Friday, November 30, 2012

Mohon Doa Restu- Untuk Kembali


Tanggal 5-6 Desember 2012 nanti insya Allah saya akan mengikuti ujian masuk STAN, kali ini untuk program Diploma IV. Ingin kembali lagi ke kampus yang sangat saya cintai ini lalu mengajar di tempat ini. Barangkali di antara teman-teman yang membaca tulisan ini ada yang berkenan membantu mendoakan, barangkali ada di antara yang mendoakan ada yang doanya mustajab atau ketika mendoakan berada di waktu-waktu yang mustajab. Semoga yang mendoakan diberikan kebaikan yang melimpah dan dibalas dengan kebaikan yang sama :)

Wednesday, November 28, 2012

An Amazing Trip : Sumut-Sumbar


Kamis, 15 November 2012. Matahari terbit malu-malu saat kami tiba di bandara Soekarno Hatta. Mengambil penerbangan Citilink paling pagi, kami bersiap menuju Medan untuk kemudian menempuh perjalanan darat menuju Padangsidimpuan, kota dimana salah seorang sahabat melangsungkan pernikahannya pada hari Sabtu. Sekaligus jalan-jalan tentunya hehe.

Beginilah liburan (kondangan) kami :

Hari Pertama
Tiba di Medan, kami sarapan sejenak dengan lontong Medan yang lezat sebelum melanjutkan perjalanan menuju Air Terjun Sipiso-piso yang terletak di Desa Tongging, Kabupaten Karo. Subhanallah, sungguh terpesona melihat keindahan air terjun dengan ketinggian 120 meter ini dari atas. Eits, tapi tunggu dulu, untuk bisa bermain air di air terjun yang terletak 800 mdpl ini, kami harus turun naik bukit dengan ratusan anak tangga. Perjalanan dari atas hingga dasar air terjun kira-kira satu jam perjalanan. But don’t worry, the journey is very worth. Setelah puas menikmati keindahannya, kami pun beranjak menuju kota Parapat tepatnya Pelabuhan Ajibata untuk menyeberang ke Pulau Samosir, pulau yang terletak di tengah-tengah Danau Toba.



Hari Kedua
Membuka jendela kamar penginapan, keindahan danau Toba telah menyambut kami. Kami menginap semalam di penginapan yang terletak di pulau Samosir (gambar pertama tampak depan hotel, berhadapan langsung dengan Danau Toba). Senangnya bisa mengunjungi pulau yang dari SD sudah saya tahu namanya (pasti ingat pelajaran IPS : pulau apakah yang terletak di tengah Danau Toba?) Hari itu kami berjalan-jalan mengelilingi pulau Samosir. Berhenti sejenak di Pantai Parbaba yang indah (gambar ketiga) lalu menuju desa Tomok untuk menonton pertunjukan Patung Menari Sigale-gale. Alunan musik Batak berkumandang diikuti dengan gerakan patung menari. Anak-anak kecil manortor (menarikan tarian Tor-tor) dan pengunjung pun memberi saweran. Pengunjung juga boleh menari bersama lho. Setelah itu, kami menyeberang danau Toba kembali menuju Medan (ganti pengendara khusus untuk ke Sidimpuan) lalu bersiap menempuh perjalanan malam menuju Sidempuan, sekitar sepuluh jam dari kota Medan. 


Hari Ketiga
Teman-teman mengeluhkan tak bisa tidur selepas Tarutung lantaran jalan yang jelek tapi saya nyenyak-nyenyak saja tuh. Hihi. Yang paling berkesan tentu saja saat mobil Avanza sewaan 'mendaki' Aek Latong yang disebut pengendara kami berasal dari patahan bumi jadi jalannya tak pernah 'mulus'. Jalan lumpur berbatu ditambah pemandangan truk terguling di samping kiri jalan pada saat itu membuat saya menahan nafas saat melewatinya. Alhamdulillah lancar, waktu subuh kami telah tiba di Sipirok setelah deg-degan melewati Aek Latong.


ini nih Aek Latong, gambar dari sini


Wednesday, November 14, 2012

"Kapal Nabi Nuh Terbuat dari Kayu Apa Ya?"

Banyak pertanyaan yang muncul dari para murid dalam pelajaran Aqidah. Misalnya saat pembahasan tentang ‘Iman Kepada Kitab’, “Zabur itu seperti apa Ustadz?” ,“Apa saja isinya?” dan sebagainya, dan sebagainya. Sang Ustadz seringkali menjawab pertanyaan para murid dengan jawaban, “Wallahu a’lam,”. Beberapa murid merasa tak puas dengan jawaban itu, “Mengapa wallahu’alam Ustadz?” “Ya saya memang tidak tahu,”

Pertanyaan-pertanyaan manusia atas sesuatu yang gaib (tak terlihat dengan mata ‘kasar’) bisa dibilang terbagi menjadi dua hal yakni atas kejadian di masa lalu seperti yang telah saya tulis di paragraf pertama dan bagaimana ‘masa depan’, ketika dunia fana ini telah berakhir. Seperti apakah alam gaib, padang mahsyar, surga, neraka hingga bagaimanakah kondisi manusia di sana, apakah begini apakah begitu.

Seperti kemarin saat jalan-jalan ke rumah maya mbak Alaika, saya menemukan pertanyaan-pertanyaan menurut saya pribadi ‘kurang pantas’ untuk dipertanyakan. 


Seperti pertanyaan nabi Adam diturunkan dari surga, dijatuhkan dari langit, apa tidak kesakitan, dsb. Tak ada keterangan dalam Al Qur'an dan al Hadits tentang pertanyaan tersebut. Nabi Adam manusia pertama, diciptakan tanpa ayah dan ibu, diturunkan ke bumi dari surga. Percaya. Yakin. Bagaimana prosesnya manusia tidak diberi ilmu tentangnya. (silahkan baca tulisan mbak Alaika menjawab)
 
Jawaban sang Ustadz Aqidah sederhana tapi menjelaskan banyak hal,
”Dulu pernah ada seminar yang membahas mengenai kayu apa yang dipakai untuk membuat kapal Nabi Nuh. Ada-ada saja. Kalau sesuatu itu penting untuk diketahui pasti disebutkan dalam kitab atau hadits, kalau memang tidak disebutkan berarti sesuatu itu memang tidak penting untuk diketahui…”

Sederhana, ketika akal manusia yang terbatas ini berusaha menjangkau pikiran-pikiran tak terbatas yang tak diterangkan oleh agama ini berarti memang tak penting untuk diketahui manusia. "Pikirkanlah ciptaan Allah dan Jangan memikirkan Dzat, sebab kamu tak akan mampu mencapaiNya,” seperti sabda Nabi SAW. Surga itu pasti ada dan penuh kenikmatan, mempercayai hal tersebut sungguh-sungguh meski belum pernah menjumpainya, bagaimana detail nikmatnya ya wallahu a’lam, seperti dikatakan,” Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Allah berfirman : "Aku sediakan bagi hamba-hambaKu yang shalih sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak tergores oleh hati manusia.

Iya, tak sampai akal yang terbatas ini. 

Kalimat terakhir Ustadz begitu membekas. Pertanyaan. Terkadang pertanyaan-pertanyaan bersliweran dalam benak bahkan mungkin pertanyaan bathil yang tak patut untuk dipertanyakan. Cari ilmu sebanyak-banyaknya.  Cari penjelasan dari pertanyaan, tapi kalau memang tak ada pembahasan dalam AlQur’an dan hadits (tentu mengetahui ada tidaknya penjelasan tersebut dengan ilmu), mungkin seperti kata ustadz, “Wallahu a’lam, berarti hal tersebut memang tak penting untuk diketahui manusia,”

Wallahu a’lam
*mohon koreksi apabila ada kesalahan


Thursday, November 8, 2012

A Tribute to STAN : Bukan Sekadar Kampus


12 Oktober 2010. Sentul International Convention Centre (SICC).

Matahari belum menunjukkan sinarnya ketika kami menuju Bogor. Diantarkan Om (adik Mama), Mama dan Budhe (Papa waktu itu tak bisa hadir) telah berdandan cantik mengenakan kebaya mengantarkan saya yang hari itu mengikuti prosesi wisuda. Ah, kalau mengingat betapa saya tiba pertama kali di kampus STAN dengan perasaan minder “Bisa nggak ya bertahan satu semester di sini?” mengingat kuliah di STAN katanya susah dan tiap semester selalu terdapat puluhan orang yang DO, ada haru kebahagiaan yang buncah saat menginjakkan kaki di SICC. Melihat Mama tersenyum bahagia itu sungguh… rasanya tak terkira. 

Sudah dua tahun rupanya. Tak terasa. Sepertinya masih tengiang buku-buku tebal berbahasa Inggris (buku-buku Akuntansi) yang suka saya ringkas dengan catatan warna-warni (kangen juga), ruang perpustakaan tempat menyusun KTTA, kos-kosan, kampus dan sekitarnya. Ah, saya rindu kuliah. Masa-masa tiga tahun di STAN adalah masa-masa terbaik dalam hidup saya, sejauh ini. STAN bukan hanya sekadar kampus, STAN mengajari banyak hal yang tak ternilai.

Kejujuran. Dari awal masuk, sudah diwanti-wanti kalau sekali ketahuan mencontek, langsung di-DO. Sudah beberapa kali terjadi. Sikap mental itu sudah ditanamkan dari awal masuk sehingga iItulah yang membuat kami (nggak tahu ya kalo masih ada yang nekad) tak berani mencontek, walaupun ujian tanpa diawasi. Rasanya sayang sekali kalau susah-susah masuk STAN lalu dikeluarkan hanya karena mencontek. Sampai sekarang, buat saya, membekas sekali. Bangga dengan tidak mencontek, bangga dengan apa-apa yang diusahakan sendiri.

Sikap mental juga dibentuk dengan pakaian yang diitentukan (tak ada seragam, hanya saja warna kemeja yang ditentukan : putih, biru, krem, abu-abu) dan ketatnya aturan. Absen yang ketat dan peraturan tak tertulis seperti ‘nggak boleh menginjak rumput’. Kalau yang ini sampai sekarang saya juga masih penasaran benarkah kalau menginjak rumput bisa di-DO. Disiplin kampus plat merah masih terasa hingga sekarang.

Yang kedua kesederhanaan. Rasa-rasanya di kampus semua orang bisa membaur, tak nampak perbedaan yang mencolok di antara kami. Tak terlalu mencolok anak orang berada dan biasa. Penampilan yang rata-rata sederhana. Bahkan bisa dikenali ‘gaya anak STAN’ bukan saat sudah bekerja di Kemenkeu. Bukan berarti yang lain terus serta merta tak sederhana ya, rasa-rasanya ada yang khas saja. Hehe. 

Dan di atas semuanya : lingkungan STAN adalah ‘madrasah kehidupan’ yang dahsyat. Salah satu titik balik saya dalam memahami agama (dan saya rasa banyak orang yang pernah berada di dalamnya). Lingkungan yang begitu agamis. Dari awal masuk sudah diarahkan untuk berkelompok mempelajari agama. Sebut saja mentoring. Awalnya, jujur, saya terpaksa ikut lantaran ‘nggak enak’ dengan mentor dan teman-teman lain. Sungkan. Lama-lama merasakan manfaatnya. Bisa disebut ia adalah charger ruhiyah pekanan. *walaupun saya bukan orang yang meletakkan liqo di atas segalanya.

Lingkungan STAN yang katakanlah yang membatasi pergaulan lawan jenis (misal rapat yang memisahkan tempat duduk laki-laki dan perempuan, rapat yang menggunakan hijab),pandangan mata sebagian orang tatkala berjalan berdua (jalan kaki secara literal) dengan lawan jenis di wilayah kampus, hingga teman sekelas laki-laki yang ‘membuang muka’ saat berpapasan (khusnudzon saja, mungkin saking ghodul bashor-nya), kajian pekanan yang bisa beberapa kali tiap minggu dan banyak hal lainnya. 

semoga suatu hari nanti bisa mengajar di sini :D

Tiga tahun yang tak terlupakan, tiga tahun yang membentuk diri saya sekarang. Terutama dalam masalah agama. Dari saya yang mengenakan jilbab sebatas leher, kaos panjang dan celana jeans dan berpikir pakaian seperti itu ‘sudah cukup’ bertemu dengan perempuan-perempuan berjilbab lebar yang dulu saya anggap ‘berlebihan’, dari saya yang nyaman dengan pakaian seperti itu lalu lama-lama risih sendiri karena merasa ‘belum sempurna menutup aurat’, bertemu dengan orang-orang luar biasa yang tak hanya mengerti agama tetapi juga mengaplikasikannya dan memberikan keteladanan, bukan hanya sekadar ‘judging somebody’. Lingkungan yang ‘dikondusifkan’ kata seorang teman. 

Meminjam salah satu judul catatan Tere Liye : Harga Sebuah Pemahaman. Priceless.

Dan ya, lingkungan berperan besar dalam membentuk sebuah pemahaman. And all my life I would feel so blessed that I have been there. Lingkungan STAN yang membuat saya ingin bekerja di sana, menjadi bagiannya *qodarullah tak kesampaian. Teman-teman yang luar biasa baiknya, I met lots of great people there. Dan semuanya. STAN bukan sekadar kampus. Semoga suatu hari nanti masih bisa mengajar untuknya *tetap menyimpan keinginan ini selalu.

Yes, I just miss it right now.

·     * Catatan ini rencananya dipublikasikan tanggal 12 Okt lalu bertepatan dengan dua tahun wisuda tapi belum selesai dan postingan ini tentu sama sekali nggak bermaksud meletakkan STAN melebihi kampus lain, kebetulan saja saya pernah kuliah di sana. Hehe
                                                                              

Wednesday, November 7, 2012

E-X-C-U-S-E

*bersih-bersih debu di blog*

Voila, akhirnya 'berhasil' nulis di blog lagi. Tulisan terakhir tanggal 17 Oktober 2012 dan sekarang sudah hampir sebulan. Bulan lalu beberapa hari dinas luar kota dan tidak membawa laptop, beberapa hari liburan di rumah, kemudian adaptor laptop yang rusak dengan laptop yang lemotnya kebangetan *sekarang pakai laptop zaman kuliah, acer 4930 vista karena si toshiba coklat lebih bermanfaat di tangan adik yang sedang kuliah. Di kantor, mendapatkan fasilitas komputer.

Dan.. untuk satu paragraf di atas, saya telah membuat banyak excuses untuk tidak membuat sebuah tulisan di blog ini.
1. Sedang dinas dan nggak bawa laptop >> masih ada hape Android (ya, akhirnya sekarang pakai Android dengan berbagai pertimbangan) dengan fasilitas aplikasi Blogger tapi mengetik dengan hape touchcreen itu tak nyaman rasanya *another excuse.
2. Liburan di rumah >> ah ya, walaupun rumah sangat nyaman dan di Semarang jalan-jalan kemana-mana, berapa lama sih waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan tulisan *nanya diri sendiri*
3. Laptop lemot, adaptor rusak >> ada komputer kantor yang bisa dipakai dengan konsekuensi menulis sebelum jam kantor, pas jam istirahat atau setelah pulang kantor, tinggal beli adaptor *lagi malas banget ke mal atau tempat keramaian *excuse lagi, kan ada online shop -__-"

Intinya, i made a lot of excuses to make (even) a post on this blog.

dan saya bertanya-tanya, apakah selama ini saya melakukan another excuse, excuse and excuse in my life? Terlambat datang dan menyalahkan jalan yang macet, padahal bisa berangkat lebih pagi... Menyalahkan kondisi tanpa mengubah diri saya dulu? Oh...

*Instropeksi *sigh

Sorry for this 'curcol' edition. Hope i can regularly post on this blog with better posting :p

Happy blogging >.<