati. 
Suara perawat. Itu namaku. Akhirnya namaku dipanggil. Kami berdua pun masuk ke sana. Ruang dokter Ika, dokter langganan kami, emm, seharusnya. Tapi ini baru kunjungan kami yang kedua. Ya, yang kedua. Terbayang lagi saat pertama kali kami memasuki ruangan ini. Dokter hanya tersenyum keheranan karena antusiasme kami memeriksakan kandungan padahal saat itu aku baru dua hari terlambat datang bulan. Bu Dokter, kami hanya ingin yang terbaik untuk anak kami. Secepat apa kami bisa menjaganya,  sesegera itu kami ingin menjaganya. 

Dan bu Dokter memulainya dengan sebuah kalimat.
"Oh, periksa yang kemarin dengan Dokter Prasetyo?"
"Iya Dok, kemarin pas kami datang dokter Ika sedang ada konferensi"
"Oh iya. Janinnya sudah kelihatan?"
"Belum, Dok"
"Belum???"

Oke, wait. Aku butuh bernapas dan menenangkan diri. 
"Seharusnya ini sudah minggu ke-10.Ada keluhan?" 
"Hari ini keluar flek, Dok"
"Yasudah, ayo kita lihat lagi. Semoga sudah ada ya"
***
Di layar USG isi perutku terpampang jelas. Tapi aku tidak bisa membacanya. Ya Allah.

"Ini rahim. Ini saluran telur."
"Ini sudah ada janinnya".

Dokter memperlihatkan sebuah gumpalan berwarna hitam. 

"Masalahnya janin tidak di dalam rahim"

Friday, September 21, 2012

The Reviving Moment : Your Special Story


Hari Jum’at, hari yang baik untuk mengumumkan pemenang Monilando’s First Giveaway : The Reviving Moment. Hehe. Alhamdulillah terdapat 35 peserta yang tercatat pada Daftar Peserta. Sebelumnya terima kasih banyak untuk semua peserta. ^^

Beberapa tulisan membuat saya ‘speechless’. Beberapa tulisan membuat saya ‘mbrambang’. Merinding. Seperti merasakan apa yang dialami oleh sang empunya cerita. Tak mudah mengalami hal-hal seperti pada cerita, tak semua orang bisa melewatinya. Sebagian orang mungkin memilih merutuki nasib, menyalahkan takdir dan tak henti bertanya mengapa Tuhan memberinya cobaan teramat berat. Sebagian yang lain berupaya menerimanya dengan penuh keikhlasan, meski berat, menjalaninya penuh harapan dan pada akhirnya mampu menemukan hikmah dari setiap jejak-jejak kehidupan yang pernah terekam. Cerita-cerita yang menginspirasi (dan satu hal yang membuat saya selaku penyelenggara hajatan ini senang karena di antara peserta saling berkunjung dan insya Allah semakin banyak yang terinspirasi ^^).

Namun, tentu saja tetap harus ada tiga nama yang dipilih untuk menjadi pemenang Giveaway kali ini. Untuk menyeleksi pemenang, saya dibantu dua orang rekan, Nova dan Havit. Dari 35 tulisan, masing-masing dari kami memilih 15 tulisan dengan kriteria : sesuai dengan tema Giveaway , cerita paling menyentuh/menginspirasi/menggugah dan gaya penulisan. Tiap tulisan peserta saya baca setidaknya tiga kali. Tak disangka kami memiliki dua belas pilihan yang sama. Membaca ulang lagi. Mengerucut lagi. Akhirnya didapatkan tiga tulisan terbaik pilihan kami. 

Dan inilah pemenangnya :
1.    Aku Tetap Ibumu (Meski Kau Di Luar Kandungan) oleh Athiah Listyowati (mendapatkan buku The 3rd Alternative atau memilih sendiri di daftar book review)
2.    Gadis Istimewa dari Rahimku oleh Amalia Dewi F. (mendapatkan buku '7 Keajaiban Rezeki' atau memilih sendiri di daftar book review)
3.    Teringat Selalu oleh RZ Hakim (mendapatkan buku 'Negeri Para Bedebah' atau memilih sendiri di daftar book review)

     (mohon izin kepada tiga pemenang untuk mempublikasikan kembali tulisannya di blog ini agar insya Allah semakin banyak yang terinspirasi)

Selamat untuk ketiga pemenang dan tak lupa terima kasih untuk peserta tercepat Ila Rizky Nidiana mendapatkan buku ‘Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin’. 

Kepada semua peserta Giveaway, terima kasih telah membagikan kisah-kisah penuh inspirasi. Tak mudah mengingat dan menuliskan kejadian tak mengenakkan dalam hidup tetapi menuliskannya akan membuatmu merasa lebih baik.  I ever did it. Terima kasih telah berbagi.

Untuk para peserta, semoga berkenan menerima award ini... :)


Mengutip perkataan Nova : 
“Semoga kita dipandaikan untuk mengambil hikmah-hikmah yang tercecer, semoga Allah mengkaruniakan kebaikan atas mereka yang berbagi hikmah, semoga bisa menjadi penambah pundi-pundi kebaikan,”

Sang Pencipta sungguh lebih menyayangi para hamba-Nya dibanding siapapun di muka bumi ini. Percayalah. Dan selalulah percaya. 

---
N.B. : Untuk mbak Ila, mbak Athiah, mbak Amalia dan mas Hakim ditunggu buku yang diinginkan beserta alamat pengiriman pada kolom komentar/email ke monikayulando@gmail.com


Sampai jumpa di Giveaway selanjutnya dan salam persahabatan :)

Thursday, September 13, 2012

Dua Tiga

Dua Tiga. Alhamdulillah.

1.       Alhamdulillahilladzi ja’alna Muslimin. The greatest blessing.
2.       Alhamdulillah punya keluarga yang luar biasa.
3.       Alhamdulillah punya teman-teman baik yang baik-baik. Banget.
4.       Alhamdulillah selalu berada di lingkungan orang baik.
5.       Alhamdulillah atas nikmat sehat yang luar biasa.
6.       Alhamdulillah dimudahkan dalam urusan pendidikan (sekolah gratis). Masih berpendidikan diploma tiga semoga dimudahkan ke depannya.
7.       Alhamdulillah mencicipi tiga tahun pendidikan di STAN, sebuah sekolah luar biasa yang membentuk banyak hal (nanti ada cerita sendiri tentang kampus tercinta ini hehe).
8.       Alhamdulillah berkesempatan belajar di Al Manar, sebuah lembaga pendidikan luar biasa yang membuatku sedikit banyak merasakan nikmatnya mencari ilmu.
9.       Alhamdulillah sudah mempunyai pekerjaan.
10.   Doa yang selalu diberikan setiap teman : semoga segera bertemu sang imam. Ah, iya sudah dua tiga. Mengaminkan. Semoga mendapatkan suami yang sholeh dan bisa saling menghebatkan.
11.   Semoga kelak nanti bisa menjadi seorang istri solehah yang senantiasa diridai suami.
12.   Semoga kelak nanti bisa menjadi ibu yang hebat dari anak-anak yang hebat.
13.   Semoga bisa naik haji sebelum atau pada usia tiga puluh. Bersama suami. Bersama keluarga.
14.   Semoga bisa menguasai setidaknya tiga bahasa : Inggris, Arab dan Mandarin.
15.   Semoga bisa keliling dunia, mengunjungi banyak negara, melihat banyak hal dan mempelajari banyak hal.
16.   Semoga bisa mendirikan sekolah untuk anak-anak kurang mampu. Tak hanya mengajarkan pelajaran sekolah tetapi juga ilmu agama dan ketrampilan.
17.   Semoga bisa berkecimpung di dunia pendidikan. My passion.
18.   Semoga terus bisa menulis dan selalu menulis hal-hal dengan nafas kebaikan (aamiin). Semoga bisa menjadi penulis yang bermanfaat bagi banyak orang.
19.   Semoga bisa mempunyai usaha bareng keluarga.
20.   Semoga bisa menghilangkan kebiasaan jelek suka menunda-nunda.
21.   Semoga lebih bersyukur dan sabar dalam menghadapi apapun.
22.   Semoga semakin dekat dengan Allah dan menjadi Muslimah yang kaffah.
23.   Semoga menghadap-Nya dalam keadaan iman terbaik, amal terbaik, takwa terbaik. Aamiin.

Dua tiga. Apa yang kira-kira saya katakan ketika kelak ditanya, “Untuk apa masa mudamu kau habiskan?” 

Dan semua semoga hanyalah berakhir semoga jika tak benar-benar berikhtiar, berdoa dan bekerja keras mewujudkannya.

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali,” (terjemahan Q.S Maryam:33)
“Dan katakanlah : “Bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mu’min akan melihat pekerjaanmu itu dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah)Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan,”(terjemahan Q.S At-Taubah:105)

Monday, September 10, 2012

Medaaan

Istana Maimun, salah satu ikon kota Medan

Dua hari kemarin, saya berkesempatan berkunjung ke kota Medan. Kota yang sudah lama membuat saya penasaran (sering melihat dan membaca liputan tentangnya, terutama acara wisata kuliner hehe). Kebetulan hari Sabtu lalu, dua orang yang cukup akrab mengadakan resepsi pernikahan di kota ini. Jadilah sekalian jalan-jalan.

Kota ini mengesankan. Sebagai salah satu kota terbesar di Indonesia, jalan di kota ini tak terlalu besar dengan pepohonan yang rindang di sepanjang kiri-kanan jalan. Udara cukup panas tetapi masih jauh lebih terik kota Semarang. Yang menarik, rasa-rasanya pengendara motor (di sana disebut kereta) rata-rata berani ‘bermanuver’ di jalan. Jadi sering deg-degan juga dibuatnya. Di beberapa titik, kemacetan cukup panjang.

Resepsi adat Karo, nggak aneh kan foto bertiga sm manten? :p
Resepsi pertama yang saya kunjungi menggunakan adat Karo sementara resepsi kedua menggunakan adat batak Toba. Menarik sekali melihat secara langsung kedua budaya tersebut *meskipun tentu saya tak paham kedua bahasa itu hehe. Unsur merah dominan pada resepsi, tentu kain ulos tak ketinggalan. 

Ohya, ketika menghadiri resepsi saya sempat bingung lantaran tak ada antrian mengular tamu undangan menyalami pengantin tetapi para tamu undangan duduk lalu makan. Pikir saya, kapan nih salamannya? Tak tahunya ketika saya tanya teman orang Medan memang begitulah katanya, kalau mau salaman tinggal maju saja ke pelaminan dan menyalami pengantin. 

Resepsi adat batak Toba
Kalau tentang makanan, saya tak sempat berwisata kuliner mengingat waktu cukup terbatas. Yang jelas rasa pedas sepertinya tak pernah ketinggalan dari masakan yang ada. Kemarin lewat di Mie Aceh Titi Bobrok yang tenar itu tapi sayang pas saya lewat belum buka. Hiks. Tak banyak juga objek wisata yang saya kunjungi, hanya Masjid Raya Al Mashun dan Istana Maimun saja.

Ohya satu yang amat saya suka, kehangatan dan kemeriahan keluarga Batak. Kemarin saya numpang menginap di rumah seorang kakak yang baik hati dan berjumpa dengan keluarganya. Kakak dan keluarga berbicara dalam bahasa batak (Toba) dengan suara yang keras dan cepat, tentu bukan karena marah. Ikut senyum-senyum saja ketika mereka tertawa *padahal tak mengerti apa yang dibicarakan hehe. Orang Batak juga terkenal dengan keterusterangannya, kalau suka bilang suka dan kalau tak suka bilang tak suka. 

Bentor, kendaraan khas kota ini

Merdeka walk, tempat makan dan nongkrong

Masjid Raya Al Mashun
Sampai jumpa lagi Medan di bulan sebelas *insya Allah :)

Wednesday, September 5, 2012

The Working Mom



Perempuan bekerja tentu memiliki konsekuensi tersendiri dibandingkan dengan perempuan yang tak bekerja, terutama apabila ia telah memiliki suami dan anak. Memang, mencari nafkah bukanlah kewajiban seorang wanita tetapi mungkin ada hal-hal tertentu yang membuat seorang wanita tetap bekerja di luar rumah. 

Banyak ibu-ibu muda di lingkungan kantor dengan anak yang masih bayi. Usai cuti melahirkan tentu mereka diharuskan kembali bekerja. Lingkungan kerja saya kebetulan memiliki tempat penitipan anak yang cukup representatif sehingga sebagian ibu muda tersebut menitipkan bayi mereka. Merupakan pemandangan yang lazim, pagi hari sebelum masuk kantor sang buah hati dititipkan di tempat penitipan anak tersebut lalu dijemput usai jam kerja. Keuntungannya tentu pada saat jam istirahat dapat menengok anak, dapat memberikan ASI langsung dan lebih mudah jika sewaktu-waktu ingin menemui, tentu memudahkan dalam mengawasi juga. 

Seorang teman yang telah menikah dan baru saja menimang sang buah hati memiliki pendapat berbeda. Ia berencana menggunakan jasa pengasuh anak selama ia bekerja. Menurutnya, ia merasa tak tega membawa sang anak yang masih bayi ke sana kemari melalui jalanan Jakarta yang penuh asap dan polusi menggunakan sepeda motor sehingga ia lebih memilih menitipkan sang anak pada pengasuh di rumah. Kebetulan, rumahnya masih mengkontrak sehingga dekat dengan kantor. Tentu berbeda cerita  lagi apabila ia telah memiliki rumah (sebagian orang kantor tinggal di Depok, Bekasi, Tangerang, Bogor) yang memiliki waktu tempuh lama dari kantor. Dapat dibayangkan jam berapa ia harus berangkat dari rumah dan jam berapa sampai di rumah apabila jam kerja berlangsung dari pukul 07.30 hingga 17.00. Waktu bertemu buah hati terbatas, tentu saja, lagi-lagi konsekuensi dari ibu bekerja.

Pilihan, bukan?

Mama kebetulan adalah seorang PNS. Saat kecil, saya dititipkan di rumah Eyang (kami tinggal tak jauh dari rumah Eyang) dan saat kecil saya diasuh oleh Eyang Puteri beserta dua orang yang bekerja di rumah Eyang. Saya tak banyak mengingat kenangan masa kecil sebelum berusia empat tahun, setelahnya saya hanya ingat pagi-pagi Mama memasakkan untuk kami sekeluarga sebelum berangkat kantor , siang hari makan masakan pagi hari juga lalu sore hari sepulang kantor Mama memasak lagi untuk malam hari. Waktu SD saya lebih sering tinggal di rumah Eyang juga (untuk waktu sekian lama tinggal di rumah Eyang dari Senin-Jum’at, baru pada akhir pekan tinggal di rumah orang tua)sehingga praktis lebih banyak kenangan di rumah Eyang.

Memori masa kecil begitu membekas... Sampai kapanpun…

Hingga sedewasa ini, kenangan yang tersimpul di masa kanak-kanak amat membekas dan tak bisa dipungkiri membentuk kepribadian sang anak. Seringkali, saya dan teman-teman terlibat pembicaraan tentang kenangan masa kecil yang memorable misalnya tentang sang ibu yang setiap pagi mengepang rambut anak perempuannya atau ibu yang selalu menyiapkan bekal ke sekolah. Saya dapat merasakan, ketika menceritakannya kami tersenyum dan ada kerjap kebahagiaan yang tiba-tiba menjalar.

Menurut saya, perempuan bekerja memiliki tantangan tersendiri. Ia harus pandai-pandai membagi waktu antara bekerja, mengurus suami dan mengurus anak. Boleh dibilang ia harus menjadi ‘supermom’ yang tangguh. Seperti Mama misalnya, usai shalat Tahajud beliau terkadang mencuci pakaian/menyetrika, sholat subuh lalu memasak untuk keluarga sembari menyiapkan keperluan keluarga dan mempersiapkan adik untuk sekolah (kebetulan si bungsu Hilmy masih kelas lima SD).  Selepas bekerja, rasa-rasanya menjadi naluri seorang ibu untuk ‘beres-beres rumah’ selelah apapun. Seorang teman mengatakan bahwa meskipun ibunya bekerja ia tak pernah merasakan kekurangan kasih sayang sang ibu lantaran ibunya selalu memasak untuknya. Pagi, siang dan malam ia memakan masakan sang ibu. Itulah kuncinya, kata teman.

Istri adik laki-laki Mama (saya memanggilnya Tante) memutuskan untuk berhenti bekerja dan mengurus sang anak. Kariernya pada sebuah perusahaan swasta amat bagus pada saat itu tetapi ia lebih memilih menuruti saran sang suami untuk keluar dan menjadi ibu rumah tangga. Berat pada awal-awal (tentu dulu dengan dua penghasilan menjadi satu saja) tetapi seiring berjalannya waktu, Tante yang luwes berdagang membuka usaha. Ia memiliki sebuah butik busana Muslim yang cukup laris di dekat tempat tinggalnya sebelum ini dan sekarang sedang mempersiapkan membuka usaha spa rumahan di kediamannya. 

Ah, lagi-lagi pilihan tentu saja…


--- Semoga sebelum kelak (jika) mengalaminya, saya sudah punya 'ilmu'nya, adakah yang ingin berbagi? :)